Thursday, January 24, 2013

INDONESIA SEBAGAI HOLLYWOOD ASIA TENGGARA





Konten apa sih yang tidak diproduksi di Indonesia? Sinetron yang merupakan kembar tapi tak serupa dari program 'Soap Opera' banyak di produksi. Film animasi baik yang dibuat untuk produk luar negeri maupun dalam negeri juga begitu. Program travelling juga banyak diproduksi. Belum lagi program kuliner. Mungkin hanya konten pornografi yang tidak diproduksi di Indonesia (video rekaman hubungan intim sejumlah artis tak masuk hitungan yah).

Pasar untuk konten Indonesia di luar negeri dinikmati bukan hanya TKI yang bekerja di luar negeri melalui satelit parabola, tapi juga warga lokal dari negeri tempat mereka bekerja. Dalam hal ini warga Malaysia maupun Singapura. Bahkan sinetron “Insyaallah Ada Jalan” ditayangkan serempak di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Mungkin ekspansi konten Indonesia pada tingkat regional cukup terasa. Tapi pada tatanan Internasional belum terlihat maksimal. Misalnya konten Indonesia pada channel televisi berbayar Asia Food Channel masih terbatas dibanding konten yang dibuat Malaysia atau Singapura. Bahkan di channel seperti Discovery, konten yang dibuat penyelia konten Indonesia tak terlihat keberadaannya.

Sejumlah kendala penyebaran konten Indonesia antara lain adalah:
  • akses ke pasar luar negeri
  • status usaha pelaku kreatif yang kerap tak jelas
  • bahasa yang digunakan pada konten bukan bahasa internasional
  • kualitas produksi yang belum tentu sesuai standar luar negeri
  • perkembangan teknologi audio-visual yang begitu dinamis

Akses ke pasar luar negeri hanya bisa dilakukan mereka yang memiliki modal cukup untuk melakukan lobby atau upaya marketing ke penyelia konten luar negeri serta memiliki pemahaman cukup mengenai bisnis konten di luar negeri. Sejauh ini kaitan industri televisi Indonesia dengan pasar luar negeri hanya berupa hubungan antara konsumen dengan produsen dan bukan sebaliknya. Sehingga belum tentu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sebaliknya (antara produsen dengan konsumen) karena pasarnya bisa jadi berbeda.

Status usaha perusahaan lokal – bukan hanya perusahaan yang bergerak di industri kreatif – juga seringkali dipertanyakan. Banyak perusahaan lokal yang tak memiliki akta usaha resmi dan bahkan meminjam akta perusahaan orang lain. Bahkan banyak perusahaan lokal yang terdaftar di pasar luar negeri tapi ternyata tak jelas domisilinya maupun kepemilikannya. Kondisi ini menyebabkan keengganan investor untuk masuk ke Indonesia. Industri kreatif menjadi lebih terdampak akibat kondisi ini karena properti intelektual bersifat abstrak. Banyak pelaku kreatif yang secara resume mengkilap tapi sesungguhnya tak demikian. Kekosongan asosiasi profesional maupun serikat pekerja di satu sisi disambut baik investor tapi di sisi lainnya menjadi tak bisa dipertanggungjawabkan kualitasnya. Untuk mengatasi kondisi ini, investor pun akhirnya seringkali menyewa jasa detektif lokal untuk memastikan kredibilitas orang perorangan maupun status sebuah perusahaan yang berdomisili di Indonesia. Akibatnya kredibilitas entitas bisnis Indonesia tak bagus di pasar Internasional.

Padahal membuka jaringan pasar luar negeri merupakan satu keharusan untuk ketahanan industri kreatif di Indonesia. Potensi konsumsi konten Indonesia bisa terlihat pada konsumsi televisi terrestrial Indonesia oleh warga Filipina, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand dan bahkan Vietnam – khususnya untuk program non-faktual. Konsumsi penonton pada negara-negara Asia Tenggara ini dilakukan menggunakan antena parabola. Bahkan ada kasus dimana seorang ulama di Filipina Selatan protes kepada media karena konten sinetron Indonesia cenderung berisi kekerasan dan menjual sensasionalitas.

Potensi ini menjadi semakin besar ketika bahasa Indonesia bisa menembus batasan negara pada lingkup regional seperti Asia Tenggara misalnya. Karena memang bahasa menjadi salah satu kendala jangkauan konten Indonesia di luar konteks nasional. Berbeda dengan Malaysia atau Singapura, penggunaan bahasa Internasional (atau bahasa lintas batas negara) seperti bahasa Inggris bukan bagian dari keseharian masyarakat Indonesia pada umumnya. Akhirnya konten untuk konsumsi nasional pun mencerminkan ini. Subtitle menjadi alat komunikasi utama untuk penjualan konten lokal ke luar negeri, meski subtitle cenderung dihindari karena pada umumnya dianggap mengganggu kenikmatan menonton.

Kualitas produksi juga menjadi kendala besar bagi konten lokal untuk dijual pada pasar luar negeri. Biasanya ini terjadi pada program faktual, karena biaya produksinya lebih rendah dibanding program non-faktual. Kendala terbesar khususnya datang dari penggunaan ilustrasi musik tanpa ijin. Program televisi faktual seringkali menggunakan ilustrasi musik Hollywood dan lainnya tanpa ijin, sehingga sulit untuk dijual ke pasar luar negeri seperti apa adanya.

Kendala lainnya adalah perkembangan teknologi dijital yang begitu pesat. Saat ini format konten yang umum berlaku pada pasar Internasional adalah High Definition (HD). Format ini jauh berbeda dengan format analog berkaitan dengan ratio dan resolusi gambar. Konten dengan ratio layar 4:3 mulai berkurang konsumsinya dan mulai digantikan konten dengan ratio layar 16:9. Kondisi ini berpotensi untuk menurunkan harga konten.

Saya meyakini, ketika kendala-kendala ini teratasi maka tak ada halangan berarti lagi untuk Indonesia menjadi Hollywood Asia Tenggara. Karena semua bahan dasar yang diperlukan agar itu terjadi sudah ada di Indonesia, yaitu pekerja kreatif yang ahli di bidangnya, aktor/ aktris berbakat maupun talent yang dibutuhkan untuk membuat tayangan berkualitas. (bay)

HARTA KARUN TERPENDAM TELEVISI TERRESTRIAL



Televisi terrestrial alias televisi gratisan memiliki karakteristik unik terkait dengan konten yang ditayangkannya. Secara umum karakteristik utamanya adalah konten hanya tayang sekali. Haram hukumnya, jika sebuah konten ditayangkan ditayangkan berulangkali selama sepekan. Kecuali tentunya siaran ulang pertandingan sepak bola. Kalau pun ada konten yang ditayangkan ulang, konten itu ditayangkan secara berurutan tanpa pengulangan langsung dari setiap episodenya. Misalnya sinetron 'Si Doel Anak Sekolahan' yang sudah ditayangkan beberapa kali di RCTI. Setiap kali diputar ulang, tiap episodenya ditayangkan sesuai urutannya. Tapi setiap episodenya ditayangkan hanya sekali. Tentunya ini berbeda dengan penayangan konten pada televisi berbayar karena justru setiap episode konten sengaja ditayangkan berulangkali dalam seminggu karena asumsinya tak semua pelanggan bisa menyaksikan pada tayangan perdana.


Pada akhirnya, tayangan televisi terrestrial secara prinsip dibuat hanya untuk sekali tayang. Padahal konten yang baik adalah konten yang bisa terus menghasilkan uang secara terus menerus. Pemahaman bisnis konten sudah sepatutnya bergeser dari sekali pakai (televisi terrestrial) menjadi sesuatu yang lebih bertahan lama. Karena keberadaan berbagai platform media memungkinkan bagi satu konten untuk ditayangkan kembali pada platform yang berbeda. Platform pada dasarnya adalah media tayang sebuah produk audio-visual. Sejumlah platform antara lain adalah televisi berbayar dan 'mobile tv' atau televisi pada perangkat bergerak seperti smartphone. Misalnya apa yang sudah ditayangkan di televisi terrestrial kemudian ditayangkan kembali di televisi berbayar. Belum lagi penayangan pada platform 'mobile tv'.

Penayangan 'cross platform' tentunya bisa memicu 'revenue stream' baru. Di Indonesia televisi berbayar saat ini cukup marak. Bahkan televisi berbayar terus bermunculan, salah satunya yang terbilang baru adalah Nexmedia. Sehingga televisi berbayar merupakan lahan tayang yang cukup menjanjikan bagi konten televisi terrestrial.

Skema pendapatannya secara umum adalah pembelian hak siar dalam bentuk lisensi. Biasanya lisensi ini memiliki sejumlah keterbatasan dalam hal antara lain:
  • periode berlakunya hak siar
  • wilayah dimana produk akan disiarkan
  • pada platform apa saja produk akan disiarkan
Periode berlakunya hak siar tergantung pada apakah produk akan disiarkan langsung atau tidak. Tentunya produk siaran langsung, seperti pertandingan sepak bola, periode tayangnya adalah sama dengan durasi penayangan produk. Sedangkan produk siaran yang bukan produk siaran langsung akan disesuaikan dengan masa tayang yang umum berlaku, seperti misalnya 1 tahun sampai dengan 5 tahun.

Pembatasan wilayah hak siar pada umumnya bersifat regional. Seperti misalnya regional Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam). Pembatasan wilayah tentunya dilakukan agar konten bisa dijual ke wilayah lain di luar wilayah yang tercakup dalam lisensi tertentu.

Sedangkan untuk platform, semakin banyak platform dimana konten akan ditayangkan tentunya akan semakin tinggi harga lisensinya. Tapi untuk sebuah konten bisa ditayangkan pada platform lain, khususnya televisi berbayar, konten harus bersifat 'timeless' atau tak terikat secara waktu. Misalnya program 'travelling' seperti Jejak Petualang atau bahkan program kuliner.

Dengan demikian, tumpukan tayangan sekali pakai pada televisi terrestrial yang hanya mengumpulkan debu pada 'library' audio-visual televisi bersangkutan bisa diolah kembali untuk menghasilkan uang. Pengolahan kembali konten ini bisa dilakukan dalam berbagai cara antara lain adalah:
  • re-use (menayangkan ulang)
  • re-produce (memproduksi ulang)
  • re-package (mengemas ulang)
Re-use artinya adalah menayangkan ulang baik pada platform yang sama maupun pada platform lain. Penggunaan kembali konten yang diproduksi untuk televisi terrestrial pada televisi berbayar sudah sering dilakukan. Misalnya pemutaran ulang sinetron pada channel khusus sinetron pada televisi berbayar (Astro TV pernah melakukan ini). Contoh lainnya adalah program masak memasak produksi Indonesia yang saat ini sudah tayang di Asia Food Channel.

Re-produce adalah produksi ulang konten yang sudah dibuat menjadi program lain. Praktek seperti ini masih belum banyak dilakukan. Misalnya program dokumenter berkaitan dengan hewan liar (seperti kuda Sumba) lalu diproduksi ulang menjadi program anak-anak. Artinya konten yang sudah dibuat sebelumnya lalu diambil sebagian untuk kemudian menjadi bagian dari elemen/ unsur program lainnya yang akan diproduksi. Apakah elemen/ unsur yang dipakai ulang itu berupa paket video, insert video maupun grafik animasinya.

Sejauh ini praktek re-produce banyak dilakukan redaksi pemberitaan televisi. Seperti misalnya paket video berita 2 menit lalu dijadikan elemen program lainnya. Program lainnya ini bisa berupa program feature/ magazine dengan menampilkan host pada fixed set di studio misalnya. Sehingga proses produksi dilakukan untuk mengemas kembali potongan berita yang sudah muncul sebelumnya pada program bulletin. Kumpulan berita kriminal pilihan pada program 'Sergap' harian lalu diproduksi ulang menjadi program feature/ magazine 'Sergap akhir pekan'.

Sementara re-package adalah pengemasan ulang konten tanpa adanya proses produksi tambahan. Misalnya yang pernah dilakukan program “Jejak Petualang” yang membuat semacam kompilasi dari program yang sudah pernah tayang sebelumnya menjadi program baru. Topik-topik yang disatukan dalam kategori kompilasi tertentu lalu ditayangkan sehingga menghadirkan konteks baru pada konten.

Potensi 'revenue stream' dari pengolahan kembali konten tidak hanya terbatas pada dalam negeri. Karena kebutuhan akan konten sangat tinggi di luar negeri. Pengemasan ulang dengan menambahkan 'subtitle' sangat mungkind dilakukan dan cenderung mudah untuk dilakukan. Sedangkan penyediaan 'dubbing' bahasa Inggris, selain menjadi lebih rumit juga memerlukan proses produksi tambahan sehingga jatuh pada kategori 're-produce'.

Artinya, jika sebuah perusahaan besar produsen konten seperti sebuah stasiun televisi tidak melakukan pengolahan ulang atas konten yang dibuatnya secara in-house – maka perusahaan itu sama saja dengan duduk di atas 'harta karun' terpendam. (bay)

Tuesday, January 25, 2011

THE ESSENCE OF VIDEO ON DEMAND

'Video on demand' pada dasarnya adalah menyaksikan video yang diminati atau 'on demand'. Teknologi untuk layanan VoD – Video on Demand sebenarnya telah tersedia sejak lama dengan adanya layanan Youtube misalnya.yang termasuk layanan VoD tertua sejauh ini. Tapi konten yang sifatnya diminati belum bisa disediakan Youtube. Beberapa faktor penyebabnya adalah sulitnya akses mendapatkan konten video yang diminati, seperti misalnya film box office, dan keterbatasan teknologinya waktu itu terkait buffering time misalnya. Namun, belakangan ini konten VoD mulai mengejar ketinggalannya melalui layanan seperti Tivo, Netflix, Amazon on Demand and Apple TV karena mereka menawarkan layanan VoD berikut konten video yang memang 'on demand'.

Dengan demikian akan sangat salah jika memberikan konten video yang sifatnya tidak diminati atau dicari alias 'on demand' dalam sebuah paket layanan VoD. First Media memiliki teknologi untuk memberikan layanan Vod yang baik melalui jaringan internet pita besarnya (broadband). Sehingga memungkinkan penikmat VoD untuk menyaksikan video yang sifatnya 'on demand' atau premium melalui layar monitor komputer mereka. Teknologi yang tersedia saat ini bahkan memungkinkan konten VoD dinikmati melalui televisi multimedia misalnya. Sejauh ini yang sudah menyediakan televisi jenis ini adalah LG dan Panasonic. Sayang, saat ini kemampuan orang untuk membeli televisi multimedia yang pada umumnya juga memiliki spesifikasi HD masih terbatas.

Wimax di lain pihak memberikan layanan yang berbeda karena memungkinkan penonton menyaksikan konten video dalam perjalanan. Alat yang dipakai untuk menyaksikan video secara 'mobile' antara lain adalah smart phone dan atau media tablet seperti Ipad, samsung galaxy atau Archos. Media tablet lebih 'user friendly' karena ukuran layarnya sehingga memungkinkan untuk menyaksikan video film box office yang berdurasi satu setengah hingga dua jam tanpa menyebabkan kelelahan pada mata. Sedangkan smart phone memiliki ukuran layar video yang tidak layak digunakan menonton video terlalu lama. Sehingga sebaiknya VoD yang ditawarkan untuk layanan mobile devices memiliki durasi yang pendek. Salah satu praktisi mobile content dalam sebuah diskusi di jaringan professional linkedin.com bahkan berani menyimpulkan bahwa video yang dinikmati di mobile devices adalah video untuk mengusir kebosanan dan kesendirian.

Tapi sekali lagi VoD secara mendasar haruslah berisi konten yang sifatnya premium, berapa pun durasinya. Tentunya konten video yang sifatnya premium akan mengeluarkan biaya produksi mahal. Karena itu dalam pembuatannya harus menjadi bahan pertimbangan bahwa video juga dibuat untuk tayangan setengah hingga satu jam di layar televisi sesungguhnya – khususnya televisi berbayar. Mengapa harus televisi berbayar? Sebab captive viewers-nya dari kalangan yang sama – menengah ke atas – sehingga kebutuhan informasinya tidak jauh berbeda.

Lalu informasi atau konten seperti apa yang dibutuhkan pelanggan televisi berbayar? Bagaimana kita bisa unggul dari penyelia konten televisi berbayar lainnya?

--- CONTENT maybe the king...among elements that make up for media

--- But among competing contents ARCHIVE is the king

Frase pertama adalah 'mantra' yang diusung desainer web di masa pra dot.com. Dalam beberapa hal frase itu masih berlaku saat ini. Tapi di antara para penyelia konten...semakin 'lengkap' sebuah konten maka semakin unggul dia dari penyelia konten lainnya. Ini bisa dilihat dari review tentang Apple TV misalnya di sejumlah referensi majalah/website teknologi. Salah satu keluhan yang muncul adalah keterbatasan konten yang tersedia di Apple TV jika dibandingkan Tivo atau Netflix misalnya. Beberapa tayangan seperti serial 'House' tidak tersedia di Apple TV sehingga dianggap mengecewakan.

Sehingga, berikut rekomendasi saya terkait rancangan web. Kategori dibagi layaknya sebuah 'video library' dibanding 'rubrik' di media cetak, seperti berikut ini:

 Animals (wildlife, pets, zoos)
 Nature (forest, rivers, mountains)
 Cultures (west, east, etc.)
 Places (monument, landscapes, historical)
 People (artists, magicians, jobs)
 Culinary/Food (cooks, foods, delicacies)
 Sport (traditional, extreme, hobbies)
 News
 Documentary
 Tutorials
 Entertainment
 Stock Shots
 Video Greetings

Tagline untuk penikmat VoD - “Visons to Empower You”.

Tagline untuk calon pembeli konten premium - “Great Content Starts Here.”

Perlu dijelaskan bahwa di kategori 'animals' akan berisi konten video binatang yang nantinya bisa dirangkai dan diramu kembali menjadi program penuh setengah jam misalnya. Tentu sebagian besar produk yang muncul adalah untuk program anak-anak misalnya. Konten dari 'nature' akan lebih kepada program travel misalnya. 'Culture' lebih kepada tentang kebudayaan sehingga produk turunannya lebih kepada program travel. Sedangkan 'Places' bisa menjadi program sejarah misalnya terutama terkait tempat-tempat bersejarah. 'People' bisa menjadi program pendidikan atau biografi. Sementara 'culinary' atau 'sport' bisa menjadi program yang sifatnya lebih spesifik seperti program masak memasak atau olahraga.

News, documentary, tutorials, entertainment, stock shots dan video greetings adalah layanan premium yang akan dijual ke penyelia konten lain atau penikmat VoD yang berminat. Turunan produknya bisa berupa news wire, full program 13 episode, dvd retail bahkan stock shot untuk film atau lainnya.

Akan sangat bagus bila ada bagian khusus untuk pembelian video lengkap 13 episode. Proses pembayarannya bisa beragam, misalnya kartu kredit atau atm misalnya. Penentuan harganya mungkin bisa juga diperlakukan layaknya RBT. Eceran tapi banyak. Alternatif penetapan harga lain adalah harga retail untuk low-resolution dan harga premium untuk high resolution HD.

Monday, January 24, 2011

BEBAN MENENTUKAN PRESTASI



BEBAN (BANDWIDTH -> UPTO):
- TELKOM FLASH (CDMA) BASIC : 256 kbps (Rp 125.000,-)/BULAN
- TELKOM FLASH (CDMA) ADVANCE : 512 kbps (Rp 225.000,-)/BULAN
- TELKOM FLASH (CDMA) PRO: 3600 kbps (Rp 400.000,-)/BULAN
- INDOSAT IM2 BROOM: 30 kbps (Rp 150.000,-)/BULAN
- XL MEGADATA GIGADATA: 30 kbps (Rp 99.000,-)/BULAN
- FASTNET 384: 384 kbps (Rp 135.000,-)/BULAN
- FASTNET 512: 512 kbps (Rp 195.000,-)/BULAN
- FASTNET 768: 768 kbps (Rp 295.000,-)/BULAN
- FASTNET 1500: 1500 kbps (Rp 595.000,-)/BULAN
- FASTNET 3000: 3000 kbps (Rp 1.195.000,-)/BULAN
- FASTNET SOHO: 1500 kbps (Rp 695.000,-)/BULAN

Berikut contoh tampilan sesuai speed (kbps) tanpa mempertimbangkan kualitas audio masing-masing, menggunakan IM2:












FAKTOR YANG MEMPENGARUHI:
- BANDWIDTH -> FASILITAS JARINGAN PENGGUNA (MAHAL/MURAH)
- BEBAN (KUALITAS VIDEO + AUDIO)->SEMAKIN BAGUS SEMAKIN BERAT
- LOKASI SERVER (LOKAL/LUAR NEGERI)

PLATFORM YANG BISA DIMANFAATKAN

Konten audio visual Kompas TV memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara komersil. Ini dimungkinkan karena perkembangan teknologi media ready, seperti misalnya tv dijital, telepon nirkabel dan media tablet. Namun, masing-masing platform memiliki keuntungan dan kerugian terutama dalam kondisi ekonomi seperti saat ini. Di bawah ini merupakan rangkuman peluang pemanfaatan platform untuk memperoleh revenue, berdasarkan observasi yang saya lakukan sebelum masuk KCM.

TELEVISI

- TELEVISI LOKAL

Televisi lokal jelas memerlukan konten program. Keterbatasan kapabilitas televisi lokal untuk membuat program menyebabkan mereka membeli program lama atau menayangkan video klip yang mereka dapatkan dari VCD/DVD bajakan. Tentunya ada beberapa televisi lokal yang cenderung makmur, seperti Bali TV dan Jawa Pos TV, sehingga mereka bisa dengan leluasa membuat program sendiri.

Skema kerjasama yang ditawarkan televisi lokal pada umumnya adalah kerjasama dan keuntungan dibagi berdasarkan pemasukan iklan. Mereka cenderung menolak untuk membeli program. Content Provider atau pembuat konten televisi biasanya menggunakan televisi lokal sebagai eksposur dan bukan mengharapkan programnya untuk dibeli. Diantaranya VOA, Tempo TV dan Astro Awani. Ketiganya tidak mendapatkan revenue/pendapatan langsung dari televisi lokal.

Salah satu ide yang sempat saya kembangkan adalah PROGRAM KNOCK-DOWN. PROGRAM KNOCK-DOWN adalah produk audio visual berupa kelengkapan program yang nantinya bisa di-‘bangun’ sendiri oleh televisi lokal. Seperti misalnya:

• Skrip
• Virtual set
• Bumper In/Out, Short Bumper
• Insert Video
• Graphics
• Music illustration
• Props

Keuntungannya setial tv lokal bisa membuat program itu sesuai dengan ke-khasan masing-masing. Harga pembelian untuk 13 episode pun menjadi jauh lebih murah. Biaya pembuatannya pun bisa di-‘tekan’ karena tak memerlukan presenter atau set yang dibuat terlebih dahulu.

- TELEVISI NETWORK (SOON TO BE)

Untuk televisi network (seperti misalnya TV One, RCTI, etc) sejauh ini hanya ada beberapa yang menerima pembelian produk dari luar (alias commissioning). Antara lain Metro TV, TV One dan Trans TV. Saat ini yang sedang gencar-gencarnya mencari produk dari luar adalah TV One (bagian programming sedang men-develop program dokumenter dengan kualitas produksi tinggi hingga bujet per episode-nya mencapai 50 juta rupiah dan produksinya terbuka untuk PH). Contoh program dari luar yang tayang di Metro TV seperti i-Witness dan program otomotif.

Kendala terbesar dari televisi network adalah masalah lolos QC dan rating. Jika lolos QC tapi lalu ratingnya dianggap buruk, maka program itu tidak akan bertahan lama. Contoh kasus adalah program Kafe Finansial yang hanya tayang sebanyak 6 episode di TV One.

- TELEVISI BERBAYAR

Sejauh ini, First Media terus berupaya membuat news channel. Sementara Indovision telah menayangkan konten hasil produksi MNC. Antara lain channel news dan musik.

Telkomvision di lain pihak sangat terbuka dengan proposal kerjasama dari pihak ketiga. Sejumlah kerjasama yang sempat ditawarkan Astro Awani berkaitan dengan channel bisnis, pembuatan program olahraga dan mobile content (untuk telkomsel).

Televisi berbayar AORA juga kabarnya akan segera menandatangai MOU dengan investor yang memungkinkan mereka menyajikan 60 channel.

DVD RELEASE

- DVD RETAIL

Sejumlah DVD retail yang sifatnya non-hiburan ternyata juga banyak dibeli konsumen. Seperti misalnya seri National Geographic dan seri BBC documentaries. Memang rawan bajakan, tapi selama ini bukan hiburan komersial (alias hollywood/bollywood/indowood) saya pikir pasar retail tetap menjadi pasar yang menarik untuk dijajaki.

- DVD SUPLEMEN

Selama ini hanya majalah PC Media yang memberikan DVD suplemen. Padahal DVD suplemen dengan konten audio visual juga menarik untuk dijadikan DVD suplemen majalah. Sejumlah proposal yang sempat saya buat antara lain untuk majalah musik (sejalan dengan program showbiz) dan majalah teknologi (kontennya bisa berupa ‘tips & trick’ atau ‘how to’). Tapi perlu diperhatikan bahwa prinsipnya apa yang tayang di Kompas TV bisa kemudian menjadi produk dalam bentuk lain pada platform yang berbeda. Sehingga tidak ada program/tayangan/visual yang hanya digunakan/ditayangkan sekali dan bisa terus menghasilkan revenue.

TELEVISI DIJITAL

Setidaknya ada dua kelompok besar produk turunan televisi dijital, yaitu: IPTV dan Hand Phone.

- IPTV

IPTV merupakan TV menggunakan jaringan Internet Protocol. Jadi siarannya hanya mungkin menggunakan jaringa internet. Ini dimungkinkan menggunakan Set Top Box. Sejauh ini LG sudah meluncurkan Set Top Box produksinya. Salah satu keunggulan Set Top Box adalah memungkinkan untuk merekam program tertentu dan siap untuk di-‘playback’ ketika pemiliknya tiba di rumah.

- HANDPHONE/PDA

Handphone saat ini tidak banyak menjadi platform audio visual kecuali yang ‘media ready’ seperti i-Phone 3G, Blackberry Storm dan PDA berbasis OS windows-mobile. Pada umumnya pengguna men-download konten audio visual menggunakan PC/laptop sebelum memindahkannya ke handphone/PDA untuk ditonton saat menunggu dokter gigi dan lain sebagainya. Kalau bicara konten audio visual pada perangkat bergerak berarti dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu online dan offline:

• Online

YouTube dengan mudah dinikmati di i-Phone 3G. Sedangkan pada perangkat Blackberry tidak bisa dinikmati karena BB tidak men-support flash player. PDA bisa dengan mudah dinikmati menggunakan player video streaming, tapi kualitasnya tak terlalu bagus. Dengan demikian, layanan yang ditawarkan sejalan dengan konsep Video On Demand. Skema revenuenya jika dilihat dari Zulu adalah menawarkan konten yang gratis tapi juga menawarkan skema PREMIUM dengan konten-konten premium dan tidak tersedia di bagian konten gratis. Skema PREMIUM bisa berlangganan ‘unlimited download’ atau bayar per satuan konten.

• Offline

Contoh layanan ‘offline’ adalah layanan yang ditawarkan RealPlayer. Mereka mengharuskan pengguna untuk me-register nomer kartu kreditnya dulu sebelum menggunakan layanan gratisnya sehingga setiap saat pengguna hendak men-download film tertentu tagihannya otomatis masuk ke kartu kredit.

Contoh lainnya adalah NetFlix. Yang menarik dari NetFlix adalah mereka memberikan layanan download melalui perangkat Xbox 360.

Produk ‘offline’ bukan hanya monopoli perangkat hand-phone tapi juga operator telepon selular. Contohnya adalah WAP Indosat maupun WAP Telkom 3G. Pelanggan operator itu bisa mendownload konten mobile sesukanya melalui WAP.

MEDIA PLAYER

- I-POD/ I-PAD

I-Pod/ I-Pad memberikan layanan download konten audio visual melalui situsnya. Konten yang di-download bisa langsung dimasukkan ke dalam I-Pod.

- ARCHOS

Selain I-Pod ada lagi produk media tablet yaitu Archos. Archos memang di-desain sebagai perangkat ‘playback’ layaknya I-Pod. Yang menarik adalah Archos bisa terhubung dengan jaringan internet (menggunakan perangkat tambahan) sehingga bisa menonton YouTube maupun Google Video di perangkat itu. Archos juga bisa disambungkan ke televisi sehingga bisa menikmati konten audio visual di layar televisi di rumah, selain menggunakannya saat bepergian.

TELEVISI LUAR NEGERI:

Sejumlah perusahaan content provider luar negeri memiliki channel-nya sendiri dan menjualnya sebagai bagian dari konten televisi berbayar. Antara lain Asia Food Channel (First Media & Indovision), Discovery Travel & Living, Animal Planet dan National Geographic.

Konten dalam Asia Food Channel kebanyakan dibuat perusahaan Singapura dan India. Programnya berkaitan dengan makanan di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura seperti di Asia Selatan seperti India. Program yang menggunakan presenter Malaysia dan menyajikan makanan khas Malaysia ada di channel ini. Tapi program dengan presenter Indonesia dan makanan khas Indonesia tidak ada. Artinya program Kompas TV yang sifatnya kuliner bisa menjadi produk menarik bagi channel ini.

Begitu juga dengan channel Discovery Travel & Living. Tapi cakupannya jauh lebih luas, sehingga tidak hanya meliputi makanan tapi juga alam. Saya sempat menjajaki kemungkinan ini dengan mendaftar sebagai ‘possible program supplier’ pada situs khusus untuk produser dari Discovery Travel & Living. Tapi ada kabar bahwa sulit sekali memasukkan program melalui situs ini. Kabarnya ide yang masuk melalui situs itu belakangan digarap oleh tim produksi dari perusahaan penyedia jasa produksi luar negeri di Indonesia seperti Asia Works dan In-Focus. Jadi tidak jatuh ke produser yang mengajukan ide program melalui situs itu.

Animal Planet merupakan bagian dari network Discovery Travel & Living. Sementara kekayaan alam Indonesia yang tayang di National Geographic, kebanyakan digarap oleh Allan Compost.

Selain itu tentunya adalah kantor berita seperti APTN & Reuters. Peluang kebutuhan konten dari Indonesia di tingkat regional saya pikir cukup kuat. Mungkin perlu menjajaki kebutuhan informasi dari Indonesia untuk negara seperti Vietnam, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam dan Malaysia.

KONSEPTUALISASI PROGRAM INTERNET TV

Platform : Situs internet TV
Rasio ukuran layar : 16:9
Format : Live streaming dan Video On Demand
Durasi : 30 menit dan 2 menit

Konten dari iNTERNET TV jelas merupakan materi audio visual. Konsep dasar INTERNET TV yang baru adalah internet tv sebagai platform. Apa bedanya internet TV dengan tayangan televisi bebas bayar dan televisi berbayar? Tidak ada bedanya. Karena internet TV adalah tayangan televisi yang ditayangkan menggunakan saluran jaringan internet. Di Indonesia saat ini sudah banyak situs yang menawarkan layanan tv internet. Sejumlah situs tv streaming Indonesia antara lain adalah www.mivo.tv, www.indoweb.tv dan www.jakartacityview.com.

Tak bisa dipungkiri tv internet memiliki keterbatasan yaitu ketergantungannya terhadap jaringan internet. Semakin kuat jaringannya, pengunjung situs semakin bisa menikmati tv internet. Jika jaringan yang digunakan bukan jaringan pita lebar atau broadband tentunya kelancaran tayangan untuk disaksikan pengunjung situs akan terganggu. Pengalaman atau ‘experience’ dari pengunjung situs saat menonton tv streaming menjadi seperti ‘stop’ and ‘go’.



Diagram 1: TV Streaming – Mivo TV

Itulah tantangan sekaligus keunggulan yang diharapkan bisa tercapai untuk INTERNET TV. Sehingga target audiens dari INTERNET TV adalah bukan pengguna broadband melainkan pengguna internet dengan layanan di bawah layanan broadband. Pemikirannya adalah semakin tayangan INTERNET TV bisa dinikmati tanpa menggunakan jaringan broadband semakin luas penontonnya.

Namun, INTERNET TV tidak hanya menawarkan internet tv. INTERNET TV juga menawarkan dua fitur utama lainnya, yaitu Video On Demand dan Multi Media. Prinsipnya adalah konten internet tv usai ditayangkan akan di-archive atau disimpan tapi bisa disaksikan kembali kapan saja dalam fitur Archive Show dan bagian tertentu dari program akan dicacah untuk menjadi konten video yang bisa dinikmati secara terpisah. Konten video ‘pecahan’ itu akan menjadi konten Video On Demand.



Diagram 2: Archive Show – NDTV (New Delvi Television)

Fitur Video On Demand pada intinya adalah katalog video yang bisa di-akses pengunjung situs. Pengunjung bisa dengan aktif memilih tayangan apa yang diinginkannya, sehingga fitur ini bertolak belakang dengan internet tv (tv streaming) yang cenderung dinikmati secara pasif oleh pengunjung. Tapi konten Video On Demand memiliki kendala yang sama dengan internet tv, yaitu keterbatasan kemampuan jaringan internet.



Diagram 3: Video On Demand – MSN videos

Situs Video On Demand yang paling banyak diakses pengunjung situs internet antara lain You Tube, Zulu dan MSN video. Karakteristik dari situs Video On Demand ini adalah pengunjung situs bisa menikmati konten video secara ‘online’ dan ‘ofline’. Artinya jika konten video dinikmati saat terhubung dengan internet maka konten video itu dinikmati secara ‘online’. Sedangkan jika konten video dinikmati pasca proses unduh, maka konten video itu dinikmati secara ‘offline’. Netflix adalah salah satu situs yang menawarkan konten video secara ‘offline’.

Keduanya merupakan bentuk yang inferior dibanding televisi dalam hal kepuasan menikmatinya karena penonton terhambat saat menikmatinya. Konten video ‘online’ berjalan tersendat-sendat ketika terhubung dengan jaringan internet bukan broadband. Sedangkan konten ‘offlline’ harus unduh atau ‘download’ selama beberapa menit sebelum bisa dinikmati.

Untuk mengatasi hambatan itu, jalan keluarnya adalah membuat proses menunggu (baik karena tersendat maupun karena perlu waktu mengunduh) harus dibuat senyaman mungkin. Caranya dengan membatasi durasi konten audio visual Video On Demand. Melalui proses uji coba pada situs portal video berita www.astroawani.co.id maka disimpulkan durasi ideal untuk konten Video On Demand adalah 2 menit. Alasannya karena paket berita minimal berdurasi 1 menit lebih. Durasi 2 menit dipilih agar bisa lebih leluasa dalam mengeksplorasi gambar dan cerita, tapi juga sekaligus bisa membuat penonton nyaman dalam menontonnya. Selain itu, durasi 2 menit dianggap ideal karena proses loading gambar akan ‘terlihat’ cukup cepat di layar sehingga tidak menguji kesabaran penonton.



Note: Keterkaitan durasi yang lebih pendek sehingga proses loading lebih mudah belum sepenuhnya terbukti karena sebenarnya kondisi jaringan broadband memiliki pengaruh sama baik terhadap konten berdurasi pendek atau panjang. Pemahamannya adalah jika jaringan broadband dalam kondisi padat, tingkat kenyamanan penonton menyaksikan live streaming tetap akan sama terhadap konten berdurasi 2 atau 30 menit.

Terlepas dari durasi konten Video On Demand maksimal 2 menit, proses produksi harus didasari program televisi dengan kelipatan 30 menit terlebih dahulu sebelum dipecah menjadi konten audio visual berdurasi lebih pendek. Karena konten awalnya akan ditayangkan di internet tv sebelum dipecah menjadi konten Video On Demand.



Diagram 5 menjelaskan bahwa program televisi berdurasi 30 menit dibuat sebagai konten yang potensial untuk platform televisi bebas bayar, televisi berbayar dan internet tv. Tapi untuk saat ini platform televisi bebas bayar dan televisi berbayar bukanlah prioritas INTERNET TV. Sehingga saat ini program televisi dibuat untuk memasok konten untuk internet tv melalui tayangan live streaming.

Program itu lalu dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau pendek durasinya untuk memasok konten Video On Demand baik ‘online’ maupun ‘offline’. Pemecahan program dilakukan berdasarkan unsur atau elemen yang terkandung dalam program itu. Elemen-elemen yang menjadi bagian dari program televisi pada dasarnya baku.

PENJADWALAN UNTUK MEMETAKAN PROGRAM SESUAI TARGET AUDIENS

Penjadwalan merupakan bagian penting dalam pembuatan program karena dengan penjadwalan program perencanaan produksi program menjadi lebih mengerucut dan spesifik. Misalnya penentuan target audiens untuk program otomotif bukan hanya pada tahapan penggemar otomotif, tapi sudah menjadi penggemar otomotif antara usia 20 s/d 30 tahun, atau penggemar otomotif di atas 30 tahun. Dengan demikian pendekatan terhadap program menjadi lebih spesifik.

Selain itu, kegunaannya adalah penentuan prioritas penjadwalan program khususnya pada tahap awal pembuatan internet TV. Misalnya di tahap awal internet tv penjadwalan dibuat saat ‘peak hours’ situs berita terkait untuk melihat seberapa jauh pengunjung berita dot com tertarik mencoba internet tv. Karena penjadwalan dibuat saat peak hours maka data yang terkumpul dari kunjungan situs menjadi ‘bench mark’ yang harus dipertahankan. Teorinya adalah jumlah pengunjung internet tv saat ‘peak hours’ kompas.com merupakan indikator kuat keberhasilan internet tv, sehingga jumlah pengunjung saat ‘peak hours’ itu menjadi patokan jumlah pengunjung yang harus dikejar pada jam-jam lainnya.

Berbeda dengan perilaku menonton televisi bebas bayar, penonton internet tv bergantung pada saat pengguna internet berada di depan monitor komputer. Jam atau waktu saat pengguna internet berada di depan komputer menjadi salah satu pertimbangan saat menentukan jadwal program. Kemudian perilaku pengguna internet dipecah menjadi berbagai kelompok masyarakat seperti laki-laki dan perempuan, bekerja atau tidak bekerja, tua dan muda, di bawah 20 tahun atau di atas 20 tahun serta pengguna aktif kartu kredit di internet atau tidak. Yang terakhir menentukan ‘buying power’ dari penonton internet tv. Karena jika sekedar memiliki ‘buying power’ tapi tidak memiliki kebiasaan menggunakan kartu kredit di internet dampaknya terhadap situs akan sama saja.

Penjadwalan atau ‘programming’ dibuat secara berlapis. Lapisan pertama merupakan program bulletin. Program bulletin merupakan prioritas pertama karena program bulletin merupakan ‘showcase’ dari internet tv. Program bulletin menjadi produk andalan internet tv sebagai sebuah media pemberitaan. Sehingga program bulletin per hari dalam sepekan disebar sesuai batasan waktu tertentu, misalnya antara pukul 7 pagi s/d pukul 1 siang. Idealnya programming memang dibuat untuk siaran 24 jam seperti layaknya sebuah channel berita 24 jam. Tapi sah saja jika di awal tahap pembuatan di batasi hanya beberapa jam.

Kemudian lapisan kedua merupakan program non bulletin. Program bulletin ditempatkan sesuai dengan saat dimana target audiensnya berada di depan komputer. Misalnya program otomotif untuk penggemar otomotif antara usia 20 s/d 30 tahun sengaja ditayangkan setelah pukul sembilan pagi karena asumsinya mereka lebih mungkin berada di depan komputer pada jam itu.

Lalu, lapisan ketiga adalah program yang dibeli (akuisisi) atau dipesan (commissioning). Program pesanan atau ‘commissioning’ adalah program yang minta dibuatkan Production House dengan supervisi dari pemesan. Jika lapisan pertama dan kedua telah terisi, yang dilakukan seorang programmer hanya menentukan jenis program yang harus ada di antara program bulletin serta non bulletin sesuai dengan peta perilaku menonton pemirsa internet tv. Jika misalnya antara pukul 8 pagi s/d pukul 10 pagi adalah ibu rumah tangga maka program yang ditayangkan pada jam itu adalah program yang disukai ibu rumah tangga dengan tingkat intelejensi cukup tinggi serta pelanggan layanan internet.



KESIMPULAN

Pemetaan pengunjung sebuah situs berita dalam sehari diperlukan pada tahap pembuatan internet tv. Pemetaan pengunjung situs internet tidak hanya diperlukan untuk memudahkan pembuatan program tapi juga berfungsi untuk menentukan keperluan kapabilitas produksi sampai batas waktu tertentu. Misalnya untuk 3 bulan mendatang karena hanya akan siaran 6 jam setiap hari dengan asumsi penayangan 4 program produksi sendiri maka diperlukan kapabilitas produksi setidaknya x jumlah campers (kameramen) dan x jumlah produser. Untuk 3 bulan berikutnya, jam tayang akan ditingkatkan menjadi 8 jam sehari dengan asumsi x program produksi sendiri dan seterusnya.

Penilaian yang dilakukan Alexa untuk menentukan keberhasilan situs (dinilai berdasarkan hit atau jumlah pengunjung sesuai rubrik) belum cukup untuk memetakan pengunjung situs internet terkait jender, usia dan status ekonominya. Penilaian Alexa hanya bisa digunakan untuk menentukan ‘peak hours’. Sedangkan penilaian berdasarkan rubrik tidak sepenuhnya mencerminkan ketiga hal tadi. Misalnya rubrik ‘Perempuan’ tentunya dikunjungi sebagian besar pengguna internet perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan pengunjungnya adalah laki-laki karena indikator untuk itu tidak cukup hanya berdasarkan rubrik. Perlu dilakukan survey untuk memetakan peta pengunjung internet tv.

PROSES PRODUKSI BERITA TELEVISI

Produksi berita televisi dilakukan sesuai SOP (standard operating procedure) produksi konten audio visual lainnya seperti film dan televisi. Sejumlah tahapan yang umum dalam industri audio visual harus dilalui untuk menghasilkan produk audio visual yang sesuai standar. Tahapan itu adalah:
- Pra Produksi
- Produksi
- Pasca Produksi

Idealnya tahapan-tahapan di atas dijalani secara berurutan. Artinya tahapan pertama harus selesai sebelum bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya. Namun, berbeda dengan proses produksi sinetron atau film, produksi berita televisi dilakukan dengan cepat. Bahkan pada situasi tertentu tahapan satu dengan lainnya dilakukan secara bersamaan, sehingga tidak menunggu tahapan satu selesai sebelum bisa memulai tahapan selanjutnya.

Perbedaan lainnya adalah materi audio visual yang diburu. Produksi berita televisi memanfaatkan audio visual seperti apa adanya dan tanpa manipulasi. Sehingga pengambilan gambarnya pun dilakukan ‘as it happen’ atau saat sebuah peristiwa sedang berlangsung. Berikut adalah tahapan produksi pembuatan berita televisi.

PRA PRODUKSI

Tahap Pra Produksi dipahami sama baik di industri film, televisi maupun lainnya. Tahapan ini adalah tahapan dimana perencanaan dan detil petunjuk pelaksanaan produksi konten audio visual dibuat. Misalnya perencanaan pengambilan gambar berdasarkan interpretasi sutradara film terhadap skenario yang digarapnya dibuat menggunakan papan gambar atau ‘story board’. Setiap detil sudut pengambilan gambar dibuat sketsanya sehingga saat pelaksanaan Director of Photography (DOP) memiliki panduan dalam mengatur shot.

Tapi dalam produksi berita harian televisi tidak perlu sampai seperti itu. Beberapa hal yang biasa dilakukan pada tahap pra produksi antara lain adalah riset dan daftar harapan atau WISHLIST. WISHLIST adalah daftar sejumlah hal yang diharapkan diperoleh tim liputan saat berada di lapangan. Salah satu unsur dalam WISHLIST adalah urutan VISUAL/SHOT LIST. VISUAL/SHOT LIST adalah urutan gambar yang diinginkan produser sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan bentuk sederhana dari STORYBOARD. WISHLIST juga seringkali disamakan dengan TOR atau Terms Of Reference.

CONTOH WISHLIST:

WISH LIST 1

REP/CAM : ULUNG/ AMRUL
LOCATION : DEPOK
DURATION :
DEADLINE :
PROGRAM : TELAAH
PRODUSER : BHAYU SUGARDA

BACKGROUND:

Maraknya perselingkuhan menjadi salah satu yang mendorong orang untuk menyewa detektif swasta. Selain itu status pernikahan yang seringkali disembunyikan juga menjadi penyebab lainnya. Namun, yang menarik adalah detektif swasta marak di perkotaan. Apa kaitannya antara perselngkuhan dengan perkotaan? Apakah kehidupan perkotaan yang begitu individualistis yang mendorong orang untuk berselingkuh? Apakah benar masyarakat perkotaan lebih cenderung untuk melakukan perselingkuhan?

NARASUMBER : ERNA KARIN, SOSIOLOG

SOUNDBYTE TARGET:
“Perselingkuhan memang banyak terjadi di perkotaan. Jarangnya bertemu dan sifat individualistis yang kerap melanda masyarakat perkotaan juga mendorong ini terjadi...”

“Tekanan di tengah sosial masyarakat materialistis juga mendorong ini terjadi..sehingga orang cenderung menyembunyikan apa yang dianggap tidak lazim dari masyarakat...”

“kesibukan masyarakat perkotaan, karier, juga memicu orang untuk sulit berinteraksi dengan pasangan. Akhirnya yang muncul adalah kekecewaan dan pelarian...”

DATA TARGET:
• data perselingkuhan tahun 2008
• data perkawinan di bawah tangan/siri tahun 2008

VISUAL/SHOT LIST:
• set up sosiolog di tengah masyarakat yang penuh kesibukan
• format wawancara yang suram kalo bisa dipertahankan – tapi wajahnya jangan disembunyikan...hehehhe.

WISH LIST 2

REP/CAM : ASTI/ IGUN
LOCATION : PANCORAN
DURATION :
DEADLINE :
PROGRAM : TELAAH
PRODUSER : BHAYU SUGARDA

BACKGROUND:

BODY GUARD ada yang profesional dengan sejumlah skill yang memang diperlukan dalam bertugas. Seperti bela diri, penggunaan senjata api, dll. Tapi ada sebagian yang menanganggap enteng pekerjaan sebagai body guard. Padahal ada seni dibalik itu.
NARA SUMBER: Satpam yang menawarkan jasa pengamanan pribadi atau body guard

SOUNDBYTE TARGET:
“yah saya pikir pengalaman sebagai satpam cukup untuk menjadi body guard. Karena saya bisa bela diri...lagipula saya khan punya sertifikat satpam!”
“Kalo ada orang yang macam2 saya pake jurus ini...ciaaaaat”
“sejauh ini klien saya tidak pernah mengeluh. Bahkan saya pun sering diminta menjaga pak RT dan acara besar lainnya seperti 17 agustusan...”
“kalo saya berhadapan dengan preman saya tidak takut...saya tidak perlu senjata...karena saya khan punya jimat ini nih...”

DATA TARGET:
• Berapa lama bekerja sebagai satpam?
• Berapa banyak kliennya sejauh ini?
• Sudah menjadi body guard berapa lama?
• Siapa saja kliennya?
• Tarifnya berapa?

VISUAL/SHOT LIST:
• visual dia latihan
• visual dia lagi bertugas
• visual dia lagi berkumpul bersama satpam tempat dia bekerja dulu

Untuk sebuah laporan mendalam dengan durasi 30 menit, WISHLIST dibuat berdasarkan porsi dari liputan mendalam itu yang akan dilakukan keesokan harinya. Sehingga WISHLIST yang dibuat bisa lebih dari satu dan satu WISHLIST bisa melengkapi WISHLIST lainnya. Satu SEGMEN bisa dibuat dengan 4 atau 5 wishlist.

PRODUKSI


Rencana yang dibuat dengan WIHSLIST bisa jadi berbeda dengan kondisi lapangan. Misalnya nara sumber yang ditargetkan untuk menjadi tokoh utama cerita ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Belum lagi apabila terjadi perkembangan lain yang jauh lebih menarik. Jika ini terjadi maka seorang Produser harus memiliki alternatif rencana sehingga proses produksi tetap bisa berjalan tanpa membuang biaya percuma.
Biasanya 1 WISHLIST bisa diselesaikan dalam waktu sehari. Untuk liputan harian, hasil liputan memiliki target untuk ditayangkan pada program berita harian terdekat. Misalnya liputan pagi akan ditayangkan untuk program berita sore. Sedangkan hasil liputan siang untuk program berita harian malam. Sementara untuk laporan mendalam, liputan yang belum selesai karena satu dan lain hal bisa dilanjutkan keesokan harinya.

Berkaitan dengan lama produksi tim liputan dalam sehari, aturan yang berlaku mengikuti aturan umum karyawan yaitu sekitar 9 jam. Jam bekerja itu sudah termasuk proses membuat ‘rough-cut’ atau edit kasar dari hasil liputan bagi campers dan skrip bagi reporter, sehingga memudahkan editor yang akan meng-edit hasil liputan. Skrip akan di-edit oleh produser dan audio visual akan di-edit oleh editor visual. Dengan demikian produksi di lapangan otomatis hanya sekitar 5 s/d 6 jam. Karena itu perencanaan perlu dibuat sematang mungkin sehingga pada saat pelaksanaannya semua berjalan lancar dan hasilnya memuaskan.

PASCA PRODUKSI

Pada tahapan ini, skrip yang telah di-edit produser dan ‘rough cut’ buatan campers akan diserahkan kepada editor visual. Reporter akan mendampingi editor untuk membantu ‘dubbing’ atau membacakan narasi serta mendampinginya meng-edit hasil liputan. Pendampingan ini perlu agar laporan akurat baik secara narasi maupun secara audio-visual. Hasil akhir akan di-preview oleh produser sebelum akhirnya tayang. Jika ada perbaikan produser berhak meminta editor dan reporter untuk mengedit ulang laporan itu.

Sementara untuk laporan mendalam, hasil liputan reporter diserahkan kepada produser. ‘Rough cut’ buatan campers diserahkan ke editor dan skrip diserahkan ke produser untuk diolah lebih lanjut menjadi tayangan yang koheren selama 30 menit. Untuk laporan mendalam selama 30 menit lama proses produksi (pra, produksi dan pasca produksi) bisa menghabiskan waktu 2 pekan atau 14 hari.

STEP BY STEP PRODUKSI LAPORAN MENDALAM

Tahapannya kurang lebih sebagai berikut:

PRA PRODUKSI

Hari 1:

Riset topik laporan mendalam untuk pitching saat rapat redaksi. Sejumlah ide topik disiapkan produser untuk dibahas lebih jauh dalam rapat redaksi. Supervising editor dan Pemred turut menghadiri rapat itu dan kemudian memutuskan topik yang akan digarap menjadi laporan mendalam.

Hari 2:

Riset mendalam dilakukan produser bersama dengan reporter. Tujuannya agar reporter mengerti betul arah dan tujuan liputan mendalam sebuah topik tertentu. Sehingga reporter tidak lagi bingung apa yang harus dilakukannya saat berada di lapangan. Selain itu, reporter menjadi lebih terlibat dalam membangun ‘story’ dan menjadi lebih peka terhadap dinamika lapangan.

Hari 3:

Produser bekerjasama dengan reporter mulai menentukan nara sumber serta pemilihan ‘human example’ atau tokoh utama laporan mendalam itu. Setelah pemilihan nara sumber telah disepakati, reporter menghubungi nara sumber untuk membuat janji liputan keesokan harinya. Sementara produser sudah mulai merangkai cerita dan mempersiapkan WISHLIST liputan.

PRODUKSI

Hari 4 s/d 10

Liputan dilakukan selama 7 hari. Hampir setiap hari reporter membuat laporan hasil liputannya dan menyerahkannya kepada produser. Produser dan reporter juga membahas lebih jauh perkembangan di lapangan sebelum menentukan liputan keesokan harinya. Sementara campers mengumpulkan hasil ‘rough cut’ liputannya di tempat penyimpanan yang telah ditentukan sebelumnya. Selama itu produser akan mengawasi serta mengevaluasi hasil liputan sehingga bisa memutuskan apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Perlu dicatat proses produksi tidak harus 7 hari kerja karena itu tergantung seberapa jauh laporan yang diinginkan.

PASCA PRODUKSI

Hari 11 s/d 12

Dua hari terakhir produksi digunakan untuk melengkapi audio visual. Misalnya gambar cantik alias ‘beauty shot’, sekuen pembuka tayangan atau sekuen sebagai ‘bridging’ atau sekuen yang menjembatani satu bagian cerita ke bagian lainnya.

Hari 11 s/d 14

Sementara proses editing sudah berjalan. Pada hari ke-11 editor akan mem-preview gambar yang telah terkumpul dan memastikan semua gambar yang dibutuhkan skrip telah tersedia. Editor juga mengidentifikasi jika ada gambar yang kurang dan perlu ‘shot’ tambahan. Pada hari ke-12, editor sudah mulai melakukan proses editing. Proses editing akan didampingi oleh produser. Produser juga berkewajiban memberikan segala kelengkapan yang dibutukan editor dalam bekerja, seperti misalnya grafik dan ilustrasi musik.

CONTOH SKRIP LAPORAN MENDALAM

Monday, January 4, 2010

In Memoriam: Abdurrahman Wahid


In 2006, Hollywood churned another comedy by Barry Levinson. Why do I mentioned one of his film at all? Because this is another good example of life imitating art and vice versa...well, at least in the context of the late Abdurrahman Wahid. The title of the movie was 'Man of The Year'. The star was Robin Williams, playing a comedian who mistakenly became the United States President.

I will not bore you with the Hollywood formulated scenario of that movie. But I will tell you a little more about Abdurrahman Wahid. Was he a comedian? The answer is yes. Was he an ex President? Yes! Was he considered to be one of the most, if not the most influential Muslim cleric in Indonesia? Yes! Did he go through a similar predicament as Tom Dobbs, the character that was played by Robin Williams in that movie? If that question is reffering to the short period of time that Dobbs played the role as the President of the United States...well, Gus Dur only manages to stay seated on the President's chair less than half of the five year period. However, Dobbs was not a genius, whereas many people consider Gus Dur to be a great humanitarian and a brilliant thinker.

The image of Abdurrahman Wahid wearing a short pants and a shirt greeting the crowd still is a controversial image. His frank remarks about many issues in Indonesia had bewildered and shocked many people. His unpredictable political decisions had often confused his folowers. There is no grey area with Gus Dur...only total opposites. People who love him and people who don't. He may be a natural comedian, but what he speaks of is no laughing matter. He may be the leader of Nadhatul Ulama, but he is also considered to be the most outspoken pluralist in Indonesia. Believe it or not, he even has 2 birth dates. He was born 4th of Sya'ban, the eigth month in the Islamic calender, 1940. Which means he was born 7th of September 1940. However, he chose to celebrate his birthday on the 4th of August.

Some want him to be given the title of national hero. Me personally, would rather have him as a great comedian. Simply because I don't think he would have liked to become a national hero...because I think he would consider that too much of a fuss. By the way, that was the catch phrase he made popular - "Why make so much fuss?".

Thursday, December 3, 2009

Ada-ada Saja (2)

Seorang presenter membaca berita tentang salon khusus untuk anjing piaraan. Sang presenter membaca berita sebagai berikut: "Sehingga salon ini menjadi tempat yang menyenangkan bagi ANJIR...". Hampir secara bersamaan, PD maupun crew studio lainnya menirukan kata terakhir yang diucapkan Fitri Megantara karena sadar mereka harus me-retake pembacaan berita itu.

Seorang reporter melakukan PTC (Person To Camera) di sebuah terminal bus. Namun ia harus mengulang PTC-nya berkali-kali karena apa yang dikatakannya tak sempurna. Tanpa diketahuinya, orang-orang di sekitar tempatnya melakukan PTC mulai berkumpul dan duduk mengelilinginya. Mereka pun menjadi terlibat dalam proses pengambilan gambar. Setiap kali si reporter memulai kembali PTC-nya mereka diam. Setiap si reporter melakukan kesalahan mereka ikut menyesali apa yang terjadi. Sampai akhirnya si reporter berhasil menyelesaikan PTC-nya dengan baik. Mereka pun memberikan pengakuan kepada Louisa Kusnandar dengan tepuk tangan dan suara-suara pemberi semangat.

Seorang produser menunggu telepon dari Studio di Jakarta untuk memberikan laporan tentang suasana di Giri Bangun. Saat itu, jenazah mantan Presiden Soeharto akan segera tiba di bandar udara terdekat. Sang Produser menggunakan televisi hitam putih dengan layar 5 inci yang dibelinya seharga 3 ratus ribu malam sebelumnya. Televisi itu ia pangku di pahanya sembari menutup bagian depan layar dengan tangan karena panas matahari menghalanginya melihat siaran langsung TVRI dari bandar udara. Posisinya pun kurang menguntungkan karena untuk mendapatkan listrik, ia harus mencolokkan listriknya dekat mixer audio system yang dipasang di Giri Bangun di pinggir lapangan parkir. Tiba-tiba teleponnya berdering. Sang produser pun bersiap memberikan laporannya. Sayang bukan studio di ujung sana, tapi suara reporter yang ditugaskan bersamanya meliput peristiwa itu.
Reporter: "Mas Bhayuuu...kakiku keinjek Kopassus....".
Produser: (Dengan nada tidak sabar) "Terus?"
Emma Fitria: "Sakit tauuuuuuk!"
Bhayu Sugarda: ".....?!!?"

Seorang reporter berniat mewawancarai Menkokesra, yang saat itu dijabat Aburizal Bakrie. Ketika reporter lain fokus ke topik terkait kesejahteraan rakyat, sang reporter membawa misi sendiri...yaitu menanyakan soal Lumpur Lapindo. Ketika ia melihat kesempatan untuk bertanya, ia pun melepaskan peluru yang sudah ia siapkan sebelumnya. Aburizal Bakrie pun mengangkat tangannya dan bergerak menjauh tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan. Sang reporter pun dengan sigap mendesaknya untuk menjawab pertanyaan dengan mengatakan, "Bapak kok gituuuuuuu....!!!".
Aburizal Bakrie sempat terpana sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Fatimah Alatas.

Sebuah penangkapan tersangka narkoba terjadi di Semarang. Wartawan cetak maupun elektronik meluncur ke kantor polisi tempat mereka ditahan. Mereka pun mewawancarai petugas yang menangkap para tersangka itu. Sang polisi mengaku terpaksa melepaskan tembakan karena tersangka berusaha melarikan diri. Seorang wartawan yang juga salah satu anak buah koresponden sebuah stasiun televisi swasta tiba-tiba bertanya, "Suara pistolnya TER apa TOR?". Baik wartawan lainnya yang kebetulan ada di situ maupun nara sumber hanya bisa terpana mendengar pertanyaan itu. Belakangan Amrul Hakim mengaku bahwa dirinya menanyakan pertanyaan itu karena ingin mendapatkan SYNC atau SOT yang kurang lebih melibatkan si nara sumber mengangkat tangannya dan menirukan suara pistol yang ditembakkan.

Seorang presenter membaca berita yang tertulis di prompter sebagai berikut: "LARANGAN MEROKOK DI PRANCIS....///". Namun si presenter membacanya seperti ini: "Larangan MEROKOUW di Prancis...". Usai siaran sang show produser menanyakan alasan dibalik cara baca yang aneh itu. Fitri Megantara mengaku canggung mengucapkan kata 'merokok' karena ragu antara menghilangkan 'k' di akhir kata atau justru memperjelas cengkok huruf 'k' itu.

Seorang show producer baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia pun berjalan menuju meja tempatnya bekerja agar ia bisa membuat laporan show yang baru saja dikerjakannya. Tapi sebelum ia membuat laporan, ia menyempatkan diri bercerita kepada rekannya sesama produser tentang sebuah kejadian menarik saat show berlangsung. Salah satu berita tentang konflik di Timur Tengah bercerita tentang penemuan senjata di sebuah minivan. Namun, berita yang tertulis di Prompter adalah sebagai berikut: "SEJUMLAH SENJATA DITEMUKAN DALAM MINIVAN/ SEPERTI TOKET DAN RUDAL///". M. Arif Budiman mengaku beruntung ia menyadari kesalahan itu sebelum berita dibaca sehingga bisa dikoreksi. Ia mengungkapkan, "Saat itu gua pikir toket dan rudal merupakan dua hal aneh yang bisa ditemukan pada satu tempat.".

Ada-ada Saja (1)

Seorang wartawati pemula liputan demam berdarah:
Wartawati: "Jadi para jumantik (Juru Pemantau Jentik) dari mana saja, bu?"
Narasumber: "yah sebagian besar dari mereka juga ibu-ibu PKK"
Louisa Kusnandar: "Oh, jadi sebagian besar dari mereka juga Petugas Kebersihan dan Keamanan yah?"
Narasumber: "....?!?"

Seorang wartawan cukup senior yang sudah lama tak berkunjung ke Mabes Polri menghadiri konperensi pers dari Kadivhumas. Karena dia tidak tahu nama dari Kadivhumas, ia pun bertanya kepada salah seoramng rekannya.
"Bos, namanya siapa Bos?", wartawan cukup senior.
"Paiman. Paiman", kata rekannya.
"Oke. Tengs.", balasnya.
Ia pun mengacungkan tangan untuk bertanya. "Pak Iman...Pak Iman!".
Rekannya pun melotot dan menyikut pinggang sang wartawan. "Namanya Paiman tauk! Bukan Pak Iman.".
Menyadari kesalahannya Edwin Nazir pun mengoreksi ucapannya dengan memanggil, "Jenderal! Jenderal!".

Seorang wartawan menyambut kedatangan seorang nara sumber yang akan diwawancara di studio. Ia kebetulan bertugas sebagai booker.
"Terima kasih atas kedatangannya Mas Ray.", kata si wartawan.
"Sama-sama, Mas.", kata Ray Sahetapy.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift menuju studio. Kesunyian lift menghujam, karena hanya mereka bedua di dalam lift. Sang wartawan pun berupaya mencairkan suasana.
"Wah, Mas. Saya penggemar berat Anda di sinetron Tahta.", katanya.
Ray menoleh ke arah wartawan itu dengan cepat.
"Tahta? Bukan saya yang main di situ. Itu Mathias Muchus.", kata Ray Sahetapy.
Kesunyian semakin menghujam. Sang wartawan pun berupaya kembali dari keterpurukan.
"Tapi saya juga senang dengan penampilan Anda di film 'Kanan Kiri Oke'.", kata si wartawan.
Sejak saat itu Raden Wahyuningrat menyadari kelemahannya dalam berinteraksi dengan selebritas.

Seorang produser membuat janji dengan Adrianus Meliala.
Produser: "Selamat pagi Pak Meliala. Saya Ocha dari Astro Awani. Saya mau minta waktu Anda untuk wawancara soal tawuran, Pak. Iyah Pak, mengenai kecelakaan transportasi nih Pak. Jadi kapan bisa ketemu nih Pak. Hari ini? Oke baik Pak. Di mana Pak? Di Pelabuhan Tanjung Priok yah! Oke pak. Terima kasih banyak Pak."
Sang produser pun meminta tim liputan untuk mewawancarai Adrianus Meliala. Tim liputan pun berangkat ke lokasi. Ketika ditemui, sang reporter melihat dari jauh penampilan Adrianus Meliala. Sang reporter pun mulai curiga karena penampilannya tidak seperti yang ia ketahui dari media massa selama ini. Untuk memastikan, sang reporter melontarkan pertanyaan pancingan.
Sang Reporter: "Jadi berapa lama Bapak belajar jadi kriminolog?".
Adrianus Meliala: "Kriminolog? Latar belakang saya akademi pelayaran Mas.".
Oki Budhi Priambodo: "....?!?".
Sejak kejadian itu Firouza menyadari bahwa nama orang bisa sama persis dengan orang lain secara kebetulan.

Seorang reporter mewawancarai seorang anak kecil berkaitan dengan fenomena Smackdown.
Sang Reporter: "Jadi tokoh favorit kamu siapa di Smackdown?"
Anak kecil: "De-Ex".
Sang Reporter: "Siapa?"
Anak kecil: (Curiga ada yang salah dengan cengkok bicaranya, si anak kecil pun berupaya mengoreksi pengucapan nama idolanya) "Diee Eksh."
Sang Reporter: "Siapa siapa?"
Anak kecil: (Kali ini si anak kecil memutuskan untuk mempercepat pengucapannya supaya tidak terlalu ketara jika ada salah pengucapan) "D-Ex!"
Ulung Putri: "Siapa?"
Anak kecil: "De-Eeeeeeeeeeeeeeex.". Wajah si anak campur aduk antara heran (karena kok ada reporter sebudeg ini?), marah (karena si reporter berulangkali menanyakan hal yang sama) dan kecewa (karena koreksi pengucapannya sebanyak 2 kali tak berarti banyak buat si reporter).

Seorang wartawan dengan kamera person-nya mendatangi BPOM Pusat untuk meminta ijin mengikuti razia obat di pasar. Ketika ditemui, petugas BPOM Pusat menyangkal ada razia hari itu. Tapi sang wartawan menolak untuk menyerah. Ia pun beranjak ke BPOM Jakarta. Melalui telepon ia berbincang dengan nara sumbernya di BPOM Jakarta dan telah mendapatkan ijin mengikuti razia yang akan mereka lakukan sore itu. Berangkatlah dengan cepat si reporter dengan kamera person ke kantor BPOM Jakarta. Ketika tiba di sana, keduanya disambut dengan baik. Nara sumber berjanji akan segera berangkat setelah personil sudah lengkap, karena masih ada satu lagi personil yang akan ikut namun belum datang. Si wartawan dan kamera person pun menunggu dengan sabar. Tak berapa lama si nara sumber kelihatan bergegas mendatangi si wartawan dan kamera person. Ia menginformasikan bahwa orang yang ditunggu sedari tadi sudah datang dan akan segera berangkat melakukan razia. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu adalah petugas BPOM Pusat yang ditemui sang wartawan sebelumnya. Petugas itu kembali menegaskan bahwa sang wartawan tidak boleh mengikuti razia. Mungkin karena melihat kegigihannya, belakangan orang itu pun akhirnya mengijinkan Yoga Nugraha mengikuti razia.

Seorang Presenter Pria membaca berita dari Irak yang muncul di Teleprompter. Di prompter tertulis, “KORBAN LEDAKAN BOM DILARIKAN KE RUMAH SAKIT AL KINDI///”. Andrie Djarot lalu membaca tulisan di prompter itu sebagai berikut: “Korban ledakan bom dilarikan ke rumah sakit ANGKATAN LAUT Kindi”.

Seorang Presenter Wanita membaca berita dari Australia. Tulisan yang muncul di Teleprompter sebagai berikut: “BANJIR MENGGENANGI SEBAGIAN BESAR KAWASAN NEW SOUTH WALES///”. Namun, Pinky Andriyani membacanya seperti ini: “Banjir menggenangi sebagian besar kawasan New South WALLS.”. Untuk beberapa saat Show Produser terbengong-bengong sebelum memutuskan untuk me-retake pembacaan berita itu.

Seorang reporter yang baru ditugaskan di desk ekonomi sebuah harian terbit, bertugas di Departemen Keuangan. Teman-teman wartawan yang lain kebetulan tidak berada di tempat. Ia pun seorang diri ketika tiba-tiba Menteri Keuangan waktu itu, Boediono, keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar lobby kantor Departemen Keuangan. Dengan sigap si reporter pun bergerak ke arah Boediono, mencegat dan menyodorkan tape recordernya. Boediono pun menghentikan langkahnya. Keduanya berhadap-hadapan. Si reporter melihat ke kiri dan kanannya. Ia menyadari tidak ada rekan sesama reporter di dekatnya. Beno pun mulai kehilangan akal apa yang akan ditanyakan. Boediono lalu bertanya, “Mau tanya apa?”�.

Seorang presenter mengantarkan segmen dialog sebuah program berita pagi usai membaca segmen olahraga. “Sesaat lagi kami akan kembali dengan dialog khas Nuansa Pagi dengan nara sumber Happy Bone (baca: “Boun”) Zulkarnaen.”. Ketika Bhayu Sugarda keluar dari ruang siaran ia pun berpapasan dengan Happy Bone (baca: “Bo-ne”) Zulkarnaen namun tak berani menatap matanya.

Thursday, November 26, 2009

Saya dan Helvy Tiana Rosa

by Bhayu Sugarda

Pertama kali kenal wanita bernama Helvy Tiana Rosa ketika seorang teman mengajak saya membuat film pendek berdasarkan salah satu cerpennya. Saya ketika itu pengangguran. Baru saja lulus dari sebuah Universitas di Australia. Sempat bekerja di sebuah pabrik plastik, yang kini kabarnya sudah tutup diterpa krisis. Hanya satu setengah bulan saya bekerja di pabrik itu. Padahal tiga bulan ke depan, saya telah dijadwalkan untuk menikah.

Saya tidak bahagia bekerja di pabrik itu. Saya merasa bekerja tanpa tujuan yang berarti. Selain itu sisi kreatif di kepala saya menuntut dipenuhi hak-haknya. Saya utarakan gundahku kepada calon istri dan niat saya untuk masuk ke industri televisi. Argumen saya ketika itu, “Mumpung saya masih memiliki titel ‘Fresh Graduate’.” Ia ketika itu memberi restu kepada saya untuk keluar dari tempat kerja saya di pabrik, walaupun dengan konsekuensi saya menikah sebagai seorang pengangguran. Tapi pilihan bersama telah jatuh dan kini tinggal kami menjalaninya.

Saya keluar dari pabrik plastik itu bulan Desember dan menikah pada bulan Februari 2002.
Sembari mengirim CV ke semua stasiun televisi yang ada di Jakarta, saya mulai merentas jalan di industri audio visual. Sebuah situs komunitas film independen menarik perhatian saya. Saya pun mendatanginya dan bertemu dengan teman-teman dalam komunitas itu. Saya pun menjadi dekat dengan salah seorang pengurusnya, seorang mahasiswa IKJ bernama Agres. Dari pertemanan inilah muncul ide membuat film pendek berdasarkan cerpen karya Helvy Tiana Rosa. Cerpen yang dipilih adalah cerpen yang menceritakan kisah seorang anak perempuan yang terjebak di tengah konflik di Sampit. Misi dari cerpen itu jelas, bahwa Sang Pencipta tak membedakan darah mahluk-Nya. Hanya akhlak yang membedakan satu dan lainnya. Saya pun tergugah untuk menyebarkan pesan yang sama menurut persepsi saya.

Saat itu, bermodal dengkul kami melakukan langkah-langkah untuk mewujudkan film itu. Agress mempersiapkan proposal pembuatan film pendek itu, sedangkan saya membantu menghubungi pihak terkait dan perencanaan produksinya. Dengan proposal itu kami pun memberanikan diri ke Lantamal karena kami berniat menggunakan salah satu kapal Angkatan Laut sebagai lokasi syuting kami.

Kedatangan kami itu disambut baik oleh pihak Angkatan Laut. Salah seorang yang kami temui adalah Kapten Kadir. Ia membantu kami menemui atasannya untuk membahas rencana itu. Atasannya pun mengijinkan syuting dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Kami pun siap memenuhi persyaratan itu.

Tapi nasib berkata lain. Panggilan ke sejumlah stasiun televisi mulai gencar. Selain itu saya diberikan kesempatan untuk terlibat dalam redaksi sebuah majalah internal perusahaan milik seorang Paman. Pertengahan bulan Mei 2002, saya diterima di RCTI sebagai seorang reporter. Karier saya sebagai jurnalis televisi dimulai. Saya pun tak mampu terlibat aktif lagi dalam pembuatan film pendek itu. Bayangan seorang Helvy Tiana Rosa mulai hilang perlahan-lahan.

Perkenalan kedua saya dengan Helvy Tiana Rosa terjadi beberapa tahun kemudian. Ketika itu saya baru saja keluar dari RCTI dan diterima di sebuah perusahaan baru yang memasok konten untuk televisi berbayar Astro. Perusahaan itu adalah PT Adi Karya Visi. Salah satu pimpinan perusahaan itu mengundang seluruh karyawan untuk makan siang bersama di rumahnya. Saya pun dikenalkan ke sejumlah orang yang berada di situ. Salah satunya adalah Mas Tomi Satryatomo. Ia pun mengenalkan istrinya. Ketika istrinya menyebut namanya...saya terhenyak...saya kenal dengan nama itu. Perlu waktu bagi saya untuk mencerna semuanya sehingga ketika acara usai dan kami semua pulang ke rumah masing-masing, saya baru sadar bahwa saya baru saja bertemu dengan Helvy Tiana Rosa.

Saya bukan penggemar tulisannya. Saya belum pernah membaca bukunya satu pun. Saya...hanya membaca satu cerpennya...dan itu sudah cukup bagi saya untuk tergugah dan bertindak karenanya. Satu pelajaran yang saya ambil dari pengalaman ini, persinggungan kita dengan orang lain disadari atau tidak disadari mendorong kita dalam suatu langkah dan juga sebaliknya. Perilaku serta ucapan kita membawa orang lain sekaligus kita sendiri ke suatu takdir tertentu. Bahwa kita semua terikat satu sama lain.

NB: Maaf Mbak, kalo selama ini tidak pernah cerita langsung ke Mbak walaupun berulangkali muncul kesempatan untuk melakukan itu. Mumpung ada FB nih hehehe

Wednesday, November 25, 2009

Media Baru (New Media) sebagai fokus perhatian akademisi Komunikasi

Dampak Kemunculan Media Baru

Peristiwa pemboman kembali terjadi. Bom meledak pukul 7.47 Waktu Indonesia Barat tanggal 17 Juli 2009 di kawasan perkantoran Mega Kuningan. Sekitar pukul 8 lewat 12 menit berita itu telah tersebar melalui jaringan Black Berry. Situs mobile Liputan 6 belum memberitakan adanya ledakan bom. Sekitar pukul 8.56 WIB sebuah foto Tempat Kejadian Perkara pemboman tersebar melalui jaringan Black Berry. Tidak lama 2 foto lainnya juga mulai tersebar antara sesama pengguna layanan Black Berry. Situs mobile Liputan 6 pada pukul 9.02 WIB masih belum menampilkan berita terkait ledakan bom itu. Sekitar pukul 10.00 WIB pemberitaan pada situs mobile Liputan 6, detik.com dan Kompas.com sudah secara lengkap melaporkannya.

Ini hanyalah sedikit gambaran penggunaan jaringan internet nirkabel melalui layanan Black Berry saat sebuah peristiwa besar terjadi. Fungsi insitusi pemberitaan dalam peristiwa itu selama 2 jam pertama digantikan oleh warga setempat. Berita awalnya tersebar melalui SMS atau Black Berry Messenger. Konten yang disebarluaskan adalah dalam bentuk teks. Tak berapa lama konten yang tersebar sudah berupa foto atau visual. Barulah setelah itu, muncul konten berita terkini dalam bentuk audio visual di televisi secara LIVE atau LANGSUNG pada pukul 12.00 siang..

Berita yang bisa dikatakan tersebar 'dari mulut ke mulut' itu mungkin tidak memiliki krediblitas sama sekali seperti halnya berita yang berasal dari sebuah insititusi pemberitaan. Tapi berita dalam bentuk foto tanpa keterangan lebih lanjut saja sudah cukup bagi publik untuk menerimanya. Ketika berita tanpa kredibilitas itu benar adanya, maka masyarakat mulai memercayai sumber berita itu. Apakah itu teman ataupun kerabat keluarga. Sehingga setiap perkembangan berita yang datang dari sanak saudara mulai diyakini kebenarannya tanpa proses 'cek dan ricek' serta 'cover both sides'.

Menjelang Maghrib, sebuah email tersebar dan menjadi konsumsi pengguna layanan Black Berry dengan cepat. Isinya adalah cerita tentang seorang korban yang selamat dan tanpa sengaja mendengar omongan petugas dari Gegana Polda Metro Jaya tentang adanya ancaman 8 bom di penjuru Jakarta. Berita yang tersebar dari 'mulut ke mulut' itu pun diyakini sepenuhnya oleh sebagian orang sehingga jalanan pun menjadi sepi. Tapi itu pun kemudian dibantah pihak kepolisian melalui situs berita detik.com.

Dennis McQuail meyakini bahwa media adalah “jendela” bagi penonton untuk melihat dunia di luar lingkungan langsung mereka. Perkembangan 'media baru' perlahan mengubah perilaku pengguna media, khususnya media dalam bentuk berita audio visual. Media baru ini muncul dalam bentuk yang jauh lebih personal dan kecepatan penyampaian pesan yang tinggi. Media baru ini memiliki mobilitas yang juga tinggi sehingga bisa dinikmati kapan saja dan dimana saja. Namun, media baru ini memiliki dampak lain, yaitu menggabungkan dua ruang yang seharusnya tidak saling bersentuhan.

Perbedaan 'Media Baru' dan 'Media Lama'

Gerard Schoening dan James Anderson menyatakan bahwa pesan yang diciptakan media massa akan berusaha di-interpretasikan oleh penonton/penikmatnya dengan diskusi bersama anggota komunitasnya sehingga produk akhirnya adalah sebuah produk sosial. Karena itu penggunaan media massa dianggap sebagai aksi sosial. Sehingga pada hakekatnya, aktivitas menggunakan media massa berada pada ranah sosial dan bukan pribadi (diagram 1).

Tapi kenyataannya, 'media baru' memungkinkan media massa untuk bersinggungan dengan ruang pribadi karena 'media baru' itu tersedia melalui perangkat telepon selular. Konten media massa dalam bentuk teks, audio atau visual kini bisa dengan mudah dinikmati dalam bentuk SMS, MMS, Yahoo Messenger, push-email atau YouTube. Perangkat telepon selular yang sejatinya merupakan medium interpersonal menjadi medium massal terbatas.

Perbedaan 'media baru' dengan media televisi tidak berhenti sampai di situ. Televisi seringkali disebut sebagai media yang pervasif dalam arti memberi pengaruh kepada penonton secara sadar atau tidak karena televisi ada dimana-mana. Walaupun pada akhirnya penonton tetap memiliki pilihan untuk tidak menontonnya dengan cara menjauh atau mematikan perangkat televisinya. Mcleod dan Becker (1974:141) menegaskan bahwa selain kepuasan dicari atau ditemukan pada konten media massa tertentu, penghindaran atas konten tertentu juga terjadi. Pada dasarnya temuan Mcleod dan Becker adalah bahwa terjadi proses seleksi dari pengguna media massa terhadap konten yang diberikan kepada mereka. Tapi proses seleksi berhenti pada tahapan pemilihan program atau bahkan saluran/ channel (stasiun televisi) tertentu. Misalnya seorang aktivis politik lebih memilih untuk menyaksikan program berita yang dianggapnya lebih mengerti dan memahami pandangan politiknya dibanding program atau saluran yang dianggap salah memahami pandangan politiknya.

Pada 'media baru' yang terjadi adalah proses seleksi yang lebih konkret dan tidak hanya terbatas pada program atau salurannya saja. Proses seleksi dilakukan terhadap jenis berita (sport, hiburan atau berita lainnya), sub-kategori dari jenis berita itu (misalnya sport, kemudian seleksi beralih ke jenis olahraga) hingga klub atau kelompok olahraga tertentu (misalnya sepakbola, lalu beralih ke seleksi klub bola tertentu seperti Manchester United). Sehingga penonton tidak dihidangkan konten dengan berbagai selera lalu mencoba menikmatinya satu per satu, tapi penonton memiliki keleluasaan untuk mencari dan menemukan apa yang diinginkannya.

Perbedaan lainnya ada pada rutinitas yang terbentuk dari menikmati media. Seorang penikmat berita akan memiliki rutinitas tertentu yang terbentuk dari aksinya menyaksikan televisi pada waktu tertentu dari pagi hingga sesaat sebelum tidur pada hari itu. Riset yang dilakukan di Eropa (Ruben Konig, Karsten Renckstorf dan Fred Wester ) berdasarkan survey yang dibuat di Belanda pada tahun 1994. Hasil analisanya menyebutkan bahwa rutinitas yang terbentuk dari menonton berita televisi bisa dibagi menjadi 5 kategori. Pertama adalah rutinitas aktif, dimana pelakunya menyaksikan program televisi berita sembari mengomentari apa yang disaksikannya, kedua adalah orang yang suka menoton berita karena kebiasaan dan ketiga adalah orang yang menggunakan televisi sebagai latar belakang saat melakukan aktivitas lainnya. Untuk kategori keempat dan kelima, pelakunya adalah orang yang tidak begitu perduli terhadap apa yang disaksikannya dan orang yang menonton televisi sebagai kegiatan sekunder. Kelima kategori itu terbentuk saat pelakunya berusaha menyesuaikan aktivitasnya hari itu agar bisa duduk di depan televisi di rumahnya masing-masing dan menyaksikan program berita saat program itu ditayangkan.

Sementara 'media baru' bisa disaksikan kapan saja dan dimana saja. Artinya rutinitas yang terbentuk lebih beragam dibanding rutinitas yang terbentuk dalam menonton televisi. Penikmatnya bisa menonton konten berita dalam perjalanan pulang ke kantor atau saat menunggu giliran pemeriksaan dokter gigi. Penikmatnya juga bisa menonton konten yang disukainya kapan saja sehingga tidak terbatas pada jadwal tertentu.

Namun, 'media baru' belum sepenuhnya bisa dinikmati di beberapa negara karena sejumlah kendala. Salah satu kendala utamanya adalah infrastruktur. Di Indonesia misalnya, 'media baru' itu belum sepenuhnya bisa dinikmati secara massal karena beberapa hal. Antara lain jaringan 3G yang belum luas serta kecepatan unduh yang dimliki jaringan 3G. Perkembangan teknologi internet nirkabel terus terjadi dan beberapa di antaranya siap menggantikan peran jaringan 3G untuk memenuhi kebutuhan akan internet nirkabel. Teknologi itu diantaranya adalah WiFi, WiMax, 4G dan Digital TV.

Sebagai gambaran jaringan 3G memiliki kecepatan unduh data antara 9,6 kbps (kilobyte per second) hingga 2 Mbps (Megabyte per second). Sedangkan teknologi 4G kecepatan unduh-nya antara 100 Mbps hingga 1 Gbps (Giga byte per second). Sehingga materi yang diunduh bisa seketika diterima penggunanya, tanpa harus menunggu cukup lama. Sejauh ini materi yang dianggap konten yang paling besar datanya adalah konten audio visual. Teknologi akan terus berkembang sampai pada puncaknya, dalam hal ini adalah teknologi WiMax. Teknologi ini mampu memenuhi kebutuhan perangkat tetap sekaligus perangkat bergerak dengan kemampuan unduh mencapai 1 Gbps.

Menurut Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hantoro pada akhirnya seluruh teknologi yang disebutkan di atas akan mengerucut dan terjadi konvergensi sehingga menyatu menjadi satu teknologi baru yang disebut Next Generation Network. Bukan hanya teknologi tapi konvergensi juga akan terjadi pada bentuk layanannya. Seperti layanan Fixed Network (jaringan tetap seperti saluran telepon rumah), Mobile Network (jaringan telepon selular), Internet, Cable Network (jaringan kabel) dan Home Network (jaringan rumah) juga akan menyatu mejadi satu layanan teknologi baru. Contoh layanan Fixed Network misalnya adalah PSTN yang kemudian berkembang menjadi ISDN hingga DSL (teknologi yang memungkinkan jaringan pita besar – broadband – untuk layanan fax, telepon external dan internal). Begitu juga dengan Mobile network, layanannya antara lain SMS dan WAP perlahan tapi pasti terus berkembang menjadi layanan internet broadband seperti HSDPA, WiFi hingga WiMax. Layanan internet juga akan mengerucut dari layanan berdasarkan teks (text-based) menjadi layanan audio visual seperti IPTV (Internet Protocol Television). Sementara layanan jaringan kabel akan berkembang menjadi layanan Video On Demand. Di lain pihak, layanan jaringan rumah yang sebelumnya analog menjadi TV Dijital.

Pada dasarnya pengerucutan teknologi itu akan memungkinkan penyebaran konten media massa pada perangkat bergerak dan turut mendorong konvergensi layanan dengan konten audio visual sebagai hasil dari pencapaian tertinggi teknologi itu. Saat ini, masih terjadi perbedaan antara satu teknologi dengan lainnya. Misalnya penyebaran konten media massa ke perangkat bergerak bukan hanya bisa dilakukan melalui internet, tapi juga melalui frekuensi televisi digital. Saat ini, sejumlah konsorsium sedang mempersiapkan implementasi TV Dijital di Indonesia dan TVRI telah melakukan siaran percobaan menggunakan teknologi TV Dijital. Tapi bentuk layanan pada akhirnya akan sama, yaitu layanan berita dalam bentuk audio visual pada perangkat bergerak baik secara “online” maupun “offline”.

Arah Penelitian Konten Berita Audio-Visual

Penelitian terkait berita dalam bentuk Audio Visual khususnya analisa konten maupun dampaknya pada penonton telah banyak dilakukan di negara Barat. Negara-negara Eropa maupun Amerika Serikat telah banyak melakukan riset soal itu, meski dengan penekanan yang berbeda. Penelitian yang dilakukan di Eropa lebih fokus pada dampaknya terhadap penonton. Sedangkan di Amerika Serikat, penelitian lebih difokuskan pada analisa konten pemberitaan televisi dan faktor yang mempengaruhinya.

Kondisi ini terjadi secara alamiah. McQuail, Renckstorf dan Jankowski menjelaskan dalam jurnalnya bahwa penelitian di Eropa mengenai dampak pemberitaan televisi pada penontonnya telah berlangsung sejak tahun 60-an. Dalam 2 dekade setelah itu, penelitian soal pemberitaan televisi diarahkan pada riset konten dengan pendekatan kritis, riset dampak kultivasi pemberitaan pada persepsi penonton dan riset mengenai dampak pemberitaan televisi pada perilaku penonton. Namun, belakangan penelitian yang dilakukan lebih memberi perhatian kepada dampak pemberitaan televisi terhadap penonton.

Sementara di Amerika Serikat, penelitian lebih fokus pada dampak televisi secara umum terhadap penontonnya. Shoemaker dan Reese dalam bukunya menjelaskan bahwa penelitian akan dampak televisi secara umum pada penonton telah dilakukan sejak tahun 1930-an. Selama 4 dekade berbagai topik penelitian seputar dampak televisi muncul, antara lain riset tentang siaran radio “The Invasion from Mars” pada tahun 1940 dan analisa konten soal “Violence and The Media” pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 70-an penelitian lebih fokus pada fungsi Agenda Setting Media Massa. Salah satu penelitian yang dianggap superior adalah penelitian McCombs dan Shaw pada tahun 1972 di kota Chapel Hill, Karolina Utara. Penelitian itu menyebutkan bahwa media menentukan pada yang dipikirkan oleh warga Chapel Hill. Penelitian ini menguji fungsi Agenda Setting dari media massa.

Baru setelah itu, penelitian menjadi lebih fokus pada konten pemberitaan dan faktor yang mempengaruhinya. Sejumlah penelitian yang dilakukan antara lain soal konten berita luar negeri di Amerika Serikat (Herbert Gans, 1979), penelitian tentang pemberitaan konflik industrial pada tingkat internasional yang dilakukan majalah Time dan Newsweek (Perry, 1980) serta penelitian tentang berita luar negeri yang didominasi CNN (Jamieson & Campbell, 1992).

Bukan tanpa alasan arah penelitian atas penggunaan televisi bergerak ke arah riset konten. Sejumlah peneliti menyakini penelitian konten terbengkalai akibat fokus berlebihan terhadap penelitian tentang penonton televisi. Shoemaker (1996:18) meyakini bahwa bias individual sebagai bagian dari budaya di Amerika Serikat merupakan alasan utama arah penelitian yang cenderung mengabaikan riset konten. Padahal menurutnya, ini adalah bagian penting dari pemahaman sepenuhnya tentang dampak menonton televisi, karena keduanya saling melengkapi.

Pendapat itu juga diyakini rekannya dari Eropa. Jankowski dan Van Selm (2001, p.389). Keduanya berpendapat bahwa penelitian lebih lanjut harus dilakukan berkaitan dengan penggunaan situs internet sebagai nilai tambah bagi sejumlah insititusi media internasional. Salah satu fungsi media massa adalah mendorong terciptanya diskusi atau debat publik. Saat ini ada kekhawatiran bahwa fungsi media sebagai pemicu debat publik mulai diabaikan pelakunya dan ruang di dunia maya dianggap memiliki potensi memaksimalkan fungsi itu. Dalam bentuk kalimat tanya, arah penelitian itu menjadi: “Sampai sejauh mana surat kabar online dan situs online televisi mempromosikan dan memberi kontribusi atas keterlibatan masyarakat di arena publik?”. Sekedar catatan beberapa situs online dari intitusi pemberitaan televisi di Amerika maupun di Eropa telah menyediakan bagian khusus untuk presentasi audio visual secara “online”.

Sejalan dengan itu McQuail berpendapat bahwa penelitian tentang televisi atau konten berita audio visual memiliki arah penelitian yang harus dipertimbangkan peneliti. Sejumlah isu yang dianggap penting untuk diteliti dan masuk kategori arah penlitian 'mainstream', antara lain:
- Proses seleksi berita dan fungsi penjaga pagar/gatekeeping dari media
- Konten dan arus informasi
- Dampak berita dan efektifitasnya
- Penonton berita
- Kerangka kerja teori

Belajar dari pengalaman penelitian selama 30 tahun terakhir di Eropa, beberapa hal yang dianggap penting untuk diteliti lebih lanjut antara lain:
- Norma dan nilai dari pembuatan berita
- jaringan sosial sebagai sumber dan agen sosialisasi
- eksposur terhadap berita dan menonton berita televisi sebagai aktivitas sosial
- interpretasi dari produk pemberitaan, komprehensi dan evaluasi
- rutinitas yang terbentuk dari menonton televisi dan aksi penyelesaian masalah aktif
- pola perilaku menonton dan pandangan profesional

Namun, perlu ditekankan di sini bahwa penelitian yang disebutkan di atas adalah unik untuk masyarakat di Amerika Serikat dan Eropa. Khusus penelitian berkaitan dengan dampak aksi menonton televisi sangat bergantung pada kultur dan demografi responden di negara masing-masing. Dari segi demografi, beberapa hal yang memengaruhi dampak pemberitaan televisi terhadap penonton adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, kelas sosial dan personalitas. Faktor lain yang juga bisa memengaruhi dampak itu adalah atribusi cerita, konstruksi naratif, pengemasan program, dampak presentasi sosial dan penjadwalan program.

Invasi ruang publik pada ruang pribadi