<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801</id><updated>2012-02-02T22:12:30.819-08:00</updated><category term='in memoriam'/><category term='wimax'/><category term='gus dur'/><category term='priuk memorial'/><category term='dokumenter'/><category term='militer'/><category term='kontras'/><category term='tionghoa'/><category term='safety'/><category term='agenda reformasi'/><category term='jihad'/><category term='98'/><category term='keselamatan'/><category term='indonesian minister of finance'/><category term='unik'/><category term='etnis'/><category term='sugarda'/><category term='netflix'/><category term='sampit'/><category term='sri mulyani'/><category term='rusuh'/><category term='pewayangan'/><category term='beban jaringan internet'/><category term='produksi berita televisi'/><category term='lucu'/><category term='tni'/><category term='teknis penulisan'/><category term='industri televisi'/><category term='penjadwalan'/><category term='konseptualisasi program internet tv'/><category term='apple tv'/><category term='saluran'/><category term='rasio audio visual'/><category term='pasola'/><category term='internet tv'/><category term='Catatan Kaki'/><category term='rcti'/><category term='platform'/><category term='stress'/><category term='dalang cilik'/><category term='wayang kulit'/><category term='Opini'/><category term='riot'/><category term='helvy'/><category term='programming'/><category term='Dialog Sudut Pandang'/><category term='Jurnalisme'/><category term='australia'/><category term='beban'/><category term='tivo'/><category term='tahapan produksi'/><category term='amazon on demand'/><category term='koja'/><category term='broadcast'/><category term='abdurrahman wahid'/><category term='Investigasi'/><category term='video on demand'/><category term='munir'/><category term='LIVE REPORTING'/><category term='tragedi'/><category term='journalist'/><category term='pembuatan laporan mendalam'/><category term='Liputan'/><category term='Produksi'/><category term='bhayu'/><category term='vod'/><category term='film'/><category term='pengalaman'/><category term='content'/><category term='sumba barat daya'/><category term='WISHLIST'/><category term='perkosaan'/><category term='Jurnalis'/><title type='text'>The Brush Stroke Journal (Bhayu Sugarda's Blog)</title><subtitle type='html'>My thoughts and work in progress as a journalist.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>47</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-6454861371758117994</id><published>2011-01-25T00:13:00.001-08:00</published><updated>2011-01-25T00:17:37.581-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wimax'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tivo'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='apple tv'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='amazon on demand'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video on demand'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vod'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='netflix'/><title type='text'>THE ESSENCE OF VIDEO ON DEMAND</title><content type='html'>'Video on demand' pada dasarnya adalah menyaksikan video yang diminati atau 'on demand'. Teknologi untuk layanan VoD – Video on Demand sebenarnya telah tersedia sejak lama dengan adanya layanan Youtube misalnya.yang termasuk layanan VoD tertua sejauh ini. Tapi konten yang sifatnya diminati belum bisa disediakan Youtube. Beberapa faktor penyebabnya adalah sulitnya akses mendapatkan konten video yang diminati, seperti misalnya film box office, dan keterbatasan teknologinya waktu itu terkait buffering time misalnya. Namun, belakangan ini konten VoD mulai mengejar ketinggalannya melalui layanan seperti Tivo, Netflix, Amazon on Demand and Apple TV karena mereka menawarkan layanan VoD berikut konten video yang memang 'on demand'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian akan sangat salah jika memberikan konten video yang sifatnya tidak diminati atau dicari alias 'on demand'  dalam sebuah paket layanan VoD. First Media memiliki teknologi untuk memberikan layanan Vod yang baik melalui jaringan internet pita besarnya (broadband). Sehingga memungkinkan penikmat VoD untuk menyaksikan video yang sifatnya 'on demand' atau premium melalui layar monitor komputer mereka. Teknologi yang tersedia saat ini bahkan memungkinkan konten VoD dinikmati melalui televisi multimedia misalnya. Sejauh ini yang sudah menyediakan televisi jenis ini adalah LG dan Panasonic. Sayang, saat ini kemampuan orang untuk membeli televisi multimedia yang pada umumnya juga memiliki spesifikasi HD masih terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wimax di lain pihak memberikan layanan yang berbeda karena memungkinkan penonton menyaksikan konten video dalam perjalanan. Alat yang dipakai untuk menyaksikan video secara 'mobile' antara lain adalah smart phone dan atau media tablet seperti Ipad, samsung galaxy atau Archos. Media tablet lebih 'user friendly' karena ukuran layarnya sehingga memungkinkan untuk menyaksikan video film box office yang berdurasi satu setengah hingga dua jam tanpa menyebabkan kelelahan pada mata. Sedangkan smart phone memiliki ukuran layar video yang tidak layak digunakan menonton video terlalu lama. Sehingga sebaiknya VoD yang ditawarkan untuk layanan mobile devices memiliki durasi yang pendek. Salah satu praktisi mobile content dalam sebuah diskusi di jaringan professional linkedin.com bahkan berani menyimpulkan bahwa video yang dinikmati di mobile devices adalah video untuk mengusir kebosanan dan kesendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi VoD secara mendasar haruslah berisi konten yang sifatnya premium, berapa pun durasinya. Tentunya konten video yang sifatnya premium akan mengeluarkan biaya produksi mahal. Karena itu dalam pembuatannya harus menjadi bahan pertimbangan bahwa video juga dibuat untuk tayangan setengah hingga satu jam di layar televisi sesungguhnya – khususnya televisi berbayar. Mengapa harus televisi berbayar? Sebab captive viewers-nya dari kalangan yang sama – menengah ke atas – sehingga kebutuhan informasinya tidak jauh berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu informasi atau konten seperti apa yang dibutuhkan pelanggan televisi berbayar? Bagaimana kita bisa unggul dari penyelia konten televisi berbayar lainnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- CONTENT maybe the king...among elements that make up for media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- But among competing contents ARCHIVE is the king&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frase pertama adalah 'mantra' yang diusung desainer web di masa pra dot.com. Dalam beberapa hal frase itu masih berlaku saat ini. Tapi di antara para penyelia konten...semakin 'lengkap' sebuah konten maka semakin unggul dia dari penyelia konten lainnya. Ini bisa dilihat dari review tentang Apple TV misalnya di sejumlah referensi majalah/website teknologi. Salah satu keluhan yang muncul adalah keterbatasan konten yang tersedia di Apple TV  jika dibandingkan Tivo atau Netflix misalnya. Beberapa tayangan seperti serial 'House' tidak tersedia di Apple TV sehingga dianggap mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, berikut rekomendasi saya terkait rancangan web. Kategori dibagi layaknya sebuah 'video library' dibanding 'rubrik' di media cetak, seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Animals (wildlife, pets, zoos)&lt;br /&gt; Nature (forest, rivers, mountains)&lt;br /&gt; Cultures (west, east, etc.)&lt;br /&gt; Places (monument, landscapes, historical)&lt;br /&gt; People (artists, magicians, jobs)&lt;br /&gt; Culinary/Food (cooks, foods, delicacies)&lt;br /&gt; Sport (traditional, extreme, hobbies)&lt;br /&gt; News&lt;br /&gt; Documentary &lt;br /&gt; Tutorials&lt;br /&gt; Entertainment&lt;br /&gt; Stock Shots&lt;br /&gt; Video Greetings&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tagline untuk penikmat VoD - “Visons to Empower You”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tagline untuk calon pembeli konten premium - “Great Content Starts Here.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dijelaskan bahwa di kategori 'animals' akan berisi konten video binatang yang nantinya bisa dirangkai dan diramu kembali menjadi program penuh setengah jam misalnya. Tentu sebagian besar produk yang muncul adalah untuk program anak-anak misalnya. Konten dari 'nature' akan lebih kepada program travel misalnya. 'Culture' lebih kepada tentang kebudayaan sehingga produk turunannya lebih kepada program travel. Sedangkan 'Places' bisa menjadi program sejarah misalnya terutama terkait tempat-tempat bersejarah. 'People' bisa menjadi program pendidikan atau biografi.  Sementara 'culinary' atau 'sport' bisa menjadi program yang sifatnya lebih spesifik seperti program masak memasak atau olahraga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;News, documentary, tutorials, entertainment, stock shots dan video greetings adalah layanan premium yang akan dijual ke penyelia konten lain atau penikmat VoD yang berminat. Turunan produknya bisa berupa news wire, full program 13 episode, dvd retail bahkan stock shot untuk film atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan sangat bagus bila ada bagian khusus untuk pembelian video lengkap 13 episode. Proses pembayarannya bisa beragam, misalnya kartu kredit atau atm misalnya. Penentuan harganya mungkin bisa juga diperlakukan layaknya RBT. Eceran tapi banyak. Alternatif penetapan harga lain adalah harga retail untuk low-resolution dan harga premium untuk high resolution HD.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-6454861371758117994?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/6454861371758117994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=6454861371758117994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6454861371758117994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6454861371758117994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2011/01/essence-of-video-on-demand.html' title='THE ESSENCE OF VIDEO ON DEMAND'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-7867975536328623420</id><published>2011-01-24T21:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T00:23:51.423-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet tv'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beban jaringan internet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beban'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rasio audio visual'/><title type='text'>BEBAN MENENTUKAN PRESTASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lFDYzQlI/AAAAAAAAAG0/jU7UcdiDEh0/s1600/grafik%2B1.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lFDYzQlI/AAAAAAAAAG0/jU7UcdiDEh0/s400/grafik%2B1.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565997326959592018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBAN (BANDWIDTH -&gt; UPTO):&lt;br /&gt;- TELKOM FLASH (CDMA) BASIC : 256 kbps (Rp 125.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- TELKOM FLASH (CDMA) ADVANCE : 512 kbps (Rp 225.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- TELKOM FLASH (CDMA) PRO: 3600 kbps (Rp 400.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- INDOSAT IM2 BROOM: 30 kbps (Rp 150.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- XL MEGADATA GIGADATA: 30 kbps (Rp 99.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- FASTNET 384: 384 kbps (Rp 135.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- FASTNET 512: 512 kbps (Rp 195.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- FASTNET 768: 768 kbps (Rp 295.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- FASTNET 1500: 1500 kbps (Rp 595.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- FASTNET  3000: 3000 kbps (Rp 1.195.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;- FASTNET SOHO:  1500 kbps (Rp 695.000,-)/BULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh tampilan sesuai speed (kbps) tanpa mempertimbangkan kualitas audio masing-masing, menggunakan IM2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lREFr4zI/AAAAAAAAAG8/Vw3cy7g5vac/s1600/grafik%2B2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lREFr4zI/AAAAAAAAAG8/Vw3cy7g5vac/s400/grafik%2B2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565997533306282802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lh0oK9ZI/AAAAAAAAAHE/8zS8ziWQgHU/s1600/grafik%2B3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 128px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lh0oK9ZI/AAAAAAAAAHE/8zS8ziWQgHU/s400/grafik%2B3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565997821213734290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5l3NYg8jI/AAAAAAAAAHM/v8APDZ8iUrs/s1600/grafik%2B4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 147px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5l3NYg8jI/AAAAAAAAAHM/v8APDZ8iUrs/s400/grafik%2B4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565998188636205618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5l_NHuF_I/AAAAAAAAAHU/vwkaFDM4S3g/s1600/grafik%2B5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5l_NHuF_I/AAAAAAAAAHU/vwkaFDM4S3g/s400/grafik%2B5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565998326004717554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5mIMjyKFI/AAAAAAAAAHc/MYQxhpmMGbo/s1600/grafik%2B6.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 130px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5mIMjyKFI/AAAAAAAAAHc/MYQxhpmMGbo/s400/grafik%2B6.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565998480472811602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR YANG MEMPENGARUHI:&lt;br /&gt;- BANDWIDTH -&gt; FASILITAS JARINGAN PENGGUNA (MAHAL/MURAH)&lt;br /&gt;- BEBAN (KUALITAS VIDEO + AUDIO)-&gt;SEMAKIN BAGUS SEMAKIN BERAT&lt;br /&gt;- LOKASI SERVER (LOKAL/LUAR NEGERI)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-7867975536328623420?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/7867975536328623420/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=7867975536328623420' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7867975536328623420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7867975536328623420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2011/01/beban-menentukan-prestasi.html' title='BEBAN MENENTUKAN PRESTASI'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5lFDYzQlI/AAAAAAAAAG0/jU7UcdiDEh0/s72-c/grafik%2B1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-6508670779547432756</id><published>2011-01-24T21:03:00.001-08:00</published><updated>2011-01-25T00:23:01.586-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet tv'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dokumenter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='saluran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='industri televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='platform'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='content'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='broadcast'/><title type='text'>PLATFORM YANG BISA DIMANFAATKAN</title><content type='html'>Konten audio visual Kompas TV memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara komersil. Ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi media ready, seperti misalnya tv dijital, telepon nirkabel dan media tablet. Namun, masing-masing platform memiliki keuntungan dan kerugian terutama dalam kondisi ekonomi seperti saat ini. Di bawah ini merupakan rangkuman peluang pemanfaatan platform untuk memperoleh revenue, berdasarkan observasi yang saya lakukan sebelum masuk KCM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELEVISI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- TELEVISI LOKAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi lokal jelas memerlukan konten program. Keterbatasan kapabilitas televisi lokal untuk membuat program menyebabkan mereka membeli program lama atau menayangkan video klip yang mereka dapatkan dari VCD/DVD bajakan. Tentunya ada beberapa televisi lokal yang cenderung makmur, seperti Bali TV dan Jawa Pos TV, sehingga mereka bisa dengan leluasa membuat program sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skema kerjasama yang ditawarkan televisi lokal pada umumnya adalah kerjasama dan keuntungan dibagi berdasarkan pemasukan iklan. Mereka cenderung menolak untuk membeli program. Content Provider atau pembuat konten televisi biasanya menggunakan televisi lokal sebagai eksposur dan bukan mengharapkan programnya untuk dibeli. Diantaranya VOA, Tempo TV dan Astro Awani. Ketiganya tidak mendapatkan revenue/pendapatan langsung dari televisi lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ide yang sempat saya kembangkan adalah PROGRAM KNOCK-DOWN. PROGRAM KNOCK-DOWN adalah produk audio visual berupa kelengkapan program yang nantinya bisa di-‘bangun’ sendiri oleh televisi lokal. Seperti misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Skrip&lt;br /&gt;• Virtual set&lt;br /&gt;• Bumper In/Out, Short Bumper&lt;br /&gt;• Insert Video&lt;br /&gt;• Graphics&lt;br /&gt;• Music illustration&lt;br /&gt;• Props&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungannya setial tv lokal bisa membuat program itu sesuai dengan ke-khasan masing-masing. Harga pembelian untuk 13 episode pun menjadi jauh lebih murah. Biaya pembuatannya pun bisa di-‘tekan’ karena tak memerlukan presenter atau set yang dibuat terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- TELEVISI NETWORK (SOON TO BE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk televisi network (seperti misalnya TV One, RCTI, etc) sejauh ini hanya ada beberapa yang menerima pembelian produk dari luar (alias commissioning). Antara lain Metro TV, TV One dan Trans TV. Saat ini yang sedang gencar-gencarnya mencari produk dari luar adalah TV One (bagian programming sedang men-develop program dokumenter dengan kualitas produksi tinggi hingga bujet per episode-nya mencapai 50 juta rupiah dan produksinya terbuka untuk PH). Contoh program dari luar yang tayang di Metro TV seperti i-Witness dan program otomotif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala terbesar dari televisi network adalah masalah lolos QC dan rating. Jika lolos QC tapi lalu ratingnya dianggap buruk, maka program itu tidak akan bertahan lama. Contoh kasus adalah program Kafe Finansial yang hanya tayang sebanyak 6 episode di TV One. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- TELEVISI BERBAYAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, First Media terus berupaya membuat news channel. Sementara Indovision telah menayangkan konten hasil produksi MNC. Antara lain channel news dan musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telkomvision di lain pihak sangat terbuka dengan proposal kerjasama dari pihak ketiga. Sejumlah kerjasama yang sempat ditawarkan Astro Awani berkaitan dengan channel bisnis, pembuatan program olahraga dan mobile content (untuk telkomsel).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi berbayar AORA juga kabarnya akan segera menandatangai MOU dengan investor yang memungkinkan mereka menyajikan 60 channel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DVD RELEASE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- DVD RETAIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah DVD retail yang sifatnya non-hiburan ternyata juga banyak dibeli konsumen. Seperti misalnya seri National Geographic dan seri BBC documentaries. Memang rawan bajakan, tapi selama ini bukan hiburan komersial (alias hollywood/bollywood/indowood) saya pikir pasar retail tetap menjadi pasar yang menarik untuk dijajaki. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- DVD SUPLEMEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini hanya majalah PC Media yang memberikan DVD suplemen. Padahal DVD suplemen dengan konten audio visual juga menarik untuk dijadikan DVD suplemen majalah. Sejumlah proposal yang sempat saya buat antara lain untuk majalah musik (sejalan dengan program showbiz) dan majalah teknologi (kontennya bisa berupa ‘tips &amp; trick’ atau ‘how to’). Tapi perlu diperhatikan bahwa prinsipnya apa yang tayang di Kompas TV bisa kemudian menjadi produk dalam bentuk lain pada platform yang berbeda. Sehingga tidak ada program/tayangan/visual yang hanya digunakan/ditayangkan sekali dan bisa terus menghasilkan revenue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELEVISI DIJITAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua kelompok besar produk turunan televisi dijital, yaitu: IPTV dan Hand Phone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- IPTV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IPTV merupakan TV menggunakan jaringan Internet Protocol. Jadi siarannya hanya mungkin menggunakan jaringa internet. Ini dimungkinkan menggunakan Set Top Box. Sejauh ini LG sudah meluncurkan Set Top Box produksinya. Salah satu keunggulan Set Top Box adalah memungkinkan untuk merekam program tertentu dan siap untuk di-‘playback’ ketika pemiliknya tiba di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- HANDPHONE/PDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone saat ini tidak banyak menjadi platform audio visual kecuali yang ‘media ready’ seperti i-Phone 3G, Blackberry Storm dan PDA berbasis OS windows-mobile. Pada umumnya pengguna men-download konten audio visual menggunakan PC/laptop sebelum memindahkannya ke handphone/PDA untuk ditonton saat menunggu dokter gigi dan lain sebagainya. Kalau bicara konten audio visual pada perangkat bergerak berarti dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu online dan offline:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Online&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YouTube dengan mudah dinikmati di i-Phone 3G. Sedangkan pada perangkat Blackberry tidak bisa dinikmati karena BB tidak men-support flash player. PDA bisa dengan mudah dinikmati menggunakan player video streaming, tapi kualitasnya tak terlalu bagus. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan sejalan dengan konsep Video On Demand. Skema revenuenya jika dilihat dari Zulu adalah menawarkan konten yang gratis tapi juga menawarkan skema PREMIUM dengan konten-konten premium dan tidak tersedia di bagian konten gratis. Skema PREMIUM bisa berlangganan ‘unlimited download’ atau bayar per satuan konten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Offline &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh layanan ‘offline’ adalah layanan yang ditawarkan RealPlayer. Mereka mengharuskan pengguna untuk me-register nomer kartu kreditnya dulu sebelum menggunakan layanan gratisnya sehingga setiap saat pengguna hendak men-download film tertentu tagihannya otomatis masuk ke kartu kredit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya adalah NetFlix. Yang menarik dari NetFlix adalah mereka memberikan layanan download melalui perangkat Xbox 360.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk ‘offline’ bukan hanya monopoli perangkat hand-phone tapi juga operator telepon selular. Contohnya adalah WAP Indosat maupun WAP Telkom 3G. Pelanggan operator itu bisa mendownload konten mobile sesukanya melalui WAP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDIA PLAYER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- I-POD/ I-PAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I-Pod/ I-Pad memberikan layanan download konten audio visual melalui situsnya. Konten yang di-download bisa langsung dimasukkan ke dalam I-Pod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- ARCHOS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain I-Pod ada lagi produk media tablet yaitu Archos. Archos memang di-desain sebagai perangkat ‘playback’ layaknya I-Pod. Yang menarik adalah Archos bisa terhubung dengan jaringan internet (menggunakan perangkat tambahan) sehingga bisa menonton YouTube maupun Google Video di perangkat itu. Archos juga bisa disambungkan ke televisi sehingga bisa menikmati konten audio visual di layar televisi di rumah, selain menggunakannya saat bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELEVISI LUAR NEGERI:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah perusahaan content provider luar negeri memiliki channel-nya sendiri dan menjualnya sebagai bagian dari konten televisi berbayar. Antara lain Asia Food Channel (First Media &amp;  Indovision), Discovery Travel &amp; Living, Animal Planet dan National Geographic. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konten dalam Asia Food Channel kebanyakan dibuat perusahaan Singapura dan India. Programnya berkaitan dengan makanan di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura seperti di Asia Selatan seperti India. Program yang menggunakan presenter Malaysia dan menyajikan makanan khas Malaysia ada di channel ini. Tapi program dengan presenter Indonesia dan makanan khas Indonesia tidak ada. Artinya program Kompas TV yang sifatnya kuliner bisa menjadi produk menarik bagi channel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan channel Discovery Travel &amp; Living. Tapi cakupannya jauh lebih luas, sehingga tidak hanya meliputi makanan tapi juga alam. Saya sempat menjajaki kemungkinan ini dengan mendaftar sebagai ‘possible program supplier’ pada situs khusus untuk produser dari Discovery Travel &amp; Living. Tapi ada kabar bahwa sulit sekali memasukkan program melalui situs ini. Kabarnya ide yang masuk melalui situs itu belakangan digarap oleh tim produksi dari perusahaan penyedia jasa produksi luar negeri di Indonesia seperti Asia Works dan In-Focus. Jadi tidak jatuh ke produser yang mengajukan ide program melalui situs itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Animal Planet merupakan bagian dari network Discovery Travel &amp; Living. Sementara kekayaan alam Indonesia yang tayang di National Geographic, kebanyakan digarap oleh Allan Compost. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu tentunya adalah kantor berita seperti APTN &amp; Reuters. Peluang kebutuhan konten dari Indonesia di tingkat regional saya pikir cukup kuat. Mungkin perlu menjajaki kebutuhan informasi dari Indonesia untuk negara seperti Vietnam, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam dan Malaysia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-6508670779547432756?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/6508670779547432756/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=6508670779547432756' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6508670779547432756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6508670779547432756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2011/01/platform-yang-bisa-dimanfaatkan.html' title='PLATFORM YANG BISA DIMANFAATKAN'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5832631453850358387</id><published>2011-01-24T20:34:00.000-08:00</published><updated>2011-01-25T00:22:20.490-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='produksi berita televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='konseptualisasi program internet tv'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dokumenter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tahapan produksi'/><title type='text'>KONSEPTUALISASI PROGRAM INTERNET TV</title><content type='html'>Platform  : Situs internet TV&lt;br /&gt;Rasio ukuran layar : 16:9&lt;br /&gt;Format   : Live streaming dan Video On Demand&lt;br /&gt;Durasi   : 30 menit dan 2 menit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konten dari iNTERNET TV jelas merupakan materi audio visual. Konsep dasar INTERNET TV yang baru adalah internet tv sebagai platform.  Apa bedanya internet TV dengan tayangan televisi bebas bayar dan televisi berbayar? Tidak ada bedanya. Karena internet TV adalah tayangan televisi yang ditayangkan menggunakan saluran jaringan internet. Di Indonesia saat ini sudah banyak situs yang menawarkan layanan tv internet. Sejumlah situs tv streaming Indonesia antara lain adalah www.mivo.tv, www.indoweb.tv dan www.jakartacityview.com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri tv internet memiliki keterbatasan yaitu ketergantungannya terhadap jaringan internet. Semakin kuat jaringannya, pengunjung situs semakin bisa menikmati tv internet. Jika jaringan yang digunakan bukan jaringan pita lebar atau broadband tentunya kelancaran tayangan untuk disaksikan pengunjung situs akan terganggu. Pengalaman atau ‘experience’ dari pengunjung situs saat menonton tv streaming menjadi seperti ‘stop’ and ‘go’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5TMkPfSUI/AAAAAAAAAGM/nA2mBkNbHWU/s1600/DIAGRAM%2B1.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5TMkPfSUI/AAAAAAAAAGM/nA2mBkNbHWU/s400/DIAGRAM%2B1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565977664828688706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram 1: TV Streaming – Mivo TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah tantangan sekaligus keunggulan yang diharapkan bisa tercapai untuk INTERNET TV. Sehingga target audiens dari INTERNET TV adalah bukan pengguna broadband melainkan pengguna internet dengan layanan di bawah layanan broadband. Pemikirannya adalah semakin tayangan INTERNET TV bisa dinikmati tanpa menggunakan jaringan broadband semakin luas penontonnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, INTERNET TV tidak hanya menawarkan internet tv. INTERNET TV juga menawarkan dua fitur utama lainnya, yaitu Video On Demand dan Multi Media. Prinsipnya adalah konten internet tv usai ditayangkan akan di-archive atau disimpan tapi bisa disaksikan kembali kapan saja dalam fitur Archive Show dan bagian tertentu dari program akan dicacah untuk menjadi konten video yang bisa dinikmati secara terpisah. Konten video ‘pecahan’ itu akan menjadi konten Video On Demand. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5UA_WAdWI/AAAAAAAAAGU/Qy5bk5r7vIE/s1600/DIAGRAM%2B2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 269px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5UA_WAdWI/AAAAAAAAAGU/Qy5bk5r7vIE/s400/DIAGRAM%2B2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565978565456983394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram 2: Archive Show – NDTV (New Delvi Television)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fitur Video On Demand pada intinya adalah katalog video yang bisa di-akses pengunjung situs. Pengunjung bisa dengan aktif memilih tayangan apa yang diinginkannya, sehingga fitur ini bertolak belakang dengan internet tv (tv streaming) yang cenderung dinikmati secara pasif oleh pengunjung. Tapi konten Video On Demand memiliki kendala yang sama dengan internet tv, yaitu keterbatasan kemampuan jaringan internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5UUi_cbmI/AAAAAAAAAGc/D1y1jmkrfuc/s1600/DIAGRAM%2B3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 206px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5UUi_cbmI/AAAAAAAAAGc/D1y1jmkrfuc/s400/DIAGRAM%2B3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565978901443538530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram 3: Video On Demand – MSN videos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs Video On Demand yang paling banyak diakses pengunjung situs internet antara lain You Tube, Zulu dan MSN video. Karakteristik dari situs Video On Demand ini adalah pengunjung situs bisa menikmati konten video secara ‘online’ dan ‘ofline’. Artinya jika konten video dinikmati saat terhubung dengan internet maka konten video itu dinikmati secara ‘online’. Sedangkan jika konten video dinikmati pasca proses unduh, maka konten video itu dinikmati secara ‘offline’. Netflix adalah salah satu situs yang menawarkan konten video secara ‘offline’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya merupakan bentuk yang inferior dibanding televisi dalam hal kepuasan menikmatinya karena penonton terhambat saat menikmatinya. Konten video ‘online’ berjalan tersendat-sendat ketika terhubung dengan jaringan internet bukan broadband. Sedangkan konten ‘offlline’ harus unduh atau ‘download’ selama beberapa menit sebelum bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi hambatan itu, jalan keluarnya adalah membuat proses menunggu (baik karena tersendat maupun karena perlu waktu mengunduh) harus dibuat senyaman mungkin. Caranya dengan membatasi durasi konten audio visual Video On Demand. Melalui proses uji coba pada situs portal video berita www.astroawani.co.id maka disimpulkan durasi ideal untuk konten Video On Demand adalah 2 menit. Alasannya karena paket berita minimal berdurasi 1 menit lebih. Durasi 2 menit dipilih agar bisa lebih leluasa dalam mengeksplorasi gambar dan cerita, tapi juga sekaligus bisa membuat penonton nyaman dalam menontonnya. Selain itu, durasi 2 menit dianggap ideal karena proses loading gambar akan ‘terlihat’ cukup cepat di layar sehingga tidak menguji kesabaran penonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5UnDKW4cI/AAAAAAAAAGk/SNEpA0uSR5Q/s1600/DIAGRAM%2B4.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 210px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5UnDKW4cI/AAAAAAAAAGk/SNEpA0uSR5Q/s400/DIAGRAM%2B4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565979219316892098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Keterkaitan durasi yang lebih pendek sehingga proses loading lebih mudah belum sepenuhnya terbukti karena sebenarnya kondisi jaringan broadband memiliki pengaruh sama baik terhadap  konten berdurasi pendek atau panjang.  Pemahamannya adalah jika jaringan broadband dalam kondisi padat, tingkat kenyamanan penonton menyaksikan live streaming tetap akan sama terhadap konten berdurasi 2 atau 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari durasi konten Video On Demand maksimal 2 menit, proses produksi harus didasari program televisi dengan kelipatan 30 menit terlebih dahulu sebelum dipecah menjadi konten audio visual berdurasi lebih pendek. Karena konten awalnya akan ditayangkan di internet tv sebelum dipecah menjadi konten Video On Demand. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5U5iOiszI/AAAAAAAAAGs/njoEyKkHVsg/s1600/DIAGRAM%2B5.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 241px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5U5iOiszI/AAAAAAAAAGs/njoEyKkHVsg/s400/DIAGRAM%2B5.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565979536893588274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diagram 5 menjelaskan bahwa program televisi berdurasi 30 menit dibuat sebagai konten yang potensial untuk platform televisi bebas bayar, televisi berbayar dan internet tv. Tapi untuk saat ini platform televisi bebas bayar dan televisi berbayar bukanlah prioritas INTERNET TV. Sehingga saat ini program televisi dibuat untuk memasok konten untuk internet tv melalui tayangan live streaming. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program itu lalu dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau pendek durasinya untuk memasok konten Video On Demand baik ‘online’ maupun ‘offline’. Pemecahan program dilakukan berdasarkan unsur atau elemen yang terkandung dalam program itu. Elemen-elemen yang menjadi bagian dari program televisi pada dasarnya baku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5832631453850358387?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5832631453850358387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5832631453850358387' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5832631453850358387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5832631453850358387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2011/01/konseptualisasi-program-internet-tv.html' title='KONSEPTUALISASI PROGRAM INTERNET TV'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT5TMkPfSUI/AAAAAAAAAGM/nA2mBkNbHWU/s72-c/DIAGRAM%2B1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-1556605507574474364</id><published>2011-01-24T18:35:00.001-08:00</published><updated>2011-01-25T00:21:09.833-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='internet tv'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video on demand'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='programming'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penjadwalan'/><title type='text'>PENJADWALAN UNTUK MEMETAKAN PROGRAM SESUAI TARGET AUDIENS</title><content type='html'>Penjadwalan merupakan bagian penting dalam pembuatan program karena dengan penjadwalan program perencanaan produksi program menjadi lebih mengerucut dan spesifik. Misalnya penentuan target audiens untuk program otomotif bukan hanya pada tahapan penggemar otomotif, tapi sudah menjadi penggemar otomotif antara usia 20 s/d 30 tahun, atau penggemar otomotif di atas 30 tahun. Dengan demikian pendekatan terhadap program menjadi lebih spesifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kegunaannya adalah penentuan prioritas penjadwalan program khususnya pada tahap awal pembuatan internet TV. Misalnya di tahap awal internet tv penjadwalan dibuat saat ‘peak hours’ situs berita terkait untuk melihat seberapa jauh pengunjung berita dot com tertarik mencoba internet tv. Karena penjadwalan dibuat saat peak hours maka data yang terkumpul dari kunjungan situs menjadi ‘bench mark’ yang harus dipertahankan. Teorinya adalah jumlah pengunjung internet tv saat ‘peak hours’ kompas.com merupakan indikator kuat keberhasilan internet tv, sehingga jumlah pengunjung saat ‘peak hours’ itu menjadi patokan jumlah pengunjung yang harus dikejar pada jam-jam lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan perilaku menonton televisi bebas bayar, penonton internet tv bergantung pada saat pengguna internet berada di depan monitor komputer. Jam atau waktu saat pengguna internet berada di depan komputer menjadi salah satu pertimbangan saat menentukan jadwal program. Kemudian perilaku pengguna internet dipecah menjadi berbagai kelompok masyarakat seperti laki-laki dan perempuan, bekerja atau tidak bekerja, tua dan muda, di bawah 20 tahun atau di atas 20 tahun serta pengguna aktif kartu kredit di internet atau tidak. Yang terakhir menentukan ‘buying power’ dari penonton internet tv. Karena jika sekedar memiliki ‘buying power’ tapi tidak memiliki kebiasaan menggunakan kartu kredit di internet dampaknya terhadap situs akan sama saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjadwalan atau ‘programming’ dibuat secara berlapis. Lapisan pertama merupakan program bulletin. Program bulletin merupakan prioritas pertama karena program bulletin merupakan ‘showcase’ dari internet tv. Program bulletin menjadi produk andalan internet tv sebagai sebuah media pemberitaan. Sehingga program bulletin per hari dalam sepekan disebar sesuai batasan waktu tertentu, misalnya antara pukul 7 pagi s/d pukul 1 siang. Idealnya programming memang dibuat untuk siaran 24 jam seperti layaknya sebuah channel berita 24 jam. Tapi sah saja jika di awal tahap pembuatan di batasi hanya beberapa jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian lapisan kedua merupakan program non bulletin. Program bulletin ditempatkan sesuai dengan saat dimana target audiensnya berada di depan komputer.  Misalnya program otomotif untuk penggemar otomotif antara usia 20 s/d 30 tahun sengaja ditayangkan setelah pukul sembilan pagi karena asumsinya mereka lebih mungkin berada di depan komputer pada jam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, lapisan ketiga adalah program yang dibeli (akuisisi) atau dipesan (commissioning). Program pesanan atau ‘commissioning’ adalah program yang minta dibuatkan Production House dengan supervisi dari pemesan. Jika lapisan pertama dan kedua telah terisi, yang dilakukan seorang programmer hanya menentukan jenis program yang harus ada di antara program bulletin serta non bulletin sesuai dengan peta perilaku menonton pemirsa internet tv. Jika misalnya antara pukul 8 pagi s/d pukul 10 pagi adalah ibu rumah tangga maka program yang ditayangkan pada jam itu adalah program yang disukai ibu rumah tangga dengan tingkat intelejensi cukup tinggi serta pelanggan layanan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT44Dcip-xI/AAAAAAAAAGE/UQRMXjWAcUk/s1600/PROGRAMMING%2BTV%2BINTERNET.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT44Dcip-xI/AAAAAAAAAGE/UQRMXjWAcUk/s400/PROGRAMMING%2BTV%2BINTERNET.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565947821328825106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemetaan pengunjung sebuah situs berita dalam sehari diperlukan pada tahap pembuatan internet tv. Pemetaan pengunjung situs internet tidak hanya diperlukan untuk memudahkan pembuatan program tapi juga berfungsi untuk menentukan keperluan kapabilitas produksi  sampai batas waktu tertentu. Misalnya untuk 3 bulan mendatang karena hanya akan siaran 6 jam setiap hari dengan asumsi penayangan 4 program produksi sendiri maka diperlukan kapabilitas produksi setidaknya x jumlah campers (kameramen) dan x jumlah produser. Untuk 3 bulan berikutnya, jam tayang akan ditingkatkan menjadi 8 jam sehari dengan asumsi x program produksi sendiri dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian yang dilakukan Alexa untuk menentukan keberhasilan situs (dinilai berdasarkan hit atau jumlah pengunjung sesuai rubrik) belum cukup untuk memetakan pengunjung situs internet terkait jender, usia dan status ekonominya. Penilaian Alexa hanya bisa digunakan untuk menentukan ‘peak hours’. Sedangkan penilaian berdasarkan rubrik tidak sepenuhnya mencerminkan ketiga hal tadi. Misalnya rubrik ‘Perempuan’ tentunya dikunjungi sebagian besar pengguna internet perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan pengunjungnya adalah laki-laki karena indikator untuk itu tidak cukup hanya berdasarkan rubrik. Perlu dilakukan survey untuk memetakan peta pengunjung internet tv.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-1556605507574474364?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/1556605507574474364/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=1556605507574474364' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1556605507574474364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1556605507574474364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2011/01/penjadwalan-untuk-memetakan-program.html' title='PENJADWALAN UNTUK MEMETAKAN PROGRAM SESUAI TARGET AUDIENS'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT44Dcip-xI/AAAAAAAAAGE/UQRMXjWAcUk/s72-c/PROGRAMMING%2BTV%2BINTERNET.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-1180243664408119095</id><published>2011-01-24T18:21:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T18:34:32.659-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='produksi berita televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pembuatan laporan mendalam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teknis penulisan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='WISHLIST'/><title type='text'>PROSES PRODUKSI BERITA TELEVISI</title><content type='html'>Produksi berita televisi dilakukan sesuai SOP (standard operating procedure) produksi konten audio visual lainnya seperti film dan televisi. Sejumlah tahapan yang umum dalam industri audio visual harus dilalui untuk menghasilkan produk audio visual yang sesuai standar. Tahapan itu adalah:&lt;br /&gt;- Pra Produksi&lt;br /&gt;- Produksi &lt;br /&gt;- Pasca Produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idealnya tahapan-tahapan di atas dijalani secara berurutan. Artinya tahapan pertama harus selesai sebelum bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya. Namun, berbeda dengan proses produksi sinetron atau film, produksi berita televisi dilakukan dengan cepat. Bahkan pada situasi tertentu tahapan satu dengan lainnya dilakukan secara bersamaan, sehingga tidak menunggu tahapan satu selesai sebelum bisa memulai tahapan selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lainnya adalah materi audio visual yang diburu. Produksi berita televisi memanfaatkan audio visual seperti apa adanya dan tanpa manipulasi. Sehingga pengambilan gambarnya pun dilakukan ‘as it happen’ atau saat sebuah peristiwa sedang berlangsung. Berikut adalah tahapan produksi pembuatan berita televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PRA PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahap Pra Produksi dipahami sama baik di industri film, televisi maupun lainnya. Tahapan ini adalah tahapan dimana perencanaan dan detil petunjuk pelaksanaan produksi konten audio visual dibuat. Misalnya perencanaan pengambilan gambar berdasarkan interpretasi sutradara film terhadap skenario yang digarapnya dibuat menggunakan papan gambar atau ‘story board’.  Setiap detil sudut pengambilan gambar dibuat sketsanya sehingga saat pelaksanaan Director of Photography (DOP) memiliki panduan dalam mengatur shot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dalam produksi berita harian televisi tidak perlu sampai seperti itu. Beberapa hal yang biasa dilakukan pada tahap pra produksi antara lain adalah riset dan daftar harapan atau WISHLIST. WISHLIST adalah daftar sejumlah hal yang diharapkan diperoleh tim liputan saat berada di lapangan. Salah satu unsur dalam WISHLIST adalah urutan VISUAL/SHOT LIST. VISUAL/SHOT LIST adalah urutan gambar yang diinginkan produser sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan bentuk sederhana dari STORYBOARD. WISHLIST juga seringkali disamakan dengan TOR atau Terms Of Reference. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH WISHLIST:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WISH LIST 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REP/CAM : ULUNG/ AMRUL&lt;br /&gt;LOCATION : DEPOK&lt;br /&gt;DURATION : &lt;br /&gt;DEADLINE : &lt;br /&gt;PROGRAM : TELAAH&lt;br /&gt;PRODUSER : BHAYU SUGARDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACKGROUND:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya perselingkuhan menjadi salah satu yang mendorong orang untuk menyewa detektif swasta. Selain itu status pernikahan yang seringkali disembunyikan juga menjadi penyebab lainnya. Namun, yang menarik adalah detektif swasta marak di perkotaan. Apa kaitannya antara perselngkuhan dengan perkotaan? Apakah kehidupan perkotaan yang begitu individualistis yang mendorong orang untuk berselingkuh? Apakah benar masyarakat perkotaan lebih cenderung untuk melakukan perselingkuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NARASUMBER : ERNA KARIN, SOSIOLOG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOUNDBYTE TARGET:&lt;br /&gt;“Perselingkuhan memang banyak terjadi di perkotaan. Jarangnya bertemu dan sifat individualistis yang kerap melanda masyarakat perkotaan juga mendorong ini terjadi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tekanan di tengah sosial masyarakat materialistis juga mendorong ini terjadi..sehingga orang cenderung menyembunyikan apa yang dianggap tidak lazim dari masyarakat...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kesibukan masyarakat perkotaan, karier, juga memicu orang untuk sulit berinteraksi dengan pasangan. Akhirnya yang muncul adalah kekecewaan dan pelarian...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA TARGET:&lt;br /&gt;• data perselingkuhan tahun 2008&lt;br /&gt;• data perkawinan di bawah tangan/siri tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VISUAL/SHOT LIST:&lt;br /&gt;• set up sosiolog di tengah masyarakat yang penuh kesibukan&lt;br /&gt;• format wawancara yang suram kalo bisa dipertahankan – tapi wajahnya jangan disembunyikan...hehehhe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WISH LIST 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REP/CAM : ASTI/ IGUN&lt;br /&gt;LOCATION : PANCORAN&lt;br /&gt;DURATION : &lt;br /&gt;DEADLINE : &lt;br /&gt;PROGRAM : TELAAH&lt;br /&gt;PRODUSER : BHAYU SUGARDA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACKGROUND: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BODY GUARD ada yang profesional dengan sejumlah skill yang memang diperlukan dalam bertugas. Seperti bela diri, penggunaan senjata api, dll. Tapi ada sebagian yang menanganggap enteng pekerjaan sebagai body guard. Padahal ada seni dibalik itu.&lt;br /&gt;NARA SUMBER: Satpam yang menawarkan jasa pengamanan pribadi atau body guard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOUNDBYTE TARGET:&lt;br /&gt;“yah saya pikir pengalaman sebagai satpam cukup untuk menjadi body guard. Karena saya bisa bela diri...lagipula saya khan punya sertifikat satpam!”&lt;br /&gt;“Kalo ada orang yang macam2 saya pake jurus ini...ciaaaaat”&lt;br /&gt;“sejauh ini klien saya tidak pernah mengeluh. Bahkan saya pun sering diminta menjaga pak RT dan acara besar lainnya seperti 17 agustusan...”&lt;br /&gt;“kalo saya berhadapan dengan preman saya tidak takut...saya tidak perlu senjata...karena saya khan punya jimat ini nih...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DATA TARGET:&lt;br /&gt;• Berapa lama bekerja sebagai satpam?&lt;br /&gt;• Berapa banyak kliennya sejauh ini?&lt;br /&gt;• Sudah menjadi body guard berapa lama?&lt;br /&gt;• Siapa saja kliennya?&lt;br /&gt;• Tarifnya berapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VISUAL/SHOT LIST:&lt;br /&gt;• visual dia latihan&lt;br /&gt;• visual dia lagi bertugas&lt;br /&gt;• visual dia lagi berkumpul bersama satpam tempat dia bekerja dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah laporan mendalam dengan durasi 30 menit, WISHLIST dibuat berdasarkan porsi dari liputan mendalam itu yang akan dilakukan keesokan harinya. Sehingga WISHLIST yang dibuat bisa lebih dari satu dan satu WISHLIST bisa melengkapi WISHLIST lainnya. Satu SEGMEN bisa dibuat dengan 4 atau 5 wishlist.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;PRODUKSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana yang dibuat dengan WIHSLIST bisa jadi berbeda dengan kondisi lapangan. Misalnya nara sumber yang ditargetkan untuk menjadi tokoh utama cerita ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Belum lagi apabila terjadi perkembangan lain yang jauh lebih menarik. Jika ini terjadi maka seorang Produser harus memiliki alternatif rencana sehingga proses produksi tetap bisa berjalan tanpa membuang biaya percuma. &lt;br /&gt;Biasanya 1 WISHLIST bisa diselesaikan dalam waktu sehari. Untuk liputan harian, hasil liputan memiliki target untuk ditayangkan pada program berita harian terdekat. Misalnya liputan pagi akan ditayangkan untuk program berita sore. Sedangkan hasil liputan siang untuk program  berita harian malam. Sementara untuk laporan mendalam, liputan yang belum selesai karena satu dan lain hal bisa dilanjutkan keesokan harinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan lama produksi tim liputan dalam sehari, aturan yang berlaku mengikuti aturan umum karyawan yaitu sekitar 9 jam. Jam bekerja itu sudah termasuk proses membuat ‘rough-cut’ atau edit kasar dari hasil liputan bagi campers dan skrip bagi reporter, sehingga memudahkan editor yang akan meng-edit hasil liputan. Skrip akan di-edit oleh produser dan audio visual akan di-edit oleh editor visual. Dengan demikian produksi di lapangan otomatis hanya sekitar 5 s/d 6 jam. Karena itu perencanaan perlu dibuat sematang mungkin sehingga pada saat pelaksanaannya semua berjalan lancar dan hasilnya memuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PASCA PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan ini, skrip yang telah di-edit produser dan ‘rough cut’ buatan campers akan diserahkan kepada editor visual. Reporter akan mendampingi editor untuk membantu ‘dubbing’ atau membacakan narasi serta mendampinginya meng-edit hasil liputan. Pendampingan ini perlu agar laporan akurat baik secara narasi maupun secara audio-visual. Hasil akhir akan di-preview oleh produser sebelum akhirnya tayang. Jika ada perbaikan produser berhak meminta editor dan reporter untuk mengedit ulang laporan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara untuk laporan mendalam, hasil liputan reporter diserahkan kepada produser. ‘Rough cut’ buatan campers diserahkan ke editor dan skrip diserahkan ke produser untuk diolah lebih lanjut menjadi tayangan yang koheren selama 30 menit. Untuk laporan mendalam selama 30 menit lama proses produksi (pra, produksi dan pasca produksi) bisa menghabiskan waktu 2 pekan atau 14 hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STEP BY STEP PRODUKSI LAPORAN MENDALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapannya kurang lebih sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRA PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 1: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset topik laporan mendalam untuk pitching saat rapat redaksi. Sejumlah ide topik disiapkan produser untuk dibahas lebih jauh dalam rapat redaksi. Supervising editor dan Pemred turut menghadiri rapat itu dan kemudian memutuskan topik yang akan digarap menjadi laporan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 2: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset mendalam dilakukan produser bersama dengan reporter. Tujuannya agar reporter mengerti betul arah dan tujuan liputan mendalam sebuah topik tertentu. Sehingga reporter tidak lagi bingung apa yang harus dilakukannya saat berada di lapangan. Selain itu, reporter menjadi lebih terlibat dalam membangun ‘story’ dan menjadi lebih peka terhadap dinamika lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produser bekerjasama dengan reporter mulai menentukan nara sumber serta pemilihan ‘human example’ atau tokoh utama laporan mendalam itu. Setelah pemilihan nara sumber telah disepakati, reporter menghubungi nara sumber untuk membuat janji liputan keesokan harinya. Sementara produser sudah mulai merangkai cerita dan mempersiapkan WISHLIST liputan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 4 s/d 10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liputan dilakukan selama 7 hari. Hampir setiap hari reporter membuat laporan hasil liputannya dan menyerahkannya kepada produser. Produser dan reporter juga membahas lebih jauh perkembangan di lapangan sebelum menentukan liputan keesokan harinya. Sementara campers mengumpulkan hasil ‘rough cut’ liputannya di tempat penyimpanan yang telah ditentukan sebelumnya. Selama itu produser akan mengawasi serta mengevaluasi hasil liputan sehingga bisa memutuskan apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Perlu dicatat proses produksi tidak harus 7 hari kerja karena itu tergantung seberapa jauh laporan yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCA PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 11 s/d 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari terakhir produksi digunakan untuk melengkapi audio visual. Misalnya gambar cantik alias ‘beauty shot’, sekuen pembuka tayangan atau sekuen sebagai ‘bridging’ atau sekuen yang menjembatani satu bagian cerita ke bagian lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari 11 s/d 14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara proses editing sudah berjalan. Pada hari ke-11 editor akan mem-preview gambar yang telah terkumpul dan memastikan semua gambar yang dibutuhkan skrip telah tersedia. Editor juga mengidentifikasi jika ada gambar yang kurang dan perlu ‘shot’ tambahan.  Pada hari ke-12, editor sudah mulai melakukan proses editing. Proses editing akan didampingi oleh produser. Produser juga berkewajiban memberikan segala kelengkapan yang dibutukan editor dalam bekerja, seperti misalnya grafik dan ilustrasi musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTOH SKRIP LAPORAN MENDALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT41l94YqII/AAAAAAAAAF8/MM7YzvONb9c/s1600/CONTOH%2BSKRIP%2BINDEPTH%2BREPORT.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT41l94YqII/AAAAAAAAAF8/MM7YzvONb9c/s400/CONTOH%2BSKRIP%2BINDEPTH%2BREPORT.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5565945115859003522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-1180243664408119095?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/1180243664408119095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=1180243664408119095' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1180243664408119095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1180243664408119095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2011/01/proses-produksi-berita-televisi.html' title='PROSES PRODUKSI BERITA TELEVISI'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/TT41l94YqII/AAAAAAAAAF8/MM7YzvONb9c/s72-c/CONTOH%2BSKRIP%2BINDEPTH%2BREPORT.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-1634082227989852655</id><published>2010-05-16T20:14:00.000-07:00</published><updated>2010-05-28T07:53:50.747-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='indonesian minister of finance'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sri mulyani'/><title type='text'>Interview With Indonesian Minister of Finance</title><content type='html'>Interview with Sri Mulyani, the Indonesian Minister of Finance, was done using Lowel lighting. The lighting available in the guest room of Sri Mulyani's official residence was very bright so it definitely helped to even out the lighting on the subject. We set up the interview with a single chair in the middle of the room, close to the Indonesian flag situated at one of the wall. The concept was to get a full shot of her body language in the hope that this will give more valuable information to the viewers regarding her opinion and answers on certain issues. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since the announcement of her departure from the cabinet to become the Managing Director of The World Bank on 5th of May 2010, Sri Mulyani had been very quiet to the press. She had refused to elaborate or even to answer questions from the Press on several occasions. She finally agreed to meet with the Press on the 13th of May 2010 on the day she held a farewell party with them. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="400" height="250"&gt;&lt;param name="movie" value="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwNSUyRjEzJTJGMjAxMDA1MTNfU01JMDQubXA0"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwNSUyRjEzJTJGMjAxMDA1MTNfU01JMDQubXA0" width="400" height="250" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-1634082227989852655?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/1634082227989852655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=1634082227989852655' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1634082227989852655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1634082227989852655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/05/interview-with-indonesian-minister-of.html' title='Interview With Indonesian Minister of Finance'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-6742230434521313515</id><published>2010-05-16T19:45:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T20:12:45.250-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='priuk memorial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rusuh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='riot'/><title type='text'>Eye Witness Style for Contemplative Effect</title><content type='html'>Rioting in North Jakarta, 14th of April 2010. It started out as a protest against the bulldozing of the area in front of the Mbah Priuk memorial site considered to be sacred by the local people. The people were up in arms after hearing a boy was beaten by the Public Order Officers and taken to a hospital near the site. This footage was taken the night after the riot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I made the report with an eye witness style to it. The aim was to make it more contemplative instead of just reporting as it was. So, I tried to depict as much chaos and disorder to show the viewers how far a misunderstanding can go when public officers work without caution or sensitivity to the public.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="400" height="250"&gt;&lt;param name="movie" value="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwNCUyRjE1JTJGMjAxMDA0MTRfa29qYW1hbGFtLm1wNA=="&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwNCUyRjE1JTJGMjAxMDA0MTRfa29qYW1hbGFtLm1wNA==" width="400" height="250" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-6742230434521313515?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/6742230434521313515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=6742230434521313515' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6742230434521313515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6742230434521313515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/05/rioting-in-south-jakarta-14th-of-april.html' title='Eye Witness Style for Contemplative Effect'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-7433352122507377030</id><published>2010-04-07T21:44:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T21:58:00.562-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang kulit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dalang cilik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pewayangan'/><title type='text'>Dalang Cilik - The Little Puppet Masters (part 3)</title><content type='html'>The final segment of this story was meant to be the climax to the tension build-up from the previous segments. The segment starts with the moment before the announcement of the winners. The jurors were at a critical point at this stage. They found it hard to decide who would be the best. However, Bayu were completely oblivious to all this. He didn't seem to care. He had told his mother that he would like to be apart of the drawing competition, so he did. Danan on the other hand was nowhere to be seen. He only showed close to the announcement of the winners. In the end, it was Bayu who won. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We did this segment by givingthe viewers an insight to the juror's head. We interviewed one of the juror 2 weeks after the festival so that it would allow the subject of our interview to distance himself from the actual event. Sure enough, it was the right decision because there were tensions between the jurors and the festival committee right before the announcement. I believe if we had interviewed the juror too close to the event, we wouldn't be able to get the soundbytes we wanted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="400" height="250"&gt;&lt;param name="movie" value="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMiUyRjE1JTJGREFMQU5HX0NJTElLX1NFRzNfS29tcGFzVFZfbXBnNC5tcDQ="&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMiUyRjE1JTJGREFMQU5HX0NJTElLX1NFRzNfS29tcGFzVFZfbXBnNC5tcDQ=" width="400" height="250" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-7433352122507377030?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/7433352122507377030/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=7433352122507377030' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7433352122507377030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7433352122507377030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/04/dalang-cilik-sang-duta-budaya-bagian-3.html' title='Dalang Cilik - The Little Puppet Masters (part 3)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-6199699958783879914</id><published>2010-04-07T21:43:00.002-07:00</published><updated>2010-05-16T23:12:59.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang kulit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dalang cilik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pewayangan'/><title type='text'>Dalang Cilik - The Little Puppet Masters (part 2)</title><content type='html'>On the second segment, we introduce another hero in our story. His name is Bayu. He came all the way from North Sumatera. He is the son of a Dalang or puppet master. his family was originally from Java but they migrated to North Sumatera even before he was born. We showcased his performance and showed how far did he amaze the jurors with the help of both his parents. His father played Gamelan dan his mother sang during his perfomance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We picked Bayu dan Danan as our main characters due to their opposing conditions. Danan has all the resources he needed to become a puppeteer and Bayu is the total opposite. Bayu's ability comes from a much higher purpose than Danan, which is survival. We put these two in contrast to each other so we would be able to put the issue of cultural conservation on the table - especially government's efforts and other organisations involved. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="400" height="250"&gt;&lt;param name="movie" value="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMiUyRjE1JTJGREFMQU5HX0NJTElLX1NFRzJfS29tcGFzVFZfbXBnNC5tcDQ="&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMiUyRjE1JTJGREFMQU5HX0NJTElLX1NFRzJfS29tcGFzVFZfbXBnNC5tcDQ=" width="400" height="250" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-6199699958783879914?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/6199699958783879914/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=6199699958783879914' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6199699958783879914'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6199699958783879914'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/04/dalang-cilik-sang-duta-budaya-bagian-2_07.html' title='Dalang Cilik - The Little Puppet Masters (part 2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-983374095579160788</id><published>2010-04-07T21:41:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T23:04:25.231-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wayang kulit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dalang cilik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pewayangan'/><title type='text'>Dalang Cilik - The Little Puppet Masters (part 1)</title><content type='html'>We started this story of the Little Puppet Masters with the story of Danan. He is the ultimate city boy. He was born and raised in Jakarta. However, he never liked playing computer games or other game consoles. He would rather play Wayang - the Javanese traditional puppet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the upcoming Wayang Festival, Danan will come face to face with other young puppeteers. We intentionally covered this story with the festival as the background because we want the main characters to be on a forward momentum due to forces outside of their control. The festival provides a forward momentum as well as a climax to the story. So it would be a perfect setup for this story.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="400" height="250"&gt;&lt;param name="movie" value="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMiUyRjE1JTJGREFMQU5HX0NJTElLX1NFRzFfS29tcGFzVFZfbXBnNC5tcDQ="&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMiUyRjE1JTJGREFMQU5HX0NJTElLX1NFRzFfS29tcGFzVFZfbXBnNC5tcDQ=" width="400" height="250" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-983374095579160788?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/983374095579160788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=983374095579160788' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/983374095579160788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/983374095579160788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/04/dalang-cilik-sang-duta-budaya-bagian-1.html' title='Dalang Cilik - The Little Puppet Masters (part 1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5933496630985392733</id><published>2010-04-02T06:15:00.000-07:00</published><updated>2010-05-16T22:30:41.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumba barat daya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pasola'/><title type='text'>Pasola - The Fight for Reconcilliation</title><content type='html'>It was tough doing this documentary. We were late in reserving plane tickets to go to Sumba. We didn't get tickets to go to Tambolaka in West Sumba, so we bought tickets to Waingapu in East Sumba instead. This meant that we had to go from East Sumba to West Sumba as soon as we landed. Another problem was that the guide we hired was a native East Sumba which meant that she had no idea to get to where we needed to go to in West Sumba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The day we arrived in Waingapu, our guide picked us up in the airport with a rented car. First stop was to buy food supplies and then off to see a relative of our guide who had a friend from West Sumba. We met with the friend and asked him to allow us to stay at his parents house in Kodi, the place where they were going to hold the final Pasola. If we missed this than that would mean no footage to be taken home and the production would be a major failure. Thankfully he agreed and we were off to Kodi that same night. We arrived there around eleven o'clock at night. I went straight to bed, but Konde - the videographer - stayed up late.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next day, everything went as planned. There was a riot at the end of the Pasola but nothing horrible happened except a couple of bruises and the usual blood gush from the head. We got everything we needed by the third day, so we went to Waikabubak to interview a pastor who was well known to be a cultural conservationist. The idea was to give an objective view regarding the Pasola. By the fifth day we went straight home.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="400" height="250"&gt;&lt;param name="movie" value="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMyUyRjE5JTJGVGFuYWhBaXItUGFzb2xhLm1wNA=="&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;embed src="http://vod.kompas.com/embed/JTJGZGF0YSUyRnZvZCUyRjIwMTAlMkYwMyUyRjE5JTJGVGFuYWhBaXItUGFzb2xhLm1wNA==" width="400" height="250" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5933496630985392733?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5933496630985392733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5933496630985392733' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5933496630985392733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5933496630985392733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/04/pasola-baku-serang-untuk-rekonsiliasi.html' title='Pasola - The Fight for Reconcilliation'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-2412287038416254278</id><published>2010-01-13T22:32:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T22:33:24.433-08:00</updated><title type='text'>TNI-ku Kini (bagian 3)</title><content type='html'>The TNI, Indonesian Military Force, has been under scrutiny since the '98 reformation. Change has not been easy. However, they claimed to be fully committed to the reformation agenda. I wrote, produced and narrated this piece for Kompas.com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width='400' height='250'&gt;&lt;param name='movie' value='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf'&gt;&lt;param name='allowfullscreen' value='true'&gt;&lt;param name='allowscriptaccess' value='always'&gt;&lt;param name='wmode' value='transparent'&gt;&lt;param name='flashvars' value='file=/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_03_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_03_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit'&gt;&lt;embed src='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf' width='400' height='250' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' wmode='transparent' flashvars='file=/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_03_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_03_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit&amp;logo=http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/k.swf' /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-2412287038416254278?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/2412287038416254278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=2412287038416254278' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2412287038416254278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2412287038416254278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/tni-ku-kini-bagian-3.html' title='TNI-ku Kini (bagian 3)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-116454280478545075</id><published>2010-01-13T22:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T22:29:59.296-08:00</updated><title type='text'>TNI-ku Kini (bagian 2)</title><content type='html'>The TNI, Indonesian Military Force, has been under scrutiny since the '98 reformation. Change has not been easy. However, they claimed to be fully committed to the reformation agenda. I wrote, produced and narrated this piece for Kompas.com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width='400' height='250'&gt;&lt;param name='movie' value='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf'&gt;&lt;param name='allowfullscreen' value='true'&gt;&lt;param name='allowscriptaccess' value='always'&gt;&lt;param name='wmode' value='transparent'&gt;&lt;param name='flashvars' value='file=/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_02_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_02_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit'&gt;&lt;embed src='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf' width='400' height='250' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' wmode='transparent' flashvars='file=/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_02_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_02_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit&amp;logo=http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/k.swf' /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-116454280478545075?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/116454280478545075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=116454280478545075' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/116454280478545075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/116454280478545075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/tni-ku-kini-bagian-2.html' title='TNI-ku Kini (bagian 2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5700626177330994545</id><published>2010-01-13T22:22:00.001-08:00</published><updated>2010-01-13T22:26:14.028-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='militer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agenda reformasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tni'/><title type='text'>TNI-ku Kini (bagian 1)</title><content type='html'>The TNI, Indonesian Military Force, has been under scrutiny since the '98 reformation. Change has not been easy. However, they claimed to be fully committed to the reformation agenda. I wrote, produced and narrated this piece for Kompas.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width='400' height='250'&gt;&lt;param name='movie' value='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf'&gt;&lt;param name='allowfullscreen' value='true'&gt;&lt;param name='allowscriptaccess' value='always'&gt;&lt;param name='wmode' value='transparent'&gt;&lt;param name='flashvars' value='file=/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_01_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_01_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit'&gt;&lt;embed src='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf' width='400' height='250' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' wmode='transparent' flashvars='file=/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_01_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/10/23/DP_TNI_SEG_01_Scored_ok_KOMPASTV_WEB.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit&amp;logo=http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/k.swf' /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5700626177330994545?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5700626177330994545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5700626177330994545' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5700626177330994545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5700626177330994545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/tni-ku-kini-bagian-1.html' title='TNI-ku Kini (bagian 1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-4781692874434415709</id><published>2010-01-13T22:17:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T22:19:26.142-08:00</updated><title type='text'>Geliat Nurani Mantan Pejihad (bagian 3)</title><content type='html'>This is a piece that I did for Kompas.com. It tells the story of 3 generations of ex-muslim radicals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width='400' height='250'&gt;&lt;param name='movie' value='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf'&gt;&lt;param name='allowfullscreen' value='true'&gt;&lt;param name='allowscriptaccess' value='always'&gt;&lt;param name='wmode' value='transparent'&gt;&lt;param name='flashvars' value='file=/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_03_ok_Kompas_Web_TV.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_03_ok_Kompas_Web_TV.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit'&gt;&lt;embed src='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf' width='400' height='250' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' wmode='transparent' flashvars='file=/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_03_ok_Kompas_Web_TV.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_03_ok_Kompas_Web_TV.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit&amp;logo=http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/k.swf' /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-4781692874434415709?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/4781692874434415709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=4781692874434415709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4781692874434415709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4781692874434415709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/geliat-nurani-mantan-pejihad-bagian-3.html' title='Geliat Nurani Mantan Pejihad (bagian 3)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5687227311728752670</id><published>2010-01-13T22:14:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T22:16:31.265-08:00</updated><title type='text'>Geliat Nurani Mantan Pejihad (bagian 2)</title><content type='html'>This is a piece that I did for Kompas.com. It tells the story of 3 generations of ex-muslim radicals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width='400' height='250'&gt;&lt;param name='movie' value='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf'&gt;&lt;param name='allowfullscreen' value='true'&gt;&lt;param name='allowscriptaccess' value='always'&gt;&lt;param name='wmode' value='transparent'&gt;&lt;param name='flashvars' value='file=/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_02_ok_Kompas_Web_TV.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_02_ok_Kompas_Web_TV.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit'&gt;&lt;embed src='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf' width='400' height='250' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' wmode='transparent' flashvars='file=/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_02_ok_Kompas_Web_TV.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_02_ok_Kompas_Web_TV.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit&amp;logo=http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/k.swf' /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5687227311728752670?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5687227311728752670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5687227311728752670' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5687227311728752670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5687227311728752670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/geliat-nurani-mantan-pejihad-bagian-2.html' title='Geliat Nurani Mantan Pejihad (bagian 2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-4608935411163351431</id><published>2010-01-13T21:59:00.000-08:00</published><updated>2010-01-13T22:13:12.119-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jihad'/><title type='text'>Geliat Nurani Mantan Pejihad (bagian 1)</title><content type='html'>This is a piece that I did for Kompas.com. It tells the story of 3 generations of ex-muslim radicals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width='400' height='250'&gt;&lt;param name='movie' value='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf'&gt;&lt;param name='allowfullscreen' value='true'&gt;&lt;param name='allowscriptaccess' value='always'&gt;&lt;param name='wmode' value='transparent'&gt;&lt;param name='flashvars' value='file=/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_01_ok_H264_384kbit.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_01_ok_H264_384kbit.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit'&gt;&lt;embed src='http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/player.swf' width='400' height='250' allowscriptaccess='always' allowfullscreen='true' wmode='transparent' flashvars='file=/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_01_ok_H264_384kbit.mp4&amp;image=http://tv.kompas.com/data/vod/2009/11/30/DP_TERORIS_SEG_01_ok_H264_384kbit.JPG&amp;streamer=rtmp://video.kompas.com:443/vod&amp;stretching=exactfit&amp;logo=http://stat.k.kidsklik.com/data/script/embed/k.swf' /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-4608935411163351431?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/4608935411163351431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=4608935411163351431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4608935411163351431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4608935411163351431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/geliat-nurani-mantan-pejihad-bagian-1.html' title='Geliat Nurani Mantan Pejihad (bagian 1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5797801472383421822</id><published>2010-01-04T04:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T01:35:47.794-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abdurrahman wahid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gus dur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='in memoriam'/><title type='text'>In Memoriam: Abdurrahman Wahid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/S0HefTJ8oFI/AAAAAAAAAFg/lzIi1meBOBw/s1600-h/GUS+DUR+OK.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/S0HefTJ8oFI/AAAAAAAAAFg/lzIi1meBOBw/s200/GUS+DUR+OK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5422860055630094418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;In 2006, Hollywood churned another comedy by Barry Levinson. Why do I mentioned one of his film at all? Because this is another good example of life imitating art and vice versa...well, at least in the context of the late Abdurrahman Wahid. The title of the movie was 'Man of The Year'. The star was Robin Williams, playing a comedian who mistakenly became the United States President. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will not bore you with the Hollywood formulated scenario of that movie. But I will tell you a little more about Abdurrahman Wahid. Was he a comedian? The answer is yes. Was he an ex President? Yes! Was he considered to be one of the most, if not the most influential Muslim cleric in Indonesia? Yes! Did he go through a similar predicament as Tom Dobbs, the character that was played by Robin Williams in that movie? If that question is reffering to the short period of time that Dobbs played the role as the President of the United States...well, Gus Dur only manages to stay seated on the President's chair less than half of the five year period. However, Dobbs was not a genius, whereas many people consider Gus Dur to be a great humanitarian and a brilliant thinker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The image of Abdurrahman Wahid wearing a short pants and a shirt greeting the crowd still is a controversial image. His frank remarks about many issues in Indonesia had bewildered and shocked many people. His unpredictable political decisions had often confused his folowers. There is no grey area with Gus Dur...only total opposites. People who love him and people who don't. He may be a natural comedian, but what he speaks of is no laughing matter. He may be the leader of Nadhatul Ulama, but he is also considered to be the most outspoken pluralist in Indonesia. Believe it or not, he even has 2 birth dates. He was born 4th of Sya'ban, the eigth month in the Islamic calender, 1940. Which means he was born 7th of September 1940. However, he chose to celebrate his birthday on the 4th of August.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some want him to be given the title of national hero. Me personally, would rather have him as a great comedian. Simply because I don't think he would have liked to become a national hero...because I think he would consider that too much of a fuss. By the way, that was the catch phrase he made popular - "Why make so much fuss?".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5797801472383421822?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5797801472383421822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5797801472383421822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5797801472383421822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5797801472383421822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2010/01/in-memoriam-abdurrahman-wahid.html' title='In Memoriam: Abdurrahman Wahid'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/S0HefTJ8oFI/AAAAAAAAAFg/lzIi1meBOBw/s72-c/GUS+DUR+OK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-928435058723940770</id><published>2009-12-03T19:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T19:24:10.355-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lucu'/><title type='text'>Ada-ada Saja (2)</title><content type='html'>Seorang presenter membaca berita tentang salon khusus untuk anjing piaraan. Sang presenter membaca berita sebagai berikut: "Sehingga salon ini menjadi tempat yang menyenangkan bagi ANJIR...". Hampir secara bersamaan, PD maupun crew studio lainnya menirukan kata terakhir yang diucapkan Fitri Megantara karena sadar mereka harus me-retake pembacaan berita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang reporter melakukan PTC (Person To Camera) di sebuah terminal bus. Namun ia harus mengulang PTC-nya berkali-kali karena apa yang dikatakannya tak sempurna. Tanpa diketahuinya, orang-orang di sekitar tempatnya melakukan PTC mulai berkumpul dan duduk mengelilinginya. Mereka pun menjadi terlibat dalam proses pengambilan gambar. Setiap kali si reporter memulai kembali PTC-nya mereka diam. Setiap si reporter melakukan kesalahan mereka ikut menyesali apa yang terjadi. Sampai akhirnya si reporter berhasil menyelesaikan PTC-nya dengan baik. Mereka pun memberikan pengakuan kepada Louisa Kusnandar dengan tepuk tangan dan suara-suara pemberi semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang produser menunggu telepon dari Studio di Jakarta untuk memberikan laporan tentang suasana di Giri Bangun. Saat itu, jenazah mantan Presiden Soeharto akan segera tiba di bandar udara terdekat. Sang Produser menggunakan televisi hitam putih dengan layar 5 inci yang dibelinya seharga 3 ratus ribu malam sebelumnya. Televisi itu ia pangku di pahanya sembari menutup bagian depan layar dengan tangan karena panas matahari menghalanginya melihat siaran langsung TVRI dari bandar udara. Posisinya pun kurang menguntungkan karena untuk mendapatkan listrik, ia harus mencolokkan listriknya dekat mixer audio system yang dipasang di Giri Bangun di pinggir lapangan parkir. Tiba-tiba teleponnya berdering. Sang produser pun bersiap memberikan laporannya. Sayang bukan studio di ujung sana, tapi suara reporter yang ditugaskan bersamanya meliput peristiwa itu.&lt;br /&gt;Reporter: "Mas Bhayuuu...kakiku keinjek Kopassus....".&lt;br /&gt;Produser: (Dengan nada tidak sabar) "Terus?"&lt;br /&gt;Emma Fitria: "Sakit tauuuuuuk!"&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda: ".....?!!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang reporter berniat mewawancarai Menkokesra, yang saat itu dijabat Aburizal Bakrie. Ketika reporter lain fokus ke topik terkait kesejahteraan rakyat, sang reporter membawa misi sendiri...yaitu menanyakan soal Lumpur Lapindo. Ketika ia melihat kesempatan untuk bertanya, ia pun melepaskan peluru yang sudah ia siapkan sebelumnya. Aburizal Bakrie pun mengangkat tangannya dan bergerak menjauh tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan. Sang reporter pun dengan sigap mendesaknya untuk menjawab pertanyaan dengan mengatakan, "Bapak kok gituuuuuuu....!!!".&lt;br /&gt;Aburizal Bakrie sempat terpana sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Fatimah Alatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penangkapan tersangka narkoba terjadi di Semarang. Wartawan cetak maupun elektronik meluncur ke kantor polisi tempat mereka ditahan. Mereka pun mewawancarai petugas yang menangkap para tersangka itu. Sang polisi mengaku terpaksa melepaskan tembakan karena tersangka berusaha melarikan diri. Seorang wartawan yang juga salah satu anak buah koresponden sebuah stasiun televisi swasta tiba-tiba bertanya, "Suara pistolnya TER apa TOR?". Baik wartawan lainnya yang kebetulan ada di situ maupun nara sumber hanya bisa terpana mendengar pertanyaan itu. Belakangan Amrul Hakim mengaku bahwa dirinya menanyakan pertanyaan itu karena ingin mendapatkan SYNC atau SOT yang kurang lebih melibatkan si nara sumber mengangkat tangannya dan menirukan suara pistol yang ditembakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang presenter membaca berita yang tertulis di prompter sebagai berikut: "LARANGAN MEROKOK DI PRANCIS....///". Namun si presenter membacanya seperti ini: "Larangan MEROKOUW di Prancis...". Usai siaran sang show produser menanyakan alasan dibalik cara baca yang aneh itu. Fitri Megantara mengaku canggung mengucapkan kata 'merokok' karena ragu antara menghilangkan 'k' di akhir kata atau justru memperjelas cengkok huruf 'k' itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang show producer baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia pun berjalan menuju meja tempatnya bekerja agar ia bisa membuat laporan show yang baru saja dikerjakannya. Tapi sebelum ia membuat laporan, ia menyempatkan diri bercerita kepada rekannya sesama produser tentang sebuah kejadian menarik saat show berlangsung. Salah satu berita tentang konflik di Timur Tengah bercerita tentang penemuan senjata di sebuah minivan. Namun, berita yang tertulis di Prompter adalah sebagai berikut: "SEJUMLAH SENJATA DITEMUKAN DALAM MINIVAN/ SEPERTI TOKET DAN RUDAL///". M. Arif Budiman mengaku beruntung ia menyadari kesalahan itu sebelum berita dibaca sehingga bisa dikoreksi. Ia mengungkapkan, "Saat itu gua pikir toket dan rudal merupakan dua hal aneh yang bisa ditemukan pada satu tempat.".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-928435058723940770?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/928435058723940770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=928435058723940770' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/928435058723940770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/928435058723940770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2009/12/ada-ada-saja-2.html' title='Ada-ada Saja (2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5821234206036398103</id><published>2009-12-03T19:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T19:21:18.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='unik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pengalaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lucu'/><title type='text'>Ada-ada Saja (1)</title><content type='html'>Seorang wartawati pemula liputan demam berdarah:&lt;br /&gt;Wartawati: "Jadi para jumantik (Juru Pemantau Jentik) dari mana saja, bu?"&lt;br /&gt;Narasumber: "yah sebagian besar dari mereka juga ibu-ibu PKK"&lt;br /&gt;Louisa Kusnandar: "Oh, jadi sebagian besar dari mereka juga Petugas Kebersihan dan Keamanan yah?"&lt;br /&gt;Narasumber: "....?!?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan cukup senior yang sudah lama tak berkunjung ke Mabes Polri menghadiri konperensi pers dari Kadivhumas. Karena dia tidak tahu nama dari Kadivhumas, ia pun bertanya kepada salah seoramng rekannya.&lt;br /&gt;"Bos, namanya siapa Bos?", wartawan cukup senior.&lt;br /&gt;"Paiman. Paiman", kata rekannya.&lt;br /&gt;"Oke. Tengs.", balasnya.&lt;br /&gt;Ia pun mengacungkan tangan untuk bertanya. "Pak Iman...Pak Iman!".&lt;br /&gt;Rekannya pun melotot dan menyikut pinggang sang wartawan. "Namanya Paiman tauk! Bukan Pak Iman.".&lt;br /&gt;Menyadari kesalahannya Edwin Nazir pun mengoreksi ucapannya dengan memanggil, "Jenderal! Jenderal!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan menyambut kedatangan seorang nara sumber yang akan diwawancara di studio. Ia kebetulan bertugas sebagai booker. &lt;br /&gt;"Terima kasih atas kedatangannya Mas Ray.", kata si wartawan.&lt;br /&gt;"Sama-sama, Mas.", kata Ray Sahetapy.&lt;br /&gt;Mereka berdua pun masuk ke dalam lift menuju studio. Kesunyian lift menghujam, karena hanya mereka bedua di dalam lift. Sang wartawan pun berupaya mencairkan suasana.&lt;br /&gt;"Wah, Mas. Saya penggemar berat Anda di sinetron Tahta.", katanya.&lt;br /&gt;Ray menoleh ke arah wartawan itu dengan cepat.&lt;br /&gt;"Tahta? Bukan saya yang main di situ. Itu Mathias Muchus.", kata Ray Sahetapy.&lt;br /&gt;Kesunyian semakin menghujam. Sang wartawan pun berupaya kembali dari keterpurukan.&lt;br /&gt;"Tapi saya juga senang dengan penampilan Anda di film 'Kanan Kiri Oke'.", kata si wartawan.&lt;br /&gt;Sejak saat itu Raden Wahyuningrat menyadari kelemahannya dalam berinteraksi dengan selebritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang produser membuat janji dengan Adrianus Meliala. &lt;br /&gt;Produser: "Selamat pagi Pak Meliala. Saya Ocha dari Astro Awani. Saya mau minta waktu Anda untuk wawancara soal tawuran, Pak. Iyah Pak, mengenai kecelakaan transportasi nih Pak. Jadi kapan bisa ketemu nih Pak. Hari ini? Oke baik Pak. Di mana Pak? Di Pelabuhan Tanjung Priok yah! Oke pak. Terima kasih banyak Pak."&lt;br /&gt;Sang produser pun meminta tim liputan untuk mewawancarai Adrianus Meliala. Tim liputan pun berangkat ke lokasi. Ketika ditemui, sang reporter melihat dari jauh penampilan Adrianus Meliala. Sang reporter pun mulai curiga karena penampilannya tidak seperti yang ia ketahui dari media massa selama ini. Untuk memastikan, sang reporter melontarkan pertanyaan pancingan.&lt;br /&gt;Sang Reporter: "Jadi berapa lama Bapak belajar jadi kriminolog?".&lt;br /&gt;Adrianus Meliala: "Kriminolog? Latar belakang saya akademi pelayaran Mas.".&lt;br /&gt;Oki Budhi Priambodo: "....?!?".&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu Firouza menyadari bahwa nama orang bisa sama persis dengan orang lain secara kebetulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang reporter mewawancarai seorang anak kecil berkaitan dengan fenomena Smackdown.&lt;br /&gt;Sang Reporter: "Jadi tokoh favorit kamu siapa di Smackdown?"&lt;br /&gt;Anak kecil: "De-Ex".&lt;br /&gt;Sang Reporter: "Siapa?"&lt;br /&gt;Anak kecil: (Curiga ada yang salah dengan cengkok bicaranya, si anak kecil pun berupaya mengoreksi pengucapan nama idolanya) "Diee Eksh."&lt;br /&gt;Sang Reporter: "Siapa siapa?"&lt;br /&gt;Anak kecil: (Kali ini si anak kecil memutuskan untuk mempercepat pengucapannya supaya tidak terlalu ketara jika ada salah pengucapan) "D-Ex!"&lt;br /&gt;Ulung Putri: "Siapa?"&lt;br /&gt;Anak kecil: "De-Eeeeeeeeeeeeeeex.". Wajah si anak campur aduk antara heran (karena kok ada reporter sebudeg ini?), marah (karena si reporter berulangkali menanyakan hal yang sama) dan kecewa (karena koreksi pengucapannya sebanyak 2 kali tak berarti banyak buat si reporter). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan dengan kamera person-nya mendatangi BPOM Pusat untuk meminta ijin mengikuti razia obat di pasar. Ketika ditemui, petugas BPOM Pusat menyangkal ada razia hari itu. Tapi sang wartawan menolak untuk menyerah. Ia pun beranjak ke BPOM Jakarta. Melalui telepon ia berbincang dengan nara sumbernya di BPOM Jakarta dan telah mendapatkan ijin mengikuti razia yang akan mereka lakukan sore itu. Berangkatlah dengan cepat si reporter dengan kamera person ke kantor BPOM Jakarta. Ketika tiba di sana, keduanya disambut dengan baik. Nara sumber berjanji akan segera berangkat setelah personil sudah lengkap, karena masih ada satu lagi personil yang akan ikut namun belum datang. Si wartawan dan kamera person pun menunggu dengan sabar. Tak berapa lama si nara sumber kelihatan bergegas mendatangi si wartawan dan kamera person. Ia menginformasikan bahwa orang yang ditunggu sedari tadi sudah datang dan akan segera berangkat melakukan razia. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu adalah petugas BPOM Pusat yang ditemui sang wartawan sebelumnya. Petugas itu kembali menegaskan bahwa sang wartawan tidak boleh mengikuti razia. Mungkin karena melihat kegigihannya, belakangan orang itu pun akhirnya mengijinkan Yoga Nugraha mengikuti razia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Presenter Pria membaca berita dari Irak yang muncul di Teleprompter. Di prompter tertulis, “KORBAN LEDAKAN BOM DILARIKAN KE RUMAH SAKIT AL KINDI///”. Andrie Djarot lalu membaca tulisan di prompter itu sebagai berikut: “Korban ledakan bom dilarikan ke rumah sakit ANGKATAN LAUT Kindi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Presenter Wanita membaca berita dari Australia. Tulisan yang muncul di Teleprompter sebagai berikut: “BANJIR MENGGENANGI SEBAGIAN BESAR KAWASAN NEW SOUTH WALES///”. Namun, Pinky Andriyani membacanya seperti ini: “Banjir menggenangi sebagian besar kawasan New South WALLS.”. Untuk beberapa saat Show Produser terbengong-bengong sebelum memutuskan untuk me-retake pembacaan berita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang reporter yang baru ditugaskan di desk ekonomi sebuah harian terbit, bertugas di Departemen Keuangan. Teman-teman wartawan yang lain kebetulan tidak berada di tempat. Ia pun seorang diri ketika tiba-tiba Menteri Keuangan waktu itu, Boediono, keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar lobby kantor Departemen Keuangan. Dengan sigap si reporter pun bergerak ke arah Boediono, mencegat dan menyodorkan tape recordernya. Boediono pun menghentikan langkahnya. Keduanya berhadap-hadapan. Si reporter melihat ke kiri dan kanannya. Ia menyadari tidak ada rekan sesama reporter di dekatnya. Beno pun mulai kehilangan akal apa yang akan ditanyakan. Boediono lalu bertanya, “Mau tanya apa?”�. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang presenter mengantarkan segmen dialog sebuah program berita pagi usai membaca segmen olahraga. “Sesaat lagi kami akan kembali dengan dialog khas Nuansa Pagi dengan nara sumber Happy Bone (baca: “Boun”) Zulkarnaen.”. Ketika Bhayu Sugarda keluar dari ruang siaran ia pun berpapasan dengan Happy Bone (baca: “Bo-ne”) Zulkarnaen namun tak berani menatap matanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5821234206036398103?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5821234206036398103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5821234206036398103' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5821234206036398103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5821234206036398103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2009/12/ada-ada-saja-1.html' title='Ada-ada Saja (1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-3184510009943677195</id><published>2009-11-26T19:56:00.001-08:00</published><updated>2009-12-03T23:50:07.790-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='australia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='helvy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='industri televisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sampit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rcti'/><title type='text'>Saya dan Helvy Tiana Rosa</title><content type='html'>by Bhayu Sugarda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali kenal wanita bernama Helvy Tiana Rosa ketika seorang teman mengajak saya membuat film pendek berdasarkan salah satu cerpennya. Saya ketika itu pengangguran. Baru saja lulus dari sebuah Universitas di Australia. Sempat bekerja di sebuah pabrik plastik, yang kini kabarnya sudah tutup diterpa krisis. Hanya satu setengah bulan saya bekerja di pabrik itu. Padahal tiga bulan ke depan, saya telah dijadwalkan untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bahagia bekerja di pabrik itu. Saya merasa bekerja tanpa tujuan yang berarti. Selain itu sisi kreatif di kepala saya menuntut dipenuhi hak-haknya. Saya utarakan gundahku kepada calon istri dan niat saya untuk masuk ke industri televisi. Argumen saya ketika itu, “Mumpung saya masih memiliki titel ‘Fresh Graduate’.” Ia ketika itu memberi restu kepada saya untuk keluar dari tempat kerja saya di pabrik, walaupun dengan konsekuensi saya menikah sebagai seorang pengangguran. Tapi pilihan bersama telah jatuh dan kini tinggal kami menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya keluar dari pabrik plastik itu bulan Desember dan menikah pada bulan Februari 2002.&lt;br /&gt;Sembari mengirim CV ke semua stasiun televisi yang ada di Jakarta, saya mulai merentas jalan di industri audio visual. Sebuah situs komunitas film independen menarik perhatian saya. Saya pun mendatanginya dan bertemu dengan teman-teman dalam komunitas itu. Saya pun menjadi dekat dengan salah seorang pengurusnya, seorang mahasiswa IKJ bernama Agres. Dari pertemanan inilah muncul ide membuat film pendek berdasarkan cerpen karya Helvy Tiana Rosa. Cerpen yang dipilih adalah cerpen yang menceritakan kisah seorang anak perempuan yang terjebak di tengah konflik di Sampit. Misi dari cerpen itu jelas, bahwa Sang Pencipta tak membedakan darah mahluk-Nya. Hanya akhlak yang membedakan satu dan lainnya. Saya pun tergugah untuk menyebarkan pesan yang sama menurut persepsi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, bermodal dengkul kami melakukan langkah-langkah untuk mewujudkan film itu. Agress mempersiapkan proposal pembuatan film pendek itu, sedangkan saya membantu menghubungi pihak terkait dan perencanaan produksinya. Dengan proposal itu kami pun memberanikan diri ke Lantamal karena kami berniat menggunakan salah satu kapal Angkatan Laut sebagai lokasi syuting kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan kami itu disambut baik oleh pihak Angkatan Laut. Salah seorang yang kami temui adalah Kapten Kadir. Ia membantu kami menemui atasannya untuk membahas rencana itu. Atasannya pun mengijinkan syuting dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Kami pun siap memenuhi persyaratan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nasib berkata lain. Panggilan ke sejumlah stasiun televisi mulai gencar. Selain itu saya diberikan kesempatan untuk terlibat dalam redaksi sebuah majalah internal perusahaan milik seorang Paman. Pertengahan bulan Mei 2002, saya diterima di RCTI sebagai seorang reporter. Karier saya sebagai jurnalis televisi dimulai. Saya pun tak mampu terlibat aktif lagi dalam pembuatan film pendek itu. Bayangan seorang Helvy Tiana Rosa mulai hilang perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan kedua saya dengan Helvy Tiana Rosa terjadi beberapa tahun kemudian. Ketika itu saya baru saja keluar dari RCTI dan diterima di sebuah perusahaan baru yang memasok konten untuk televisi berbayar Astro. Perusahaan itu adalah PT Adi Karya Visi. Salah satu pimpinan perusahaan itu mengundang seluruh karyawan untuk makan siang bersama di rumahnya. Saya pun dikenalkan ke sejumlah orang yang berada di situ. Salah satunya adalah Mas Tomi Satryatomo. Ia pun mengenalkan istrinya. Ketika istrinya menyebut namanya...saya terhenyak...saya kenal dengan nama itu. Perlu waktu bagi saya untuk mencerna semuanya sehingga ketika acara usai dan kami semua pulang ke rumah masing-masing, saya baru sadar bahwa saya baru saja bertemu dengan Helvy Tiana Rosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan penggemar tulisannya. Saya belum pernah membaca bukunya satu pun. Saya...hanya membaca satu cerpennya...dan itu sudah cukup bagi saya untuk tergugah dan bertindak karenanya. Satu pelajaran yang saya ambil dari pengalaman ini, persinggungan kita dengan orang lain disadari atau tidak disadari mendorong kita dalam suatu langkah dan juga sebaliknya. Perilaku serta ucapan kita membawa orang lain sekaligus kita sendiri ke suatu takdir tertentu. Bahwa kita semua terikat satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Maaf Mbak, kalo selama ini tidak pernah cerita langsung ke Mbak walaupun berulangkali muncul kesempatan untuk melakukan itu. Mumpung ada FB nih hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-3184510009943677195?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/3184510009943677195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=3184510009943677195' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3184510009943677195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3184510009943677195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2009/11/saya-dan-helvy-tiana-rosa.html' title='Saya dan Helvy Tiana Rosa'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-4523015692058423759</id><published>2009-11-25T22:08:00.000-08:00</published><updated>2009-11-25T22:10:31.413-08:00</updated><title type='text'>Media Baru (New Media) sebagai fokus perhatian akademisi Komunikasi</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Dampak Kemunculan Media Baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pemboman kembali terjadi. Bom meledak pukul 7.47 Waktu Indonesia Barat tanggal 17 Juli 2009 di kawasan perkantoran Mega Kuningan. Sekitar pukul 8 lewat 12 menit berita itu telah tersebar melalui jaringan Black Berry. Situs mobile Liputan 6 belum memberitakan adanya ledakan bom. Sekitar pukul 8.56 WIB sebuah foto Tempat Kejadian Perkara pemboman tersebar melalui jaringan Black Berry. Tidak lama 2 foto lainnya juga mulai tersebar antara sesama pengguna layanan Black Berry. Situs mobile Liputan 6 pada pukul 9.02 WIB masih belum menampilkan berita terkait ledakan bom itu. Sekitar pukul 10.00 WIB pemberitaan pada situs mobile Liputan 6, detik.com dan Kompas.com sudah secara lengkap melaporkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanyalah sedikit gambaran penggunaan jaringan internet nirkabel melalui layanan Black Berry saat sebuah peristiwa besar terjadi. Fungsi insitusi pemberitaan dalam peristiwa itu selama 2 jam pertama digantikan oleh warga setempat. Berita awalnya tersebar melalui SMS atau Black Berry Messenger. Konten yang disebarluaskan adalah dalam bentuk teks. Tak berapa lama konten yang tersebar sudah berupa foto atau visual. Barulah setelah itu, muncul konten berita terkini dalam bentuk audio visual di televisi secara LIVE atau LANGSUNG pada pukul 12.00 siang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita yang bisa dikatakan tersebar 'dari mulut ke mulut' itu mungkin tidak memiliki krediblitas sama sekali seperti halnya berita yang berasal dari sebuah insititusi pemberitaan. Tapi berita dalam bentuk foto tanpa keterangan lebih lanjut saja sudah cukup bagi publik untuk menerimanya. Ketika berita tanpa kredibilitas itu benar adanya, maka masyarakat mulai memercayai sumber berita itu. Apakah itu teman ataupun kerabat keluarga. Sehingga setiap perkembangan berita yang datang dari sanak saudara mulai diyakini kebenarannya tanpa proses 'cek dan ricek' serta 'cover both sides'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Maghrib, sebuah email tersebar dan menjadi konsumsi pengguna layanan Black Berry dengan cepat. Isinya adalah cerita tentang seorang korban yang selamat dan tanpa sengaja mendengar omongan petugas dari Gegana Polda Metro Jaya tentang adanya ancaman 8 bom di penjuru Jakarta. Berita yang tersebar dari 'mulut ke mulut' itu pun diyakini sepenuhnya oleh sebagian orang sehingga jalanan pun menjadi sepi. Tapi itu pun kemudian dibantah pihak kepolisian melalui situs berita detik.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dennis McQuail meyakini bahwa media adalah “jendela” bagi penonton untuk melihat dunia di luar lingkungan langsung mereka. Perkembangan 'media baru' perlahan mengubah perilaku pengguna media, khususnya media dalam bentuk berita audio visual. Media baru ini muncul dalam bentuk yang jauh lebih personal dan kecepatan penyampaian pesan yang tinggi. Media baru ini memiliki mobilitas yang juga tinggi sehingga bisa dinikmati kapan saja dan dimana saja. Namun, media baru ini memiliki dampak lain, yaitu menggabungkan dua ruang yang seharusnya tidak saling bersentuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Perbedaan 'Media Baru' dan 'Media Lama'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerard Schoening dan James Anderson menyatakan bahwa pesan yang diciptakan media massa akan berusaha di-interpretasikan oleh penonton/penikmatnya dengan diskusi bersama anggota komunitasnya sehingga produk akhirnya adalah sebuah produk sosial. Karena itu penggunaan media massa dianggap sebagai aksi sosial. Sehingga pada hakekatnya, aktivitas menggunakan media massa berada pada ranah sosial dan bukan pribadi (diagram 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya, 'media baru' memungkinkan media massa untuk bersinggungan dengan ruang pribadi karena 'media baru' itu tersedia melalui perangkat telepon selular. Konten media massa dalam bentuk teks, audio atau visual kini bisa dengan mudah dinikmati dalam bentuk SMS, MMS, Yahoo Messenger, push-email atau YouTube. Perangkat telepon selular yang sejatinya merupakan medium interpersonal menjadi medium massal terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan 'media baru' dengan media televisi tidak berhenti sampai di situ. Televisi seringkali disebut sebagai media yang pervasif dalam arti memberi pengaruh kepada penonton secara sadar atau tidak karena televisi ada dimana-mana. Walaupun pada akhirnya penonton tetap memiliki pilihan untuk tidak menontonnya dengan cara menjauh atau mematikan perangkat televisinya. Mcleod dan Becker (1974:141) menegaskan bahwa selain kepuasan dicari atau ditemukan pada konten media massa tertentu, penghindaran atas konten tertentu juga terjadi. Pada dasarnya temuan Mcleod dan Becker adalah bahwa terjadi proses seleksi dari pengguna media massa terhadap konten yang diberikan kepada mereka. Tapi proses seleksi berhenti pada tahapan pemilihan program atau bahkan saluran/ channel (stasiun televisi) tertentu. Misalnya seorang aktivis politik lebih memilih untuk menyaksikan program berita yang dianggapnya lebih mengerti dan memahami pandangan politiknya dibanding program atau saluran yang dianggap salah memahami pandangan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 'media baru' yang terjadi adalah proses seleksi yang lebih konkret dan tidak hanya terbatas pada program atau salurannya saja. Proses seleksi dilakukan terhadap jenis berita (sport, hiburan atau berita lainnya), sub-kategori dari jenis berita itu (misalnya sport, kemudian seleksi beralih ke jenis olahraga) hingga klub atau kelompok olahraga tertentu (misalnya sepakbola, lalu beralih ke seleksi klub bola tertentu seperti Manchester United). Sehingga penonton tidak dihidangkan konten dengan berbagai selera lalu mencoba menikmatinya satu per satu, tapi penonton memiliki keleluasaan untuk mencari dan menemukan apa yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lainnya ada pada rutinitas yang terbentuk dari menikmati media. Seorang penikmat berita akan memiliki rutinitas tertentu yang terbentuk dari aksinya menyaksikan televisi pada waktu tertentu dari pagi hingga sesaat sebelum tidur pada hari itu. Riset yang dilakukan di Eropa (Ruben Konig, Karsten Renckstorf dan Fred Wester ) berdasarkan survey yang dibuat di Belanda pada tahun 1994. Hasil analisanya menyebutkan bahwa rutinitas yang terbentuk dari menonton berita televisi bisa dibagi menjadi 5 kategori. Pertama adalah rutinitas aktif, dimana pelakunya menyaksikan program televisi berita sembari mengomentari apa yang disaksikannya, kedua adalah orang yang suka menoton berita karena kebiasaan dan ketiga adalah orang yang menggunakan televisi sebagai latar belakang saat melakukan aktivitas lainnya. Untuk kategori keempat dan kelima, pelakunya adalah orang yang tidak begitu perduli terhadap apa yang disaksikannya dan orang yang menonton televisi sebagai kegiatan sekunder. Kelima kategori itu terbentuk saat pelakunya berusaha menyesuaikan aktivitasnya hari itu agar bisa duduk di depan televisi di rumahnya masing-masing dan menyaksikan program berita saat program itu ditayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara 'media baru' bisa disaksikan kapan saja dan dimana saja. Artinya rutinitas yang terbentuk lebih beragam dibanding rutinitas yang terbentuk dalam menonton televisi. Penikmatnya bisa menonton konten berita dalam perjalanan pulang ke kantor atau saat menunggu giliran pemeriksaan dokter gigi. Penikmatnya juga bisa menonton konten yang disukainya kapan saja sehingga tidak terbatas pada jadwal tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, 'media baru' belum sepenuhnya bisa dinikmati di beberapa negara karena sejumlah kendala. Salah satu kendala utamanya adalah infrastruktur. Di Indonesia misalnya, 'media baru' itu belum sepenuhnya bisa dinikmati secara massal karena beberapa hal. Antara lain jaringan 3G yang belum luas serta kecepatan unduh yang dimliki jaringan 3G. Perkembangan teknologi internet nirkabel terus terjadi dan beberapa di antaranya siap menggantikan peran jaringan 3G untuk memenuhi kebutuhan akan internet nirkabel. Teknologi itu diantaranya adalah WiFi, WiMax, 4G dan Digital TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran jaringan 3G memiliki kecepatan unduh data antara 9,6 kbps (kilobyte per second) hingga 2 Mbps (Megabyte per second). Sedangkan teknologi 4G kecepatan unduh-nya antara 100 Mbps hingga 1 Gbps (Giga byte per second). Sehingga materi yang diunduh bisa seketika diterima penggunanya, tanpa harus menunggu cukup lama. Sejauh ini materi yang dianggap konten yang paling besar datanya adalah konten audio visual. Teknologi akan terus berkembang sampai pada puncaknya, dalam hal ini adalah teknologi WiMax. Teknologi ini mampu memenuhi kebutuhan perangkat tetap sekaligus perangkat bergerak dengan kemampuan unduh mencapai 1 Gbps.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hantoro pada akhirnya seluruh teknologi yang disebutkan di atas akan mengerucut dan terjadi konvergensi sehingga menyatu menjadi satu teknologi baru yang disebut Next Generation Network. Bukan hanya teknologi tapi konvergensi juga akan terjadi pada bentuk layanannya. Seperti layanan Fixed Network (jaringan tetap seperti saluran telepon rumah), Mobile Network (jaringan telepon selular), Internet, Cable Network (jaringan kabel) dan Home Network (jaringan rumah) juga akan menyatu mejadi satu layanan teknologi baru. Contoh layanan Fixed Network misalnya adalah PSTN yang kemudian berkembang menjadi ISDN hingga DSL (teknologi yang memungkinkan jaringan pita besar – broadband – untuk layanan fax, telepon external dan internal). Begitu juga dengan Mobile network, layanannya antara lain SMS dan WAP perlahan tapi pasti terus berkembang menjadi layanan internet broadband seperti HSDPA, WiFi hingga WiMax. Layanan internet juga akan mengerucut dari layanan berdasarkan teks (text-based) menjadi layanan audio visual seperti IPTV (Internet Protocol Television). Sementara layanan jaringan kabel akan berkembang menjadi layanan Video On Demand. Di lain pihak, layanan jaringan rumah yang sebelumnya analog menjadi TV Dijital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya pengerucutan teknologi itu akan memungkinkan penyebaran konten media massa pada perangkat bergerak dan turut mendorong konvergensi layanan dengan konten audio visual sebagai hasil dari pencapaian tertinggi teknologi itu. Saat ini, masih terjadi perbedaan antara satu teknologi dengan lainnya. Misalnya penyebaran konten media massa ke perangkat bergerak bukan hanya bisa dilakukan melalui internet, tapi juga melalui frekuensi televisi digital. Saat ini, sejumlah konsorsium sedang mempersiapkan implementasi TV Dijital di Indonesia dan TVRI telah melakukan siaran percobaan menggunakan teknologi TV Dijital. Tapi bentuk layanan pada akhirnya akan sama, yaitu layanan berita dalam bentuk audio visual pada perangkat bergerak baik secara “online” maupun “offline”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Arah Penelitian Konten Berita Audio-Visual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian terkait berita dalam bentuk Audio Visual khususnya analisa konten maupun dampaknya pada penonton telah banyak dilakukan di negara Barat. Negara-negara Eropa maupun Amerika Serikat telah banyak melakukan riset soal itu, meski dengan penekanan yang berbeda. Penelitian yang dilakukan di Eropa lebih fokus pada dampaknya terhadap penonton. Sedangkan di Amerika Serikat, penelitian lebih difokuskan pada analisa konten pemberitaan televisi dan faktor yang mempengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini terjadi secara alamiah. McQuail, Renckstorf dan Jankowski menjelaskan dalam jurnalnya bahwa penelitian di Eropa mengenai dampak pemberitaan televisi pada penontonnya telah berlangsung sejak tahun 60-an. Dalam 2 dekade setelah itu, penelitian soal pemberitaan televisi diarahkan pada riset konten dengan pendekatan kritis, riset dampak kultivasi pemberitaan pada persepsi penonton dan riset mengenai dampak pemberitaan televisi pada perilaku penonton. Namun, belakangan penelitian yang dilakukan lebih memberi perhatian kepada dampak pemberitaan televisi terhadap penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Amerika Serikat, penelitian lebih fokus pada dampak televisi secara umum terhadap penontonnya. Shoemaker dan Reese dalam bukunya menjelaskan bahwa penelitian akan dampak televisi secara umum pada penonton telah dilakukan sejak tahun 1930-an. Selama 4 dekade berbagai topik penelitian seputar dampak televisi muncul, antara lain riset tentang siaran radio “The Invasion from Mars” pada tahun 1940 dan analisa konten soal “Violence and The Media” pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 70-an penelitian lebih fokus pada fungsi Agenda Setting Media Massa. Salah satu penelitian yang dianggap superior adalah penelitian McCombs dan Shaw pada tahun 1972 di kota Chapel Hill, Karolina Utara. Penelitian itu menyebutkan bahwa media menentukan pada yang dipikirkan oleh warga Chapel Hill. Penelitian ini menguji fungsi Agenda Setting dari media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah itu, penelitian menjadi lebih fokus pada konten pemberitaan dan faktor yang mempengaruhinya. Sejumlah penelitian yang dilakukan antara lain soal konten berita luar negeri di Amerika Serikat (Herbert Gans, 1979), penelitian tentang pemberitaan konflik industrial pada tingkat internasional yang dilakukan majalah Time dan Newsweek (Perry, 1980) serta penelitian tentang berita luar negeri yang didominasi CNN (Jamieson &amp;amp; Campbell, 1992).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan arah penelitian atas penggunaan televisi bergerak ke arah riset konten. Sejumlah peneliti menyakini penelitian konten terbengkalai akibat fokus berlebihan terhadap penelitian tentang penonton televisi. Shoemaker (1996:18) meyakini bahwa bias individual sebagai bagian dari budaya di Amerika Serikat merupakan alasan utama arah penelitian yang cenderung mengabaikan riset konten. Padahal menurutnya, ini adalah bagian penting dari pemahaman sepenuhnya tentang dampak menonton televisi, karena keduanya saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat itu juga diyakini rekannya dari Eropa. Jankowski dan Van Selm (2001, p.389). Keduanya berpendapat bahwa penelitian lebih lanjut harus dilakukan berkaitan dengan penggunaan situs internet sebagai nilai tambah bagi sejumlah insititusi media internasional. Salah satu fungsi media massa adalah mendorong terciptanya diskusi atau debat publik. Saat ini ada kekhawatiran bahwa fungsi media sebagai pemicu debat publik mulai diabaikan pelakunya dan ruang di dunia maya dianggap memiliki potensi memaksimalkan fungsi itu. Dalam bentuk kalimat tanya, arah penelitian itu menjadi: “Sampai sejauh mana surat kabar online dan situs online televisi mempromosikan dan memberi kontribusi atas keterlibatan masyarakat di arena publik?”. Sekedar catatan beberapa situs online dari intitusi pemberitaan televisi di Amerika maupun di Eropa telah menyediakan bagian khusus untuk presentasi audio visual secara “online”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu McQuail berpendapat bahwa penelitian tentang televisi atau konten berita audio visual memiliki arah penelitian yang harus dipertimbangkan peneliti. Sejumlah isu yang dianggap penting untuk diteliti dan masuk kategori arah penlitian 'mainstream', antara lain:&lt;br /&gt;- Proses seleksi berita dan fungsi penjaga pagar/gatekeeping dari media&lt;br /&gt;- Konten dan arus informasi&lt;br /&gt;- Dampak berita dan efektifitasnya&lt;br /&gt;- Penonton berita&lt;br /&gt;- Kerangka kerja teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari pengalaman penelitian selama 30 tahun terakhir di Eropa, beberapa hal yang dianggap penting untuk diteliti lebih lanjut antara lain:&lt;br /&gt;- Norma dan nilai dari pembuatan berita&lt;br /&gt;- jaringan sosial sebagai sumber dan agen sosialisasi&lt;br /&gt;- eksposur terhadap berita dan menonton berita televisi sebagai aktivitas sosial&lt;br /&gt;- interpretasi dari produk pemberitaan, komprehensi dan evaluasi&lt;br /&gt;- rutinitas yang terbentuk dari menonton televisi dan aksi penyelesaian masalah aktif&lt;br /&gt;- pola perilaku menonton dan pandangan profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, perlu ditekankan di sini bahwa penelitian yang disebutkan di atas adalah unik untuk masyarakat di Amerika Serikat dan Eropa. Khusus penelitian berkaitan dengan dampak aksi menonton televisi sangat bergantung pada kultur dan demografi responden di negara masing-masing. Dari segi demografi, beberapa hal yang memengaruhi dampak pemberitaan televisi terhadap penonton adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, kelas sosial dan personalitas. Faktor lain yang juga bisa memengaruhi dampak itu adalah atribusi cerita, konstruksi naratif, pengemasan program, dampak presentasi sosial dan penjadwalan program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2854992&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=177940008935&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=177940008935&amp;amp;id=689519341"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://hphotos-snc3.fbcdn.net/hs060.snc3/14732_177105169341_689519341_2854992_1537865_n.jpg" alt="" class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-weight: bold;" class="caption"&gt;Invasi ruang publik pada ruang pribadi&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-4523015692058423759?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/4523015692058423759/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=4523015692058423759' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4523015692058423759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4523015692058423759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2009/11/media-baru-new-media-sebagai-fokus.html' title='Media Baru (New Media) sebagai fokus perhatian akademisi Komunikasi'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-1790691691423979443</id><published>2009-02-14T22:52:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T07:36:39.480-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tionghoa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkosaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tragedi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='etnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='98'/><title type='text'>Behind The Scene: Pemberitaan Tempo soal pemerkosaan tahun 98</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Institut Studi Arus Informasi menuding Pers gagal melakukan tugasnya dalam kasus Pemerkosaan etnis Tiong Hoa. Kasus itu tak terungkap hingga kini. Terungkap dalam arti benar tidaknya kasus itu terjadi. Pertanyaan mendasar pun dari What, When, Where, Who-nya pun tak terjawab. Kemana Pers Indonesia?  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Lalu dampak apa yang dicari dari pengungkapan kasus ini? Jika benar terjadi – dampak yang dicari adalah pengakuan bahwa pemerkosaan benar terjadi dan proses hukum berjalan untuk mencari pelakunya. Skenario yang selama ini berlangsung adalah bahwa kasus itu tidak pernah terjadi. Pemerintah pada saat itu pun dengan tegas menyatakan bahwa pemerkosaan tak terjadi. Apakah Pemerintah bisa begitu saja menyatakan sebuah peristiwa pelanggaran hukum tak pernah terjadi tanpa melalui proses hukum?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Tim gabungan pencari fakta dibentuk dan menemukan 52 kasus pemerkosaan etnis Tiong Hoa. Special rapporteur dari Komnas HAM PBB mengkonfirmasi klaim itu. Tak satu pun yang maju ke meja hijau. Kebenaran Pemerintah tak terbantahkan oleh fakta. Bagaimana dengan kebenaran korban?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Saya berusaha mencari jawaban kenapa kegagalan Pers itu terjadi. Muncul dugaan di kepala saya bahwa ketertutupan etnis Tiong Hoa mungkin mencegah Pers mendapatkan fakta jelas tentang apa yang terjadi. Namun, benarkah seperti itu? Karena itu saya mewawancara Arif Zulkifi, Redaktur Pelaksana Tempo. Berikut kutipan wawancara saya dengannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Stanley dari ISAI menyebutkan bahwa Pers gagal mengungkap kasus pemerkosaan etnis Tiong Hoa tahun 98. Anda setuju dengan pernyataan itu?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Pers itu berbeda dengan jaksa dan intel dan segala macam yang punya hak untuk memaksa orang untuk ngomong...kita gak punya, menurut gua, kita gak punya hak itu. Yang kita punya adalah kemampuan membujuk atau kemampuan untuk mempersuasi khan. Itu kira-kira...tingga pintar-pintarnya aja loe mempersuasi orang untuk ngomong, khan kira-kira gitu. Itu satu...yang kedua, karenanya kalo kita mau ngomong soal basis legal dari UU pokok pers, itu khan kebenaran yang diungkap pers khan kebenaran dalam satu term waktu tertentu gitu khan. Misalnya dalam waktu setahun kami menemukan kebenaran ini – kami tulis dalam tahun itu. Tapi kalo pada tahun berikutnya kebenaran itu berubah, media tidak bisa disalahkan. Kia-kira begitu ya udah kalo gitu loe ungkap lagi dong kebenaran pada tahun berikutnya. Yang boleh jadi 180 derajat berbeda dengan kebenaran pada tahun yang bersangkutan. Kita bicara filosofinya dulu. Kalo begitu media bisa disalahkan dong kalo temuannya berbeda dengan fakta sebenarnya pada tahun berikutnya? Tidak! Dia tidak bisa disalahkan, asalkan dia bekerja secara profesional dan mengikuti kaedah-kaedah jurnalistik. Apa itu kaedah-kaedah jurnalistik? Cover both sides. Cover all sides, check and re-check, tidak terima amplop, tidak mau disuap, khan itu intinya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Bagaimana dengan perkosaan '98, loe liat judulnya dari Tempo...Perkosaan: Cerita dan Fakta. Cerita artinya omong-omong di warung kopi, fakta...apa yang kita temukan...kira-kira begitu. Dan memang pada tahun itu kita gak menemukan tuh hard fact yang mengatakan jelas-jelas baha ada perkosaan itu terjadi. Yang dimaksud hard fact itu – orang ngomong 'on the record', bisa dicatat...kalo di TV mau on-screen...ini khan nggak, semua orang ngumpet-ngumpet, semua serba kabur. Berapa jumlah dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Pada saat itu ada yang melaporkan ke polisi?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Gak ada sama sekali.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Tidak ada satu pun korban perkosaan yang melaporkan ke polisi?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Gak ada. Tidak ada laporan polisi yang bisa mendukung fakta kejadian itu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Apakah salah satu alasannya karena kita tidak punya akses langsung ke komunitas  Tionghoa?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Ya bukan semata-mata karena etnis Tionghoa-nya...tapi gua bisa pahami korban perkosaan bos, gimana dia mau declare dia mau ngomong itu. Ada sanksi masyarakat dan sebagainya khan. Jadi gak bisa semudah itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Bisa gak disebut bahwa kita gagal masuk ke komunitas Tionghoa untuk megungkap kasus ini?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Gua mau pake kata begini aja...'Wartawan belum mampu mengungkap ini dari “first hand” source' atau dari sumber tangan pertama. Yang bisa kita lakukan adalah 'second hand' source – orang yang merawat, membantu, asistensi dan sebagainya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Bukankah kita punya kewajiban untuk melakukan itu?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Oh...Iya! Tapi kita belum mampu melakukan itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Belum mampu atau tidak ada komitmen kuat dari redaksi untuk melakukan itu?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Tidak mampu! Kalo komitmen sangat kommit.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Tidak mampu kenapa?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Yah karena itu tadi penetrasi kita terbatas untuk mencapai sumber...untuk membujuk orang agar mau ngomong 'on screen', 'on the record' sebagaimana standar high-quality journalism gitu yah. Belum mampu kita, belum nyampe! Mungkin next time...kenapa nggak? Gitu. Gua sih terbuka sekali untuk mengungkap itu gitu lho, kalo memang apa namanya bahan-bahannya gitu, sumber-sumbernya ada gitu. Sama sekali gak ada karena preferensi dan sebagainya gak ada!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Q) Sejumlah aktivis pada waktu itu berusaha menjadi konsuler tapi kemudian salah satunya ada yang meninggal...tewas dan ada juga aktivis lainnya yang mendapat ancaman. Bukankah sebenarnya itu momentum bagus untuk mengungkap kasus itu?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(A) Oh ya iyah tapi coba deh loe bicara ama aktivis-aktivis yang meng-asisteni korban-korban itu, berhasil gak loe membujuk dia untuk mempertemukan kita dengan si korban. Sebagai wartawan...gak! Bahkan mereka pun mengungkapkan gak mau. Sehingga gua bisa paham kalo pembaca berpikir bahwa ini ada gak sih sebetulnya? Khan gitu khan. Ini ada orang yang asisteni ngomong-ngomong cerita tentang bagaimana dia menderita dan sebagainya. Tapi gak pernah di-disclosure gak pernah mau dibuka identitasnya begitu...dan semua dengan argumentasi mereka trauma, mereka takut dan sebagainya gitu. Nah kalo elo mau bilang bahwa itu adalah kegagalan wartawan gua setuju. Kegagalan untuk membuka itu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;(Note: Wawancara ini sebenarnya saya lakukan akhir tahun lalu...tapi baru sekarang bisa saya buat karena sebenarnya saya ingin melengkapi laporan saya sehingga lebih balance dengan data yang cukup, tapi belakangan semakin terbengkalai malah. Saya sampaikan kembali bahwa ini adalah 'Work in Progress' and should not be treated otherwise.) &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-1790691691423979443?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/1790691691423979443/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=1790691691423979443' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1790691691423979443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/1790691691423979443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2009/02/behind-scene-pemberitaan-tempp-soal.html' title='Behind The Scene: Pemberitaan Tempo soal pemerkosaan tahun 98'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-2782397405285715679</id><published>2009-02-14T21:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T07:02:39.975-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bhayu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sugarda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='munir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kontras'/><title type='text'>Amir yang Mahir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SZgrgyV5zPI/AAAAAAAAADY/VrLPKAEYQuI/s1600-h/Image051.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SZgrgyV5zPI/AAAAAAAAADY/VrLPKAEYQuI/s200/Image051.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303036403498208498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Sabtu, 14 Februari 2009)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Seorang berkaos abu-abu naik ke atas panggung sambil membawa gitar. Sebelumnya sejumlah calon legislatif duduk di panggung yang terletak di samping teras kantor Kontras itu. Mereka adalah caleg dengan berbagai latar belakang, seperti aktivis, akademisi dan fungsionaris ormas. Namun, keenamnya mengaku membawa pesan kemanusiaan dan perubahan. Sebuah dialog publik digelar di atas panggung itu, tapi kini...si pembawa gitar berkaos abu-abu itu akan menggelar dialog hati.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Amir membuka aksinya dengan menyapa warga yang menghadiri dialog publik itu. Sepertinya mereka mengenalnya, sehingga mereka  pun tersenyum dan menganggung-angguk ke arahnya. Amir adalah salah satu peserta sayembara cipta lagu untuk Munir yang terpilihnya lagunya dalam 10 besar. Ia pun menyanyikan lagu ciptaannya untuk Munir.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Berikut lagu yang dibawakannya saat itu. &lt;a href="http://groups.google.com/group/musicfilesformyblog/web/MUSIK%20AMIR.wav"&gt;(klik di sini)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Amir berusia 26 tahun. Ia kuliah di UIN Ciputat, sudah semester 14 dan sedang mengerjakan skripsi. Jurusan yang diambilnya adalah Perbandingan Madzab Fikih, Syariat dan Hukum. Skripsi yang dikerjakannya adalah mengenai Munir. Tapi bukan hanya itu kegiatannya. Setiap pagi sebelum kuliah, ia membantu jualan Soto milik Pamannya.  &lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Ketika saya tanya apa yang mendorongnya untuk membuat lagu untuk Munir, ia pun menjelaskan bahwa keberanian Munir yang memberi inspirasi kepada dirinya.  &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan wawancara saya dengan Amir. &lt;a href="http://musicfilesformyblog.googlegroups.com/web/AMIR+SADEWA.wav?hl=id&amp;amp;gda=x0kYTUEAAACgzzkG_NTJGQzMb-Ng_bH9eqOyn5aceouX8EIjiQp5mQ5gG5A4Hp3pdEdcowriL-dTCT_pCLcFTwcI3Sro5jAzlXFeCn-cdYleF-vtiGpWAA"&gt;(klik di sini)&lt;/a&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Usai wawancara kami masih sempat berbincang-bincang lebih jauh. Ia sadar bahwa ada yang menuding Munir mendapatkan dana dari luar negeri sehingga agendanya pun mengikuti pemberi dana. Tapi komentarnya soal ini adalah sebagai berikut: “Tapi dia berjuang buat siapa? Selama perjuangannya itu bisa bermanfaat untuk orang yang membutuhkan kenapa tidak?”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;Di kampus pun, Amir sering berdiskusi dengan teman-temannya. Mereka kebanyakan mempertanyakan apa gunanya mengungkit masa lalu? Baik itu peristiwa tahun '98, perlakuan atas Eks PKI dan lainnya. Amir pun meminta mereka untuk membayangkan perasaan korban saat ada anggota keluarga mereka yang diambil secara paksa di depan mata mereka. Lebih lanjut ia mengaku baru mengerti setelah ia bertemu langsung dengan para korban dalam acara Kamis-an di kantor Kontras. Menjelang akhir pembicaraan kami, Amir menegaskan, “Saya membela kemanusiaan.”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;(Note: This is a work in progress. Yang coba saya lakukan di sini adalah mewawancarai sebanyak orang tentang berbagai hal terkait pelanggaran hak asasi manusia dan merekamnya dalam blog saya. Karena saya mengerjakan ini di luar jam kerja saya, maka keberimbangan belum tentu akan muncul dalam satu artikel. Tapi saya berjanji untuk melengkapi laporan saya agar bisa memenuhi azas cover both sides. Artikel terkait dari pihak yang berseberangan akan saya tulis sebagai artikel tersendiri dan dibuat tautannya ke artikel sebelumnya. Let me emphasise once more that this is a work in progress and should be treated as such. Thank you for your appreciation.)&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-2782397405285715679?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/2782397405285715679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=2782397405285715679' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2782397405285715679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2782397405285715679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2009/02/amir-yang-mahir.html' title='Amir yang Mahir'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SZgrgyV5zPI/AAAAAAAAADY/VrLPKAEYQuI/s72-c/Image051.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-2358171351622467716</id><published>2008-12-16T06:30:00.001-08:00</published><updated>2008-12-16T06:35:16.162-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journalist'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keselamatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='safety'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>Diskusi Panel Konferensi Keselamatan Jurnalis (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SUe8S0kdlPI/AAAAAAAAACY/66QqKSW1fuY/s1600-h/filipina.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280396119650440434" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 211px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SUe8S0kdlPI/AAAAAAAAACY/66QqKSW1fuY/s320/filipina.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sedikit cerita dari Konferensi Keselamatan Jurnalis. Konferensi ini merupakan upaya untuk menciptakan budaya keselamatan bagi Jurnalis. Berbagai panelis hadir dalam konferensi ini, antara lain dari Filipina, Kamboja dan Malaysia. Menarik mendengar kondisi keselamatan bagi Jurnalis di Filipina dan negara Asia Tenggara lainnya. Karena tidak terlalu jauh berbeda. Namun, sejumlah perbedaan yang mencolok antara lain seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Filipina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Filipina, tingkat kematian jurnalis tinggi. Padahal kebebasan pers jauh lebih baik dari Malaysia misalnya. Menurut Maria Ressa, mantan koresponden CNN yang sekarang bekerja di ABS-CBN (salah satu stasiun televisi besar di Filipina) 70 persen konten berita adalah kriminal. Ia mengaku sempat berupaya untuk mengurangi konten berita kriminal tapi akhirnya sadar bahwa berita kriminal diperlukan karena kriminalitas tinggi di Filipina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kematian jurnalis di Filipina ada di peringkat 4 dengan jumlah kematian 55 orang antara tahun 1996 s/d tahun 2006. Nomer satu tetap Irak dengan jumlah kematian sebanyak 138 orang. Diskusi khusus tentang kondisi buruk keselamatan Jurnalis di Filipina dilakukan untuk merangkum rekomendasi soal ini. Sejumlah kesimpulan yang muncul antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- budaya impunitas meluas (tak ada satu pun kasus kematian jurnalis masuk ke meja hijau)&lt;br /&gt;- praktek buruk jurnalistik (alias amplop) juga diduga turut berperan, sehingga masyarakat tak peduli tentang keselamatan jurnalis&lt;br /&gt;- tidak ada komitmen dari Pemerintah untuk menghentikan pembunuhan atas Jurnalis dan menghentikan budaya impunitas&lt;br /&gt;- gaji wartawan yang rendah dan rendahnya kualifikasi wartawan juga dianggap memengaruhi kualitas karya jurnalistik (khususnya radio - sementara radio lebih luas jangkauannya/ populer dibanding televisi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kamboja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalis di Kamboja mungkin tidak terancam jiwanya - tapi mereka rentan untuk ditangkap aparat. Seorang wartawan tewas saat pemilu di Kamboja tahun ini. Panelis dari Kamboja menekankan perlunya kesadaran akan pentingnya keselamatan Jurnalis oleh Stakeholders antara lain: Pemerintah, Organisasi Jurnalis dan Pimpinan Institusi Pemberitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Malaysia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malaysia, persoalan utama adalah Undang-Undang berkaitan dengan Jurnalis menjadi alat Pemerintah untuk mengendalikan Media Massa. Salah satu UU yang menghambat kerja Jurnalis antara lain Internal Security Act (seorang blogger akhirnya ditahan karena dianggap subversif tahun ini) dan UU yang mengharuskan institusi pemberitaan untuk memperbarui ijin Pers dalam kurun waktu tertentu. Sehingga media sewaktu-waktu bisa dibredel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi keresahan peserta diskusi panel dari awal adalah nasib koresponden/freelance/ stringer. Karena keselamatan mereka dari segi peralatan dan asuransi berbeda dengan jurnalis yang berstatus karyawan media besar. Di Indonesia, kenyataannya adalah Jurnalis terbagi menjadi 2 kelas yang tidak mendapatkan keuntungan sama dari perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada dasarnya, isu keselamatan Jurnalis harus menjadi prioritas institusi pemberitaan sekaligus jurnalis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan dalam situasi konflik? Rick Filon dari AKE (sebuah perusahaan Manajemen Krisis) memberikan sejumlah panduan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tanggung jawab perusahaan dalam memastikan keselamatan Jurnalis antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pelatihan keselamatan bagi Jurnalis sebelum masuk ke situasi konflik&lt;br /&gt;- Melakukan praktek Perencanaan Manajemen Krisis (identifikasi langkah dalam menghadapi situasi krisis seperti misalnya penculikan wartawan)&lt;br /&gt;- Mengidentifikasi dukungan dari luar (Organisasi Internasional untuk melindungi wartawan, dlsb.)&lt;br /&gt;- Diseminasi informasi (memastikan informasi penting terkait kondisi nyata di daerah konflik dapat diakses tim di lapangan maupun pihak manajemen)&lt;br /&gt;- Mendokumentasikan kondisi karyawan, baik itu kondisi kesehatannya maupun keahliannya - dengan harapan saat krisis terjadi kondisi wartawan tidak terabaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Planning/ Risk Assesment&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risk Assessment bisa dilakukan dengan melakukan langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Menentukan tujuan dari liputan, story apa yang dikejar, apakah cukup pantas untuk mengirim tim ke lokasi berbahaya&lt;br /&gt;- Melakukan apresiasi detail tentang kondisi di lokasi berbahaya itu&lt;br /&gt;- Mempersiapkan rencana untuk mengurangi resiko dalam upaya mencapai tujuan&lt;br /&gt;- Contingency Plan atau mempersiapkan skenario jika terjadi sesuatu&lt;br /&gt;- Emergency Plan atau rencana jika terjadi situasi darurat (misalnya KAPAN TIM LIPUTAN HARUS KELUAR DARI LOKASI KONFLIK).&lt;br /&gt;- Mempertimbangkan resiko dengan hasil yang diharapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pelaksanaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Eksekusi Manajemen Krisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tim dikirim, anggoat tim telah dibekali segala persiapan yang BISA dilakukan pada waktu singkat. Misalnya peralatan khusus (masker untuk liputan kawasan bencana/penyakit menular, jaket anti peluru atau medical tool kit P3K), informasi dasar tentang segala hal yang perlu diketahui di lokasi berbahaya termasuk budaya dan background masalah, alat komunikasi dan protokol/SOP peliputan di daerah berbahaya yang harus dipatuhi jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Reassessment (Evaluasi Ulang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi kembali protokol/ SOP peliputan karena mungkin saja perlu berubah karena kondisi lapangan juga berubah. Selain protokol/ SOP yang harus diperhatikan adalah keperluan alat kesehatan - dengan pertimbangan mungkin obat/alat kesehatan yang dibawa tidak lagi relevan dengan kondisi di lapangan. Begitu juga dengan shelter seperti tenda, alat komunikasi dan sebagainya. Dengan begitu, Manajemen responsif terhadap kebutuhan tim lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Post Task (Pasca Peliputan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen perlu mengidentifikasi ancaman yang mungkin muncul pasca peliputan. Misalnya hasil liputan yang dibawa pulang memiliki potensi membuat marah pihak tertentu sehingga perlu persiapan untuk menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengidentifikasi ancaman terhadap intitusi pemberitaan, ancaman terhadap pihak ketiga juga perlu diperhatikan. Misalnya ancaman terhadap koresponden kita yang masih meliput di lokasi konflik setelah tim yang dikirim pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa melakukan evaluasi keseluruhan mencakup kondisi kesehatan fisik maupun kejiwaan anggota tim. Karena tidak sedikit Jurnalis yang meliput daerah konflik atau lokasi bencana mengalami trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bagaimana mengurangi Resiko?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang budaya, kondisi terakhir konflik, latar belakang konflik dan latar belakang orang-orang yang menjadi sumber berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pastikan Risk Assessment dibuat berdasarkan data akurat dan bukan mitos. Misalnya: salah satu protokol yang dibuat untuk tim liputan dalam melakukan tugasnya adalah tiarap saat muncul tembakan, dengan asumsi senjata kelompok pemberontak bisa menjangkau1500 meter. Padahal di daerah itu, senjata yang umum digunakan kelompok pemberontak memiliki jangkauan di bawah 400 meter. Selain itu kemampuan menggunakan senjata anggota kelompok pemberontak sangat tidak akurat. Jadi saat tembakan muncul dari arah kelompok pemberontak - seharusnya tidak perlu tiarap karena bisa langsung keluar dari lokasi berbahaya. Atau misalnya jika ada suara siulan berarti ada mortir yang diluncurkan...padahal di lokasi berbahaya itu, kelompok milisi tidak menggunakan pelontar mortir yang menimbulkan suara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindari profil tertentu yang mudah dikenali dari anggota tim liputan alias coba untuk tidak terlalu mencolok. Misalnya: selalu memakai topi hutan atau baju tertentu saat liputan. Karena dengan begitu, orang yang ingin menculik Anda misalnya dengan mudah mengenali targetnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Peralatan khusus seperti baju anti peluru, telepon satelit dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindari rutinitas. Misalnya untuk pulang ke rumah hindari menggunakan jalan yang sama setiap kali. Atau setiap malam makan di satu tempat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya: Don't Be The Easy Option!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-2358171351622467716?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/2358171351622467716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=2358171351622467716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2358171351622467716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2358171351622467716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/12/diskusi-panel-konferensi-keselamatan_16.html' title='Diskusi Panel Konferensi Keselamatan Jurnalis (1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SUe8S0kdlPI/AAAAAAAAACY/66QqKSW1fuY/s72-c/filipina.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-3002151526703257865</id><published>2008-12-16T06:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-16T06:52:16.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='journalist'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keselamatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='stress'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='safety'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>Diskusi Panel Konferensi Keselamatan Jurnalis (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SUfAeANBAzI/AAAAAAAAADQ/NEtN3LFOpSM/s1600-h/myanmar2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280400709798396722" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 100px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SUfAeANBAzI/AAAAAAAAADQ/NEtN3LFOpSM/s200/myanmar2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Burma/Myanmar kondisi kebebasan pers-nya sangat buruk. Mulai dari Undang-Undang tentang Televisi dan Video, UU Perfilman, UU elektronik s/d UU Perkembangan Ilmu Komputer. UU yang terakhir pada dasarnya kepemilikan perangkat komputer harus dilaporkan ke Junta. Sisanya merupakan batasan kepada media dalam melaporkan ke publik. Misalnya UU elektronik - UU itu melarang seseorang mengirimkan gambar peristiwa di Burma/ Myanmar melalui internet ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Email juga diawasi. Sekitar 80 persen email service provider di-blok. Karena itu, hati-hati jika mengirim email dari Burma/Myanmar. Para jurnalis sakti ini memperingatkan untuk menggunakan email kedua yang tidak diketahui pihak Junta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, seperti halnya di Malaysia - media harus melakukan registrasi ulang setiap tahun. Berita media cetak harus diserahkan ke Kementerian Informasi untuk disensor bila perlu sehari sebelum bisa disebarluaskan. Untuk media mingguan, bisa menyerahkannya 3 hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korban harian yang ada di Burma/Myanmar ada 3 dan semuanya dikendalikan Pemerintah. Begitu juga dengan stasiun televisi. Informasi yang ada di media Burma/Myanmar bisa dibilang 100 persen propaganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah tip dan trik yang disampaikan para jurnalis dari Burma/Myanmar dalam diskusi panel, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- jangan mengoperasikan kamera foto/video di depan tentara yang bertugas&lt;br /&gt;- jangan mengeluarkan kamera foto/video jika ada tentara di sekitar&lt;br /&gt;- pastikan foto-foto yang bisa dianggap berbahaya oleh militer disimpan dengan baik dan jangan ditinggalkan di kamera foto/video&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya yang mereka lakukan adalah menyebarkan informasi, meski bisa membahayakan nyawa mereka, dengan cara-cara bawah tanah. Sebagian besar pun akhirnya membantu media asing untuk mendapatkan informasi. Liputan yang di bawah pengawasan Junta bukan hanya masalah konflik perang saudara, tapi juga di daerah bencana topan Nargis. Mereka berharap koresponden luar negeri bisa mengerti kondisi peliputan di Burma/Myanmar dan bisa lebih sensitif saat bertugas, karena salah langkah bisa membahayakan diri mereka dan wartawan lokal yang kebetulan membantu mereka. Menurut mereka, sebaiknya media internasional mengirimkan wartawan yang berwajah oriental (mirip orang Myanmar). Seperti orang Filipina dan India masih bisa leluasa karena bisa dianggap orang lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi wartawan yang bertugas di daerah konflik seperti itu tentunya akan rentan menderita stress disorder. Kebanyakan wartawan mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Cait McMahon dari DART Center memiliki program untuk mengatasi stress pasca trauma yang diderita jurnalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala stress pasca kejadian traumatis antara lain perubahan karakter pasca peristiwa traumatis (dari lembut menjadi kasar), banyak berkeringat, mengalami hyper-arousal sehingga bisa membahayakan tim, kemarahan, rasa bersalah dan rusaknya hubungan pribadi dengan orang tercinta. Hyper-arousal merupakan suatu kondisi yang dimana adrenalin mengalir deras dalam tubuh dan mengakibatkan kesulitan mengambil keputusan secara rasional. Salah satu gejalanya adalah perilaku berbahaya yang bisa mencelakakan tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanganan trauma bagi jurnalis dilakukan melalui pendekatan BDA (Before, During and After).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Before&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pengiriman tim ke daerah berbahaya (hostile environment) anggota tim harus mengerti ancaman psikologis yang mungkin mereka alami di daerah berbahaya itu. Karena mengetahui adanya ancaman psikologis (bukan hanya ancaman fisik) bisa mengurangi dampak trauma dan dengan cepat bisa di-identifikasi untuk ditangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah yang bisa dilakukan sebagai persiapan mental antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- belajar mengenali tingkat kemampuan menghadapi stress&lt;br /&gt;- belajar dari sesama rekan jurnalis yang lebih senior ancaman psikologis maupun cara menanganinya. Agar lebih efektif perlu adanya Support Group atau mentoring sebagai persiapan sebelum pemberangkatan.&lt;br /&gt;- Positive Self Talk (maksudnya berbicara dengan diri sendiri secara positif. misalnya "I can do this").&lt;br /&gt;- meningkatkan spiritualitas&lt;br /&gt;- Briefing dengan tim sebelum pemberangkatan untuk menjelaskan SOP manajemen trauma (misalnya apa yang harus diperhatikan dan apa yang harus dilakukan jika merasa trauma)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. During&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- fokus pada kegiatan yang dilakukan secara fisik (artinya fokus pada pekerjaan seperti pengambilan gambar - liputan - menjaga keselamatan, agar tidak terlalu fokus pada kondisi psikologis&lt;br /&gt;- jangan terpengaruh dengan korban dan tetap fokus pada pekerjaan saat situasi krisis (misalnya di tengah baku tembak jangan terpengaruh hal lain selain menjaga keselamatan dan melakukan tugas jurnalistik)&lt;br /&gt;- dalam situasi berbahaya selalu men-challenge keputusan yang akan diambil dengan pemikiran negatif (artinya sebelum melakukan sesuatu yang berbahaya - seperti ptc di tengah baku tembak - selalu lawan dorongan untuk melakukan itu dengan pemikiran yang negatif seperti "I can not do this". Dengan demikian memberi kesempatan kita untuk berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang berbahaya.&lt;br /&gt;- bernafas dalam-dalam dan bicara pada diri sendiri (seperti misalnya di tengah situasi kritis berkata pada diri sendiri: "Tetap tenang dan fokus pada pekerjaan. Nafas dalam-dalam.")&lt;br /&gt;- awasi kondisi fisik dan mental. (artinya senantiasa evaluasi diri apakah mengalami kelelahan fisik dan mental)&lt;br /&gt;- minum air banyak-banyak&lt;br /&gt;- pertahankan harapan dan keyakinan diri&lt;br /&gt;- manajemen bisa membantu dengan mengirimkan pesan pendek atau email menanyakan kondisi tim sebagai bentuk perhatian - khususnya usai melakukan tugasnya dengan baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. After&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- pengecekan fisik maupun psikologis (yang terakhir tidak perlu sampai mendatangkan psikiater - tapi cukup menggelar sesi berbagi cerita dengan mentor atau jurnalis yang lebih senior)&lt;br /&gt;- perhatikan gejala-gejala PTSD dalam keseharian sehingga bisa segera diatasi&lt;br /&gt;- pemantauan kondisi psikologis selama 3 hingga 4 hari pasca trauma&lt;br /&gt;- membuka diri untuk menerima konseling dari Support Group&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya ada 5 poin yang harus diperhatikan. Kelima poin itu terangkum dalam CISD (Critical Incidence Safety Debriefing):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Training Trauma bukan sekedar diperlukan tapi sangat penting untuk dilakukan&lt;br /&gt;2. Keselamatan fisik adalah seiring dengan keselamatan psikologis (karena gangguan psikologis bisa memicu gejala fisiologis atau mempengaruhi secara fisik)&lt;br /&gt;3. Lakukan pendekatan BDA&lt;br /&gt;4. Reaksi pasca trauma adalah wajar&lt;br /&gt;5. Budaya media pemberitaan yang sadar pentingnya penanganan trauma = praktek jurnalisme yang lebih baik = bisnis yang baik/menguntungkan perusahaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-3002151526703257865?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/3002151526703257865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=3002151526703257865' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3002151526703257865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3002151526703257865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/12/diskusi-panel-konferensi-keselamatan.html' title='Diskusi Panel Konferensi Keselamatan Jurnalis (2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SUfAeANBAzI/AAAAAAAAADQ/NEtN3LFOpSM/s72-c/myanmar2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5141688505993602718</id><published>2008-07-19T12:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-19T12:55:24.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dialog Sudut Pandang'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-db018cb2a62948e7" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v22.nonxt6.googlevideo.com/videoplayback?id%3Ddb018cb2a62948e7%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330405356%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D2084EF890C8C8757BA86D9F6553551DDEA6198D7.23F40BC11C201EBA449BA720A05E9FDE15991659%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Ddb018cb2a62948e7%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3Dv5iglffeE_TSISiMfJ_XYRCj4VY&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v22.nonxt6.googlevideo.com/videoplayback?id%3Ddb018cb2a62948e7%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330405356%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D2084EF890C8C8757BA86D9F6553551DDEA6198D7.23F40BC11C201EBA449BA720A05E9FDE15991659%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Ddb018cb2a62948e7%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3Dv5iglffeE_TSISiMfJ_XYRCj4VY&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-6c893ca1791ec76" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v8.nonxt1.googlevideo.com/videoplayback?id%3D06c893ca1791ec76%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330405356%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D541418AB59FC5DA31C1E51801DC83121A8137216.2C3721F5A542B34D8C91F1FA7D06C201A4B359F6%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D6c893ca1791ec76%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DlBP-yxil0IXyrHwqKLQBH9ufWIQ&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v8.nonxt1.googlevideo.com/videoplayback?id%3D06c893ca1791ec76%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330405356%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D541418AB59FC5DA31C1E51801DC83121A8137216.2C3721F5A542B34D8C91F1FA7D06C201A4B359F6%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D6c893ca1791ec76%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DlBP-yxil0IXyrHwqKLQBH9ufWIQ&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dialog Sudut Pandang dengan Mantan Perdana Menteri Timor Leste, Mari Alkatiri soal hasil laporan Komisi Kebenaran dan Persahabatan Timor Leste. Host: Bhayu Sugarda.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5141688505993602718?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=6c893ca1791ec76&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=db018cb2a62948e7&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5141688505993602718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5141688505993602718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5141688505993602718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5141688505993602718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/dialog-sudut-pandang-dengan-mantan.html' title=''/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-3797029472559343440</id><published>2008-07-14T20:58:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:47.419-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produksi'/><title type='text'>Editing In-Camera (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHzKs3oJf6I/AAAAAAAAABw/4CPLPrNhKuk/s1600-h/camera+person.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223272540038332322" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHzKs3oJf6I/AAAAAAAAABw/4CPLPrNhKuk/s320/camera+person.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Temans,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penjelasan tentang "edit by camera". Istilah itu banyak variasinya, seperti "edit with camera" (suatu hari saya nonton Discovery Channel tentang sejarah perfilman Hong Kong. Dalam narasinya mereka bilang: untuk menekan biaya produksi mereka harus melakukan "edit with camera") atau "editing in camera". Khusus untuk variasi istilah yang terakhir, saya dapet dari internet pada situs videomaker: http://www.videomaker.com/article/7581/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut cuplikan artikelnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getting Started: Shooting to Edit vs. Editing In-Camera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Arthur Aiello&lt;br /&gt;May 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the Camera&lt;br /&gt;While the differences between editing in-camera and shooting to edit are many, the main difference between the two is a matter of sequence. When you shoot to edit, you can shoot your scenes out of order, since you're going to re-arrange them in post production anyway. When you edit in the camera, however, you need to shoot all of the scenes in order. Because in-camera editing requires that scenes be shot in the order, you might have to do some leg work to produce a scene that requires more than one location.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In addition, you'll need to get each shot right the first time. There's no "fix it later" flexibility here. As any extreme sports enthusiast will tell you, flying by the seat of your pants requires skill and planning before you take the leap. Editing in the camera requires a great deal of planning before you roll the tape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gerakan yang diambil adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- obyek orang in masuk dapur melalui pintu&lt;br /&gt;- obyek orang membuka lemari es&lt;br /&gt;- obyek orang mengambil makanan&lt;br /&gt;- obyek orang meletakkannya di piring&lt;br /&gt;- obyek orang duduk di meja makan&lt;br /&gt;- obyek orang makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan PJTV, mengambil sequence dari gerakan itu adalah melalui 3 kali pengambilan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Master Shot (Longshot biasanya)&lt;br /&gt;2. Medium Shot&lt;br /&gt;3. Detail (Close up/ Big Close up)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat mengambil Master Shot, gerakan itu diambil apa adanya. Gambar itu akan digunakan sebagai dasar dari editing. Setelah itu, obyek orang harus mengulang gerakan itu dan kamera person bisa mengambil gambar dengan komposisi berbeda (Medium Shot misalnya). Terakhir, obyek orang untuk ketiga kalinya harus mengulang gerakan itu, agar kamera person bisa mengambil gambar detail atau CU/ BCU. Inilah yang disebut "Shooting to Edit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pengambilan gambar itu kemudian akan dengan mudah di-edit karena semua kelengkapan gambar yang dibutuhkan editor telah dimiliki. Nah "Editing In Camera" adalah mengambil gambar sesuai dengan urutan kebutuhan editing dan hanya dilakukan satu kali (atau "One Take").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi misalnya urutan gambar editing adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- obyek orang in masuk dapur melalui pintu (LS) (kamera person mengambil LS obyek buka pintu dan berjalan menuju kulkas - setibanya di kulkas kamera person menghentikan rekaman - CUT.)&lt;br /&gt;- obyek orang membuka lemari es (CU)(kamera person mengubah komposisi dan mulai merekam gambar lagi si orang membuka lemari es - saat pintu lemari es terbuka kamera person menghentikan rekaman - CUT.)&lt;br /&gt;- obyek orang mengambil makanan (MS) (kamera person kembali mengubah komposisi dan lanjut merekam gambar si obyek IN FRAME mengambil makanan dari lemari es - saat makanan sudah diambil dan si orang OUT OF FRAME kamera person menghentikan rekaman - CUT.)&lt;br /&gt;- obyek orang meletakkannya di piring (MCU) (dan seterusnya...)&lt;br /&gt;- obyek orang duduk di meja makan (MS)(dan seterusnya...)&lt;br /&gt;- obyek orang makan (BCU)(dan seterusnya...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pengambilan gambar dilakukan dengan sekali rekam atau "ONE TAKE".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terlihat, jelas "Shooting to Edit" hanya bisa dilakukan pada aktor atau orang yang sudah sangat kooperatif dengan kamera person. Karena hanya orang yang sudah sangat kooperatif dengan kamera person bersedia untuk melakukan 3 kali gerakan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, liputan harian suatu peristiwa - obyek seringkali belum atau tidak se-kooperatif itu. Misalnya liputan sidang, pemeriksaan KPK, demo, olahraga dan sebagainya. Sehingga untuk liputan berita harian - "Editing In Camera" adalah suatu keharusan. Artinya "Editing In Camera" adalah seni mendapatkan gambar sesuai urutan yang diperlukan editor - hanya dengan sekali rekam atau "ONE TAKE". &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah gambar lalu tidak perlu di-edit lagi? Tidak. Gambar hasil "Editing In Camera" tetap harus di-edit lagi agar sempurna saat muncul di layar. Kamera person khan manusia juga. Hehehe. Keuntungan terbesar dari "Editing In-Camera" adalah waktu pengerjaan post production yang lebih efisien, jika dibanding tidak melakukannya. Tapi mengingat liputan berita atau "News coverage" adalah proses rekaman gambar saat peristiwa yang tidak bisa diulang terjadi, "Editing In Camera" menjadi sebuah keharusan. Bukan hanya mempermudah proses post production, tapi juga mempercepat proses post production. Bayangkan editor tidak lagi perlu mencari-cari gambar yang dia perlukan, karena apa yang dia butuhkan sudah sesuai urutannya. Sehingga liputan last minute, menjadi sangat mungkin untuk ditayangkan tepat waktu. Lalu apa yang salah jika kamera person telah melakukan editing in camera dan tetap pulang dengan visual berlebihan, sehingga perlu waktu lama hanya untuk membuat rough cut-nya? &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(bersambung ke Editing In-Camera (2))&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-3797029472559343440?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/3797029472559343440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=3797029472559343440' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3797029472559343440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3797029472559343440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/editing-in-camera_14.html' title='Editing In-Camera (1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHzKs3oJf6I/AAAAAAAAABw/4CPLPrNhKuk/s72-c/camera+person.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-3215886460515542455</id><published>2008-07-14T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:47.517-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produksi'/><title type='text'>Editing In-Camera (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHzNvWC23zI/AAAAAAAAAB4/gFOGFiGlXzQ/s1600-h/camera+person+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223275881098043186" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHzNvWC23zI/AAAAAAAAAB4/gFOGFiGlXzQ/s320/camera+person+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kemungkinannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A&gt; Sequence yang sudah diambil kamera person menjadi tidak penting ketika ada peristiwa selanjutnya yang jauh lebih menarik dan kamera person terpaksa mengambil sequence baru. Bayangkan jika kejadian itu terjadi beberapa kali misalnya, akhirnya bahan mentah yang dimiliki kamera person menjadi berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Block Sequence I)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- obyek orang in masuk dapur melalui pintu (LS)&lt;br /&gt;- obyek orang membuka lemari es (CU)&lt;br /&gt;- obyek orang mengambil makanan (MS)&lt;br /&gt;- obyek orang meletakkannya di piring (MCU)&lt;br /&gt;- obyek orang duduk di meja makan (MS)&lt;br /&gt;- obyek orang makan (BCU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Block Sequence II)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- obyek orang berdiri dari kursi dan beranjak dari meja makan (MS)&lt;br /&gt;- obyek orang berjalan menuju ruang TV (CU)&lt;br /&gt;- setibanya di ruang TV, obyek orang bertemu dengan istri dan dua anaknya (LS)&lt;br /&gt;- perbincangan mesra antara obyek orang dengan istrinya terjadi (2 SHOT)&lt;br /&gt;- si obyek orang dikerubungi ketiga anaknya yang ingin mengajak bermain (MCU)&lt;br /&gt;- obyek orang akhirya mengajak ketiga anaknya bermain di halaman (MS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Block Sequence III)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- obyek orang bermain lempar-lemparan bola dengan anak2nya (LS)&lt;br /&gt;- salah satu anaknya tak mampu menangkap bola dan kepalanya terbentur bola (MCU)&lt;br /&gt;- si anak menangis keras dan menyalahkan kakaknya (CHANGE FOCUS)&lt;br /&gt;- kakaknya marah dan mendorong adiknya (MS PAN RIGHT)&lt;br /&gt;- obyek orang berusaha melerai kedua anaknya itu (THREE SHOT)&lt;br /&gt;- sementara si bungsu hanya menonton sembari menggaruk kepalanya (BCU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga block sequence itu, kira-kira yang lebih menarik tentunya yang ketiga karena lebih dramatis gambarnya dibanding lainnya. Untuk setiap block sequence itu, kamera person telah melakukan "Editing in Camera", namun, tidak semua block sequence terpakai jadinya. Karena editor tentunya akan mengambil gambar yang paling dramatis. Waktu yang digunakan untuk me-rough cut pun menjadi lebih lama karena ada 3 block sequence yang harus di rough cut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah peran 'reporter'. Pada saat di lapangan, reporter perlu bekerjasama dengan kamera person, agar kamera person bisa mengambil gambar dengan efektif. Bekerjasama dalam arti, tau gambar apa yang akan digunakan dalam story-nya dan yang tidak, sehingga kamera person bekerja lebih efektif alias tidak mengambil gambar yang tidak perlu. Dalam contoh di atas tadi jelas yang tidak perlu diambil kamera person adalah block sequence ambil makanan dari kulkas dan memakannya di meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter juga perlu tahu apa yang "akan" terjadi dalam beberapa jam ke depan. Istilahnya "foresight". Tidak perlu jadi ahli nujum, tapi logika pun cukup untuk melakukan itu. Misalnya, liputan sidang pengadilan, saat saksi masuk ruang sidang, yang akan terjadi adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- saksi masuk ruangan sidang&lt;br /&gt;- melewati batas antara pengunjung sidang dan ruang di depan meja hakim&lt;br /&gt;- saksi duduk di kursi saksi&lt;br /&gt;- saksi berdiri untuk diambil sumpahnya&lt;br /&gt;- saksi kembali duduk di kursi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika liputan kriminal misalnya, mendengar info ada mayat, biasanya yang terjadi pada mayat itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- warga setempat menemukan mayat&lt;br /&gt;- warga melaporkan ke polisi melalyu telepon&lt;br /&gt;- petugas spk (sentra pelayanan kemasyarakatan) menerima telepon dan mencatat informasinya&lt;br /&gt;- petugas spk melaporkannya kepada petugas patroli&lt;br /&gt;- petugas patroli meluncur ke tkp&lt;br /&gt;- petugas patroli tiba di tkp dan menilai kondisinya&lt;br /&gt;- petugas patroli memberitahu dinas pemakaman (jika mayat tidak dikenal)&lt;br /&gt;- petugas dinas pemakaman meluncur ke tkp&lt;br /&gt;- mayat dibawa petugas dinas pemakaman ke rscm&lt;br /&gt;- mayat tiba di rscm dan diletakkan di tenpat tidur beroda di depan ruang otopsi sambil menunggu proses administrasi&lt;br /&gt;- setelah itu mayat dibawa masuk ke ruang otopsi untuk di-visum luar saja&lt;br /&gt;- mayat lalu dibawa ke ruangan pendingin untuk disimpan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda akan mengambil sequence keseluruhan peristiwa di atas? Tentunya tidak. Reporter-lah yang memutuskan kira-kira gambar yang mana yang lebih menarik dari peristiwa panjang itu dan pelaksanaan teknis di lapangan - alias bagaimana mendapatkan gambar yang diinginkan. Khusus untuk VJ, memang perlu waktu untuk memahami bagaimana sebuah peristiwa itu berjalan karena kita kan bisa karena biasa. Hehehe. Piss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B&gt; Wawancara yang panjang. Ini sangat memengaruhi lama proses rough cut. Karena perlu waktu untuk mencari soundbyte yang pas untuk paket berita yang akan dibuat. Biasakan wawancara dengan tiga pertanyaan efektif - yaitu 3 pertanyaan yang bisa memunculkan ekspresi si nara sumber. Tentunya wawancara nara sumber usai pemeriksaan KPK tidak termasuk dalam kategori itu. Hehehe, you get what you can get gitu loooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C&gt; Tidak "One Take" saat mengambil gambar generik seperti 'establishing shot' dan suasana di lokasi. Kelihatannya kecil tapi kalo sering dilakukan tentunya akan berakibat pada durasi bahan mentah yang berlebihan dan memaksa kamera person untuk memilih beberapa (misalnya 5) dari sekian banyak shot (20 shot misalnya) yang sebenarnya tidak terlalu penting. Apakah itu karena komposisinya yang dirasa kurang sempurna atau ada angle yang lebih menarik, usahakan untuk membatasi eksperimentasi gambar dengan moderat - artinya bukan gak boleh retake, tapi batasi sebanyak tiga kali misalnya. Setelah itu kalo mau retake lagi, mikir 3 kali sebelum melakukannya gituh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&gt; Lakukan manajemen waktu dengan baik. Ini khususnya untuk VJ. Selalu proyeksikan waktu yang diperlukan untuk me-rough cut dan menulis naskah - sebelum hasilnya bisa ditangani editor dan ditayangkan dalam program. Beri batasan waktu untuk setiap langkah tadi - karena itulah yang namanya deadline. Tentukan batasan waktu itu, dengan jam tayang program terdekat. Misalnya tulis naskah di mobil, sambil menunggu ingest gambar atau menunggu giliran menggunakan komputer berkoordinasi dengan produser tentang paket yang akan dikerjakan, usai ingest langsung mengesampingkan sejenak gambar yang tidak digunakan untuk program terdekat dan fokus pada gambar yang akan dipakai, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huaaaam...mau bobo. Mohon masukannya dari teman-teman VJ dan kamera person.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-3215886460515542455?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/3215886460515542455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=3215886460515542455' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3215886460515542455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3215886460515542455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/editing-in-camera.html' title='Editing In-Camera (2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHzNvWC23zI/AAAAAAAAAB4/gFOGFiGlXzQ/s72-c/camera+person+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-2024343065754732981</id><published>2008-07-11T10:25:00.001-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:47.775-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>The Star That Shines Briefly, But Still Shines in Her Own Light</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHeayTKNejI/AAAAAAAAABY/coG4NmDGZl8/s1600-h/BroadcastersPhoto_Wendi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221812481886616114" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHeayTKNejI/AAAAAAAAABY/coG4NmDGZl8/s320/BroadcastersPhoto_Wendi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHgrs7AF8II/AAAAAAAAABo/n0WwZDjp3yo/s1600-h/wendi2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221971503119649218" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 200px; height: 170px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHgrajaoycI/AAAAAAAAABg/xdnQXnPQW84/s320/wendi.jpg" border="0" width="247" height="186" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Wendi Ruky Mogul adalah anchor yang pertama kali membawakan acara dialog Kupas Tuntas di Trans TV. Tapi ia hanya membawakan acara itu hingga tahun 2003. Saat ini ia tinggal di Bethesda, Amerika Serikat bersama suami dan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kariernya cukup panjang, berawal dari kuliah di jurusan Hubungan Internasional di FISIP UI, ia pun melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Columbia, New York dan lulus dengan gelar Master of Science in Journalism. Selama di Amerika Serikat, ia sempat magang di CNN Biro New York dan bekerja sebagai asisten produser untuk jaringan televisi CBS News. Tahun 1999, Wendi kembali ke Indonesia. Ia bekerja di Majalah Tempo selama setahun sebelum akhirnya bergabung ke Trans TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang membuatnya mengakhiri kariernya di industri televisi? Apakah murni karena keluarga ataukah ada alasan lainnya? Berikut jawabannya melalui email atas pertanyaan saya itu:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Halo Bhayu.. Sori saya telat balas. Saya punya penyakit males ngecek inbox... I didn't leave TV industry altogether.. I consider it a "temporary leave". Although I don't exactly know when I'll be back. Hehehe..Jawabannya sudah kamu tulis sendiri kok. There was no other reason than ngikut suami and having a family. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;I loved what I did, and the journalistic work in Indonesia was super exciting. Seandainya suami saya orang Indonesia OR dia mau menetap di Indonesia, I wouldn't have left Trans. But at the time (2003), saya harus memilih antara karir di Indonesia dan rumah tangga di Amerika. And I chose the latter. I guess love does conquer all... hahaha... &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Do I miss the good ol'days? Yes, sometimes.. apalagi kalau denger cerita dari temen2 mengenai kerjaan mereka sekarang. Rasanya masih banyak yg saya ingin lakukan di Indonesia. But do I regret my decision? No. Kesenangan dapat berita eksklusif, serunya ngeliput di lapangan, dan excitement dapet rating tinggi... teteeeeeuup gak bisa mengalahkan kebahagiaan membesarkan anak sendiri dan menyaksikan semua perkembangannya. Saya masih ingat banget betapa beberapa temen kerja dulu menangis karena sudah beberapa hari gak ketemu anaknya.. Saya bisa bayangin seandainya sekarang saya masih kerja full throttle di Jakarta, saya akan ngalamin situasi kayak begitu... Tahu sendiri kan work environment di TV gimana. Kalau kita keseringan cepet pulang, dianggap bukan pekerja keras dan bukan hard core journalist. 'Tul? :) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekarang anak saya masih kecil, dan kita berharap nambah lagi. Jadi saya masih ngerem karir. Ibaratnya nyetir mobil gigi satu aja. Hopefully ketika anak(-anak) sudah sekolah, saya bisa pindah gigi lima lagi. Mungkin tidak akan seperti dulu, but I'm sure other opportunities will come. :)Does this answer satisfy your curiosity? ;)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Memang konsekuensi milih jadi jurnalis ya.. no social life. ;) Aku dulu enggak gitu keberatan.. temen2 kerja asik2 dan kerjaannya seru. Jadi social life-nya ya sama orang2 itu2 juga.. kadang2 bosen, tapi gimana ya. Enggak ada pilihan. Wuahaha... just kidding. Lebih tepatnya sih sebenernya, sama orang2 yang mengerti, berhubung senasib sepenanggungan..Tapi biasanya yg cepet cabut itu kan juga memang enggak terlalu niat jadi jurnalis. Keliatan kok dari kerjaannya gimana. Right?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mungkin awalnya coba2 ngelamar terus keterima... without really having a clue of what the job entails. Mungkin lebih bagus begitu... daripada sengsara, kan mendingan dia cari karir yg lebih pas early on? Gitu bukan? Those who really like the profession stay on.. at least for a while. Now I really like the profession dan I DO feel that I left too early (masih gatel dan penasaran, sebetulnya...), tapi kayak peribahasa sini bilang.. you can't have a cake and eat it too! (I wish 'though....) ;)”&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=628829821"&gt;Wendi Ruky Mogul&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sometimes, learning the thinking process of somebody elses who were there before you do, could help you with your thinking process in making your decision of similar case. Because your decision is what makes you fly or don’t fly. Either way you still have to face the consequences of your decision.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-2024343065754732981?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/2024343065754732981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=2024343065754732981' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2024343065754732981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2024343065754732981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/star-that-shines-briefly.html' title='The Star That Shines Briefly, But Still Shines in Her Own Light'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHeayTKNejI/AAAAAAAAABY/coG4NmDGZl8/s72-c/BroadcastersPhoto_Wendi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-2733028777120564901</id><published>2008-07-08T09:37:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:47.928-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Liputan'/><title type='text'>LIPUTAN KERUSUHAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTfoPay8aI/AAAAAAAAAAk/QrzoZBcsEww/s1600-h/kerusuhan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221043750455931298" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTfoPay8aI/AAAAAAAAAAk/QrzoZBcsEww/s320/kerusuhan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Temans,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gua belum ada referensi jelas soal liputan demo atau rusuh yah. Sekilas beberapa hal yang pernah gua dapet kesan dan pesan dari teman2 yang udah baca referensi soal itu kurang lebih seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. pada saat rusuh, posisikan diri di pinggir lokasi rusuh. artinya kalo bisa jangan berada di belakang salah satu pihak yang bentrok. maksudnya di pinggir dari arah serang kedua pihak yang bentrok. dalam hal polisi dan massa, posisikan berada di belakang polisi untuk mengamankan diri. karena kalo kita sendiri tidak aman, bagaimana kita bisa meliput atau melaporkan berita yang kita liput. jadi selalu posisikan diri pada posisi yang aman. jika ada lempar batu yah posisikan diri di tempat yang aman dari pelemparan batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejumlah cerita peliputan demo/rusuh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Fipin Kurniawan kamera person RCTI terkena lemparan batu di kepala saat mengambil gambar di atas mobil - untuk mendapatkan areal shot dari kerusuhan.&lt;br /&gt;- Rosalinda Yahya juga kena batu saat meliput rusuh FPI, untungnya dia masih bisa pulang bawa berita dan menyetir mobil liputan setelah itu (dia waktu itu jalan sendiri bawa mobil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. mendekat memang lebih baik. tapi selalu posisikan diri pada posisi yang aman. namun, pada saat mengambil gambar tentunya kamera person lebih konsentrasi pada gambar. karena itu, reporter selalu memosisikan diri sebagai mata ketiga kamera person. artinya, reporter-lah yang membantu kamera person saat mengambil gambar. lihat situasi di lapangan dan evaluasi apakah kamera person pada posisi yang aman, jika tidak geser kamera person atau ingatkan dia untuk tetap pada posisi aman. Yang biasa saya lakukan adalah berada di belakang kamera person dan memastikan tidak ada bahaya yang mengancam. ini dilakukan bukan hanya pada liputan kerusuhan tapi liputan apa saja! saat mengambil gambar di pinggir jalan atau lainnya. ingat, selalu ada resiko saat bekerja di lapangan - tapi usahakan mengurangi resiko itu sebisa mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain itu, ada batas dari apa yang dilihat kamera person, karena ingat kamera person hanya melihat di view finder - jadi ada batas frame-nya. reporter bisa membantu memberitahu kamera person jika ada sesuatu yang terjadi di luar lingkup pandangnya. jadi...selalu posisikan diri dekat dengan kamera person pada saat demo/kerusuhan - karena reporter-lah mata yang tidak dimiliki kamera person untuk mengambil gambar atau melindungi dirinya dari bahaya. bos...ini penting banget loh bos...jadi kalo bisa diperhatikan. kalo pun berpisah, pastikan kamera person selalu ada dalam jarak pandang reporter - sehingga reporter selalu tahu kamera person ada di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. always stick together. karena keselamatan reporter dan kamera person adalah tanggung jawab keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. pastikan atribut wartawan mudah diraih atau dalam jangkauan. karena itu satu-satunya senjata saat massa menyerbu ke arah kalian. walaupun seringkali tidak berguna, tapi paling tidak itu adalah tanda bahwa kalian bukan dari pihak lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- kalo ngikutin film-film yah...hehehe...reporter kalo bisa selalu mencari jalan keluar dalam situasi sulit. cari 'exit point' yang memungkinkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan...seperti misalnya tiba-tiba massa menyerbu ke arah kalian.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-2733028777120564901?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/2733028777120564901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=2733028777120564901' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2733028777120564901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2733028777120564901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/liputan-kerusuhan.html' title='LIPUTAN KERUSUHAN'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTfoPay8aI/AAAAAAAAAAk/QrzoZBcsEww/s72-c/kerusuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5215899078654650555</id><published>2008-07-08T09:35:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:48.142-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LIVE REPORTING'/><title type='text'>LIVE REPORTING</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTgcJ_6L8I/AAAAAAAAAAs/cC6uXbW8WB0/s1600-h/live.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221044642354180034" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTgcJ_6L8I/AAAAAAAAAAs/cC6uXbW8WB0/s320/live.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Usulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. selalu bikin pointers dari apa yang akan disampaikan. tulis pointer itu dalam kertas yang mudah dibuang. jika tiga pointers (untuk tiga pertanyaan live) - siapkan tiga kertas yang mudah dibuang. pada saat live, setiap selesai menjawab satu pertanyaan, buanglah kertas itu ke tanah. intinya adalah selalu gunakan pointers - jangan pernah membaca apa yang ingin disampaikan ke pemirsa. kamera kadang menyeramkan memang - karena itu coba bayangkan kamera sebagai pacar tersayang...loe taulah itu Ris, PJTV punya...hehehe. Jadi bayangkan diri loe sedang bercerita kepada pacar loe tersayang. karena dengan begitu otomatis bahasa yang digunakan adalah bahasa tutur..dan itu tidak bisa dicapai jika contekan live yang loe pake bukan dalam bentuk pointers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagaimana membuat pointers?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo mau di-breakdown:&lt;br /&gt;- bisa buat skrip-nya dulu. kurang lebih seperti halnya skrip berita televisi, buat kalimat yang pendek sehingga alurnya mudah di-ingat.&lt;br /&gt;- terjemahkan skrip loe itu menjadi pointers. gunakan kata-kata yang menjadi penentu alur, sebagai pointers loe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(LEAD)&lt;br /&gt;D–P–R HARI INI/ MENGGELAR SIDANG PARIPURNA UNTUK MEMBAHAS AKAN MENGAJUKAN HAK INTERPELASI ATAU HAK ANGKET TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAH MENAIKAN HARGA B–B–M// SIDANG DIGELAR SETELAH 39 ANGGOTA D–P–R/ MENANDATANGANI USULAN HAK INTERPELASI/// NAMUN SEBELUMNYA/ MAYORITAS ANGGOTA DEWAN TELAH MENGAJUKAN HAK ANGKET//&lt;br /&gt;(ROLL VO)&lt;br /&gt;HINGGA SELASA SIANG/ D–P–R BELUM MEMUTUSKAN AKAN MENGAJUKAN HAK INTERPELASI ATAU ANGKET// BEBERAPA ANGGOTA DEWAN MENUDING USULAN INTERPELASI DIMUNCULKAN/ UNTUK MEREDAM WACANA HAK ANGKET// KECURIGAAN MUNCUL/ KARENA PENGAJUAN INTERPELASI MUNCUL SAAT KEPUTUSAN ATAS USULAN HAK ANGKET BELUM TUNTAS DIBAHAS// (end)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pointersnya kurang lebih seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POINTER:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- SIDANG PARIPURNA&lt;br /&gt;- HAK ANGKET ATAU INTERPELASI?&lt;br /&gt;- 39 SETUJU INTERPELASI&lt;br /&gt;- INTERPELASI UNTUK REDAM ANGKET&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. pointers itu coba loe ingat-ingat urut2annya. karena khan kalo bisa jangan turun-turun itu matanya ke kertas bukan. tapi kalo kepepet yah terpaksa khan, jadi tetep pointers harus di tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. latihan dulu sebelum live. 'play out' urut-urutan yang sudah loe susun di dalam kepala. hapalkan urut-urutannya itu - jangan kata-katanya. lalu cari cengkok atau bahasa bertutur yang enak sesuai dengan bahasa sehari-hari yang santun - yang biasa loe pakai. kalo ada kata-kata yang tidak biasa dipakai dalam keseharian, biasakan mengucapkannya dan coba mengerti betul arti kata itu. lalu latihan lagi dan latihan lagi tanpa membaca pointers. karena itu biasakan sudah siap di depan kamera setengah jam sebelum live. waktu setengah jam itu bisa digunakan untuk latihan dan merevisi apa yang akan loe sampaikan...atau bahkan...kalo mau ambisius yah...hehehe...mengupdate data yang loe punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNIS LIVE:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teknis ini khusus untuk reporter yang live yah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. koordinasi dengan kamera person soal blocking kamera. karena latar belakang loe, bisa menjadi bagian dari laporan loe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita pengalaman live:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- di nias ceritanya mau live dengan latar belakang upaya tni mendistribusikan bantuan beras buat pengungsi di daerah terpencil. mereka mendistribusikannya melalui udara - pake heli. kita putuskan untuk live di lapangan yang dipakai sebagai tempat angkut beras ke heli. kita dapet info heli bakal ambil beras kurang lebih bersamaan dengan waktu kita live. dan benar saja...heli tiba 2 menit sebelum kita live. tapi 30 detik sebelum kita live helinya udah berangkat lagi. jadi latar belakang gua waktu itu adalah berupa lapangan bola yang kosong...hiks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. pastikan komunikasi dengan studio tersambung dengan baik 5-10 menit sebelum live. beri kesempatan studio men-cek kualitas audio loe. audio loe akan di-feed melalui wireless atau clip on yang tersambung ke kamera. tapi komunikasi dari studio ke kuping loe biasanya pake handphone..jadi BAWA HANDS FREE! selalu bawa hands free setiap kali liputan karena you never know - tiba-tiba loe memerlukannya. pastikan hp loe tersambung dengan telepon di studio 5 menit sebelum live. artinya...jika tidak juga dihubungi studi 5-10 menit sebelum live, teleponlah OE atau studio untuk memastikan komunikasi tersambung dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika karena satu dan lain hal komunikasi antara studio dengan loe terputus, koordinasi dengan kamera person - agar kamera person memberikan CUE ke loe saat harus mulai dengan laporannya. urut-urutannya kurang lebih sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANCHOR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARIS...BAGAIMANA HASIL KEPUTUSAN SIDANG PARIPURNA D-P-R SORE INI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OE atau PD memberi CUE ke kuping KAMERA PERSON)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(KAMERA PERSON memberi CUE ke REPORTER)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(REPORTER AT LARGE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RARA...SETELAH MELALUI PROSES VOTING/ D-P-R AKHIRNYA MEMUTUSKAN UNTUK MENGAJUKAN HAK ANGKET...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. tutup setiap jawaban loe dengan menyebut nama ANCHOR-nya. contoh sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(REPORTER AT LARGE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEHINGGA YANG BISA KITA LAKUKAN SAAT INI ADALAH MENUNGGU LANGKAH D-P-R SELANJUTNYA/ UNTUK MENINDAKLANJUTI KEPUTUSAN SIDANG PARIPURNA HARI INI...RARA///&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. saat pertanyaan terakhir sudah dijawab, tunggu sampai 10 detik dalam sikap sempurna (baris berbaris kaleeeee) sebelum mulai melepas hands free atau lainnya. karena bisa-bisa gerakan loe yang tidak sepantasnya muncul di layar bakalan nongol di layar tv. prinsip ini juga berlaku saat sebelum loe mulai dengan laporan loe...sikap sempurna dulu gitu - jangan pecicilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerita pengalaman live:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- seorang reporter live melaporkan meninggalnya pak harto. saat anchor sudah memanggil namanya dan tampilan layar tv telah di-switch ke dirinya...si reporter terlihat sedang mendorong seseorang keluar dari frame kamera sebelum mengambil sikap sempurna dan mulai dengan laporannya. hehehe.&lt;br /&gt;- kalo ini cerita legend...jeremy teti bocor di awal live sedang melet saat laporan live sebuah event olahraga.&lt;br /&gt;- catharina davy dari RCTI tidak mendengar CUE dari studio sehingga pembicaraannya dengan kamera person yang masih mengatur blocking muncul di layar tv (alias bocor). Pembicaraannya kurang lebih seperti ini, "INI UDAH MULAI BELON SIH...JADI KURANG MUNDUR? MASAK MUSTI MUNDUR LAGI?". kemesraannya dengan kamera person itu pun memicu kecemburuan dari istri sang kamera person dan akhirnya sang kamera person terpaksa harus rela dicemberuti istrinya saat tiba di rumah.&lt;br /&gt;- edwin nazir juga pernah bocor pecicilan waktu itu. wuakakakaka. piss men.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. selalu koordinasikan pertanyaan dengan anchor atau OE. karena dengan begitu, semua jawaban dari pertanyaan anchor sudah disiapkan dengan baik. last minute pastikan pertanyaan dengan anchor. anchor pun kalo bisa memastikan pertanyaan dengan reporter - kalo-kalo reporter lupa nanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. pastikan posisi kepala, tangan dan bahu natural. kepala kalo bisa jangan miring. tangan memegang kertas pointers. kalo bisa rileks karena kalo tidak bahu akan kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CONTENT:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masalah konten sebenarnya tidak terlalu urgent untuk disampaikan saat ini. cuman sekedar membuka wawasan. di balik setiap laporan selalu ada pesan yang berusaha disampaikan. pesan apa yang bisa disampaikan? misalnya pesan bahwa 'saat ini upaya distribusi bantuan kemanusiaan tidak maksimal'. atau 'perjalanan masih panjang bagi keluarga munir untuk mencari keadilan'. atau 'kekhawatiran berbagai kalangan soal namru 2, muncul karena upaya kapitalisasi perusahaan farmasi untuk mencari obat bagi virus flu burung.". pesan bisa disampaikan pada jawaban pertanyaan terakhir sebagai catatan akhir reporter kepada anchor di studio. yang kini biasanya disebut 'reporter at large' - yah paling nggak di kantor lama disebutnya begitu. hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oiya, satu lagi...pastikan datanya akurat. CEK DAN RICEK! hehehe. jangan kayak gua...berikut laporan gua waktu laporan live di depan pintu air manggarai:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETINGGIAN AIR DI PINTU AIR MANGGARAI SAAT INI MENCAPAI 8 RATUS METER...(huh?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korlip usai laporan gua, langsung menghubungi untuk memberi selamat. begini katanya, "Dick head...laporan loe bagus banget, sumpah! 800 METER ITU KEDALAMAN LAUT TAUUUUKKKKKK!! kalo segitu ketinggian air kita udah pada tenggelam gila!"....(hiks)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5215899078654650555?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5215899078654650555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5215899078654650555' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5215899078654650555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5215899078654650555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/live-reporting.html' title='LIVE REPORTING'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTgcJ_6L8I/AAAAAAAAAAs/cC6uXbW8WB0/s72-c/live.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-8470009469797223718</id><published>2008-07-08T09:31:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:06:12.773-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>CHRISTER LARSSON</title><content type='html'>Guys,&lt;br /&gt;I found this on the internet. Apparently…maksudnya, hehehe, Christer Larsson ternyata jurnalis yang pertama kali ngebongkar program senjata nuklir yang ditutup-tutupi pemerintahnya. Jadi program senjata nuklir itu dilakukan dengan topeng program energi nuklir (buat energi maksudnya…bukan buat perang). Ini kalo orangnya sama yah. Kalo dilihat dari CV-nya, dia khan ngebongkarnya tahun 85, jadi saat itu dia kerja buat New Technology Magazine.&lt;br /&gt;Ngeri juga nih dia. Abis itu dia kerja buat Swedish Broadcasting corporation. Nama dia muncul saat bekerja untuk Swedish Broadcasting Corporation di acara forum internasional gitu. Aneh nih orang, karena dia bikin paper soal remote sensing buat satelit segala, tapi abis itu kerja buat tv. Dan kayaknya kedatangannya menemui jurnalis Indonesia, ada hubungannya dengan tugasnya menggelar seminar soal media, dengan dana pemerintah Swedia – seperti tertulis dalam CV-nya. Pernah kerja buat UN juga lagi. So, is this guy a scientist, a peace officer for the UN, a broadcast journalist, a lecturer, or a “spook” (intel bo! Inteeeeeel à prosesor komputer kaleeeee).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The NPT and the Issue of Latent Proliferation&lt;br /&gt;Roland Kollert&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The two dual-use power plants, along with a projected reprocessing plant that was declared civil, were central elements of the "Laddningsprogrammet" of the Swedish general staff. One version of the program proposed the production of twenty warheads per year by the late Sixties. It was not until 1985, when research by the journalist Christer Larsson was released, that the Swedish public was informed of the military function of their country's nuclear energy program."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel lainnya nih soal Oom Larsson. Susah bo nyari referensinya si Oom Larsson, karena semua pake bahasa swedia (inga, ula, onatop – onatop?):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swedish nuclear weaponry research has attracted rumours over the years, catching the attention of the media from time to time. The magazine ’Ny Teknik’ published a series of articles during the 80’s entitled ’Historien om en svensk atombomb’ (’The story of a Swedish atomic bomb’) that gave rise to intense discussion. The author, Christer Larsson, who was given a journalistic award for the series, stated that the Swedish public, Parliament and even certain members of the Cabinet had been deceived by an inner circle of decision makers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Larsson, this inner circle, composed of ministers, senior officers and scientists, conducted a secret nuclear weapons programme covering the full spectrum of preparations. As a consequence the Government commissioned an inquiry led by the then Head of the Legal Section of FOA, Olof Forssberg. The report from the commission titled ’Svensk kärnvapenforskning 1945 -1972’ (’Swedish Nuclear Weapons Research 1945 - 1972’) and which was published in 1987, concluded that the picture drawn of Swedish nuclear research was distorted, and was characterised by errors and misinterpretations. According to Forssberg the research carried out never overstepped the limits imposed by Parliament and Government. In 1958 Parliament had decreed that no research aimed at the production of nuclear weapons was to be conducted, only research of a defensive nature was to be allowed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Note: Mungkinkah Christer Larsson merasa sudah mentok di jurnalistik (apalagi yang mau dibongkar coba secara dia udah ngebongkar tujuan asli program nuklir negaranya?). Samakah dirinya dengan Bondan Winarno misalnya yang sekarang memilih jadi host "Mak Nyus"?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-8470009469797223718?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/8470009469797223718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=8470009469797223718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/8470009469797223718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/8470009469797223718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/guys-i-found-this-on-internet.html' title='CHRISTER LARSSON'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-2637398339425153892</id><published>2008-07-08T09:27:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T22:06:16.454-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Kaki'/><title type='text'>Kerusuhan Monas</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTgrLggAbI/AAAAAAAAAA0/FrkrqPA8E6c/s1600-h/Habib-Rizieq.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221044900457349554" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTgrLggAbI/AAAAAAAAAA0/FrkrqPA8E6c/s320/Habib-Rizieq.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berbagi Cerita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 3 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai konpers Habib Riziek, wartawan pun bubar. Habib Riziek masuk ke bagian rumah yang ditinggali keluarganya. Sementara wartawan perlahan-lahan mulai bubar. Ahmad Murody pulang untuk mengirim berita ke kantor. Sementara saya memutuskan untuk bertahan di markas FPI. Karena waktunya shalat Asar, saya pun ikut shalat. Selesai shalat, saya pun menunggu kesempatan untuk bertemu langsung dengan Habib dan meminta ijin liputan kegiatan FPI melalui kacamata Ucok – orang yang katanya anggota FPI. Saya pun mengeluarkan lap top kecil dan mempersiapkan semacam outline rencana liputan FPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama Ucok muncul. Ia menggelar sajadah dan mulai Shalat Asar. Ucok masih menggunakan baju yang ia pakai saat kerusuhan, dua hari sebelumnya – baju hitam dengan gambar bertemakan ‘metal’. Dua orang anggota FPI duduk di pojokan sambil membaca Qur’an. Selesai shalat ia pun bergabung dengan mereka. Lewat pukul 17.00 WIB, mereka selesai mengaji. Dua orang tadi keluar, sedangkan Ucok merebahkan tubuh di pojokan sembari memerhatikan dua orang anak yang bermain bulu tangkis di bagian dalam rumah. Sesekali Ucok menegur kedua anak tadi yang asyik bermain. (Seandainya saya memiliki kamera...hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 17.30 WIB markas FPI tiba-tiba gaduh. Anggota FPI bergegas dan terlihat panik. Saya pun bertanya, "Ada apa Bang?". Salah seorang anggota FPI yang berada di situ menjawab, "Ada polisi di depan, 2 ratusan.". Ia pun mengambil golok yang dia letakkan di lantai dan berjalan menuju pintu masuk bagian rumah yang ditinggali keluarga Habib Riziek. Ucok yang sedang bersantai setengah tidur di lantai pun turut bergabung. Seorang wanita di pintu berbicara di telepon. Wanita itu berkata "Habib, Habib dimana? Ada di pom bensin! Iyah". Yang ia maksud berada di pom bensin adalah rombongan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habib Riziek keluar selepas Asar, setelah memberikan konpers kepada wartawan. Mendengar kabar itu saya pun keluar. Wartawan sudah memenuhi jalan masuk menuju gang markas FPI di Petamburan. Anggota FPI lainnya tidak kelihatan. Sejumlah orang berpakaian preman hilir mudik sambil memberitahu rekannya, anggota FBR sudah bersiaga di ujung jalan. Tidak lama, seorang tentara berseragam TNI Angkatan Darat keluar dari gang masuk markas FPI. Ia menggenggam telepon dan sesekali mengangguk. Sejumlah warga setempat mengelilinginya, seakan menunggu perintah. Ia pun bergegas entah kemana. Adzan Maghrib berkumandang. Usai shalat Maghrib, semakin banyak anggota FPI berkumpul di jalan masuk depan gang markas FPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perut keroncongan, saya pun keluar mencari ATM terdekat untuk ambil uang buat makan. Saat berjalan ke arah Slipi, saya melintasi kantor Suku Dinas Tempat Pemakaman Umum. Ternyata di situlah berkumpulnya bus polisi. Ada sekitar tiga mobil polisi. Dua bus beriringan keluar dari kantor itu menuju Slipi. Sebuah mobil Kijang juga berisi 2 perwira polisi terlihat berjaga di tempat yang sama. Saya tidak melihat adanya ratusan anggota polisi. Pukul menunjukkan setengah tujuh malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya kembali, di depan gang terpasang dua bambu melintang. Tidak ada satu pun yang boleh masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Rabu, 4 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan Petamburan III cenderung tenang pasca penangkapan puluhan anggota FPI oleh Polda Metro Jaya. Sekitar pukul setengah tujuh pagi, puluhan polisi bertameng berbaris menuju markas FPI. Tidak lama puluhan anggota dimasukkan ke mobil tahanan. Ketua FPI Habib Riziek mendampingi anggota yang ditangkap dan ikut ke Polda Metro Jaya dengan pengawalan ketat polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kejadian itu, warga mulai membersihkan area di depan rumah masing-masing. Sisa-sisa sampah yang dibuang wartawan atau anggota FPI yang berjaga-jaga malam sebelumnya dikumpulkan dan dibuang ke tempat sampah. Seorang laki-laki paruh baya berperawakan Arab menyapu bagian depan rumahnya sendiri. Sementara ibu-ibu rumah tangga melakukan kegiatannya seperti biasa. Sebagian dari mereka berperawakan Arab atau India. Ada yang menyempatkan diri berbincang dengan wartawan untuk menyampaikan aspirasi mereka dan dukungannya atas FPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan Petamburan III, seorang pedagang koran menawarkan dagangannya kepada warga sekitar. Ia memberikan komentarnya atas berita utama koran-koran yang beredar hari itu. Warga pun mengerumuni si pedagang koran dan sesekali membolak-balik beberapa halaman depan koran, sebelum membelinya. Diskusi tentang apa yang baru saja terjadi pun hangat berlangsung dalam lingkaran warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagian besar menyatakan dukungannya atas FPI. Mereka menyatakan betapa tidak adilnya penangkapan dan bahwa FPI tidak pernah merugikan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FPI dikenal keras dengan perlawanannya atas apa yang mereka anggap nahi mungkar. Kepala Bidang Pertahanan, Tubagus Sidik, sehari sebelumnya menceritakan betapa kuat perlawanannya atas tempat perjudian, jaman kepemimpinan Kapolri Da’i Bachtiar. Karena saat itu, tempat perjudian marak dan menurut pandangan mereka, dibiarkan begitu saja oleh polisi. Tubagus Sidik menceritakan aksi serangannya waktu itu dengan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini FPI pun keras saat menyatakan sikapnya soal keberadaan Jemaah Ahmadiyah. Mereka menuntut Ahmadiyah dibubarkan. Namun, sikapnya itu justru berakibat sebaliknya. Kerusuhan di Monas, malah mengancam dibubarkannya FPI. Sementara Jemaah Ahmadiyah belum pasti pembubarannya karena menunggu dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi pemukulan terhadap pendukung Ahmadiyah yang tergabung dalam AKKBB, begitu membuat geram masyarakat dan mendorong sebagian Ormas Islam lainnya menghujat FPI. Diantaranya GP Anshor dan Nadhatul Ulama. Tapi masyarakat sekitar markas FPI, tak gentar menghadapi itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang tahu, tidak jauh dari markas FPI, ada Gereja Bethel Indonesia berdiri megah. Selain itu, berseberangan dengan gereja itu, sebuah sekolah Bethel juga berdiri. Sekolah tiga lantai itu, merupakan gabungan TK, SD, SLTP, SMU dan SMK Bethel. Jaraknya pun dari markas FPI tidak sampai 100 meter. Seolah itu bisa ditemui, jika menyusuri gang masuk markas FPI. Gereja maupun sekolah itu ada di ujung gang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu muncul pertanyaan dalam benak saya, apa yang membuat anggota FPI begitu beringas? Mereka mengaku marah, karena diprovokasi kelompok AKKBB. Mereka diteriaki Laskar Setan dan Laskar Kafir. Mengapa sebuah organisasi massa Islam di Negara dengan mayoritas warga beragama Islam begitu terpojok dan mudah tersulut sehingga beraksi brutal ketika diprovokasi seperti itu – layaknya kaum minoritas di luar negeri misalnya (karena minoritas di Indonesia cenderung nerimo...hehehe)? Mengapa sebuah organisasi yang toleran dan hidup berdampingan dengan Gereja serta sekolah Bethel, terlihat begitu eksklusif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="480" height="385"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MWWgUPAJaI0&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/MWWgUPAJaI0&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-2637398339425153892?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/2637398339425153892/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=2637398339425153892' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2637398339425153892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/2637398339425153892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2008/07/kerusuhan-monas.html' title='Kerusuhan Monas'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTgrLggAbI/AAAAAAAAAA0/FrkrqPA8E6c/s72-c/Habib-Rizieq.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-413370975334926268</id><published>2007-09-11T22:03:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:02:51.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Investigasi'/><title type='text'>Training Investigasi</title><content type='html'>Temans,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru selesai training pelatihan investigasi, nih. Banyak belajar dari training ini. Ada masukan banyak dari cetak dan radio. Yang media cetak trainernya Wendy Bacon - Kepala jurusan komunikasi dari UTS (kampus lama gua - kalo kayak gini KKN gak yah? Hehehe). Tips yang bagus dari dia: "Pastikan kita punya cukup energi untuk menulis atau membuat laporan investigasi yang bagus" - karena ini yang biasanya diabaikan. Trainer satu lagi untuk televisi adalah David O'shea dari stasiun SBS (dari Australia lagi nih hehehe) - dia lebih kasih masukan soal presentasi yang baik (seperti yang pernah saya bahas sebelumnya). Dari radio Kelly McEveres. Hehehe. Nah ucapannya yang menarik adalah prinsip jurnalisme yang selalu dia pegang: "Comfort the Afflicted and Afflict the Comfortable" (yang artinya...: "Menenangkan yang terganggu dan mengganggu yang merasa tenang").&lt;br /&gt;Karyanya McEveres bisa dilihat di:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://audiojournal.com/"&gt;http://audiojournal.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;tentang kasus penyerangan teroris di Beslan, Rusia.&lt;br /&gt;Dia juga pernah liputan di Indonesia. Laporannya soal Sufi di Indonesia bisa di-download dari:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hearingvoices.com/"&gt;http://hearingvoices.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;search aja Kelly McEvers.&lt;br /&gt;Kenapa radio dibahas? Karena broadcast khan gak beda-beda jauh. Gak percaya? Dengerin laporannya Kelly soal Sufi dan rasakan betapa visual-nya laporan dia. (lho kok visual? Hehehe. Tapi bener deh.)&lt;br /&gt;Dua hal yang penting dalam jurnalistik investigasi adalah DAMPAK dan INDEPENDENSI. Ini bukan dua kata yang sakral. Kenapa? Karena independensi artinya secara praktis adalah 'bukan pesanan'. Jadi selama laporan kita menyangkut hajat orang banyak dan dilakukan tanpa ikatan pada siapa-pun - masuk kategori investigasi. Sedangkan 'dampak' ini menjadi penting dan sentral dalam investigasi. Jika tidak berdampak langsung (seperti misalnya perubahan sosial dan perubahan kebijakan baik undang-undang maupun politik) maka laporannya tidak bisa masuk dalam kategori investigasi.&lt;br /&gt;Karena itu, yuk mari bikin laporan yang berdampak pada perubahan sosial atau kebijakan pemerintah. Karena inilah inti investigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piss.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-413370975334926268?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/413370975334926268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=413370975334926268' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/413370975334926268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/413370975334926268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/09/training-investigasi.html' title='Training Investigasi'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-97860176901984882</id><published>2007-08-17T07:50:00.001-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:48.636-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Investigasi'/><title type='text'>Tayangan Perdana Sixty Minutes</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTevjhpcKI/AAAAAAAAAAc/XPfdUSKjn70/s1600-h/60_minutes.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221042776600834210" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTevjhpcKI/AAAAAAAAAAc/XPfdUSKjn70/s320/60_minutes.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Temans,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku menarik: Close Encounters: Mike Wallaces Own Story&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike Wallace adalah penggagas sekaligus anchor dari tayangan Sixty Minutes di stasiun televisi CBS. Pada awalnya, ia hanya menargetkan Sixty Minutes bertahan di FTA selama setidaknya 2 musim pada tahun 1968. Tapi ternyata hingga saat ini pun program itu masih bertahan. Ada sejumlah catatan menarik tentang pemikiran Mike Wallace dan behind the scene dari produksi program itu. Tapi kutipan paling menarik adalah saat Sixty Minutes tayang pertama kali, 24 September 1968.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naturally we led with our exclusive, for our cameraman was the only one allowed in the hotel rooms of Nixon and Humphrey on the nights they were nominated. There was a certain fascination in observing the two nominees watching the hubbub on the convention floors as their delegate counts mounted. Nixon conducted a kind of on-camera political seminar for his family in his hotel suite as the balloting unfolded; and Humphrey jumped up and kissed the TV screen when he saw his wife, Muriel, in the convention hall.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selayaknya kami mulai dengan liputan eksklusif kami, karena hanya juru kamera kami yang diijinkan masuk ke kamar hotel Nixon dan Humphrey pada malam mereka dinominasikan (sebagai Presiden). Ada semacam kekaguman tersendiri menyaksikan kedua kandidat calon Presiden menonton kekisruhan di lantai konvensi saat penghitungan suara dilakukan. Nixon menggelar seminar politik di depan kamera terhadap keluarganya saat penghitungan suara berlangsung; dan Humphrey melompat dan mencium layar televisi saat dia melihat istrinya di aula konvensi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investigatif atau bukan, tayangan ini membuka mata pemirsa akan apa yang terjadi di kubu masing-masing kandidat. Merupakan suatu keistimewaan bagi jurnalis yang bisa berada di lokasi saat peristiwa bersejarah sedang berlangsung. Baik itu sejarah perseorangan (saat-saat yang sifatnya pribadi bagi seseorang – seperti menangis, tertawa, mengalami cobaan hidup, penderitaan, maupun kebahagiaan) atau sejarah bangsa. Inilah yang berusaha di-share oleh teman-teman jurnalisme sastrawi kepada pembacanya… dan gambaran ini pula yang seringkali berusaha ditangkap kamera tim liputan untuk disaksikan pemirsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun teknisnya mungkin sedikit sulit, karena kamera harus standby setiap saat hanya untuk menangkap momen-momen personal/ pribadi dari tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam liputan panjang. Seperti yang berusaha dilakukan juru kamera Reality Show misalnya. Produser ‘Survivor’ pun mengakui, ada beberapa bagian yang terpaksa di-shoot ulang karena mereka kehilangan momen penting. Akibatnya Survivor sempat di-cap sebagai sinetron yang dibungkus seakan-akan seperti Reality Show.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah memang. Namun, sesuatu yang menarik untuk dicoba bukan? Piss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-97860176901984882?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/97860176901984882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=97860176901984882' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/97860176901984882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/97860176901984882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/08/tayangan-perdana-sixty-minutes.html' title='Tayangan Perdana Sixty Minutes'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTevjhpcKI/AAAAAAAAAAc/XPfdUSKjn70/s72-c/60_minutes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-5252236277307587856</id><published>2007-05-11T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:03:56.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produksi'/><title type='text'>Mimpi buruk set up sequence (1)</title><content type='html'>Bagaimana memotret masalah buruh di Indonesia? Muncul usulan untuk melakukan itu dengan menampilkan tokoh-tokoh yang mewakili setiap permasalahan buruh di Indonesia. Misalnya dengan mengambil tokoh seorang tki yang baru dipulangkan dari Malaysia untuk membeberkan masalah buruh migran. Atau seorang buruh yang baru di-phk tanpa pesangon dari pabrik sepatu untuk bicara soal phk tanpa pesangon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memulai dengan me-list permasalahan buruh yang terjadi baru-baru ini dari riset internet. Yang muncul dari riset ini adalah pabrik Dong Joe dan Spotec yang ditutup karena pemiliknya kabur. Tapi pabrik ini ditutup sejak Oktober tahun lalu. Aktualkah? Kasusnya sendiri telah diputuskan pengadilan April tahun ini. Bahwa karyawan Dong Joe dan Spotec resmi dipecat sehingga berhak atas pesangon. Pihak manajemen kedua pabrik itu pun sepakat untuk memenuhi sepenuhnya hak karyawan. Meskipun jauh dari berakhir, namun, harus bercerita dari mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan kontrak juga muncul sebagai wacana dari riset ini. Tuntutan unjuk rasa organisasi serikat buruh menolak status kontrak terjadi saat pembicaraan revisi undang-undang ketenagakerjaan beberapa waktu lalu. Waktu itu undang-undang tersebut batal di-revisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TKI sebagai buruh migran adalah satu lagi masalah besar perburuhan Indonesia. Dari riset internet, kasus penganiayaan atas TKI terakhir terjadi tahun lalu. Setelah itu tidak ada pemberitaan terkait masalah ini di media. Apalagi telah dibuat nota kesepahaman antara Malaysia dan Indonesia september tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi PHK buruh yang berkedok pensiun dini. Ini terjadi terhadap perusahaan nasional seperti PT Telkom dan PT Bank Permata tahun ini. Sedangkan PHK massal telah terjadi jauh sebelumnya, seperti Bank Danamon dan Bank Permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: Bagaimana merangkum ini semua menjadi sesuatu yang enak ditonton?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang mimpi buruk set up sequence dari setiap tokoh yang kalo diambil satu tokoh dari setiap permasalahan yang terdaftar sejauh ini, ada empat. Mimpi buruk apa? Yaitu set up sequence yang itu-itu saja. Keluar rumah pergi ke pasar, pulang ke rumah mengurus anak, pergi berangkat bekerja dan lain-lain. &lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Selain itu, bagaimana membuat tayangan ini menjadi aktual? Semua peristiwa telah terjadi. Satu yang paling bisa diandalkan adalah unjuk rasa besar-besaran 1 Mei.\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Saya sangat percaya dengan peran Tangan-Tangan Tuhan dalam peliputan yang menyangkut nasib orang banyak. Saya pun memulai dengan apa yang saya punya. Nomer telepon organisasi buruh yang kemungkinan akan berunjuk rasa saya coba satu per satu. Ternyata tidak ada yang bisa dihubungi. Bahkan serikat pekerja PTDI pun tidak dapat dihubungi. Dari sebuah blog milik seorang aktivis buruh bernama Irwansyah, saya mendapatkan nomer telepon miliknya. Saya hubungi, ternyata saat dihubungi, ia sedang menjalani rapat persiapan aksi buruh 1 Mei. Organisasi yang dipimpinnya ternyata berafiliasi ke Aliansi Buruh Menggugat - organisasi buruh yang akan menggelar aksi besar-besaran 1 Mei melibatkan berbagai unsur serikat buruh, mulai dari serikat pekerja transportasi hingga buruh pabrik. Otto hari Jum&amp;#39;at saya minta untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya soal aksi besar-besaran itu dari Aliansi Buruh Menggugat. Otto pulang dengan peta lokasi berikut nomer telepon perwakilan buruh dari Jabodetabek. (serius... nama berikut nomer telepon dari Jakarta Barat, Timur, Pusat, Selatan sampai Tangerang dan Bekasi).\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Perlahan-lahan jalan mulai terbuka. Kini giliran buruh migran. Saya menghubungi Wahyu Susilo dari Migrant Care. Dia pun mengatakan, ada rencana kepulangan jenazah tki dalam waktu dekat. Cukup menjanjikan. Terbayang rangkaian gambar kepulangan jenzah dimulai dengan gambar pesawat yang  tiba di landasan pacu - kalo bisa...hehehe. (Selain aktual tayangan tidak se-monoton perkiraan sebelumnya.)\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Tapi harus mulai dari mana? Kasus Dong Joe sebagai salah satu kasus terbesar PHK buruh dengan jumlah 6833 karyawan? Terbayang betapa boring-nya gambar di awal segmen 1 dengan rangkaian gambar pabrik yang tutup. Saya cek ke SPSI dan SPSI Tangerang, ternyata mereka menolak ikut unjuk rasa. Menarik pergulatan antara buruh yang berunjuk rasa dan tidak. Saya simpan kemungkinan mengangkat soal ini sampai diperlukan. Tapi masalah gambar belum terpecahkan. \n",1] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bagaimana membuat tayangan ini menjadi aktual? Semua peristiwa telah terjadi. Satu yang paling bisa diandalkan adalah unjuk rasa besar-besaran 1 Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat percaya dengan peran Tangan-Tangan Tuhan dalam peliputan yang menyangkut nasib orang banyak. Saya pun memulai dengan apa yang saya punya. Nomer telepon organisasi buruh yang kemungkinan akan berunjuk rasa saya coba satu per satu. Ternyata tidak ada yang bisa dihubungi. Bahkan serikat pekerja PTDI pun tidak dapat dihubungi. Dari sebuah blog milik seorang aktivis buruh bernama Irwansyah, saya mendapatkan nomer telepon miliknya. Saya hubungi, ternyata saat dihubungi, ia sedang menjalani rapat persiapan aksi buruh 1 Mei. Organisasi yang dipimpinnya ternyata berafiliasi ke Aliansi Buruh Menggugat - organisasi buruh yang akan menggelar aksi besar-besaran 1 Mei melibatkan berbagai unsur serikat buruh, mulai dari serikat pekerja transportasi hingga buruh pabrik. Otto hari Jum'at saya minta untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya soal aksi besar-besaran itu dari Aliansi Buruh Menggugat. Otto pulang dengan peta lokasi berikut nomer telepon perwakilan buruh dari Jabodetabek. (serius... nama berikut nomer telepon dari Jakarta Barat, Timur, Pusat, Selatan sampai Tangerang dan Bekasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan jalan mulai terbuka. Kini giliran buruh migran. Saya menghubungi Wahyu Susilo dari Migrant Care. Dia pun mengatakan, ada rencana kepulangan jenazah tki dalam waktu dekat. Cukup menjanjikan. Terbayang rangkaian gambar kepulangan jenzah dimulai dengan gambar pesawat yang  tiba di landasan pacu - kalo bisa...hehehe. (Selain aktual tayangan tidak se-monoton perkiraan sebelumnya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harus mulai dari mana? Kasus Dong Joe sebagai salah satu kasus terbesar PHK buruh dengan jumlah 6833 karyawan? Terbayang betapa boring-nya gambar di awal segmen 1 dengan rangkaian gambar pabrik yang tutup. Saya cek ke SPSI dan SPSI Tangerang, ternyata mereka menolak ikut unjuk rasa. Menarik pergulatan antara buruh yang berunjuk rasa dan tidak. Saya simpan kemungkinan mengangkat soal ini sampai diperlukan. Tapi masalah gambar belum terpecahkan. &lt;script&gt;&lt;!-- D(["mb","\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Hari Sabtu saya minta Oki untuk meliput persiapan perwakilan buruh Tangerang di bawah Aliansi Buruh Menggugat menjelang 1 Mei. Sampainya di sana, ternyata sejumlah karyawan pabrik Koryo ada di sekretariat mereka untuk meminta bimbingan soal dirumahkannya karyawan. Oki meliput kegiatan ini. Bisa dibayangkan gambarnya adalah pertemuan dengan orang-orang duduk di lantai. Keesokan harinya saya minta Oki kembali meliput pertemuan antar karyawan PT Koryo, dan meliput kegiatan ketua karyawan PT Koryo di rumahnya. Set up sequence-nya adalah kegiatan tokoh yang kita pilih di rumahnya. Tapi ada secercah harapan, Senin mereka berniat berunjuk rasa di depan pabrik... sehari sebelum 1 Mei.\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Sementara TKI yang akan dipulangkan tidak ada kepastian. Sejumlah berita yang muncul minggu itu adalah TKI yang kabur dari penampungan. Kekhawatiran yang muncul akan terlalu fokus kepada satu kasus yang angle-nya mungkin akan melebar dari permasalahan buruh migran - seperti ijin penampungan tki atau pjtki. Memang itu menjadi bagian dari permasalahan - tapi bukankah masalah terbesar dari tki adalah perlindungan mereka di luar negeri?\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Tanpa sengaja saya diberitahu oleh korlap Aliansi Buruh Menggugat... tepatnya dikecam karena hanya menghubungi Migrant Care yang merupakan LSM buruh migran dan bukan Serikat Buruh Migran. Saya pun diberi telepon orang serikat buruh migran. Saya hubungi ternyata masalah tki tanpa dokumen masih terjadi pasca nota kesepahaman Malaysia dan Indonesia. Rencana kepulangan berikutnya masih menunggu kepastian hari selasa - tanggal 1 Mei. Waduh...kalo kepulangannya hari Sabtu tamatlah riwayat.\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;Kepada Migrant Care saya tanya kasus tki yang meninggal di luar negeri terakhir kapan? Jawabannya April. Mereka pun berencana menggelar unjuk rasa hari Minggu. Keluarga korban akan turut hadir. Kalaupun saya tidak mendapatkan gambar kepulangan jenazah, saya bisa menggunakan liputan unjuk rasa itu untuk bercerita tentang permasalahannya. (to be continued)\n\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\u003cbr\&gt;\n",0] );  //--&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu saya minta Oki untuk meliput persiapan perwakilan buruh Tangerang di bawah Aliansi Buruh Menggugat menjelang 1 Mei. Sampainya di sana, ternyata sejumlah karyawan pabrik Koryo ada di sekretariat mereka untuk meminta bimbingan soal dirumahkannya karyawan. Oki meliput kegiatan ini. Bisa dibayangkan gambarnya adalah pertemuan dengan orang-orang duduk di lantai. Keesokan harinya saya minta Oki kembali meliput pertemuan antar karyawan PT Koryo, dan meliput kegiatan ketua karyawan PT Koryo di rumahnya. Set up sequence-nya adalah kegiatan tokoh yang kita pilih di rumahnya. Tapi ada secercah harapan, Senin mereka berniat berunjuk rasa di depan pabrik... sehari sebelum 1 Mei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara TKI yang akan dipulangkan tidak ada kepastian. Sejumlah berita yang muncul minggu itu adalah TKI yang kabur dari penampungan. Kekhawatiran yang muncul akan terlalu fokus kepada satu kasus yang angle-nya mungkin akan melebar dari permasalahan buruh migran - seperti ijin penampungan tki atau pjtki. Memang itu menjadi bagian dari permasalahan - tapi bukankah masalah terbesar dari tki adalah perlindungan mereka di luar negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja saya diberitahu oleh korlap Aliansi Buruh Menggugat... tepatnya dikecam karena hanya menghubungi Migrant Care yang merupakan LSM buruh migran dan bukan Serikat Buruh Migran. Saya pun diberi telepon orang serikat buruh migran. Saya hubungi ternyata masalah tki tanpa dokumen masih terjadi pasca nota kesepahaman Malaysia dan Indonesia. Rencana kepulangan berikutnya masih menunggu kepastian hari selasa - tanggal 1 Mei. Waduh...kalo kepulangannya hari Sabtu tamatlah riwayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Migrant Care saya tanya kasus tki yang meninggal di luar negeri terakhir kapan? Jawabannya April. Mereka pun berencana menggelar unjuk rasa hari Minggu. Keluarga korban akan turut hadir. Kalaupun saya tidak mendapatkan gambar kepulangan jenazah, saya bisa menggunakan liputan unjuk rasa itu untuk bercerita tentang permasalahannya. (to be continued)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-5252236277307587856?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/5252236277307587856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=5252236277307587856' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5252236277307587856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/5252236277307587856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/05/mimpi-buruk-set-up-sequence-1.html' title='Mimpi buruk set up sequence (1)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-7124622980299982816</id><published>2007-05-11T01:27:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:04:15.576-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produksi'/><title type='text'>Mimpi buruk set up sequence (2)</title><content type='html'>Unjuk rasa-unjuk rasa dan unjuk rasa... tayangan apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya coba cari jalan lain. Kasus PHK besar yang pernah terjadi di Indonesia salah satunya menimpa PTDI. Lalu saya pun menghubungi pihak serikat pekerja PTDI. Pak Sidharta sangat antusias membantu. Bahkan dia mengusulkan untuk meliput sarjana nuklir jualan es krim. Wah ini boleh juga nih buat segmen 3. Tidak lama saya terima sms dari Edwin, "Lihat Kompas, ada data lengkap soal buruh.". Saya lihat dan di dalam rubrik teropong terpampang artikel "Sarjana Nuklir Jualan Es Krim.". Hahaha, keduluan dah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu saya juga mengunjungi mailing list eks karyawan PTDI. Saya posting permintaan footage kegiatan eks karyawan PTDI yang saat ini bekerja di luar negeri. Berikut posting saya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Yth,&lt;br /&gt;Eks Karyawan PTDI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Bhayu Sugarda, Produser Astro Awani, saluran berita Indonesia&lt;br /&gt;di televisi satelit berlanggananan Astro. Kami sedang membuat&lt;br /&gt;laporan tentang permasalahan buruh di Indonesia, menjelang hari&lt;br /&gt;buruh 1 Mei mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu peristiwa pemutusan hubungan kerja yang mengakibatkan&lt;br /&gt;ribuan orang kehilangan pekerjaan di Indonesia adalah kasus PTDI -&lt;br /&gt;IPTN. Kami berniat membuat laporan mengenai nasib eks karyawan PTDI&lt;br /&gt;saat ini. Sebagian besar kini bekerja di luar negeri sesuai dengan&lt;br /&gt;kompetensi masing-masing. Sementara lainnya berusaha untuk tetap&lt;br /&gt;hidup dengan membuka usaha atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengharapkan kesediaan anggota milis ini, untuk berbagi cerita&lt;br /&gt;dan pengalaman mereka sampai akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di&lt;br /&gt;luar negeri. Kami juga berharap bisa mendapatkan video footage, bagi&lt;br /&gt;yang memiliki handycam digital, tentang kehidupan mereka di luar&lt;br /&gt;negeri sekaligus menjawab pertanyaan yang kami kirimkan melalui&lt;br /&gt;email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keterangan lebih lanjut, bisa menghubungi saya di email:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://finance.groups.yahoo.com/group/EksPTDI-IPTN/post?postID=AbpPBVr7YRthVLiH5rlMqPc9vgc7Sy1xWhSD6m9fQ-mn_6fUvSAqhqb3ga_Aqx6ax1FhJA8h8q7_UxN206v_324ZZw"&gt;bhayu_sugarda@...&lt;/a&gt; atau hp: 0815 138 41162. Jika ada&lt;br /&gt;pertanyaan yang bersifat lebih umum, akan saya jawab melalui mailing&lt;br /&gt;list ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perhatiannya, saya haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;br /&gt;Produser Astro Awani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban konkrit baru muncul tanggal 8 mei 2007 dari anggota milis ini. Berikut jawabannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="subject root grey"&gt; Pasca GEBYAR PHK!!! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bersyukur ternyata masih ada perhatian&lt;br /&gt;dari kalangan umum ttg nasib Eks-PTDI.&lt;br /&gt;Kalau boleh usul justru yg sangat perlu dipublikasikan&lt;br /&gt;adalah kawan2 kita yang sampe sekarang belum dapat&lt;br /&gt;kerjaan tetap, mungkin masih ribuan yang nasibnya&lt;br /&gt;terkatung2 karena "GEBYAR PHK" di PT Dirgantara&lt;br /&gt;Indonesia. Karena apapun alasannya tanpa perencanaan&lt;br /&gt;dan pertimbangan yang sangat matang PHK selalu&lt;br /&gt;merugikan karyawan yang notabene sedikit sekali dari&lt;br /&gt;kalangan kita yang punya jiwa enterpreneur.Saya jadi&lt;br /&gt;ingat ketika kita dikumpulin di GPM lt 6. disitu&lt;br /&gt;dipresentasikan kalo setelah "GEBYAR PHK" kita akan&lt;br /&gt;disalurkan di perusahaan2&lt;br /&gt;(minyak,PLN,Semen,tekstil,Airliner2... maaf saya lupa&lt;br /&gt;mungkin sangking banyaknya yg disebutwaktu itu).&lt;br /&gt;INTINYA dari tulisan saya ini sekarang yang Eks-PTDI&lt;br /&gt;yang kebetulan sekarang bekerja di luar negeri kita&lt;br /&gt;anggap sebagai nasib/keberuntungan yang telah memihak.&lt;br /&gt;saya pribadi khawatir kalo yg kerja diluar negeri itu&lt;br /&gt;dianggap kesuksesan lalu diekspose mungkin bisa jadi&lt;br /&gt;akan dijadikan "CONTOH YANG KURANG BAIK" bagi&lt;br /&gt;perusahaan2 di Indonesia untuk mengadakan "GEBYAR PHK"&lt;br /&gt;di tempatnya masing2.dengan alasan toh orang PTDI&lt;br /&gt;setelah PHK banyak yg sukses???&lt;br /&gt;saya kira mungkin tidak lebih dari 5% yang sekarang&lt;br /&gt;kerja di LN,Please 95% itulah yang harus di&lt;br /&gt;publikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suismadi&lt;br /&gt;Yang lagi ngadu nasib di BOEING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ouch...Yuk mari kita telaah lagi...hehehehe. Kesimpul;annya semua perlu kesabaran dan ketekunan untuk mendapatkan apa yang kita harapkan. Tapi Amrul dapet wawancara dengan keluarga eks karyawan PTDI yang lagi tugas ke luar negeri PLUS petani jamur - beda dengan sarjana nuklir dan lebih berbobot kalo menurutku sih, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian Pak Iwan (Editor) mengusulkan liputan soal seorang peneliti yang diabaikan pemerintah kesejahteraannya. Saya terima ide ini untuk segmen 3 murni karena alasan keragaman gambar dan setting. Saya minta tim liputan mengambil gambar saat dia melakukan penelitian di laboratorium. Tapi kemudian saya membaca artikel tentang bagaimana manusia Indonesia diperlakukan seperti alat produksi dan bukan aset. Ini saya jadikan benang merah di segmen 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara masalah status kontrak yang sangat merugikan buruh diwakili cerita karyawan PT Koryo. PHK tanpa pesangon diwakili dengan cerita buruh pabrik Dong Joe dan Spotec. Benang merah di segmen 1 adalah kondisi perburuhan Indonesia yang masih memiliki banyak masalah (menempatkan permasalahan pada situasi saat ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Segmen 2, saya menggunakan benang merah, kesadaran buruh. Ini saya sampaikan melalui cerita mantan karyawan Bank Pemerintah yang di-PHK, supir angkot yang bukan buruh tapi merasa buruh juga karena merasa tertindas juga DAN buruh migran berikut permasalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berjalan sesuai rencana saat hari-H (1 Mei) hanya sedikit miskomunikasi dengan Otto. Belakangan baru kita mendapatkan footage kedatangan jenazah tki dari migrant care berikut foto-fotonya. Gambar bagus saat kedatangan tki sangat membantu menghidupkan tayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Mimpi buruk kumpulan set up sequence monoton bisa dihindari berkat keragaman "setting".  Artinya tidak hanya di rumah. Keragaman setting ini meliputi tempat penampungan tki - pabrik yang ditinggalkan - laboratorium bioteknologi - pembibitan jamur - terminal angkot (persiapan rombongan supit angkot ikut unjuk rasa).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-7124622980299982816?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/7124622980299982816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=7124622980299982816' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7124622980299982816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7124622980299982816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/05/mimpi-buruk-set-up-sequence-2.html' title='Mimpi buruk set up sequence (2)'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-4870943869592970927</id><published>2007-05-10T21:32:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:04:41.958-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalis'/><title type='text'>Mulyani Hasan - jurnalis tv yang jadi penulis</title><content type='html'>&lt;div  style="direction: ltr;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya bertemu dengan seorang jurnalis di Bandung. Namanya Mulyani Hasan. Sejumlah karya jurnalistiknya menghiasi majalah Pantau dan Playboy. Dia mengaku sangat menyukai menulis, padahal sebelumnya ia pernah bekerja sebagai korlip dan terakhir redaktur pelaksana di  Bandung TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku 'banting setir' (pinjam istilah amrul yang abis liputan petani jamur eks karyawan ptdi menulis di skripnya 'eks karyawan ptdi banting setir'...hehehe) dari jurnalis televisi menjadi penulis lepas untuk media cetak karena ada seninya sendiri menulis... khususnya menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi. Dan dia mengaku sangat menikmati itu. Selain itu, apa yang ia cari tidak didapatnya di Bandung TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu teknis pengambilan gambar, tapi saya tahu gambar yang enak ditonton dan yang tidak.", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan dia mengungkapkan, kebanyakan pekerja televisi di TV lokal Bandung yang cukup banyak (sedikitnya ada lima: Bandung TV, STV, City View, dll.) adalah fresh graduate. Mulai dari korlip sampai kamera person. Katanya yang lagi lumayan booming adalah STV karena di redaksinya ada bekas karyawan SCTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuatnya unggul adalah kemasan tayangannya (menurut ibu Mulyani ini), tontonan ala Bali TV (Bandung Tv berafiliasi dengan Bali TV) yang mengutamakan seni tradisional sulit dinikmati masyarakat Bandung yang merupakan masyarakat Urban. STV dianggap berhasil karena mengemas tayangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat Bandung yang lebih 'sophisticated' dibanding pemirsa Bali TV (dalam padanan TV lokal yah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah akhirnya ia menjadi kontributor majalah Pantau dan majalah Playboy. Saya tanya alasan ketertarikannya akan jurnalisme sastrawi. Dia bilang ada alurnya dan gaya bertutur yang naratif sangat dinikmatinya. Saya uji pandangan saya tentang jurnalisme sastrawi kepada dirinya, 'bukankah jurnalisme sastrawi sangat visual?". Ia pun dengan antusias mengiyakan dan mengatakan sebelum menulis pun ia mengaku perlu menonton film terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulyani lalu menyebut nama Linda Kristanti yang kabarnya mendapatkan ulasan atas karyanya di majalah sastra Internasional 'Cornell Magazine'. Padahal selain Linda yang pernah mendapat ulasan di majalah ini hanya Pramoedya Ananta Toer. Mulyani menganggap karya Linda sangat enak dinikmati. Saya pun lanjut bertanya kepada dia topik apa yang telah ia kerjakan semala ini. Salah satunya tentang ruu pemerintahan Aceh. Saya pun mengatakan sulit juga kalo televisi mengangkat topik itu secara mendalam karena sifatnya 'wacana'. Tapi kemudian dia pun mengernyitkan dahi, "wacana bagaimana? Asal berdasarkan fakta saya pikir tetap bisa dibahas.". Waduh beda pengertian istilah wacana sepertinya kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan pun berlanjut ke hal-hal lain, tapi soal wacana ini masih menggantung di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau menurut Bapak yang terhormat Prof Dr JS Badudu, "wacana" adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ucapan, perkataan, tutur;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan utuh seperti novel, buku, atau artikel, atau pada pidato, khotbah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebenarnya pemahaman kata 'wacana' antara saya dan Mulyani tidak jauh berbeda, hanya saja dari pandangan broadcast 'wacana' sulit di-visualkan karena berdasarkan ucapan atau perkataan orang. Tapi kemudian saya mengintip karya si Ibu Mulyani Hasan ini di Pantau Online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat gaya jurnalisme sastrawi yang dianutnya itu - dan memang sangat visual... padahal yang ia bahas adalah Sentimen Anti Komunis yang masih kental di Indonesia. Berikut sedikit bagian karyanya sebagai gambaran gaya penulisannya yang saya anggap sangat visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memburu Marxis di Ladang Buku&lt;br /&gt;Oleh Mulyani Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Excerpt dari bagian awal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....HUJAN deras. Jalanan di muka toko buku Ultimus di Lengkong Besar, Bandung , yang biasanya sepi di malam hari, kini ramai. Sekelompok orang berseragam hitam-hitam lalu-lalang di muka toko. Ada yang berdiri bergerombol, ada juga yang jongkok di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi telah dibuka. Sadikin moderator. Seorang pembicara bernama Marhaen Soepratman duduk di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaen. Nama yang aneh, pikir saya. Nama Marhaen pernah populer di masa presiden Soekarno berkuasa. Ia kagum pada seorang petani yang bekerja keras, bersemangat, cerdas, dan pemberani, bernama Marhaen yang dijumpainya di sebuah desa di Jawa Barat. Sejak itu Soekarno menamakan ajaran atau ideologinya yang memihak rakyat kecil atau wong cilik itu sebagai marhaenisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Marhaen Soepratman bukan orang Sunda. Ia keturunan Tionghoa. Ia juga bukan petani, melainkan mahasiswa di sebuah universitas di Kanada. Nama aslinya adalah Hariyanto Darmawan. Di Kanada, ia aktivis serikat buruh. Ia sengaja datang ke Bandung, setelah mengunjungi keluarganya di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta diskusi malam itu tak lebih dari seratus orang. Rata-rata peserta antusias dengan materi yang disampaikan pembicara. Tetapi belum setengah jam acara berlangsung, seorang lelaki paruh baya merampas mikrofon dari genggaman Marhaen. Kasar. Tanpa sopan-santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajaran komunis sudah tidak relevan lagi dibicarakan! Orang tua saya dibunuh oleh PKI (Partai Komunis Indonesia)! Jadi saudara-saudara, acara semacam ini harus dihentikan!" teriak lelaki itu. Sorot matanya liar memandang sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Adang Supriadi, ketua Persatuan Masyarakat Antikomunis atau disingkat Permak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana jadi ricuh ketika anggota Permak mulai menendang-nendang bangku dan mengancam peserta diskusi. Semua orang buru-buru keluar ruangan. Tumpah ruah ke jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Permak kemudian memburu pembicara dan ketua panitia yang berusaha menyelamatkan diri ke arah kampus Universitas Pasundan, tepat di depan toko buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama Sadikin dan Marhaen ditangkap orang-orang Permak, yang memaksa mereka masuk ke mobil untuk dibawa ke markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes)  Bandung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Excerpt di bagain tengah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....Langkah-langkah sepatu terdengar mengitari seluruh ruang, lalu berakhir di pintu utama. Pintu ditutup dan disegel dengan pita kuning atau garis polisi yang disilangkan di tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Excerpt di bagian akhir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya," katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin," katanya, lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir kopi panas pesanannya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan," ujar Bilven.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus." Ia terus bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilven lolos saat Permak melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan terakhir ini mengingatkan saya akan adegan dari film dokumenter tentang Al-Jazeera 'Control Room'. Ada diskusi hangat yang terjadi di sebuah cofee shop di Irak (saya lupa-lupa ingat lokasinya) antara warga dan seorang reporter Al-Jazeera. Adegan ini di-syuting seperti layaknya adegan dalam karya Mulyani. Saat pelayan datang gambar itu tertangkap di kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan menjadi hangat, tek-tok close up antara peserta diskusi kecil ini tertangkap jelas.  Mereka hanyalah warga biasa yang mengutarakan unek-unek mereka selama ini tentang kebijakan pemerintah AS di timur tengah. Yang menarik dari adegan ini bagi saya adalah  bagaimana mereka begitu terbuka menyatakan pendapat mereka dan begitu natural.  Editingnya pun mengalir - enak ditonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Kreatifitas, kesabaran dan penguasaan masalah bisa jadi gerbang masuk ke ranah wacana, where no broadcast journalist (well maybe a few manage to do so...) has ever gone before.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="sg"&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-4870943869592970927?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/4870943869592970927/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=4870943869592970927' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4870943869592970927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4870943869592970927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/05/mulyani-hasan-jurnalis-tv-yang-jadi.html' title='Mulyani Hasan - jurnalis tv yang jadi penulis'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-7488305353994581287</id><published>2007-04-25T05:42:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:48.923-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produksi'/><title type='text'>Idea of interview</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTg5dnWd0I/AAAAAAAAAA8/N8XKvJ4HBqg/s1600-h/mike+wallace.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221045145836091202" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTg5dnWd0I/AAAAAAAAAA8/N8XKvJ4HBqg/s320/mike+wallace.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Ini sebenarnya lebih ke curhat dibanding analisa, berdasarkan sejumlah artikel, perbincangan maupun masukan dari negeri paman sam yang pernah aku dengar dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada semacam keengganan untuk meng-ilmu-kan 'broadcast journalism' dengan alasan khusus untuk binatang satu ini, 'skill' dianggap lebih penting dibanding teori. Pengajar di PJTV - Pendidikan Juralistik Televisi, Horea Salajan, saat saya tanya apakah ada buku yang bisa dia recommend untuk mempelajari bagaimana memproduksi program berita - dari konsep,&lt;br /&gt;show maupun penyusunan rundown - Horea hanya mengatakan seperti ini: "Ibaratnya kamu sudah bisa bermain sebuah instrumen musik. Apa pun itu, gitar misalnya. Untuk menulis lagu, kamu hanya perlu menggunakan kreatifitas kamu. Tidak ada buku yang bisa mengajarkan kamu membuat lagu, kan?."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dia mengusulkan untuk membaca buku-buku novel klasik dari abad 18. Karena menurut Horea, dengan membaca novel-novel klasik itu, kita akan bisa lebih mendalami interaksi antar manusia dan nilai-nilai yang penting bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sejumlah universitas di jakarta, menawarkan program d-3 - untuk broadcast journalism. Sedangkan S-1 Jurnalistik, mata kuliahnya lebih menekankan pada jurnalisme cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kemudian, setelah memperhatikan komponen yang ada di produksi pemberitaan televisi, keengganan itu mungkin ada benarnya. Karena 'broadcast journalism' adalah semacam hybrid sejumlah ilmu yang sudah ada. Dari sinematografi, jurnalistik, teknik hingga manajemen.&lt;br /&gt;Gabungan antara seni dan teknik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pemikiran ini, muncul semacam pandangan yang menarik dalam diri saya - soal live interview, atau biasa disebut dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada unsur drama yang berusaha ditawarkan program dialog. Namun, tidak hanya itu. Dialog informatif - memberikan penjelasan kepada sesuatu yang dianggap rumit DAN dialog yang sifatnya 'revealing' atau mengungkap sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan panggung dialog dari layar televisi. Panggung ini terdiri dari dua pemain minimal. Seorang pembawa acara atau mediator, dalam hal ini 'anchor' dan si nara sumber. Ada suatu permasalahan atau 'konflik' yang ditawarkan dalam panggung dialog ini, sehingga patut dan diangap penting untuk dibicarakan. Konflik inilah yang kemudian menjadi pusat perhatian kedua 'tokoh' atau karakter di atas panggung ini. Seperti layaknya pertunjukan teater, pertunjukan - atau show - dari dialog ini menimbulkan reaksi emosional pemirsa. Apakah membuat pemirsa&lt;br /&gt;tertawa, geli, tegang, sedih, terharu, berfikir atau mendapatkan pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel tentang 'live interview' kiriman mailist PJTV juga yang dikutip dari sebuah publikasi di negeri paman Sam, disebutkan bahwa live interview kini semakin sulit, karena nara sumber kini lebih 'media savvy' dengan kuasa hukum nara sumber memastikan konten dialog tidak&lt;br /&gt;akan merugikan kliennya. Selain tentunya, keterbatasan durasi, yang tidak memungkinkan 'anchor' untuk memperdalam materi permasalahan dan efektif dalam menimbulkan reaksi pemirsa. Dalam artikel itu juga disebutkan karena inilah, show seperti oprah winfrey atau jay leno lebih efektif dan diminati pemirsa. Dimana perbincangan lebih fokus pada siapa dibalik nara sumber ini. Cerita seperti masa kecilnya dulu, perjuangannya sebelum menjadi seorang figur publik, atau cerita dibalik karya terbaru si nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, dialog dalam acara seperti oprah winfrey, jay leno, david letterman, parkinson atau larry king - merupakan kesempatan untuk melihat sisi lain dari tokoh atau bintang yang saya kagumi, sekaligus memberikan inspirasi atau harapan dalam hidup saya. Apakah untuk menjadi sukses, atau untuk menjadi seorang yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di panggung dialog ini, nara sumber bukanlah satu-satunya tokoh yang bisa menonjol. 'Anchor' adalah satu lagi tokoh yang berbagi panggung dialog dengan nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar menarik dari seorang korlip di kantor saya, saat itu ia menyaksikan dialog larry king dan shania twain. Ia pribadi tidak merasa 'dekat' dengan shania twain. Saya tahu dia bukan salah satu&lt;br /&gt;penggemar shania twain. Tapi dialog itu tetap menarik buat dirinya karena ia memperhatikan larry king. Sempat terucap dari mulutnya, betapa enaknya menyaksikan larry king mewawancarai nara sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, saya melihat adanya benang merah antara 'show dialog' dengan 'panggung teater'. Ada konflik, ada dua tokoh sentral, ada plot cerita - dalam hal ini 'alur dialog'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan dialog bisa berasal dari karakter kedua tokoh sentral ini. Perhatikan dialog Putra Nababan dengan Hendropriyono di Seputar Indonesia. Hendropriyono dengan arogan dan gamblang menantang TPF. Jack Nicholson dalam 'Few Good Men'? (Genre Thriller) Atau dialog Rosiana Silalahi dengan pemulung yang harus membawa mayat anaknya sendiri ke bogor untuk dimakamkan karena tidak punya uang untuk menyewa mobil jenazah. Saat Rosi bertanya: "Apa yang Bapak katakan kepada polisi setelah berada di kantor polisi selama empat jam?" - si&lt;br /&gt;pemulung pun tak kuasa menahan tangis. (Genre Drama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya kini adalah pertanyaan seperti apa yang bisa menimbulkan 'reaksi' - sekali lagi 'reaksi' - dari nara sumber seperti yang kita inginkan. Kemampuan memanipulasi emosi nara sumber menjadi penting. Dalam peliputan pun kita seringkali melakukan hal yang sama, karena seperti yang diajarkan PJTV - ekspresi-lah yang dicari dalam wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, fokus dialog bisa beralih ke si 'anchor'. Bayangkan melihat si anchor menanyakan pertanyaan gamblang yang ada di kepala kebanyakan orang atau pemirsa di rumah. Atau gayanya? Kepercayaan dirinya? Atau empatinya? Bayangkan melihat dialog dimana si anchor menepuk pelan tangan nara sumber yang baru saja menitikkan air mata saat menceritakan&lt;br /&gt;penderitaannya. Bukankah mendengar cerita nara sumber, kebanyakan orang akan tergelitik menepuk pelan tangannya atau menepuk bahunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog antara SBY dan Salim Said misalnya. Pertanyaan yang diajukan Salim Said begitu gamblang dan berada di kepala kebanyakan orang. Akibatnya, jawaban SBY pun menjadi gamblang. Ada bagian dimana SBY tersenyum geli sendiri saat Salim Said menanyakan insiden dimana protokol Amerika Serikat menyebut dirinya Susilo Bambang Yoko-ono. Bagi saya, sangat menarik melihat Salim Said dalam dialog itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lainnya mungkin adalah program 'Hard Talk' di BBC. Dalam hal ini saya melihat adanya upaya anchor untuk mewakili pemirsa yang selama ini sinis terhadap sejumlah permasalahan yang ada. Si anchor berusaha keras membuang 'akses lemak' atau 'tai kucing' yang biasanya 'menggemuk' saat dialog berlangsung - apakah itu untuk menjaga perasaan nara sumber atau&lt;br /&gt;karena permasalahannya dianggap sensitif. Saya pun asik melihat si anchor menanyakan pertanyaan sinis yang ada di kepala saya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat ini adalah inti dari panggung dialog. Sisanya adalah 'gimmick'. Misalnya paket berita di awal dialog. Mudah2-an curhat saya ini berguna buat kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-7488305353994581287?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/7488305353994581287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=7488305353994581287' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7488305353994581287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/7488305353994581287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/idea-of-interview.html' title='Idea of interview'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHTg5dnWd0I/AAAAAAAAAA8/N8XKvJ4HBqg/s72-c/mike+wallace.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-3148400038581206874</id><published>2007-04-25T05:31:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:08:19.160-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Produksi'/><title type='text'>Dari Dateline ke surat Produser</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saya Senin pagi tadinya mau riset soal Dateline yang katanya mendapat tekanan dari pemerintah Australia soal liputannya ke Timor Leste. Saya mau protes ke Dateline lewat email soal ini. Karena tidak ada sama sekali pemberitaan soal tekanan Pemerintah ke Dateline. Bahkan Dateline sendiri tidak memberitahu pemirsanya soal ini lewat websitenya. Tapi kan saya perlu riset dulu. Lalu tanpa sengaja saya menemukan sesuatu yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya membuat telaah ‘Tawuran’, saya sempat menanyakan ke Mas Rizal, soal kemungkinan membuat iklan di media massa (koran/majalah) memberitahu bahwa Astro Awani sedang berupaya membuat laporan tentang tawuran dan sedang mencari keluarga korban meninggal akibat tawuran yang kebetulan punya footage (video) saat masih hidup, seperti ulang tahun, lulusan, dll. Ide ini muncul karena ‘impact’ ke pemirsa akan lebih besar kalau bisa mendapatkan footage video semasa hidup – dibanding hanya foto. Saya jujur cukup terkejut, karena kalau berdasarkan riset internet, kebanyakan korban tewas akibat tawuran adalah siswa STM atau SMK. Selain itu data korban tewas akibat tawuran dari sekolah elit misalnya tidak ada. Ada satu yang tinggalnya di Kemang Timur, ternyata orang tuanya tukang mie ayam. Bahkan muncul kecurigaan di diri saya, jangan-jangan ada sesuatu yang lebih besar di balik ini…bahwa anak-anak STM ini hanya menjadi sasaran hobi tawuran anak-anak sekolah elite yang lebih mampu beli senjata (pistol/tajam). Tapi yang jelas, tidak ada satu pun korban tewas dari kalangan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, kembali ke soal iklan pemberitahuan liputan tertentu di media massa. Saat saya tanya Mas Rizal etis tidak, beliau menjawab, “kalau soal etis atau tidak…etis-etis saja. Tapi yang jelas tidak biasa.”. Setelah itu, saya sedikit ragu sehingga saya meninggalkan ide itu. Selain pertiimbangan waktu, karena tentunya untuk mendapatkan jawaban dari pembaca koran atau majalah perlu waktu. Belum masalah menyortir-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya browsing di internet, ketahuan ternyata ide ini sudah dilakukan orang lain. Berikut surat yang di-post di sebuah website kesehatan &lt;/span&gt;&lt;a title="http://www.medscape.com/" href="http://www.medscape.com/"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;http://www.medscape.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letter&lt;br /&gt;From Karen Heywood, Producer, Dateline NBC&lt;br /&gt;October 11, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from &lt;/span&gt;&lt;a title="http://www.medscape.com/viewpublication/122" href="http://www.medscape.com/viewpublication/122"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Medscape General Medicine [TM]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National newsmagazine DATELINE NBC is looking for participants for a possible report about Internet medical health information. We hope Medscape.com users might be able to help.&lt;br /&gt;DATELINE is looking for stories from people who have used the Internet to find such information or order products. Were you satisfied? Do you feel you were led astray?&lt;br /&gt;Those interested may e-mail Karen Heywood (&lt;/span&gt;&lt;a title="mailto:karen.heywood@nbc.com" href="mailto:karen.heywood@nbc.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;karen.heywood@nbc.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;) or call 202-885-4484 for more information or to tell us their stories. All information will be kept confidential unless the participant agrees that NBC may use it.&lt;br /&gt;Thank you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen HeywoodProducerDateline NBCWashington, DC&lt;/span&gt;&lt;a title="mailto:karen.heywood@nbc.com" href="mailto:karen.heywood@nbc.com"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;karen.heywood@nbc.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya baca ini, saya ingat cerita Dio tentang pengakuan Dady (penulis ‘Menelusuri Lorong Gelap’ – buku jurnalitik investigasi) yang cerita sulitnya dia mencari korban perkosaan akibat kerusuhan 98. Seakan-akan tidak ada gadis keturunan yang menjadi korban perkosaan. Akhirnya apa yang dia lakukan adalah mem-post email di sebuah mailing list dan mengatakan bahwa dia tidak percaya ada gadis keturunan yang menjadi korban perkosaan. Ternyata ini memancing amarah sejumlah anggota milis. Mereka mengatakan bahwa kejadian itu benar terjadi. Dady pun menjawan mana buktinya? Dari situlah akhirnya dia mendapatkan informasi lengkap soal korban perkosaan tahun 98.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Kalau mencari nara sumber, bergabung dengan mailist/ mem-post email ke website tertentu/ atau memasang iklan di media massa…bisa jadi cara efektif mencari sesuatu yang tersembunyi selama ini… yang mungkin bisa memberi inspirasi atau menggerakkan emosi pemirsa. Cara paling sederhana (dan ada di bukunya Bill Kovach…hehehe) adalah nongkrong di warung, tempat nongkrong atau kafe dan…. ‘listen’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cheers,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-3148400038581206874?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/3148400038581206874/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=3148400038581206874' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3148400038581206874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/3148400038581206874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/dari-dateline-ke-surat-produser.html' title='Dari Dateline ke surat Produser'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-6862738697113768354</id><published>2007-04-25T05:30:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:08:41.046-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnalisme'/><title type='text'>Curious Community untuk memicu virus informasi...huh?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Satu lagi nih, hasil ngemeng2 sama teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang kawan menonton Telaah episode IPDN. Komentarnya melalui sms adalah “tayangan seperti ini bisa menimbulkan ‘curious community’ dan memicu timbulnya virus informasi.”. Waduh apa artinya ini. Besoknya saya ketemu dengan kawan ini. Dia menjelaskan, yang namanya ‘curious community’ itu adalah orang-orang yang kemudian mengikuti perkembangan kasus dan menjadi ‘addict’ terhadap program. Forum diskusi pun muncul sehingga muncul fakta, opini atau data-data baru – perlahan-lahan informasi yang ada berkembang biak – seperti halnya…virus! Saya balik tanya, “tapi informasi yang berkembang itu bisa jadi ‘noise’ gak belakangan?”. Yah itu tergantung noise di mana (alias komunitas mana). Tapi intinya, akan muncul orang-orang yang mendiskusikan tayangan telaah dan ingin pembahasan lanjutan soal kasus tertentu. Jadi kasus IPDN misalnya, karena muncul diskusi setelah tayangan telaah tentunya ada keinginan untuk mengetahui lebih jauh perkembangan kasus itu. Sementara yang sering terjadi di FTA, hanya sekali tayang dan sesudah itu selesai sehingga perlahan diskusi itu pun mati. Kalo di-budi dayakan (kan terminology-nya virus yah), hasilnya adalah ‘loyal followers’ dari program. Sehingga saat merujuk ke kasus tertentu, pemirsa setia hanya merujuk ke tayangan telaah misalnya dan mengabaikan tayangan lainnya. Belum lagi pemirsa Astro yang karakteristik-nya kritis (kalo berdasarkan riset ‘Responsible Father” dan ‘Happy Fun Loving’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kantor pemberitaan bisa menggunakan ‘feedback’ dari pemirsa untuk ide story lanjutannya atau bahkan data baru. Seperti misalnya, saya punya saudara yang anaknya sekolah di IPDN dan ternyata…bla-bla-bla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana mem’budi-daya’kan virus ini? Menurut dia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          harus ada episode follow up dari kasus tertentu, seperti ipdn misalnya, atau Lumpur lapindo.&lt;br /&gt;-          Perlu ada komunitas pemirsa telaah, misalnya mailing list atau email fan club program. Contoh yang bagus mungkin WEB GAUL FORUM (punya indosiar) yang bicara soal penyiar berita kesayangan, share info terbaru mereka, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terus kata kawan Edwin (yang ternyata diajak ketemuan juga…hehehe) yang sulit mungkin maintain mail list atau email dari pemirsa. Tentunya saat pemirsa mengirim email ada keinginan untuk dibalas khan. Email redaksi di RCTI tidak berjalan karena jarang ada yang rajin menjawab komentar/kritik/komentar pemirsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih begitulah hasil perbincangan kami di Krispy Kreme (yummmm) di Setia Budi Building.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Kawan ini mengusulkan kita baca ‘Mediating the Message” karya Pamela J. Shoemaker &amp;amp; Stephen D. Reese soal analisa konten berita. Ada yang punya?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-6862738697113768354?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/6862738697113768354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=6862738697113768354' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6862738697113768354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/6862738697113768354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/curious-community-untuk-memicu-virus.html' title='Curious Community untuk memicu virus informasi...huh?'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-9199640374209213384</id><published>2007-04-25T05:29:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:09:00.907-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Investigasi'/><title type='text'>Diskusi Investigative Reporting - IJTI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berikut hasil ngemeng-ngemeng dengan jurnalis tv David O’shea dari stasiun FTA SBS di Australia. Program in-depth-nya di SBS adalah ‘Dateline’. Selain ‘Dateline’ di Australia juga ada 60 minutes (versi Australia) dan Current Affair. Dateline berbeda dengan dua program lainnya karena ‘story’ disampaikan melalui sudut pandang seorang reporter. Topik yang dibahas antara lain konflik di Gaza, Timor Leste, Aceh dan Terorisme di Indonesia. Reporter tidak selalu muncul dalam segmentasi program ini, namun, pembawa acara memberitahu pemirsa bahwa laporan yang akan ditayangkan adalah laporan si reporter. Contoh, “Berikut ini laporan David O’shea dari Timor Leste”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dibuka dengan ‘curhat’-nya dia bahwa pemerintah Australia mulai membredel satu per satu jajaran produksi ‘Dateline’, mulai dari executive producer sampai supervising producer. Alasannya karena Dateline dianggap menyudutkan pemerintah Australia dengan laporan keterlibatan Australia dalam politik negara-negara Asia Pasifik seperti Vanuatu, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. Keterlibatan itu sendiri demi kepentingan Australia, seperti minyak di Timor Leste,dll. Selain keinginan untuk menjadi deputi sherrif AS di Asia Pasifik. Hehehe. Satu per satu mulau dipecat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diskusi menjadi hangat karena mulai menjurus ke teknik junalisme investigasi. Tapi pada akhirnya, komentar David hanya seperti ini, “tapi bisa gak kayak begitu di Indonesia?” (Dia lancar bahasa Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kita ditunjukkan laporan satu jam yang dia buat tentang terorisme di Indonesia. Bukan hanya bom bali tapi juga di poso. Dengan laporan ini, ia menggambarkan keterlibatan intelijen Indonesia dalam aksi terror di Indonesia sendiri. Persenjataan kelompok provokator di poso ternyata milik tni – ada visualnya diperlihatkan amunisi dengan tulisan sebagai bukti bahwa itu milik tni ad. Selain itu, visualisasi da’I bachtiar lagi ngobrol dengan anggota dpr lagi cerita dia baru pulang dari pentagon lalu mendapatkan bantuan dana dari amerika untuk melawan terorisme. Da’i cerita bagaimana dia diperlakukan istimewa di pentagon dan sebagainya sembari tertawa dengan anggota dpr. Gambaran bahwa polri punya kepentingan dengan banyaknya aksi terror di Indonesia terlihat jelas tanpa bicara banyak. Sequence berikutnya adalah da’I bachtiar turun escalator di gedung baru dpr di-iringi musik ‘upbeat’ layaknya soundtrack film saat sang jagoan jalan. (tanpa bicara benar tidaknya tuduhan keterlibatan tni polri dalam aksi terror di Indonesia, namun, ini adalah cara menarik untuk menyampaikan ‘thesis’ atau pandangan si jurnalis.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dilakukannya saat pertemuan antara da’i bachtiar dengan ketua BIN baru Syamsir siregar. Usai pertemuan, wartawan seperti biasa wawancara da’i bachtiar. Sebelum masuk ke soundbyte-nya Da’I, narasi menyebutkan “after the meeting he only gave us a bland comment about the latest situation.”. Narasi lalu berlanjut dengan menceritakan siapa saja yang hadir dalam pertemuan itu. Timbul Silaen, mantan kapolda tim-tim. Narasi menyebutkan, “what was the late chief of police in the former East Timor doing in this meeting?”. Berikutnya vox pop ibu-ibu di poso yang ditanya kenapa tidak ada saksi dalam beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di sana, hanya bilang “ada gerakan tutup mulut, karena takut. Apa? Karena Takut. Ya Takut!” (sepertinya asisten David O’shae sama budegnya kayak ulung. Hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali ia mengatakan ‘this is funny’ kalo ada visual menarik dari liputannya. Salah satunya demonstrasi yang dilakukan pasukan jihandak, tapi kemudian salah satu petugas lupa memasukkan film ke alat x-ray yang mereka miliki. Kepanikan mereka saat tahu tidak ada film di dalam mesin x-ray di-roll begitu saja, dengan audio nat.sound yang lengkap. (Ternyata kata dio, David waktu di poso pake mic panjang di atas kameranya sehingga bisa tajam menangkap audio.). Belakangan dia bilang begini, “remember, tv itu kan hiburan jadi apa pun..yah harus menarik supaya pemirsa saya tidak pindah channel.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan itu setelah ditanya soal pendekatan kemanusiaan dibanding penyelidikan kasus dalam liputan investigasi. Pertanyaannya adalah liputan “investigasi” (atau diakui sebagai investigasi walaupun hanya in-depth reporting) di Indonesia (paling tidak selama ini di FTA) fokus kepada pengungkapan sesuatu yang baru terkait kasus tertentu. Cara bertuturnya pun lebih pada data-data baru dan bukan ‘pelaku’-nya, langsung atau tidak langsung. Seperti contoh Da’i Bachtiar tadi. David hanya bilang, “orang kan nonton tv untuk lihat orang…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Dhandy, korlip RCTI, tanya sama dia, dari sekian banyak liputan yang dia buat, mana yang bisa diklasifikasi sebagai investigasi. Ia hanya menyebutkan liputan soal terror di Indonesia ‘bisa’ dikategorikan sebagai investigasi, tapi ia menekankan yang dilakukannya mungkin ‘baru’ bagi pemirsa Australia tapi mungkin tidak baru lagi bagi pemirsa Indonesia. Sedangkan liputannya di Timor Leste (lengkap dengan tembak2an usai wawancara dengan Alfredo Reinado) dikatakannya sebagai situation report. Liputan Timor Leste dikatakannya sebagai contoh bagus untuk liputan investigasi yang gagal. Tujuan liputannya sebenarnya adalah membuktikan keterlibatan Australia dalam krisis politik di Timor Leste. Tapi gagal. Sementara liputannya tentang kasus Munir, dia mengatakan, “investigasi saya adalah baca majalah tempo!”, sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amrul kamerawan Astro (cie-cie Amrul) lalu komentar, “liputannya dia konsentrasi ke reporting yah…jadi menunggu momen yang dicari.” (David soalnya VJ – kebanyakan visual dia ambil sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, soal label investigasi. David bilang, definisi investigasi bagi dia adalah ‘revealing something’. Tapi kemudian dia mengatakan setiap hari jurnalis di program harian kan selalu mengungkap sesuatu yang baru juga. Jadi sulit mendefinisikan suatu liputan itu investigasi atau bukan. Sementara di kampusnya dulu (UTS – University of Technology Sydney) tidak dibahas tentang investigative journalism karena masih diperdebatkan. Dia pun setuju kebanyakan yang dilakukan adalah in-depth reporting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi: Banyak2 nonton program ‘in depth’ dari negara-negara lain supaya dapet ide baru cara bertutur kali yeh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interesting facts &amp;amp; comments:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Michael Moore’s ‘Fahrenheit 911’ investigasi gak? David: “Bukan. Itu Dokumenter.”&lt;br /&gt;-          Biaya produksi rata2 AUS$ 10,000,- kalo termasuk post pro AUS$ 15,000,-an. Massa produksi 6 minggu rata-rata.&lt;br /&gt;-          Rekonstruksi sesaat sebelum almarhum Munir meninggal, dibuat dengan menggunakan ‘mata kamera’ sebagai ‘mata Munir’.&lt;br /&gt;-          David:”Liputan investigasi paling 3 kali dalam setahun”. Untuk program setiap minggu, Dateline juga menampilkan profile dan human interest. Jadi tidak setiap minggu in-depth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segitu dulu kali yeh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-9199640374209213384?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/9199640374209213384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=9199640374209213384' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/9199640374209213384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/9199640374209213384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/diskusi-investigative-reporting-ijti.html' title='Diskusi Investigative Reporting - IJTI'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-4543289676126277502</id><published>2007-04-25T05:26:00.000-07:00</published><updated>2008-07-13T20:09:15.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Investigasi'/><title type='text'>Kasus thalidomide dan pasca banjir</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Seno Gumira Ajidarma menulis artikel di ‘Djakarta – the magazine’ soal pasca banjir. Ia mengecam intitusi media yang tidak memberiktakan kondisi korban banjir pasca banjir. Padahal menurut dia, kondisi pasca banjir justru yang paling meresahkan masyarakat. Orang yang tidak bisa minta bantuan orang bayaran untuk membersihkan rumah mereka dan harus hidup dengan bau menyengat khas banjir di rumahnya selama beberapa minggu. Belum lagi yang ada di pengungsian. Di akhir tulisannya ia pun mem-vonis bahwa media memang begitu… “aku ada, karena aku menggemparkan.”…tidak lebih dan tidak kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan kasus thalidomide?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalidomide adalah kasus obat yang digunakan ibu hamil di Inggris pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an, untuk mengurangi dampak muntah-muntah saat hamil atau ‘morning sickness’. Antara tahun 1956 hingga tahun 1962, sekitar 10 ribu anak lahir cacat. Kasus paling parah adalah seorang anak lahir tanpa tangan dan kaki. Dalam periode tersebut, pemberitaan mengenai hal ini begitu gencar. Kasus tuntutan keluarga korban kepada perusahaan farmasi asal Jerman, Grunenthal, berlangsung bertahun-tahun. Pada akhirnya, keluarga korban rata-rata mendapatkan ganti rugi sebesar 15 ribu sampai 20 ribu pounds atau sekitar 40 ribu dolar amerika. Padahal biaya untuk kebutuhan khusus yang diperlukan korban akibat cacat seumur hidup - kurang lebih 100 ribu pounds. Ini berarti hanya seperempat dari apa yang berhak mereka terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh tahun kemudian, koran the Sunday Times, memutuskan untuk membongkar ‘kelalaian’ yang dilakukan perusahaan farmasi Grunenthal. Investigasi yang mereka lakukan menunjukkan perusahaan farmasi itu tidak melakukan penelitian dampak thalidomide pada konsumen utama obat itu – yaitu ibu hamil. Padahal penelitian pengaruh obat pada ibu hamil dengan menggunakan binatang telah dilakukan perusahaan farmasi dunia sejak tahun 1950-an. Namun, mereka menghadapi kendala undang-undang yang melarang pemberitaan terkait kasus hukum yang sedang berlangsung. Pertarungan demi memperjuangkan laporan soal kelalaian Grunenthal pun terjadi. Laporan berseri di koran The Sunday Times pun dirancang. Dengan bantuan penasehat hukum, redaktur koran itu mempelajari setiap artikel sebelum masuk percetakan. Saat laporan pertama muncul…media lainnya tiarap – baik itu koran, televisi maupun radio. Radio BBC sempat mewawancara redaktur koran itu masalah kasus Thalidomide di studio. Namun, setelah itu tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaktur itu adalah Harold Evans. Ia belakangan menulis soal ini dalam bukunya ‘Good Times, Bad Times’. Berikut bagian dari apa yang dia rasakan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“The erratic nature of the interest in the Thalidomide children was also a reflection of the way newspapers and television news programmes work. ‘News’ is defined too episodically and too topically. It was the same in 1959 – 62, when Thalidomide was found to have affected 8,000 children round the world. There was an outcry, but then concern was allowed to evaporate. Nothing ‘new’ happened, nobody made speeches or marched down Whitehall, so there was no ‘news’ and the Thalidomide victims were gradually forgotten. The unconscious assumption was that our institutions functioned the way they are supposed to function: the law was seeing that justice was done. But it wasn’t; and journalism had not learned how to write about processes, rather than about events. The process of legal disaster and the gradual disintegration of the families was ignored.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahan: (biasa bikin translation nih soalnya, hehehe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naik turunnya ketertarikan soal anak-anak Thalidomide juga merupakan cermin dari bagaimana koran dan program berita televisi bekerja. Yang dikatakan sebagai ‘Berita’ ditentukan secara episodik dan terlalu berdasarkan topik. Sama dengan yang terjadi antara 1959 – 62, ketika Thalidomide diketahui mempengaruhi 8 ribu anak di dunia. Muncul kecaman saat itu, tapi kemudian keprihatian soal itu dibiarkan menghilang. Tidak ada yang baru terjadi, tidak satu pun berorasi atau berunjuk rasa ke Whitehall (ie Parlemen), jadi tidak ada ‘berita’ dan korban Thalidomide perlahan dilupakan. Asumsi bawah sadar adalah bahwa institusi kita (ie media) berfungsi seperti seharusnya: hukum berjalan seperti apa adanya untuk mencari keadilan. Padahal tidak begitu; dan jurnalisme tidak belajar untuk menulis tentang proses, dibanding peristiwa. Proses dari carut marutnya persidangan dan kehancuran perlahan keluarga korban diabaikan.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah tanya sama Mas Imam soal ‘Berapa umur berita?’ dan beliau menjawab pada saat tensi berita itu turun bisa diberikan ‘renewal’ – katanya istilah marketing, yang artinya aspek kebaruan. Baik itu angle atau apa pun yang sifatnya membuat berita itu menjadi kontekstual. Bagaimana? Ada yang punya ide lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhayu Sugarda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Ada kutipan menarik dari kasus ini di buku-nya Harold Evans. Seorang pengacara, James Evans, ditugaskan memantau penulisan laporan ini agar tidak dianggap melanggar hukum. Semua artikel soal Thalidomide dia baca dengan kaca mata hukum, sebelum diputuskan bisa masuk cetak atau tidak. Saat si redaktur meminta nasihatnya tentang rencana laporan berseri tentang Thalidomide, James Evans hanya bilang, “I have the picture perfectly. Alpine tourist asks guide to take him to the top of the Eiger by the safe route…Let me think about it, mm?”. (Terjemahan: “Saya punya gambarannya. Seorang turis gunung Alpine minta arahan caranya menuju puncak Eiger melalui rute aman…Saya pikirkan dulu?”.).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-4543289676126277502?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/4543289676126277502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=4543289676126277502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4543289676126277502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4543289676126277502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/kasus-thalidomide-dan-pasca-banjir.html' title='Kasus thalidomide dan pasca banjir'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-8779606867449487449</id><published>2007-04-25T05:22:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:49.252-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Young Acehnese</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHThHPlQiII/AAAAAAAAABE/ibQUjFKzHBQ/s1600-h/13964358O685006395.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221045382587385986" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHThHPlQiII/AAAAAAAAABE/ibQUjFKzHBQ/s320/13964358O685006395.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Saturday, April 23, 2005&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="111430131197010846"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;*Note: Ever since the Emergency Military Operation in Aceh at 2003, news coverage has dangerous consequences.There are reports of news sources have been taken hours after being interviewed. The writer takes the liberty to give initials for Acehnese news source.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;'A', a 20 something Acehnese, shook his head and sneered. "These GAM are crazy if you think about it. They're crazy enough to fight the army!", said 'A' slightly amused, while both of his hands on the steering wheel and eyes fixed on the road.We were on our way to the Banda Aceh city hall to interview PLN's (government owned electricity company) General Manager of NAD Province, regarding the 2 hour black out along the north coast of Aceh, on the 15th February, between 8 to 10 pm, following rumours that GAM was responsible for the black out. This was the second time, during my stay in Aceh, that 'A' took me to where I needed to go. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;His subtle awe to GAM, made me turned my head and analysed the expression on his face. I muttered a weak yes, nodded and smiled reluctantly. Since the disastrous quake and tsunami, last December, he has been working as a rental car driver. The sudden surge of media interest, both local and international, has made several profitable businesses including car rentals. He was one of the few native Banda Aceh that didn't get hit by the tsunami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;At that moment, I realised the importance of peace talks between RI and GAM, in the midst of the Indonesian Government's and International efforts to rebuild Aceh. Now is the time to do what needs to be done almost 3 decades ago, when GAM first founded.It was never easy to fight geurilla movement such as this. The second informal peace talks started on the 21st February, at Helsinsky, Finland, ended last Thursday. It was reported that GAM agreed to have cease fire and willing to consider special autonomy under the Indonesian Government. Despite all this, conflict in the region is far from over.People of Aceh are still divided on this matter. Note that the writer has no incling on how divided the people on this issue. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;The conflict had resulted in resentment towards Javanese dissendents. This resentment comes from the fact that Indonesian military personnel assigned to this region mostly comes from Java. However, it still lies dormant and hasn't erupted into a full blown racism. As with the young Acehnese, especially in Banda Aceh, they would go about their own business, doing what most twenty something male Indonesians are interested in, such as techno music and pirated dvd's. Trying to make a decent income for them to be able to get their hands on the 'western' goods, in the midst of the horrifying outcome of the conflict endured by their distant relatives in remote areas of the Aceh province.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;'H' is another native Aceh driver, from Lhokseumawe, that I met during my time in the province covering the relief efforts. He has no reservation in driving me to areas considered to be 'black' areas, where engagements between military or law enforcements with GAM are frequent and unsafe for journalists. Whenever conversations regarding GAM come up, he shows disapproval for the suffering that the movement has caused the people of Aceh. But then, when the rumours that GAM was responsible for the black out, he offered a journalist friend of mine to meet with a GAM official living in the city of Banda Aceh. The meeting never took place because the military relief effort command centre, denies the allegation that sabotage was what caused the black out.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;GAM is real to them. Government within the government, fueling patriotism amongst the Acehnese, against the Javanese colonisation. Unethical conducts by military personnel who are frustated because of overstay in Aceh, lack of decent income for themselves and their families back home (soldier's salary: Rp. 700,000 per month) only further the repression felt by them and longing for a government, by the people - for the people of Aceh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;As for 'H', the dual government and confussion of loyalty, is no longer an issue. Indonesia is a system inwhich they are able to provide for their family, and Nanggroe Aceh(Negeri Aceh ie Aceh Nation) is where their heart lies. The freedom to speak out on what they believe in, is exercised subtly among Acehnese and hidden underneath the Aceh native language. The devastation caused by the tsunami late last year, has given the opportunity for both stakeholders, Indonesia and GAM, to start over. For the Government, a chance to build trust and simpathy of the Acehnese by running a humanitarian campain. For GAM, to take part in rebuilding Aceh as a nation.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Bhayu Sugarda&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-8779606867449487449?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/8779606867449487449/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=8779606867449487449' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/8779606867449487449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/8779606867449487449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/young-acehnese.html' title='Young Acehnese'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHThHPlQiII/AAAAAAAAABE/ibQUjFKzHBQ/s72-c/13964358O685006395.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8008128227572282801.post-4392467290359878994</id><published>2007-04-25T05:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T17:54:49.507-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Kaki'/><title type='text'>An Aspiring Reporter</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHThW84yj5I/AAAAAAAAABM/a8zI9g1yojM/s1600-h/wd5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221045652446941074" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHThW84yj5I/AAAAAAAAABM/a8zI9g1yojM/s320/wd5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Monday, April 25, 2005&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="111446497246268534"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“As an aspiring reporter”, that was what I wrote on my cover letter to Channel News Asia, Monday Afternoon, around 4.30 pm. And then, suddenly the news broke. Ersa Siregar, died with a bullet on his neck. Several reporters on duty, tried to confirm this news, and succeded.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;It was confirmed, the fatherly figure that we know as Bang Ersa died during a crossfire, between GAM and the army. His body had already been evacuated to the Korem Hospital in Lhokseumawe that afternoon, according to a source.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soon after, one of the Division Head, Atmaji sumarkijo, entered the newsroom and broke the news to everybody in the room.“After the crossfire, two bodies were found. One was a GAM soldier, and the other was a civilian. The army had confirmed that the civilian was identified as Ersa Siregar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The clatter of keyboards, the chatter of Editors, Producers and Reporters, trying to make the news for the Afternoon Program died out.But, as it quickly went silent, several reporters got working immediately. Jos ran to the library to get some visuals of Ersa, for the Afternoon News.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vida, the Weekend News Producer, searched her files endlessly for the last package Ersa had done, before his captive. Edwin arrived, just after five, to help the producers with ersa story because he was one of the few that knew Ersa, during his last days covering the conflict in Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was Headline news on Metro TV that went on air first with the news. The phone started ringing, from other medias asking for confirmation.SCTV followed, and then RCTI.Aman Wicaksono tried to hold back tears, during the newscast. So did Devi Triana.The recorded visuals and voice of Bang Ersa was heard over the air. It was his “ON CAM” during a cross fire, in his first week of his last assignment in Aceh, on July 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yulia, an off-duty Producer, arrived in the office, around 7.30 pm, shortly after cancelling her date, to help out with the plan to make a special program on Ersa, to be aired on the same night.An ‘aspiring reporter’, felt completely helpless, because the one person that aspire him to become a journalist, had past away.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8008128227572282801-4392467290359878994?l=jurnaltusirku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/feeds/4392467290359878994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8008128227572282801&amp;postID=4392467290359878994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4392467290359878994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8008128227572282801/posts/default/4392467290359878994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnaltusirku.blogspot.com/2007/04/aspiring-reporter.html' title='An Aspiring Reporter'/><author><name>Bhayu Sugarda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15723030398738881303</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/Sw9U1u09QwI/AAAAAAAAAEM/htJxdxEmrHs/S220/Bhayu+2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_gHFqPCAGzw0/SHThW84yj5I/AAAAAAAAABM/a8zI9g1yojM/s72-c/wd5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
