Thursday, January 24, 2013

INDONESIA SEBAGAI HOLLYWOOD ASIA TENGGARA





Konten apa sih yang tidak diproduksi di Indonesia? Sinetron yang merupakan kembar tapi tak serupa dari program 'Soap Opera' banyak di produksi. Film animasi baik yang dibuat untuk produk luar negeri maupun dalam negeri juga begitu. Program travelling juga banyak diproduksi. Belum lagi program kuliner. Mungkin hanya konten pornografi yang tidak diproduksi di Indonesia (video rekaman hubungan intim sejumlah artis tak masuk hitungan yah).

Pasar untuk konten Indonesia di luar negeri dinikmati bukan hanya TKI yang bekerja di luar negeri melalui satelit parabola, tapi juga warga lokal dari negeri tempat mereka bekerja. Dalam hal ini warga Malaysia maupun Singapura. Bahkan sinetron “Insyaallah Ada Jalan” ditayangkan serempak di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Mungkin ekspansi konten Indonesia pada tingkat regional cukup terasa. Tapi pada tatanan Internasional belum terlihat maksimal. Misalnya konten Indonesia pada channel televisi berbayar Asia Food Channel masih terbatas dibanding konten yang dibuat Malaysia atau Singapura. Bahkan di channel seperti Discovery, konten yang dibuat penyelia konten Indonesia tak terlihat keberadaannya.

Sejumlah kendala penyebaran konten Indonesia antara lain adalah:
  • akses ke pasar luar negeri
  • status usaha pelaku kreatif yang kerap tak jelas
  • bahasa yang digunakan pada konten bukan bahasa internasional
  • kualitas produksi yang belum tentu sesuai standar luar negeri
  • perkembangan teknologi audio-visual yang begitu dinamis

Akses ke pasar luar negeri hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki modal cukup untuk melakukan lobby atau upaya marketing ke penyelia konten luar negeri serta memiliki pemahaman cukup mengenai bisnis konten di luar negeri. Sejauh ini kaitan industri televisi Indonesia dengan pasar luar negeri hanya berupa hubungan antara konsumen dengan produsen dan bukan sebaliknya. Sehingga belum tentu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sebaliknya (antara produsen dengan konsumen) karena pasarnya bisa jadi berbeda.

Status usaha perusahaan lokal – bukan hanya perusahaan yang bergerak di industri kreatif – juga seringkali dipertanyakan. Banyak perusahaan lokal yang tak memiliki akta usaha resmi dan bahkan meminjam akta perusahaan orang lain. Bahkan banyak perusahaan lokal yang terdaftar di pasar luar negeri tapi ternyata tak jelas domisilinya maupun kepemilikannya. Kondisi ini menyebabkan keengganan investor untuk masuk ke Indonesia. Industri kreatif menjadi lebih terdampak akibat kondisi ini karena properti intelektual bersifat abstrak. Banyak pelaku kreatif yang secara resume mengkilap tapi sesungguhnya tak demikian. Kekosongan asosiasi profesional maupun serikat pekerja di satu sisi disambut baik investor tapi di sisi lainnya menjadi tak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya. Untuk mengatasi kondisi ini, investor pun akhirnya seringkali menyewa jasa detektif lokal untuk memastikan kredibilitas orang perorangan maupun status sebuah perusahaan yang berdomisili di Indonesia. Akibatnya kredibilitas entitas bisnis Indonesia tak bagus di pasar Internasional.

Padahal membuka jaringan pasar luar negeri merupakan satu keharusan untuk ketahanan industri kreatif di Indonesia. Potensi konsumsi konten Indonesia bisa terlihat pada konsumsi televisi terrestrial Indonesia oleh warga Filipina, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan bahkan Vietnam – khususnya untuk program non-faktual. Konsumsi penonton pada negara-negara Asia Tenggara ini dilakukan menggunakan antena parabola. Bahkan ada kasus dimana seorang ulama di Filipina Selatan protes kepada media karena konten sinetron Indonesia cenderung berisi kekerasan dan menjual sensasionalitas.

Potensi ini menjadi semakin besar ketika bahasa Indonesia bisa menembus batasan negara pada lingkup regional seperti Asia Tenggara misalnya. Karena memang bahasa menjadi salah satu kendala jangkauan konten Indonesia di luar konteks nasional. Berbeda dengan Malaysia atau Singapura, penggunaan bahasa Internasional (atau bahasa lintas batas negara) seperti bahasa Inggris bukan bagian dari keseharian masyarakat Indonesia pada umumnya. Akhirnya konten untuk konsumsi nasional pun mencerminkan ini. Subtitle menjadi alat komunikasi utama untuk penjualan konten lokal ke luar negeri, meski subtitle cenderung dihindari karena pada umumnya dianggap mengganggu kenikmatan menonton.

Kualitas produksi juga menjadi kendala besar bagi konten lokal untuk dijual pada pasar luar negeri. Biasanya ini terjadi pada program faktual, karena biaya produksinya lebih rendah dibanding program non-faktual. Kendala terbesar khususnya datang dari penggunaan ilustrasi musik tanpa ijin. Program televisi faktual seringkali menggunakan ilustrasi musik Hollywood dan lainnya tanpa ijin, sehingga sulit untuk dijual ke pasar luar negeri seperti apa adanya.

Kendala lainnya adalah perkembangan teknologi dijital yang begitu pesat. Saat ini format konten yang umum berlaku pada pasar Internasional adalah High Definition (HD). Format ini jauh berbeda dengan format analog berkaitan dengan ratio dan resolusi gambar. Konten dengan ratio layar 4:3 mulai berkurang konsumsinya dan mulai digantikan konten dengan ratio layar 16:9. Kondisi ini berpotensi untuk menurunkan harga konten.

Saya meyakini, ketika kendala-kendala ini teratasi maka tak ada halangan berarti lagi untuk Indonesia menjadi Hollywood Asia Tenggara. Karena semua bahan dasar yang diperlukan agar itu terjadi sudah ada di Indonesia, yaitu pekerja kreatif yang ahli di bidangnya, aktor/ aktris berbakat maupun talent yang dibutuhkan untuk membuat tayangan berkualitas. (bay)

HARTA KARUN TERPENDAM TELEVISI TERRESTRIAL



Televisi terrestrial alias televisi gratisan memiliki karakteristik unik terkait dengan konten yang ditayangkannya. Secara umum karakteristik utamanya adalah konten hanya tayang sekali. Haram hukumnya, jika sebuah konten ditayangkan ditayangkan berulangkali selama sepekan. Kecuali tentunya siaran ulang pertandingan sepak bola. Kalau pun ada konten yang ditayangkan ulang, konten itu ditayangkan secara berurutan tanpa pengulangan langsung dari setiap episodenya. Misalnya sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' yang sudah ditayangkan beberapa kali di RCTI. Setiap kali diputar ulang, tiap episodenya ditayangkan sesuai urutannya. Tapi setiap episodenya ditayangkan hanya sekali. Tentunya ini berbeda dengan penayangan konten pada televisi berbayar karena justru setiap episode konten sengaja ditayangkan berulangkali dalam seminggu karena asumsinya tak semua pelanggan bisa menyaksikan pada tayangan perdana.


Pada akhirnya, tayangan televisi terrestrial secara prinsip dibuat hanya untuk sekali tayang. Padahal konten yang baik adalah konten yang bisa terus menghasilkan uang secara terus menerus. Pemahaman bisnis konten sudah sepatutnya bergeser dari sekali pakai (televisi terrestrial) menjadi sesuatu yang lebih bertahan lama. Karena keberadaan berbagai platform media memungkinkan bagi satu konten untuk ditayangkan kembali pada platform yang berbeda. Platform pada dasarnya adalah media tayang sebuah produk audio-visual. Sejumlah platform antara lain adalah televisi berbayar dan 'mobile tv' atau televisi pada perangkat bergerak seperti smartphone. Misalnya apa yang sudah ditayangkan di televisi terrestrial kemudian ditayangkan kembali di televisi berbayar. Belum lagi penayangan pada platform 'mobile tv'.

Penayangan 'cross platform' tentunya bisa memicu 'revenue stream' baru. Di Indonesia televisi berbayar saat ini cukup marak. Bahkan televisi berbayar terus bermunculan, salah satunya yang terbilang baru adalah Nexmedia. Sehingga televisi berbayar merupakan lahan tayang yang cukup menjanjikan bagi konten televisi terrestrial.

Skema pendapatannya secara umum adalah pembelian hak siar dalam bentuk lisensi. Biasanya lisensi ini memiliki sejumlah keterbatasan dalam hal antara lain:
  • periode berlakunya hak siar
  • wilayah dimana produk akan disiarkan
  • pada platform apa saja produk akan disiarkan
Periode berlakunya hak siar tergantung pada apakah produk akan disiarkan langsung atau tidak. Tentunya produk siaran langsung, seperti pertandingan sepak bola, periode tayangnya adalah sama dengan durasi penayangan produk. Sedangkan produk siaran yang bukan produk siaran langsung akan disesuaikan dengan masa tayang yang umum berlaku, seperti misalnya 1 tahun sampai dengan 5 tahun.

Pembatasan wilayah hak siar pada umumnya bersifat regional. Seperti misalnya regional Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam). Pembatasan wilayah tentunya dilakukan agar konten bisa dijual ke wilayah lain di luar wilayah yang tercakup dalam lisensi tertentu.

Sedangkan untuk platform, semakin banyak platform dimana konten akan ditayangkan tentunya akan semakin tinggi harga lisensinya. Tapi untuk sebuah konten bisa ditayangkan pada platform lain, khususnya televisi berbayar, konten harus bersifat 'timeless' atau tak terikat secara waktu. Misalnya program 'travelling' seperti Jejak Petualang atau bahkan program kuliner.

Dengan demikian, tumpukan tayangan sekali pakai pada televisi terrestrial yang hanya mengumpulkan debu pada 'library' audio-visual televisi bersangkutan bisa diolah kembali untuk menghasilkan uang. Pengolahan kembali konten ini bisa dilakukan dalam berbagai cara antara lain adalah:
  • re-use (menayangkan ulang)
  • re-produce (memproduksi ulang)
  • re-package (mengemas ulang)
Re-use artinya adalah menayangkan ulang baik pada platform yang sama maupun pada platform lain. Penggunaan kembali konten yang diproduksi untuk televisi terrestrial pada televisi berbayar sudah sering dilakukan. Misalnya pemutaran ulang sinetron pada channel khusus sinetron pada televisi berbayar (Astro TV pernah melakukan ini). Contoh lainnya adalah program masak memasak produksi Indonesia yang saat ini sudah tayang di Asia Food Channel.

Re-produce adalah produksi ulang konten yang sudah dibuat menjadi program lain. Praktek seperti ini masih belum banyak dilakukan. Misalnya program dokumenter berkaitan dengan hewan liar (seperti kuda Sumba) lalu diproduksi ulang menjadi program anak-anak. Artinya konten yang sudah dibuat sebelumnya lalu diambil sebagian untuk kemudian menjadi bagian dari elemen/ unsur program lainnya yang akan diproduksi. Apakah elemen/ unsur yang dipakai ulang itu berupa paket video, insert video maupun grafik animasinya.

Sejauh ini praktek re-produce banyak dilakukan redaksi pemberitaan televisi. Seperti misalnya paket video berita 2 menit lalu dijadikan elemen program lainnya. Program lainnya ini bisa berupa program feature/ magazine dengan menampilkan host pada fixed set di studio misalnya. Sehingga proses produksi dilakukan untuk mengemas kembali potongan berita yang sudah muncul sebelumnya pada program bulletin. Kumpulan berita kriminal pilihan pada program 'Sergap' harian lalu diproduksi ulang menjadi program feature/ magazine 'Sergap akhir pekan'.

Sementara re-package adalah pengemasan ulang konten tanpa adanya proses produksi tambahan. Misalnya yang pernah dilakukan program “Jejak Petualang” yang membuat semacam kompilasi dari program yang sudah pernah tayang sebelumnya menjadi program baru. Topik-topik yang disatukan dalam kategori kompilasi tertentu lalu ditayangkan sehingga menghadirkan konteks baru pada konten.

Potensi 'revenue stream' dari pengolahan kembali konten tidak hanya terbatas pada dalam negeri. Karena kebutuhan akan konten sangat tinggi di luar negeri. Pengemasan ulang dengan menambahkan 'subtitle' sangat mungkind dilakukan dan cenderung mudah untuk dilakukan. Sedangkan penyediaan 'dubbing' bahasa Inggris, selain menjadi lebih rumit juga memerlukan proses produksi tambahan sehingga jatuh pada kategori 're-produce'.

Artinya, jika sebuah perusahaan besar produsen konten seperti sebuah stasiun televisi tidak melakukan pengolahan ulang atas konten yang dibuatnya secara in-house – maka perusahaan itu sama saja dengan duduk di atas 'harta karun' terpendam. (bay)

Tuesday, January 25, 2011

THE ESSENCE OF VIDEO ON DEMAND

'Video on demand' pada dasarnya adalah menyaksikan video yang diminati atau 'on demand'. Teknologi untuk layanan VoD – Video on Demand sebenarnya telah tersedia sejak lama dengan adanya layanan Youtube misalnya.yang termasuk layanan VoD tertua sejauh ini. Tapi konten yang sifatnya diminati belum bisa disediakan Youtube. Beberapa faktor penyebabnya adalah sulitnya akses mendapatkan konten video yang diminati, seperti misalnya film box office, dan keterbatasan teknologinya waktu itu terkait buffering time misalnya. Namun, belakangan ini konten VoD mulai mengejar ketinggalannya melalui layanan seperti Tivo, Netflix, Amazon on Demand and Apple TV karena mereka menawarkan layanan VoD berikut konten video yang memang 'on demand'.

Dengan demikian akan sangat salah jika memberikan konten video yang sifatnya tidak diminati atau dicari alias 'on demand' dalam sebuah paket layanan VoD. First Media memiliki teknologi untuk memberikan layanan Vod yang baik melalui jaringan internet pita besarnya (broadband). Sehingga memungkinkan penikmat VoD untuk menyaksikan video yang sifatnya 'on demand' atau premium melalui layar monitor komputer mereka. Teknologi yang tersedia saat ini bahkan memungkinkan konten VoD dinikmati melalui televisi multimedia misalnya. Sejauh ini yang sudah menyediakan televisi jenis ini adalah LG dan Panasonic. Sayang, saat ini kemampuan orang untuk membeli televisi multimedia yang pada umumnya juga memiliki spesifikasi HD masih terbatas.

Wimax di lain pihak memberikan layanan yang berbeda karena memungkinkan penonton menyaksikan konten video dalam perjalanan. Alat yang dipakai untuk menyaksikan video secara 'mobile' antara lain adalah smart phone dan atau media tablet seperti Ipad, samsung galaxy atau Archos. Media tablet lebih 'user friendly' karena ukuran layarnya sehingga memungkinkan untuk menyaksikan video film box office yang berdurasi satu setengah hingga dua jam tanpa menyebabkan kelelahan pada mata. Sedangkan smart phone memiliki ukuran layar video yang tidak layak digunakan menonton video terlalu lama. Sehingga sebaiknya VoD yang ditawarkan untuk layanan mobile devices memiliki durasi yang pendek. Salah satu praktisi mobile content dalam sebuah diskusi di jaringan professional linkedin.com bahkan berani menyimpulkan bahwa video yang dinikmati di mobile devices adalah video untuk mengusir kebosanan dan kesendirian.

Tapi sekali lagi VoD secara mendasar haruslah berisi konten yang sifatnya premium, berapa pun durasinya. Tentunya konten video yang sifatnya premium akan mengeluarkan biaya produksi mahal. Karena itu dalam pembuatannya harus menjadi bahan pertimbangan bahwa video juga dibuat untuk tayangan setengah hingga satu jam di layar televisi sesungguhnya – khususnya televisi berbayar. Mengapa harus televisi berbayar? Sebab captive viewers-nya dari kalangan yang sama – menengah ke atas – sehingga kebutuhan informasinya tidak jauh berbeda.

Lalu informasi atau konten seperti apa yang dibutuhkan pelanggan televisi berbayar? Bagaimana kita bisa unggul dari penyelia konten televisi berbayar lainnya?

--- CONTENT maybe the king...among elements that make up for media

--- But among competing contents ARCHIVE is the king

Frase pertama adalah 'mantra' yang diusung desainer web di masa pra dot.com. Dalam beberapa hal frase itu masih berlaku saat ini. Tapi di antara para penyelia konten...semakin 'lengkap' sebuah konten maka semakin unggul dia dari penyelia konten lainnya. Ini bisa dilihat dari review tentang Apple TV misalnya di sejumlah referensi majalah/website teknologi. Salah satu keluhan yang muncul adalah keterbatasan konten yang tersedia di Apple TV jika dibandingkan Tivo atau Netflix misalnya. Beberapa tayangan seperti serial 'House' tidak tersedia di Apple TV sehingga dianggap mengecewakan.

Sehingga, berikut rekomendasi saya terkait rancangan web. Kategori dibagi layaknya sebuah 'video library' dibanding 'rubrik' di media cetak, seperti berikut ini:

 Animals (wildlife, pets, zoos)
 Nature (forest, rivers, mountains)
 Cultures (west, east, etc.)
 Places (monument, landscapes, historical)
 People (artists, magicians, jobs)
 Culinary/Food (cooks, foods, delicacies)
 Sport (traditional, extreme, hobbies)
 News
 Documentary
 Tutorials
 Entertainment
 Stock Shots
 Video Greetings

Tagline untuk penikmat VoD - “Visons to Empower You”.

Tagline untuk calon pembeli konten premium - “Great Content Starts Here.”

Perlu dijelaskan bahwa di kategori 'animals' akan berisi konten video binatang yang nantinya bisa dirangkai dan diramu kembali menjadi program penuh setengah jam misalnya. Tentu sebagian besar produk yang muncul adalah untuk program anak-anak misalnya. Konten dari 'nature' akan lebih kepada program travel misalnya. 'Culture' lebih kepada tentang kebudayaan sehingga produk turunannya lebih kepada program travel. Sedangkan 'Places' bisa menjadi program sejarah misalnya terutama terkait tempat-tempat bersejarah. 'People' bisa menjadi program pendidikan atau biografi. Sementara 'culinary' atau 'sport' bisa menjadi program yang sifatnya lebih spesifik seperti program masak memasak atau olahraga.

News, documentary, tutorials, entertainment, stock shots dan video greetings adalah layanan premium yang akan dijual ke penyelia konten lain atau penikmat VoD yang berminat. Turunan produknya bisa berupa news wire, full program 13 episode, dvd retail bahkan stock shot untuk film atau lainnya.

Akan sangat bagus bila ada bagian khusus untuk pembelian video lengkap 13 episode. Proses pembayarannya bisa beragam, misalnya kartu kredit atau atm misalnya. Penentuan harganya mungkin bisa juga diperlakukan layaknya RBT. Eceran tapi banyak. Alternatif penetapan harga lain adalah harga retail untuk low-resolution dan harga premium untuk high resolution HD.

Monday, January 24, 2011

BEBAN MENENTUKAN PRESTASI



BEBAN (BANDWIDTH -> UPTO):
- TELKOM FLASH (CDMA) BASIC : 256 kbps (Rp 125.000,-)/BULAN
- TELKOM FLASH (CDMA) ADVANCE : 512 kbps (Rp 225.000,-)/BULAN
- TELKOM FLASH (CDMA) PRO: 3600 kbps (Rp 400.000,-)/BULAN
- INDOSAT IM2 BROOM: 30 kbps (Rp 150.000,-)/BULAN
- XL MEGADATA GIGADATA: 30 kbps (Rp 99.000,-)/BULAN
- FASTNET 384: 384 kbps (Rp 135.000,-)/BULAN
- FASTNET 512: 512 kbps (Rp 195.000,-)/BULAN
- FASTNET 768: 768 kbps (Rp 295.000,-)/BULAN
- FASTNET 1500: 1500 kbps (Rp 595.000,-)/BULAN
- FASTNET 3000: 3000 kbps (Rp 1.195.000,-)/BULAN
- FASTNET SOHO: 1500 kbps (Rp 695.000,-)/BULAN

Berikut contoh tampilan sesuai speed (kbps) tanpa mempertimbangkan kualitas audio masing-masing, menggunakan IM2:












FAKTOR YANG MEMPENGARUHI:
- BANDWIDTH -> FASILITAS JARINGAN PENGGUNA (MAHAL/MURAH)
- BEBAN (KUALITAS VIDEO + AUDIO)->SEMAKIN BAGUS SEMAKIN BERAT
- LOKASI SERVER (LOKAL/LUAR NEGERI)

PLATFORM YANG BISA DIMANFAATKAN

Konten audio visual Kompas TV memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara komersil. Ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi media ready, seperti misalnya tv dijital, telepon nirkabel dan media tablet. Namun, masing-masing platform memiliki keuntungan dan kerugian terutama dalam kondisi ekonomi seperti saat ini. Di bawah ini merupakan rangkuman peluang pemanfaatan platform untuk memperoleh revenue, berdasarkan observasi yang saya lakukan sebelum masuk KCM.

TELEVISI

- TELEVISI LOKAL

Televisi lokal jelas memerlukan konten program. Keterbatasan kapabilitas televisi lokal untuk membuat program menyebabkan mereka membeli program lama atau menayangkan video klip yang mereka dapatkan dari VCD/DVD bajakan. Tentunya ada beberapa televisi lokal yang cenderung makmur, seperti Bali TV dan Jawa Pos TV, sehingga mereka bisa dengan leluasa membuat program sendiri.

Skema kerjasama yang ditawarkan televisi lokal pada umumnya adalah kerjasama dan keuntungan dibagi berdasarkan pemasukan iklan. Mereka cenderung menolak untuk membeli program. Content Provider atau pembuat konten televisi biasanya menggunakan televisi lokal sebagai eksposur dan bukan mengharapkan programnya untuk dibeli. Diantaranya VOA, Tempo TV dan Astro Awani. Ketiganya tidak mendapatkan revenue/pendapatan langsung dari televisi lokal.

Salah satu ide yang sempat saya kembangkan adalah PROGRAM KNOCK-DOWN. PROGRAM KNOCK-DOWN adalah produk audio visual berupa kelengkapan program yang nantinya bisa di-‘bangun’ sendiri oleh televisi lokal. Seperti misalnya:

• Skrip
• Virtual set
• Bumper In/Out, Short Bumper
• Insert Video
• Graphics
• Music illustration
• Props

Keuntungannya setial tv lokal bisa membuat program itu sesuai dengan ke-khasan masing-masing. Harga pembelian untuk 13 episode pun menjadi jauh lebih murah. Biaya pembuatannya pun bisa di-‘tekan’ karena tak memerlukan presenter atau set yang dibuat terlebih dahulu.

- TELEVISI NETWORK (SOON TO BE)

Untuk televisi network (seperti misalnya TV One, RCTI, etc) sejauh ini hanya ada beberapa yang menerima pembelian produk dari luar (alias commissioning). Antara lain Metro TV, TV One dan Trans TV. Saat ini yang sedang gencar-gencarnya mencari produk dari luar adalah TV One (bagian programming sedang men-develop program dokumenter dengan kualitas produksi tinggi hingga bujet per episode-nya mencapai 50 juta rupiah dan produksinya terbuka untuk PH). Contoh program dari luar yang tayang di Metro TV seperti i-Witness dan program otomotif.

Kendala terbesar dari televisi network adalah masalah lolos QC dan rating. Jika lolos QC tapi lalu ratingnya dianggap buruk, maka program itu tidak akan bertahan lama. Contoh kasus adalah program Kafe Finansial yang hanya tayang sebanyak 6 episode di TV One.

- TELEVISI BERBAYAR

Sejauh ini, First Media terus berupaya membuat news channel. Sementara Indovision telah menayangkan konten hasil produksi MNC. Antara lain channel news dan musik.

Telkomvision di lain pihak sangat terbuka dengan proposal kerjasama dari pihak ketiga. Sejumlah kerjasama yang sempat ditawarkan Astro Awani berkaitan dengan channel bisnis, pembuatan program olahraga dan mobile content (untuk telkomsel).

Televisi berbayar AORA juga kabarnya akan segera menandatangai MOU dengan investor yang memungkinkan mereka menyajikan 60 channel.

DVD RELEASE

- DVD RETAIL

Sejumlah DVD retail yang sifatnya non-hiburan ternyata juga banyak dibeli konsumen. Seperti misalnya seri National Geographic dan seri BBC documentaries. Memang rawan bajakan, tapi selama ini bukan hiburan komersial (alias hollywood/bollywood/indowood) saya pikir pasar retail tetap menjadi pasar yang menarik untuk dijajaki.

- DVD SUPLEMEN

Selama ini hanya majalah PC Media yang memberikan DVD suplemen. Padahal DVD suplemen dengan konten audio visual juga menarik untuk dijadikan DVD suplemen majalah. Sejumlah proposal yang sempat saya buat antara lain untuk majalah musik (sejalan dengan program showbiz) dan majalah teknologi (kontennya bisa berupa ‘tips & trick’ atau ‘how to’). Tapi perlu diperhatikan bahwa prinsipnya apa yang tayang di Kompas TV bisa kemudian menjadi produk dalam bentuk lain pada platform yang berbeda. Sehingga tidak ada program/tayangan/visual yang hanya digunakan/ditayangkan sekali dan bisa terus menghasilkan revenue.

TELEVISI DIJITAL

Setidaknya ada dua kelompok besar produk turunan televisi dijital, yaitu: IPTV dan Hand Phone.

- IPTV

IPTV merupakan TV menggunakan jaringan Internet Protocol. Jadi siarannya hanya mungkin menggunakan jaringa internet. Ini dimungkinkan menggunakan Set Top Box. Sejauh ini LG sudah meluncurkan Set Top Box produksinya. Salah satu keunggulan Set Top Box adalah memungkinkan untuk merekam program tertentu dan siap untuk di-‘playback’ ketika pemiliknya tiba di rumah.

- HANDPHONE/PDA

Handphone saat ini tidak banyak menjadi platform audio visual kecuali yang ‘media ready’ seperti i-Phone 3G, Blackberry Storm dan PDA berbasis OS windows-mobile. Pada umumnya pengguna men-download konten audio visual menggunakan PC/laptop sebelum memindahkannya ke handphone/PDA untuk ditonton saat menunggu dokter gigi dan lain sebagainya. Kalau bicara konten audio visual pada perangkat bergerak berarti dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu online dan offline:

• Online

YouTube dengan mudah dinikmati di i-Phone 3G. Sedangkan pada perangkat Blackberry tidak bisa dinikmati karena BB tidak men-support flash player. PDA bisa dengan mudah dinikmati menggunakan player video streaming, tapi kualitasnya tak terlalu bagus. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan sejalan dengan konsep Video On Demand. Skema revenuenya jika dilihat dari Zulu adalah menawarkan konten yang gratis tapi juga menawarkan skema PREMIUM dengan konten-konten premium dan tidak tersedia di bagian konten gratis. Skema PREMIUM bisa berlangganan ‘unlimited download’ atau bayar per satuan konten.

• Offline

Contoh layanan ‘offline’ adalah layanan yang ditawarkan RealPlayer. Mereka mengharuskan pengguna untuk me-register nomer kartu kreditnya dulu sebelum menggunakan layanan gratisnya sehingga setiap saat pengguna hendak men-download film tertentu tagihannya otomatis masuk ke kartu kredit.

Contoh lainnya adalah NetFlix. Yang menarik dari NetFlix adalah mereka memberikan layanan download melalui perangkat Xbox 360.

Produk ‘offline’ bukan hanya monopoli perangkat hand-phone tapi juga operator telepon selular. Contohnya adalah WAP Indosat maupun WAP Telkom 3G. Pelanggan operator itu bisa mendownload konten mobile sesukanya melalui WAP.

MEDIA PLAYER

- I-POD/ I-PAD

I-Pod/ I-Pad memberikan layanan download konten audio visual melalui situsnya. Konten yang di-download bisa langsung dimasukkan ke dalam I-Pod.

- ARCHOS

Selain I-Pod ada lagi produk media tablet yaitu Archos. Archos memang di-desain sebagai perangkat ‘playback’ layaknya I-Pod. Yang menarik adalah Archos bisa terhubung dengan jaringan internet (menggunakan perangkat tambahan) sehingga bisa menonton YouTube maupun Google Video di perangkat itu. Archos juga bisa disambungkan ke televisi sehingga bisa menikmati konten audio visual di layar televisi di rumah, selain menggunakannya saat bepergian.

TELEVISI LUAR NEGERI:

Sejumlah perusahaan content provider luar negeri memiliki channel-nya sendiri dan menjualnya sebagai bagian dari konten televisi berbayar. Antara lain Asia Food Channel (First Media & Indovision), Discovery Travel & Living, Animal Planet dan National Geographic.

Konten dalam Asia Food Channel kebanyakan dibuat perusahaan Singapura dan India. Programnya berkaitan dengan makanan di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura seperti di Asia Selatan seperti India. Program yang menggunakan presenter Malaysia dan menyajikan makanan khas Malaysia ada di channel ini. Tapi program dengan presenter Indonesia dan makanan khas Indonesia tidak ada. Artinya program Kompas TV yang sifatnya kuliner bisa menjadi produk menarik bagi channel ini.

Begitu juga dengan channel Discovery Travel & Living. Tapi cakupannya jauh lebih luas, sehingga tidak hanya meliputi makanan tapi juga alam. Saya sempat menjajaki kemungkinan ini dengan mendaftar sebagai ‘possible program supplier’ pada situs khusus untuk produser dari Discovery Travel & Living. Tapi ada kabar bahwa sulit sekali memasukkan program melalui situs ini. Kabarnya ide yang masuk melalui situs itu belakangan digarap oleh tim produksi dari perusahaan penyedia jasa produksi luar negeri di Indonesia seperti Asia Works dan In-Focus. Jadi tidak jatuh ke produser yang mengajukan ide program melalui situs itu.

Animal Planet merupakan bagian dari network Discovery Travel & Living. Sementara kekayaan alam Indonesia yang tayang di National Geographic, kebanyakan digarap oleh Allan Compost.

Selain itu tentunya adalah kantor berita seperti APTN & Reuters. Peluang kebutuhan konten dari Indonesia di tingkat regional saya pikir cukup kuat. Mungkin perlu menjajaki kebutuhan informasi dari Indonesia untuk negara seperti Vietnam, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam dan Malaysia.