Seorang presenter membaca berita tentang salon khusus untuk anjing piaraan. Sang presenter membaca berita sebagai berikut: "Sehingga salon ini menjadi tempat yang menyenangkan bagi ANJIR...". Hampir secara bersamaan, PD maupun crew studio lainnya menirukan kata terakhir yang diucapkan Fitri Megantara karena sadar mereka harus me-retake pembacaan berita itu.
Seorang reporter melakukan PTC (Person To Camera) di sebuah terminal bus. Namun ia harus mengulang PTC-nya berkali-kali karena apa yang dikatakannya tak sempurna. Tanpa diketahuinya, orang-orang di sekitar tempatnya melakukan PTC mulai berkumpul dan duduk mengelilinginya. Mereka pun menjadi terlibat dalam proses pengambilan gambar. Setiap kali si reporter memulai kembali PTC-nya mereka diam. Setiap si reporter melakukan kesalahan mereka ikut menyesali apa yang terjadi. Sampai akhirnya si reporter berhasil menyelesaikan PTC-nya dengan baik. Mereka pun memberikan pengakuan kepada Louisa Kusnandar dengan tepuk tangan dan suara-suara pemberi semangat.
Seorang produser menunggu telepon dari Studio di Jakarta untuk memberikan laporan tentang suasana di Giri Bangun. Saat itu, jenazah mantan Presiden Soeharto akan segera tiba di bandar udara terdekat. Sang Produser menggunakan televisi hitam putih dengan layar 5 inci yang dibelinya seharga 3 ratus ribu malam sebelumnya. Televisi itu ia pangku di pahanya sembari menutup bagian depan layar dengan tangan karena panas matahari menghalanginya melihat siaran langsung TVRI dari bandar udara. Posisinya pun kurang menguntungkan karena untuk mendapatkan listrik, ia harus mencolokkan listriknya dekat mixer audio system yang dipasang di Giri Bangun di pinggir lapangan parkir. Tiba-tiba teleponnya berdering. Sang produser pun bersiap memberikan laporannya. Sayang bukan studio di ujung sana, tapi suara reporter yang ditugaskan bersamanya meliput peristiwa itu.
Reporter: "Mas Bhayuuu...kakiku keinjek Kopassus....".
Produser: (Dengan nada tidak sabar) "Terus?"
Emma Fitria: "Sakit tauuuuuuk!"
Bhayu Sugarda: ".....?!!?"
Seorang reporter berniat mewawancarai Menkokesra, yang saat itu dijabat Aburizal Bakrie. Ketika reporter lain fokus ke topik terkait kesejahteraan rakyat, sang reporter membawa misi sendiri...yaitu menanyakan soal Lumpur Lapindo. Ketika ia melihat kesempatan untuk bertanya, ia pun melepaskan peluru yang sudah ia siapkan sebelumnya. Aburizal Bakrie pun mengangkat tangannya dan bergerak menjauh tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan. Sang reporter pun dengan sigap mendesaknya untuk menjawab pertanyaan dengan mengatakan, "Bapak kok gituuuuuuu....!!!".
Aburizal Bakrie sempat terpana sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Fatimah Alatas.
Sebuah penangkapan tersangka narkoba terjadi di Semarang. Wartawan cetak maupun elektronik meluncur ke kantor polisi tempat mereka ditahan. Mereka pun mewawancarai petugas yang menangkap para tersangka itu. Sang polisi mengaku terpaksa melepaskan tembakan karena tersangka berusaha melarikan diri. Seorang wartawan yang juga salah satu anak buah koresponden sebuah stasiun televisi swasta tiba-tiba bertanya, "Suara pistolnya TER apa TOR?". Baik wartawan lainnya yang kebetulan ada di situ maupun nara sumber hanya bisa terpana mendengar pertanyaan itu. Belakangan Amrul Hakim mengaku bahwa dirinya menanyakan pertanyaan itu karena ingin mendapatkan SYNC atau SOT yang kurang lebih melibatkan si nara sumber mengangkat tangannya dan menirukan suara pistol yang ditembakkan.
Seorang presenter membaca berita yang tertulis di prompter sebagai berikut: "LARANGAN MEROKOK DI PRANCIS....///". Namun si presenter membacanya seperti ini: "Larangan MEROKOUW di Prancis...". Usai siaran sang show produser menanyakan alasan dibalik cara baca yang aneh itu. Fitri Megantara mengaku canggung mengucapkan kata 'merokok' karena ragu antara menghilangkan 'k' di akhir kata atau justru memperjelas cengkok huruf 'k' itu.
Seorang show producer baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia pun berjalan menuju meja tempatnya bekerja agar ia bisa membuat laporan show yang baru saja dikerjakannya. Tapi sebelum ia membuat laporan, ia menyempatkan diri bercerita kepada rekannya sesama produser tentang sebuah kejadian menarik saat show berlangsung. Salah satu berita tentang konflik di Timur Tengah bercerita tentang penemuan senjata di sebuah minivan. Namun, berita yang tertulis di Prompter adalah sebagai berikut: "SEJUMLAH SENJATA DITEMUKAN DALAM MINIVAN/ SEPERTI TOKET DAN RUDAL///". M. Arif Budiman mengaku beruntung ia menyadari kesalahan itu sebelum berita dibaca sehingga bisa dikoreksi. Ia mengungkapkan, "Saat itu gua pikir toket dan rudal merupakan dua hal aneh yang bisa ditemukan pada satu tempat.".
Showing posts with label Jurnalis. Show all posts
Showing posts with label Jurnalis. Show all posts
Thursday, December 3, 2009
Ada-ada Saja (2)
Ada-ada Saja (1)
Seorang wartawati pemula liputan demam berdarah:
Wartawati: "Jadi para jumantik (Juru Pemantau Jentik) dari mana saja, bu?"
Narasumber: "yah sebagian besar dari mereka juga ibu-ibu PKK"
Louisa Kusnandar: "Oh, jadi sebagian besar dari mereka juga Petugas Kebersihan dan Keamanan yah?"
Narasumber: "....?!?"
Seorang wartawan cukup senior yang sudah lama tak berkunjung ke Mabes Polri menghadiri konperensi pers dari Kadivhumas. Karena dia tidak tahu nama dari Kadivhumas, ia pun bertanya kepada salah seoramng rekannya.
"Bos, namanya siapa Bos?", wartawan cukup senior.
"Paiman. Paiman", kata rekannya.
"Oke. Tengs.", balasnya.
Ia pun mengacungkan tangan untuk bertanya. "Pak Iman...Pak Iman!".
Rekannya pun melotot dan menyikut pinggang sang wartawan. "Namanya Paiman tauk! Bukan Pak Iman.".
Menyadari kesalahannya Edwin Nazir pun mengoreksi ucapannya dengan memanggil, "Jenderal! Jenderal!".
Seorang wartawan menyambut kedatangan seorang nara sumber yang akan diwawancara di studio. Ia kebetulan bertugas sebagai booker.
"Terima kasih atas kedatangannya Mas Ray.", kata si wartawan.
"Sama-sama, Mas.", kata Ray Sahetapy.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift menuju studio. Kesunyian lift menghujam, karena hanya mereka bedua di dalam lift. Sang wartawan pun berupaya mencairkan suasana.
"Wah, Mas. Saya penggemar berat Anda di sinetron Tahta.", katanya.
Ray menoleh ke arah wartawan itu dengan cepat.
"Tahta? Bukan saya yang main di situ. Itu Mathias Muchus.", kata Ray Sahetapy.
Kesunyian semakin menghujam. Sang wartawan pun berupaya kembali dari keterpurukan.
"Tapi saya juga senang dengan penampilan Anda di film 'Kanan Kiri Oke'.", kata si wartawan.
Sejak saat itu Raden Wahyuningrat menyadari kelemahannya dalam berinteraksi dengan selebritas.
Seorang produser membuat janji dengan Adrianus Meliala.
Produser: "Selamat pagi Pak Meliala. Saya Ocha dari Astro Awani. Saya mau minta waktu Anda untuk wawancara soal tawuran, Pak. Iyah Pak, mengenai kecelakaan transportasi nih Pak. Jadi kapan bisa ketemu nih Pak. Hari ini? Oke baik Pak. Di mana Pak? Di Pelabuhan Tanjung Priok yah! Oke pak. Terima kasih banyak Pak."
Sang produser pun meminta tim liputan untuk mewawancarai Adrianus Meliala. Tim liputan pun berangkat ke lokasi. Ketika ditemui, sang reporter melihat dari jauh penampilan Adrianus Meliala. Sang reporter pun mulai curiga karena penampilannya tidak seperti yang ia ketahui dari media massa selama ini. Untuk memastikan, sang reporter melontarkan pertanyaan pancingan.
Sang Reporter: "Jadi berapa lama Bapak belajar jadi kriminolog?".
Adrianus Meliala: "Kriminolog? Latar belakang saya akademi pelayaran Mas.".
Oki Budhi Priambodo: "....?!?".
Sejak kejadian itu Firouza menyadari bahwa nama orang bisa sama persis dengan orang lain secara kebetulan.
Seorang reporter mewawancarai seorang anak kecil berkaitan dengan fenomena Smackdown.
Sang Reporter: "Jadi tokoh favorit kamu siapa di Smackdown?"
Anak kecil: "De-Ex".
Sang Reporter: "Siapa?"
Anak kecil: (Curiga ada yang salah dengan cengkok bicaranya, si anak kecil pun berupaya mengoreksi pengucapan nama idolanya) "Diee Eksh."
Sang Reporter: "Siapa siapa?"
Anak kecil: (Kali ini si anak kecil memutuskan untuk mempercepat pengucapannya supaya tidak terlalu ketara jika ada salah pengucapan) "D-Ex!"
Ulung Putri: "Siapa?"
Anak kecil: "De-Eeeeeeeeeeeeeeex.". Wajah si anak campur aduk antara heran (karena kok ada reporter sebudeg ini?), marah (karena si reporter berulangkali menanyakan hal yang sama) dan kecewa (karena koreksi pengucapannya sebanyak 2 kali tak berarti banyak buat si reporter).
Seorang wartawan dengan kamera person-nya mendatangi BPOM Pusat untuk meminta ijin mengikuti razia obat di pasar. Ketika ditemui, petugas BPOM Pusat menyangkal ada razia hari itu. Tapi sang wartawan menolak untuk menyerah. Ia pun beranjak ke BPOM Jakarta. Melalui telepon ia berbincang dengan nara sumbernya di BPOM Jakarta dan telah mendapatkan ijin mengikuti razia yang akan mereka lakukan sore itu. Berangkatlah dengan cepat si reporter dengan kamera person ke kantor BPOM Jakarta. Ketika tiba di sana, keduanya disambut dengan baik. Nara sumber berjanji akan segera berangkat setelah personil sudah lengkap, karena masih ada satu lagi personil yang akan ikut namun belum datang. Si wartawan dan kamera person pun menunggu dengan sabar. Tak berapa lama si nara sumber kelihatan bergegas mendatangi si wartawan dan kamera person. Ia menginformasikan bahwa orang yang ditunggu sedari tadi sudah datang dan akan segera berangkat melakukan razia. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu adalah petugas BPOM Pusat yang ditemui sang wartawan sebelumnya. Petugas itu kembali menegaskan bahwa sang wartawan tidak boleh mengikuti razia. Mungkin karena melihat kegigihannya, belakangan orang itu pun akhirnya mengijinkan Yoga Nugraha mengikuti razia.
Seorang Presenter Pria membaca berita dari Irak yang muncul di Teleprompter. Di prompter tertulis, “KORBAN LEDAKAN BOM DILARIKAN KE RUMAH SAKIT AL KINDI///”. Andrie Djarot lalu membaca tulisan di prompter itu sebagai berikut: “Korban ledakan bom dilarikan ke rumah sakit ANGKATAN LAUT Kindi”.
Seorang Presenter Wanita membaca berita dari Australia. Tulisan yang muncul di Teleprompter sebagai berikut: “BANJIR MENGGENANGI SEBAGIAN BESAR KAWASAN NEW SOUTH WALES///”. Namun, Pinky Andriyani membacanya seperti ini: “Banjir menggenangi sebagian besar kawasan New South WALLS.”. Untuk beberapa saat Show Produser terbengong-bengong sebelum memutuskan untuk me-retake pembacaan berita itu.
Seorang reporter yang baru ditugaskan di desk ekonomi sebuah harian terbit, bertugas di Departemen Keuangan. Teman-teman wartawan yang lain kebetulan tidak berada di tempat. Ia pun seorang diri ketika tiba-tiba Menteri Keuangan waktu itu, Boediono, keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar lobby kantor Departemen Keuangan. Dengan sigap si reporter pun bergerak ke arah Boediono, mencegat dan menyodorkan tape recordernya. Boediono pun menghentikan langkahnya. Keduanya berhadap-hadapan. Si reporter melihat ke kiri dan kanannya. Ia menyadari tidak ada rekan sesama reporter di dekatnya. Beno pun mulai kehilangan akal apa yang akan ditanyakan. Boediono lalu bertanya, “Mau tanya apa?”�.
Seorang presenter mengantarkan segmen dialog sebuah program berita pagi usai membaca segmen olahraga. “Sesaat lagi kami akan kembali dengan dialog khas Nuansa Pagi dengan nara sumber Happy Bone (baca: “Boun”) Zulkarnaen.”. Ketika Bhayu Sugarda keluar dari ruang siaran ia pun berpapasan dengan Happy Bone (baca: “Bo-ne”) Zulkarnaen namun tak berani menatap matanya.
Wartawati: "Jadi para jumantik (Juru Pemantau Jentik) dari mana saja, bu?"
Narasumber: "yah sebagian besar dari mereka juga ibu-ibu PKK"
Louisa Kusnandar: "Oh, jadi sebagian besar dari mereka juga Petugas Kebersihan dan Keamanan yah?"
Narasumber: "....?!?"
Seorang wartawan cukup senior yang sudah lama tak berkunjung ke Mabes Polri menghadiri konperensi pers dari Kadivhumas. Karena dia tidak tahu nama dari Kadivhumas, ia pun bertanya kepada salah seoramng rekannya.
"Bos, namanya siapa Bos?", wartawan cukup senior.
"Paiman. Paiman", kata rekannya.
"Oke. Tengs.", balasnya.
Ia pun mengacungkan tangan untuk bertanya. "Pak Iman...Pak Iman!".
Rekannya pun melotot dan menyikut pinggang sang wartawan. "Namanya Paiman tauk! Bukan Pak Iman.".
Menyadari kesalahannya Edwin Nazir pun mengoreksi ucapannya dengan memanggil, "Jenderal! Jenderal!".
Seorang wartawan menyambut kedatangan seorang nara sumber yang akan diwawancara di studio. Ia kebetulan bertugas sebagai booker.
"Terima kasih atas kedatangannya Mas Ray.", kata si wartawan.
"Sama-sama, Mas.", kata Ray Sahetapy.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift menuju studio. Kesunyian lift menghujam, karena hanya mereka bedua di dalam lift. Sang wartawan pun berupaya mencairkan suasana.
"Wah, Mas. Saya penggemar berat Anda di sinetron Tahta.", katanya.
Ray menoleh ke arah wartawan itu dengan cepat.
"Tahta? Bukan saya yang main di situ. Itu Mathias Muchus.", kata Ray Sahetapy.
Kesunyian semakin menghujam. Sang wartawan pun berupaya kembali dari keterpurukan.
"Tapi saya juga senang dengan penampilan Anda di film 'Kanan Kiri Oke'.", kata si wartawan.
Sejak saat itu Raden Wahyuningrat menyadari kelemahannya dalam berinteraksi dengan selebritas.
Seorang produser membuat janji dengan Adrianus Meliala.
Produser: "Selamat pagi Pak Meliala. Saya Ocha dari Astro Awani. Saya mau minta waktu Anda untuk wawancara soal tawuran, Pak. Iyah Pak, mengenai kecelakaan transportasi nih Pak. Jadi kapan bisa ketemu nih Pak. Hari ini? Oke baik Pak. Di mana Pak? Di Pelabuhan Tanjung Priok yah! Oke pak. Terima kasih banyak Pak."
Sang produser pun meminta tim liputan untuk mewawancarai Adrianus Meliala. Tim liputan pun berangkat ke lokasi. Ketika ditemui, sang reporter melihat dari jauh penampilan Adrianus Meliala. Sang reporter pun mulai curiga karena penampilannya tidak seperti yang ia ketahui dari media massa selama ini. Untuk memastikan, sang reporter melontarkan pertanyaan pancingan.
Sang Reporter: "Jadi berapa lama Bapak belajar jadi kriminolog?".
Adrianus Meliala: "Kriminolog? Latar belakang saya akademi pelayaran Mas.".
Oki Budhi Priambodo: "....?!?".
Sejak kejadian itu Firouza menyadari bahwa nama orang bisa sama persis dengan orang lain secara kebetulan.
Seorang reporter mewawancarai seorang anak kecil berkaitan dengan fenomena Smackdown.
Sang Reporter: "Jadi tokoh favorit kamu siapa di Smackdown?"
Anak kecil: "De-Ex".
Sang Reporter: "Siapa?"
Anak kecil: (Curiga ada yang salah dengan cengkok bicaranya, si anak kecil pun berupaya mengoreksi pengucapan nama idolanya) "Diee Eksh."
Sang Reporter: "Siapa siapa?"
Anak kecil: (Kali ini si anak kecil memutuskan untuk mempercepat pengucapannya supaya tidak terlalu ketara jika ada salah pengucapan) "D-Ex!"
Ulung Putri: "Siapa?"
Anak kecil: "De-Eeeeeeeeeeeeeeex.". Wajah si anak campur aduk antara heran (karena kok ada reporter sebudeg ini?), marah (karena si reporter berulangkali menanyakan hal yang sama) dan kecewa (karena koreksi pengucapannya sebanyak 2 kali tak berarti banyak buat si reporter).
Seorang wartawan dengan kamera person-nya mendatangi BPOM Pusat untuk meminta ijin mengikuti razia obat di pasar. Ketika ditemui, petugas BPOM Pusat menyangkal ada razia hari itu. Tapi sang wartawan menolak untuk menyerah. Ia pun beranjak ke BPOM Jakarta. Melalui telepon ia berbincang dengan nara sumbernya di BPOM Jakarta dan telah mendapatkan ijin mengikuti razia yang akan mereka lakukan sore itu. Berangkatlah dengan cepat si reporter dengan kamera person ke kantor BPOM Jakarta. Ketika tiba di sana, keduanya disambut dengan baik. Nara sumber berjanji akan segera berangkat setelah personil sudah lengkap, karena masih ada satu lagi personil yang akan ikut namun belum datang. Si wartawan dan kamera person pun menunggu dengan sabar. Tak berapa lama si nara sumber kelihatan bergegas mendatangi si wartawan dan kamera person. Ia menginformasikan bahwa orang yang ditunggu sedari tadi sudah datang dan akan segera berangkat melakukan razia. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu adalah petugas BPOM Pusat yang ditemui sang wartawan sebelumnya. Petugas itu kembali menegaskan bahwa sang wartawan tidak boleh mengikuti razia. Mungkin karena melihat kegigihannya, belakangan orang itu pun akhirnya mengijinkan Yoga Nugraha mengikuti razia.
Seorang Presenter Pria membaca berita dari Irak yang muncul di Teleprompter. Di prompter tertulis, “KORBAN LEDAKAN BOM DILARIKAN KE RUMAH SAKIT AL KINDI///”. Andrie Djarot lalu membaca tulisan di prompter itu sebagai berikut: “Korban ledakan bom dilarikan ke rumah sakit ANGKATAN LAUT Kindi”.
Seorang Presenter Wanita membaca berita dari Australia. Tulisan yang muncul di Teleprompter sebagai berikut: “BANJIR MENGGENANGI SEBAGIAN BESAR KAWASAN NEW SOUTH WALES///”. Namun, Pinky Andriyani membacanya seperti ini: “Banjir menggenangi sebagian besar kawasan New South WALLS.”. Untuk beberapa saat Show Produser terbengong-bengong sebelum memutuskan untuk me-retake pembacaan berita itu.
Seorang reporter yang baru ditugaskan di desk ekonomi sebuah harian terbit, bertugas di Departemen Keuangan. Teman-teman wartawan yang lain kebetulan tidak berada di tempat. Ia pun seorang diri ketika tiba-tiba Menteri Keuangan waktu itu, Boediono, keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar lobby kantor Departemen Keuangan. Dengan sigap si reporter pun bergerak ke arah Boediono, mencegat dan menyodorkan tape recordernya. Boediono pun menghentikan langkahnya. Keduanya berhadap-hadapan. Si reporter melihat ke kiri dan kanannya. Ia menyadari tidak ada rekan sesama reporter di dekatnya. Beno pun mulai kehilangan akal apa yang akan ditanyakan. Boediono lalu bertanya, “Mau tanya apa?”�.
Seorang presenter mengantarkan segmen dialog sebuah program berita pagi usai membaca segmen olahraga. “Sesaat lagi kami akan kembali dengan dialog khas Nuansa Pagi dengan nara sumber Happy Bone (baca: “Boun”) Zulkarnaen.”. Ketika Bhayu Sugarda keluar dari ruang siaran ia pun berpapasan dengan Happy Bone (baca: “Bo-ne”) Zulkarnaen namun tak berani menatap matanya.
Tuesday, December 16, 2008
Diskusi Panel Konferensi Keselamatan Jurnalis (1)

Sedikit cerita dari Konferensi Keselamatan Jurnalis. Konferensi ini merupakan upaya untuk menciptakan budaya keselamatan bagi Jurnalis. Berbagai panelis hadir dalam konferensi ini, antara lain dari Filipina, Kamboja dan Malaysia. Menarik mendengar kondisi keselamatan bagi Jurnalis di Filipina dan negara Asia Tenggara lainnya. Karena tidak terlalu jauh berbeda. Namun, sejumlah perbedaan yang mencolok antara lain seperti berikut:
1. Filipina
Di Filipina, tingkat kematian jurnalis tinggi. Padahal kebebasan pers jauh lebih baik dari Malaysia misalnya. Menurut Maria Ressa, mantan koresponden CNN yang sekarang bekerja di ABS-CBN (salah satu stasiun televisi besar di Filipina) 70 persen konten berita adalah kriminal. Ia mengaku sempat berupaya untuk mengurangi konten berita kriminal tapi akhirnya sadar bahwa berita kriminal diperlukan karena kriminalitas tinggi di Filipina.
Tingkat kematian jurnalis di Filipina ada di peringkat 4 dengan jumlah kematian 55 orang antara tahun 1996 s/d tahun 2006. Nomer satu tetap Irak dengan jumlah kematian sebanyak 138 orang. Diskusi khusus tentang kondisi buruk keselamatan Jurnalis di Filipina dilakukan untuk merangkum rekomendasi soal ini. Sejumlah kesimpulan yang muncul antara lain:
- budaya impunitas meluas (tak ada satu pun kasus kematian jurnalis masuk ke meja hijau)
- praktek buruk jurnalistik (alias amplop) juga diduga turut berperan, sehingga masyarakat tak peduli tentang keselamatan jurnalis
- tidak ada komitmen dari Pemerintah untuk menghentikan pembunuhan atas Jurnalis dan menghentikan budaya impunitas
- gaji wartawan yang rendah dan rendahnya kualifikasi wartawan juga dianggap memengaruhi kualitas karya jurnalistik (khususnya radio - sementara radio lebih luas jangkauannya/ populer dibanding televisi)
2. Kamboja
Jurnalis di Kamboja mungkin tidak terancam jiwanya - tapi mereka rentan untuk ditangkap aparat. Seorang wartawan tewas saat pemilu di Kamboja tahun ini. Panelis dari Kamboja menekankan perlunya kesadaran akan pentingnya keselamatan Jurnalis oleh Stakeholders antara lain: Pemerintah, Organisasi Jurnalis dan Pimpinan Institusi Pemberitaan.
3. Malaysia
Di Malaysia, persoalan utama adalah Undang-Undang berkaitan dengan Jurnalis menjadi alat Pemerintah untuk mengendalikan Media Massa. Salah satu UU yang menghambat kerja Jurnalis antara lain Internal Security Act (seorang blogger akhirnya ditahan karena dianggap subversif tahun ini) dan UU yang mengharuskan institusi pemberitaan untuk memperbarui ijin Pers dalam kurun waktu tertentu. Sehingga media sewaktu-waktu bisa dibredel.
Satu hal yang menjadi keresahan peserta diskusi panel dari awal adalah nasib koresponden/freelance/ stringer. Karena keselamatan mereka dari segi peralatan dan asuransi berbeda dengan jurnalis yang berstatus karyawan media besar. Di Indonesia, kenyataannya adalah Jurnalis terbagi menjadi 2 kelas yang tidak mendapatkan keuntungan sama dari perusahaan.
Tapi pada dasarnya, isu keselamatan Jurnalis harus menjadi prioritas institusi pemberitaan sekaligus jurnalis sendiri.
Apa yang harus dilakukan dalam situasi konflik? Rick Filon dari AKE (sebuah perusahaan Manajemen Krisis) memberikan sejumlah panduan sebagai berikut:
1. Tanggung jawab perusahaan dalam memastikan keselamatan Jurnalis antara lain:
- Pelatihan keselamatan bagi Jurnalis sebelum masuk ke situasi konflik
- Melakukan praktek Perencanaan Manajemen Krisis (identifikasi langkah dalam menghadapi situasi krisis seperti misalnya penculikan wartawan)
- Mengidentifikasi dukungan dari luar (Organisasi Internasional untuk melindungi wartawan, dlsb.)
- Diseminasi informasi (memastikan informasi penting terkait kondisi nyata di daerah konflik dapat diakses tim di lapangan maupun pihak manajemen)
- Mendokumentasikan kondisi karyawan, baik itu kondisi kesehatannya maupun keahliannya - dengan harapan saat krisis terjadi kondisi wartawan tidak terabaikan
2. Planning/ Risk Assesment
Risk Assessment bisa dilakukan dengan melakukan langkah sebagai berikut:
- Menentukan tujuan dari liputan, story apa yang dikejar, apakah cukup pantas untuk mengirim tim ke lokasi berbahaya
- Melakukan apresiasi detail tentang kondisi di lokasi berbahaya itu
- Mempersiapkan rencana untuk mengurangi resiko dalam upaya mencapai tujuan
- Contingency Plan atau mempersiapkan skenario jika terjadi sesuatu
- Emergency Plan atau rencana jika terjadi situasi darurat (misalnya KAPAN TIM LIPUTAN HARUS KELUAR DARI LOKASI KONFLIK).
- Mempertimbangkan resiko dengan hasil yang diharapkan
3. Pelaksanaan
Pada pelaksanaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
- Eksekusi Manajemen Krisis
Saat tim dikirim, anggoat tim telah dibekali segala persiapan yang BISA dilakukan pada waktu singkat. Misalnya peralatan khusus (masker untuk liputan kawasan bencana/penyakit menular, jaket anti peluru atau medical tool kit P3K), informasi dasar tentang segala hal yang perlu diketahui di lokasi berbahaya termasuk budaya dan background masalah, alat komunikasi dan protokol/SOP peliputan di daerah berbahaya yang harus dipatuhi jurnalis.
- Reassessment (Evaluasi Ulang)
Evaluasi kembali protokol/ SOP peliputan karena mungkin saja perlu berubah karena kondisi lapangan juga berubah. Selain protokol/ SOP yang harus diperhatikan adalah keperluan alat kesehatan - dengan pertimbangan mungkin obat/alat kesehatan yang dibawa tidak lagi relevan dengan kondisi di lapangan. Begitu juga dengan shelter seperti tenda, alat komunikasi dan sebagainya. Dengan begitu, Manajemen responsif terhadap kebutuhan tim lapangan.
- Post Task (Pasca Peliputan)
Manajemen perlu mengidentifikasi ancaman yang mungkin muncul pasca peliputan. Misalnya hasil liputan yang dibawa pulang memiliki potensi membuat marah pihak tertentu sehingga perlu persiapan untuk menghadapinya.
Selain mengidentifikasi ancaman terhadap intitusi pemberitaan, ancaman terhadap pihak ketiga juga perlu diperhatikan. Misalnya ancaman terhadap koresponden kita yang masih meliput di lokasi konflik setelah tim yang dikirim pulang.
Jangan lupa melakukan evaluasi keseluruhan mencakup kondisi kesehatan fisik maupun kejiwaan anggota tim. Karena tidak sedikit Jurnalis yang meliput daerah konflik atau lokasi bencana mengalami trauma.
4. Bagaimana mengurangi Resiko?
Sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko adalah:
- Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang budaya, kondisi terakhir konflik, latar belakang konflik dan latar belakang orang-orang yang menjadi sumber berita.
- Pastikan Risk Assessment dibuat berdasarkan data akurat dan bukan mitos. Misalnya: salah satu protokol yang dibuat untuk tim liputan dalam melakukan tugasnya adalah tiarap saat muncul tembakan, dengan asumsi senjata kelompok pemberontak bisa menjangkau1500 meter. Padahal di daerah itu, senjata yang umum digunakan kelompok pemberontak memiliki jangkauan di bawah 400 meter. Selain itu kemampuan menggunakan senjata anggota kelompok pemberontak sangat tidak akurat. Jadi saat tembakan muncul dari arah kelompok pemberontak - seharusnya tidak perlu tiarap karena bisa langsung keluar dari lokasi berbahaya. Atau misalnya jika ada suara siulan berarti ada mortir yang diluncurkan...padahal di lokasi berbahaya itu, kelompok milisi tidak menggunakan pelontar mortir yang menimbulkan suara seperti itu.
- Hindari profil tertentu yang mudah dikenali dari anggota tim liputan alias coba untuk tidak terlalu mencolok. Misalnya: selalu memakai topi hutan atau baju tertentu saat liputan. Karena dengan begitu, orang yang ingin menculik Anda misalnya dengan mudah mengenali targetnya.
- Peralatan khusus seperti baju anti peluru, telepon satelit dan lain-lain
- Hindari rutinitas. Misalnya untuk pulang ke rumah hindari menggunakan jalan yang sama setiap kali. Atau setiap malam makan di satu tempat tertentu.
Kesimpulannya: Don't Be The Easy Option!
1. Filipina
Di Filipina, tingkat kematian jurnalis tinggi. Padahal kebebasan pers jauh lebih baik dari Malaysia misalnya. Menurut Maria Ressa, mantan koresponden CNN yang sekarang bekerja di ABS-CBN (salah satu stasiun televisi besar di Filipina) 70 persen konten berita adalah kriminal. Ia mengaku sempat berupaya untuk mengurangi konten berita kriminal tapi akhirnya sadar bahwa berita kriminal diperlukan karena kriminalitas tinggi di Filipina.
Tingkat kematian jurnalis di Filipina ada di peringkat 4 dengan jumlah kematian 55 orang antara tahun 1996 s/d tahun 2006. Nomer satu tetap Irak dengan jumlah kematian sebanyak 138 orang. Diskusi khusus tentang kondisi buruk keselamatan Jurnalis di Filipina dilakukan untuk merangkum rekomendasi soal ini. Sejumlah kesimpulan yang muncul antara lain:
- budaya impunitas meluas (tak ada satu pun kasus kematian jurnalis masuk ke meja hijau)
- praktek buruk jurnalistik (alias amplop) juga diduga turut berperan, sehingga masyarakat tak peduli tentang keselamatan jurnalis
- tidak ada komitmen dari Pemerintah untuk menghentikan pembunuhan atas Jurnalis dan menghentikan budaya impunitas
- gaji wartawan yang rendah dan rendahnya kualifikasi wartawan juga dianggap memengaruhi kualitas karya jurnalistik (khususnya radio - sementara radio lebih luas jangkauannya/ populer dibanding televisi)
2. Kamboja
Jurnalis di Kamboja mungkin tidak terancam jiwanya - tapi mereka rentan untuk ditangkap aparat. Seorang wartawan tewas saat pemilu di Kamboja tahun ini. Panelis dari Kamboja menekankan perlunya kesadaran akan pentingnya keselamatan Jurnalis oleh Stakeholders antara lain: Pemerintah, Organisasi Jurnalis dan Pimpinan Institusi Pemberitaan.
3. Malaysia
Di Malaysia, persoalan utama adalah Undang-Undang berkaitan dengan Jurnalis menjadi alat Pemerintah untuk mengendalikan Media Massa. Salah satu UU yang menghambat kerja Jurnalis antara lain Internal Security Act (seorang blogger akhirnya ditahan karena dianggap subversif tahun ini) dan UU yang mengharuskan institusi pemberitaan untuk memperbarui ijin Pers dalam kurun waktu tertentu. Sehingga media sewaktu-waktu bisa dibredel.
Satu hal yang menjadi keresahan peserta diskusi panel dari awal adalah nasib koresponden/freelance/ stringer. Karena keselamatan mereka dari segi peralatan dan asuransi berbeda dengan jurnalis yang berstatus karyawan media besar. Di Indonesia, kenyataannya adalah Jurnalis terbagi menjadi 2 kelas yang tidak mendapatkan keuntungan sama dari perusahaan.
Tapi pada dasarnya, isu keselamatan Jurnalis harus menjadi prioritas institusi pemberitaan sekaligus jurnalis sendiri.
Apa yang harus dilakukan dalam situasi konflik? Rick Filon dari AKE (sebuah perusahaan Manajemen Krisis) memberikan sejumlah panduan sebagai berikut:
1. Tanggung jawab perusahaan dalam memastikan keselamatan Jurnalis antara lain:
- Pelatihan keselamatan bagi Jurnalis sebelum masuk ke situasi konflik
- Melakukan praktek Perencanaan Manajemen Krisis (identifikasi langkah dalam menghadapi situasi krisis seperti misalnya penculikan wartawan)
- Mengidentifikasi dukungan dari luar (Organisasi Internasional untuk melindungi wartawan, dlsb.)
- Diseminasi informasi (memastikan informasi penting terkait kondisi nyata di daerah konflik dapat diakses tim di lapangan maupun pihak manajemen)
- Mendokumentasikan kondisi karyawan, baik itu kondisi kesehatannya maupun keahliannya - dengan harapan saat krisis terjadi kondisi wartawan tidak terabaikan
2. Planning/ Risk Assesment
Risk Assessment bisa dilakukan dengan melakukan langkah sebagai berikut:
- Menentukan tujuan dari liputan, story apa yang dikejar, apakah cukup pantas untuk mengirim tim ke lokasi berbahaya
- Melakukan apresiasi detail tentang kondisi di lokasi berbahaya itu
- Mempersiapkan rencana untuk mengurangi resiko dalam upaya mencapai tujuan
- Contingency Plan atau mempersiapkan skenario jika terjadi sesuatu
- Emergency Plan atau rencana jika terjadi situasi darurat (misalnya KAPAN TIM LIPUTAN HARUS KELUAR DARI LOKASI KONFLIK).
- Mempertimbangkan resiko dengan hasil yang diharapkan
3. Pelaksanaan
Pada pelaksanaan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:
- Eksekusi Manajemen Krisis
Saat tim dikirim, anggoat tim telah dibekali segala persiapan yang BISA dilakukan pada waktu singkat. Misalnya peralatan khusus (masker untuk liputan kawasan bencana/penyakit menular, jaket anti peluru atau medical tool kit P3K), informasi dasar tentang segala hal yang perlu diketahui di lokasi berbahaya termasuk budaya dan background masalah, alat komunikasi dan protokol/SOP peliputan di daerah berbahaya yang harus dipatuhi jurnalis.
- Reassessment (Evaluasi Ulang)
Evaluasi kembali protokol/ SOP peliputan karena mungkin saja perlu berubah karena kondisi lapangan juga berubah. Selain protokol/ SOP yang harus diperhatikan adalah keperluan alat kesehatan - dengan pertimbangan mungkin obat/alat kesehatan yang dibawa tidak lagi relevan dengan kondisi di lapangan. Begitu juga dengan shelter seperti tenda, alat komunikasi dan sebagainya. Dengan begitu, Manajemen responsif terhadap kebutuhan tim lapangan.
- Post Task (Pasca Peliputan)
Manajemen perlu mengidentifikasi ancaman yang mungkin muncul pasca peliputan. Misalnya hasil liputan yang dibawa pulang memiliki potensi membuat marah pihak tertentu sehingga perlu persiapan untuk menghadapinya.
Selain mengidentifikasi ancaman terhadap intitusi pemberitaan, ancaman terhadap pihak ketiga juga perlu diperhatikan. Misalnya ancaman terhadap koresponden kita yang masih meliput di lokasi konflik setelah tim yang dikirim pulang.
Jangan lupa melakukan evaluasi keseluruhan mencakup kondisi kesehatan fisik maupun kejiwaan anggota tim. Karena tidak sedikit Jurnalis yang meliput daerah konflik atau lokasi bencana mengalami trauma.
4. Bagaimana mengurangi Resiko?
Sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi resiko adalah:
- Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang budaya, kondisi terakhir konflik, latar belakang konflik dan latar belakang orang-orang yang menjadi sumber berita.
- Pastikan Risk Assessment dibuat berdasarkan data akurat dan bukan mitos. Misalnya: salah satu protokol yang dibuat untuk tim liputan dalam melakukan tugasnya adalah tiarap saat muncul tembakan, dengan asumsi senjata kelompok pemberontak bisa menjangkau1500 meter. Padahal di daerah itu, senjata yang umum digunakan kelompok pemberontak memiliki jangkauan di bawah 400 meter. Selain itu kemampuan menggunakan senjata anggota kelompok pemberontak sangat tidak akurat. Jadi saat tembakan muncul dari arah kelompok pemberontak - seharusnya tidak perlu tiarap karena bisa langsung keluar dari lokasi berbahaya. Atau misalnya jika ada suara siulan berarti ada mortir yang diluncurkan...padahal di lokasi berbahaya itu, kelompok milisi tidak menggunakan pelontar mortir yang menimbulkan suara seperti itu.
- Hindari profil tertentu yang mudah dikenali dari anggota tim liputan alias coba untuk tidak terlalu mencolok. Misalnya: selalu memakai topi hutan atau baju tertentu saat liputan. Karena dengan begitu, orang yang ingin menculik Anda misalnya dengan mudah mengenali targetnya.
- Peralatan khusus seperti baju anti peluru, telepon satelit dan lain-lain
- Hindari rutinitas. Misalnya untuk pulang ke rumah hindari menggunakan jalan yang sama setiap kali. Atau setiap malam makan di satu tempat tertentu.
Kesimpulannya: Don't Be The Easy Option!
Label:
journalist,
Jurnalis,
keselamatan,
safety
Diskusi Panel Konferensi Keselamatan Jurnalis (2)
Burma/Myanmar kondisi kebebasan pers-nya sangat buruk. Mulai dari Undang-Undang tentang Televisi dan Video, UU Perfilman, UU elektronik s/d UU Perkembangan Ilmu Komputer. UU yang terakhir pada dasarnya kepemilikan perangkat komputer harus dilaporkan ke Junta. Sisanya merupakan batasan kepada media dalam melaporkan ke publik. Misalnya UU elektronik - UU itu melarang seseorang mengirimkan gambar peristiwa di Burma/ Myanmar melalui internet ke luar negeri.Email juga diawasi. Sekitar 80 persen email service provider di-blok. Karena itu, hati-hati jika mengirim email dari Burma/Myanmar. Para jurnalis sakti ini memperingatkan untuk menggunakan email kedua yang tidak diketahui pihak Junta.
Selain itu, seperti halnya di Malaysia - media harus melakukan registrasi ulang setiap tahun. Berita media cetak harus diserahkan ke Kementerian Informasi untuk disensor bila perlu sehari sebelum bisa disebarluaskan. Untuk media mingguan, bisa menyerahkannya 3 hari sebelumnya.
Korban harian yang ada di Burma/Myanmar ada 3 dan semuanya dikendalikan Pemerintah. Begitu juga dengan stasiun televisi. Informasi yang ada di media Burma/Myanmar bisa dibilang 100 persen propaganda.
Sejumlah tip dan trik yang disampaikan para jurnalis dari Burma/Myanmar dalam diskusi panel, antara lain:
- jangan mengoperasikan kamera foto/video di depan tentara yang bertugas
- jangan mengeluarkan kamera foto/video jika ada tentara di sekitar
- pastikan foto-foto yang bisa dianggap berbahaya oleh militer disimpan dengan baik dan jangan ditinggalkan di kamera foto/video
Akhirnya yang mereka lakukan adalah menyebarkan informasi, meski bisa membahayakan nyawa mereka, dengan cara-cara bawah tanah. Sebagian besar pun akhirnya membantu media asing untuk mendapatkan informasi. Liputan yang di bawah pengawasan Junta bukan hanya masalah konflik perang saudara, tapi juga di daerah bencana topan Nargis. Mereka berharap koresponden luar negeri bisa mengerti kondisi peliputan di Burma/Myanmar dan bisa lebih sensitif saat bertugas, karena salah langkah bisa membahayakan diri mereka dan wartawan lokal yang kebetulan membantu mereka. Menurut mereka, sebaiknya media internasional mengirimkan wartawan yang berwajah oriental (mirip orang Myanmar). Seperti orang Filipina dan India masih bisa leluasa karena bisa dianggap orang lokal.
Bagi wartawan yang bertugas di daerah konflik seperti itu tentunya akan rentan menderita stress disorder. Kebanyakan wartawan mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Cait McMahon dari DART Center memiliki program untuk mengatasi stress pasca trauma yang diderita jurnalis.
Gejala stress pasca kejadian traumatis antara lain perubahan karakter pasca peristiwa traumatis (dari lembut menjadi kasar), banyak berkeringat, mengalami hyper-arousal sehingga bisa membahayakan tim, kemarahan, rasa bersalah dan rusaknya hubungan pribadi dengan orang tercinta. Hyper-arousal merupakan suatu kondisi yang dimana adrenalin mengalir deras dalam tubuh dan mengakibatkan kesulitan mengambil keputusan secara rasional. Salah satu gejalanya adalah perilaku berbahaya yang bisa mencelakakan tim.
Penanganan trauma bagi jurnalis dilakukan melalui pendekatan BDA (Before, During and After).
1. Before
Sebelum pengiriman tim ke daerah berbahaya (hostile environment) anggota tim harus mengerti ancaman psikologis yang mungkin mereka alami di daerah berbahaya itu. Karena mengetahui adanya ancaman psikologis (bukan hanya ancaman fisik) bisa mengurangi dampak trauma dan dengan cepat bisa di-identifikasi untuk ditangani.
Langkah yang bisa dilakukan sebagai persiapan mental antara lain adalah:
- belajar mengenali tingkat kemampuan menghadapi stress
- belajar dari sesama rekan jurnalis yang lebih senior ancaman psikologis maupun cara menanganinya. Agar lebih efektif perlu adanya Support Group atau mentoring sebagai persiapan sebelum pemberangkatan.
- Positive Self Talk (maksudnya berbicara dengan diri sendiri secara positif. misalnya "I can do this").
- meningkatkan spiritualitas
- Briefing dengan tim sebelum pemberangkatan untuk menjelaskan SOP manajemen trauma (misalnya apa yang harus diperhatikan dan apa yang harus dilakukan jika merasa trauma)
2. During
- fokus pada kegiatan yang dilakukan secara fisik (artinya fokus pada pekerjaan seperti pengambilan gambar - liputan - menjaga keselamatan, agar tidak terlalu fokus pada kondisi psikologis
- jangan terpengaruh dengan korban dan tetap fokus pada pekerjaan saat situasi krisis (misalnya di tengah baku tembak jangan terpengaruh hal lain selain menjaga keselamatan dan melakukan tugas jurnalistik)
- dalam situasi berbahaya selalu men-challenge keputusan yang akan diambil dengan pemikiran negatif (artinya sebelum melakukan sesuatu yang berbahaya - seperti ptc di tengah baku tembak - selalu lawan dorongan untuk melakukan itu dengan pemikiran yang negatif seperti "I can not do this". Dengan demikian memberi kesempatan kita untuk berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang berbahaya.
- bernafas dalam-dalam dan bicara pada diri sendiri (seperti misalnya di tengah situasi kritis berkata pada diri sendiri: "Tetap tenang dan fokus pada pekerjaan. Nafas dalam-dalam.")
- awasi kondisi fisik dan mental. (artinya senantiasa evaluasi diri apakah mengalami kelelahan fisik dan mental)
- minum air banyak-banyak
- pertahankan harapan dan keyakinan diri
- manajemen bisa membantu dengan mengirimkan pesan pendek atau email menanyakan kondisi tim sebagai bentuk perhatian - khususnya usai melakukan tugasnya dengan baik
3. After
- pengecekan fisik maupun psikologis (yang terakhir tidak perlu sampai mendatangkan psikiater - tapi cukup menggelar sesi berbagi cerita dengan mentor atau jurnalis yang lebih senior)
- perhatikan gejala-gejala PTSD dalam keseharian sehingga bisa segera diatasi
- pemantauan kondisi psikologis selama 3 hingga 4 hari pasca trauma
- membuka diri untuk menerima konseling dari Support Group
Pada dasarnya ada 5 poin yang harus diperhatikan. Kelima poin itu terangkum dalam CISD (Critical Incidence Safety Debriefing):
1. Training Trauma bukan sekedar diperlukan tapi sangat penting untuk dilakukan
2. Keselamatan fisik adalah seiring dengan keselamatan psikologis (karena gangguan psikologis bisa memicu gejala fisiologis atau mempengaruhi secara fisik)
3. Lakukan pendekatan BDA
4. Reaksi pasca trauma adalah wajar
5. Budaya media pemberitaan yang sadar pentingnya penanganan trauma = praktek jurnalisme yang lebih baik = bisnis yang baik/menguntungkan perusahaan
Demikian semoga bermanfaat.
Label:
journalist,
Jurnalis,
keselamatan,
safety,
stress
Friday, July 11, 2008
The Star That Shines Briefly, But Still Shines in Her Own Light


Wendi Ruky Mogul adalah anchor yang pertama kali membawakan acara dialog Kupas Tuntas di Trans TV. Tapi ia hanya membawakan acara itu hingga tahun 2003. Saat ini ia tinggal di Bethesda, Amerika Serikat bersama suami dan anaknya.
Perjalanan kariernya cukup panjang, berawal dari kuliah di jurusan Hubungan Internasional di FISIP UI, ia pun melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Columbia, New York dan lulus dengan gelar Master of Science in Journalism. Selama di Amerika Serikat, ia sempat magang di CNN Biro New York dan bekerja sebagai asisten produser untuk jaringan televisi CBS News. Tahun 1999, Wendi kembali ke Indonesia. Ia bekerja di Majalah Tempo selama setahun sebelum akhirnya bergabung ke Trans TV.
Lalu, apa yang membuatnya mengakhiri kariernya di industri televisi? Apakah murni karena keluarga ataukah ada alasan lainnya? Berikut jawabannya melalui email atas pertanyaan saya itu:
Perjalanan kariernya cukup panjang, berawal dari kuliah di jurusan Hubungan Internasional di FISIP UI, ia pun melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Columbia, New York dan lulus dengan gelar Master of Science in Journalism. Selama di Amerika Serikat, ia sempat magang di CNN Biro New York dan bekerja sebagai asisten produser untuk jaringan televisi CBS News. Tahun 1999, Wendi kembali ke Indonesia. Ia bekerja di Majalah Tempo selama setahun sebelum akhirnya bergabung ke Trans TV.
Lalu, apa yang membuatnya mengakhiri kariernya di industri televisi? Apakah murni karena keluarga ataukah ada alasan lainnya? Berikut jawabannya melalui email atas pertanyaan saya itu:
"Halo Bhayu.. Sori saya telat balas. Saya punya penyakit males ngecek inbox... I didn't leave TV industry altogether.. I consider it a "temporary leave". Although I don't exactly know when I'll be back. Hehehe..Jawabannya sudah kamu tulis sendiri kok. There was no other reason than ngikut suami and having a family.
I loved what I did, and the journalistic work in Indonesia was super exciting. Seandainya suami saya orang Indonesia OR dia mau menetap di Indonesia, I wouldn't have left Trans. But at the time (2003), saya harus memilih antara karir di Indonesia dan rumah tangga di Amerika. And I chose the latter. I guess love does conquer all... hahaha...
Do I miss the good ol'days? Yes, sometimes.. apalagi kalau denger cerita dari temen2 mengenai kerjaan mereka sekarang. Rasanya masih banyak yg saya ingin lakukan di Indonesia. But do I regret my decision? No. Kesenangan dapat berita eksklusif, serunya ngeliput di lapangan, dan excitement dapet rating tinggi... teteeeeeuup gak bisa mengalahkan kebahagiaan membesarkan anak sendiri dan menyaksikan semua perkembangannya. Saya masih ingat banget betapa beberapa temen kerja dulu menangis karena sudah beberapa hari gak ketemu anaknya.. Saya bisa bayangin seandainya sekarang saya masih kerja full throttle di Jakarta, saya akan ngalamin situasi kayak begitu... Tahu sendiri kan work environment di TV gimana. Kalau kita keseringan cepet pulang, dianggap bukan pekerja keras dan bukan hard core journalist. 'Tul? :)
Sekarang anak saya masih kecil, dan kita berharap nambah lagi. Jadi saya masih ngerem karir. Ibaratnya nyetir mobil gigi satu aja. Hopefully ketika anak(-anak) sudah sekolah, saya bisa pindah gigi lima lagi. Mungkin tidak akan seperti dulu, but I'm sure other opportunities will come. :)Does this answer satisfy your curiosity? ;)
Memang konsekuensi milih jadi jurnalis ya.. no social life. ;) Aku dulu enggak gitu keberatan.. temen2 kerja asik2 dan kerjaannya seru. Jadi social life-nya ya sama orang2 itu2 juga.. kadang2 bosen, tapi gimana ya. Enggak ada pilihan. Wuahaha... just kidding. Lebih tepatnya sih sebenernya, sama orang2 yang mengerti, berhubung senasib sepenanggungan..Tapi biasanya yg cepet cabut itu kan juga memang enggak terlalu niat jadi jurnalis. Keliatan kok dari kerjaannya gimana. Right?
Mungkin awalnya coba2 ngelamar terus keterima... without really having a clue of what the job entails. Mungkin lebih bagus begitu... daripada sengsara, kan mendingan dia cari karir yg lebih pas early on? Gitu bukan? Those who really like the profession stay on.. at least for a while. Now I really like the profession dan I DO feel that I left too early (masih gatel dan penasaran, sebetulnya...), tapi kayak peribahasa sini bilang.. you can't have a cake and eat it too! (I wish 'though....) ;)”
Wendi Ruky Mogul
Wendi Ruky Mogul
Sometimes, learning the thinking process of somebody elses who were there before you do, could help you with your thinking process in making your decision of similar case. Because your decision is what makes you fly or don’t fly. Either way you still have to face the consequences of your decision.
Semoga bermanfaat,
Bhayu Sugarda
Semoga bermanfaat,
Bhayu Sugarda
Tuesday, July 8, 2008
CHRISTER LARSSON
Guys,
I found this on the internet. Apparently…maksudnya, hehehe, Christer Larsson ternyata jurnalis yang pertama kali ngebongkar program senjata nuklir yang ditutup-tutupi pemerintahnya. Jadi program senjata nuklir itu dilakukan dengan topeng program energi nuklir (buat energi maksudnya…bukan buat perang). Ini kalo orangnya sama yah. Kalo dilihat dari CV-nya, dia khan ngebongkarnya tahun 85, jadi saat itu dia kerja buat New Technology Magazine.
Ngeri juga nih dia. Abis itu dia kerja buat Swedish Broadcasting corporation. Nama dia muncul saat bekerja untuk Swedish Broadcasting Corporation di acara forum internasional gitu. Aneh nih orang, karena dia bikin paper soal remote sensing buat satelit segala, tapi abis itu kerja buat tv. Dan kayaknya kedatangannya menemui jurnalis Indonesia, ada hubungannya dengan tugasnya menggelar seminar soal media, dengan dana pemerintah Swedia – seperti tertulis dalam CV-nya. Pernah kerja buat UN juga lagi. So, is this guy a scientist, a peace officer for the UN, a broadcast journalist, a lecturer, or a “spook” (intel bo! Inteeeeeel à prosesor komputer kaleeeee).
The NPT and the Issue of Latent Proliferation
Roland Kollert
"The two dual-use power plants, along with a projected reprocessing plant that was declared civil, were central elements of the "Laddningsprogrammet" of the Swedish general staff. One version of the program proposed the production of twenty warheads per year by the late Sixties. It was not until 1985, when research by the journalist Christer Larsson was released, that the Swedish public was informed of the military function of their country's nuclear energy program."
Artikel lainnya nih soal Oom Larsson. Susah bo nyari referensinya si Oom Larsson, karena semua pake bahasa swedia (inga, ula, onatop – onatop?):
Swedish nuclear weaponry research has attracted rumours over the years, catching the attention of the media from time to time. The magazine ’Ny Teknik’ published a series of articles during the 80’s entitled ’Historien om en svensk atombomb’ (’The story of a Swedish atomic bomb’) that gave rise to intense discussion. The author, Christer Larsson, who was given a journalistic award for the series, stated that the Swedish public, Parliament and even certain members of the Cabinet had been deceived by an inner circle of decision makers.
According to Larsson, this inner circle, composed of ministers, senior officers and scientists, conducted a secret nuclear weapons programme covering the full spectrum of preparations. As a consequence the Government commissioned an inquiry led by the then Head of the Legal Section of FOA, Olof Forssberg. The report from the commission titled ’Svensk kärnvapenforskning 1945 -1972’ (’Swedish Nuclear Weapons Research 1945 - 1972’) and which was published in 1987, concluded that the picture drawn of Swedish nuclear research was distorted, and was characterised by errors and misinterpretations. According to Forssberg the research carried out never overstepped the limits imposed by Parliament and Government. In 1958 Parliament had decreed that no research aimed at the production of nuclear weapons was to be conducted, only research of a defensive nature was to be allowed.
Bhayu Sugarda
(Note: Mungkinkah Christer Larsson merasa sudah mentok di jurnalistik (apalagi yang mau dibongkar coba secara dia udah ngebongkar tujuan asli program nuklir negaranya?). Samakah dirinya dengan Bondan Winarno misalnya yang sekarang memilih jadi host "Mak Nyus"?)
I found this on the internet. Apparently…maksudnya, hehehe, Christer Larsson ternyata jurnalis yang pertama kali ngebongkar program senjata nuklir yang ditutup-tutupi pemerintahnya. Jadi program senjata nuklir itu dilakukan dengan topeng program energi nuklir (buat energi maksudnya…bukan buat perang). Ini kalo orangnya sama yah. Kalo dilihat dari CV-nya, dia khan ngebongkarnya tahun 85, jadi saat itu dia kerja buat New Technology Magazine.
Ngeri juga nih dia. Abis itu dia kerja buat Swedish Broadcasting corporation. Nama dia muncul saat bekerja untuk Swedish Broadcasting Corporation di acara forum internasional gitu. Aneh nih orang, karena dia bikin paper soal remote sensing buat satelit segala, tapi abis itu kerja buat tv. Dan kayaknya kedatangannya menemui jurnalis Indonesia, ada hubungannya dengan tugasnya menggelar seminar soal media, dengan dana pemerintah Swedia – seperti tertulis dalam CV-nya. Pernah kerja buat UN juga lagi. So, is this guy a scientist, a peace officer for the UN, a broadcast journalist, a lecturer, or a “spook” (intel bo! Inteeeeeel à prosesor komputer kaleeeee).
The NPT and the Issue of Latent Proliferation
Roland Kollert
"The two dual-use power plants, along with a projected reprocessing plant that was declared civil, were central elements of the "Laddningsprogrammet" of the Swedish general staff. One version of the program proposed the production of twenty warheads per year by the late Sixties. It was not until 1985, when research by the journalist Christer Larsson was released, that the Swedish public was informed of the military function of their country's nuclear energy program."
Artikel lainnya nih soal Oom Larsson. Susah bo nyari referensinya si Oom Larsson, karena semua pake bahasa swedia (inga, ula, onatop – onatop?):
Swedish nuclear weaponry research has attracted rumours over the years, catching the attention of the media from time to time. The magazine ’Ny Teknik’ published a series of articles during the 80’s entitled ’Historien om en svensk atombomb’ (’The story of a Swedish atomic bomb’) that gave rise to intense discussion. The author, Christer Larsson, who was given a journalistic award for the series, stated that the Swedish public, Parliament and even certain members of the Cabinet had been deceived by an inner circle of decision makers.
According to Larsson, this inner circle, composed of ministers, senior officers and scientists, conducted a secret nuclear weapons programme covering the full spectrum of preparations. As a consequence the Government commissioned an inquiry led by the then Head of the Legal Section of FOA, Olof Forssberg. The report from the commission titled ’Svensk kärnvapenforskning 1945 -1972’ (’Swedish Nuclear Weapons Research 1945 - 1972’) and which was published in 1987, concluded that the picture drawn of Swedish nuclear research was distorted, and was characterised by errors and misinterpretations. According to Forssberg the research carried out never overstepped the limits imposed by Parliament and Government. In 1958 Parliament had decreed that no research aimed at the production of nuclear weapons was to be conducted, only research of a defensive nature was to be allowed.
Bhayu Sugarda
(Note: Mungkinkah Christer Larsson merasa sudah mentok di jurnalistik (apalagi yang mau dibongkar coba secara dia udah ngebongkar tujuan asli program nuklir negaranya?). Samakah dirinya dengan Bondan Winarno misalnya yang sekarang memilih jadi host "Mak Nyus"?)
Thursday, May 10, 2007
Mulyani Hasan - jurnalis tv yang jadi penulis
Saya bertemu dengan seorang jurnalis di Bandung. Namanya Mulyani Hasan. Sejumlah karya jurnalistiknya menghiasi majalah Pantau dan Playboy. Dia mengaku sangat menyukai menulis, padahal sebelumnya ia pernah bekerja sebagai korlip dan terakhir redaktur pelaksana di Bandung TV.
Ia mengaku 'banting setir' (pinjam istilah amrul yang abis liputan petani jamur eks karyawan ptdi menulis di skripnya 'eks karyawan ptdi banting setir'...hehehe) dari jurnalis televisi menjadi penulis lepas untuk media cetak karena ada seninya sendiri menulis... khususnya menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi. Dan dia mengaku sangat menikmati itu. Selain itu, apa yang ia cari tidak didapatnya di Bandung TV.
"Saya tidak tahu teknis pengambilan gambar, tapi saya tahu gambar yang enak ditonton dan yang tidak.", katanya.
Belakangan dia mengungkapkan, kebanyakan pekerja televisi di TV lokal Bandung yang cukup banyak (sedikitnya ada lima: Bandung TV, STV, City View, dll.) adalah fresh graduate. Mulai dari korlip sampai kamera person. Katanya yang lagi lumayan booming adalah STV karena di redaksinya ada bekas karyawan SCTV.
Yang membuatnya unggul adalah kemasan tayangannya (menurut ibu Mulyani ini), tontonan ala Bali TV (Bandung Tv berafiliasi dengan Bali TV) yang mengutamakan seni tradisional sulit dinikmati masyarakat Bandung yang merupakan masyarakat Urban. STV dianggap berhasil karena mengemas tayangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat Bandung yang lebih 'sophisticated' dibanding pemirsa Bali TV (dalam padanan TV lokal yah).
Jadilah akhirnya ia menjadi kontributor majalah Pantau dan majalah Playboy. Saya tanya alasan ketertarikannya akan jurnalisme sastrawi. Dia bilang ada alurnya dan gaya bertutur yang naratif sangat dinikmatinya. Saya uji pandangan saya tentang jurnalisme sastrawi kepada dirinya, 'bukankah jurnalisme sastrawi sangat visual?". Ia pun dengan antusias mengiyakan dan mengatakan sebelum menulis pun ia mengaku perlu menonton film terlebih dahulu.
Mulyani lalu menyebut nama Linda Kristanti yang kabarnya mendapatkan ulasan atas karyanya di majalah sastra Internasional 'Cornell Magazine'. Padahal selain Linda yang pernah mendapat ulasan di majalah ini hanya Pramoedya Ananta Toer. Mulyani menganggap karya Linda sangat enak dinikmati. Saya pun lanjut bertanya kepada dia topik apa yang telah ia kerjakan semala ini. Salah satunya tentang ruu pemerintahan Aceh. Saya pun mengatakan sulit juga kalo televisi mengangkat topik itu secara mendalam karena sifatnya 'wacana'. Tapi kemudian dia pun mengernyitkan dahi, "wacana bagaimana? Asal berdasarkan fakta saya pikir tetap bisa dibahas.". Waduh beda pengertian istilah wacana sepertinya kami berdua.
Perbincangan pun berlanjut ke hal-hal lain, tapi soal wacana ini masih menggantung di kepala.
Kalau menurut Bapak yang terhormat Prof Dr JS Badudu, "wacana" adalah:
1. ucapan, perkataan, tutur;
2. keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan;
3. satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan utuh seperti novel, buku, atau artikel, atau pada pidato, khotbah, dan sebagainya.
Jadi sebenarnya pemahaman kata 'wacana' antara saya dan Mulyani tidak jauh berbeda, hanya saja dari pandangan broadcast 'wacana' sulit di-visualkan karena berdasarkan ucapan atau perkataan orang. Tapi kemudian saya mengintip karya si Ibu Mulyani Hasan ini di Pantau Online.
Terlihat gaya jurnalisme sastrawi yang dianutnya itu - dan memang sangat visual... padahal yang ia bahas adalah Sentimen Anti Komunis yang masih kental di Indonesia. Berikut sedikit bagian karyanya sebagai gambaran gaya penulisannya yang saya anggap sangat visual.
Memburu Marxis di Ladang Buku
Oleh Mulyani Hasan
(Excerpt dari bagian awal)
....HUJAN deras. Jalanan di muka toko buku Ultimus di Lengkong Besar, Bandung , yang biasanya sepi di malam hari, kini ramai. Sekelompok orang berseragam hitam-hitam lalu-lalang di muka toko. Ada yang berdiri bergerombol, ada juga yang jongkok di pinggir jalan.
Diskusi telah dibuka. Sadikin moderator. Seorang pembicara bernama Marhaen Soepratman duduk di sebelahnya.
Marhaen. Nama yang aneh, pikir saya. Nama Marhaen pernah populer di masa presiden Soekarno berkuasa. Ia kagum pada seorang petani yang bekerja keras, bersemangat, cerdas, dan pemberani, bernama Marhaen yang dijumpainya di sebuah desa di Jawa Barat. Sejak itu Soekarno menamakan ajaran atau ideologinya yang memihak rakyat kecil atau wong cilik itu sebagai marhaenisme.
Tetapi Marhaen Soepratman bukan orang Sunda. Ia keturunan Tionghoa. Ia juga bukan petani, melainkan mahasiswa di sebuah universitas di Kanada. Nama aslinya adalah Hariyanto Darmawan. Di Kanada, ia aktivis serikat buruh. Ia sengaja datang ke Bandung, setelah mengunjungi keluarganya di Jakarta.
Peserta diskusi malam itu tak lebih dari seratus orang. Rata-rata peserta antusias dengan materi yang disampaikan pembicara. Tetapi belum setengah jam acara berlangsung, seorang lelaki paruh baya merampas mikrofon dari genggaman Marhaen. Kasar. Tanpa sopan-santun.
"Ajaran komunis sudah tidak relevan lagi dibicarakan! Orang tua saya dibunuh oleh PKI (Partai Komunis Indonesia)! Jadi saudara-saudara, acara semacam ini harus dihentikan!" teriak lelaki itu. Sorot matanya liar memandang sekeliling.
Ia adalah Adang Supriadi, ketua Persatuan Masyarakat Antikomunis atau disingkat Permak.
Suasana jadi ricuh ketika anggota Permak mulai menendang-nendang bangku dan mengancam peserta diskusi. Semua orang buru-buru keluar ruangan. Tumpah ruah ke jalan.
Anggota Permak kemudian memburu pembicara dan ketua panitia yang berusaha menyelamatkan diri ke arah kampus Universitas Pasundan, tepat di depan toko buku itu.
Tak berapa lama Sadikin dan Marhaen ditangkap orang-orang Permak, yang memaksa mereka masuk ke mobil untuk dibawa ke markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung....
(Excerpt di bagain tengah)
....Langkah-langkah sepatu terdengar mengitari seluruh ruang, lalu berakhir di pintu utama. Pintu ditutup dan disegel dengan pita kuning atau garis polisi yang disilangkan di tengahnya.
(Excerpt di bagian akhir)
....Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.
"Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya," katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan.
"Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin," katanya, lagi.
Secangkir kopi panas pesanannya tiba.
"Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan," ujar Bilven.
"Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus." Ia terus bicara.
"Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak," lanjutnya.
Bilven lolos saat Permak melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah."
Adegan terakhir ini mengingatkan saya akan adegan dari film dokumenter tentang Al-Jazeera 'Control Room'. Ada diskusi hangat yang terjadi di sebuah cofee shop di Irak (saya lupa-lupa ingat lokasinya) antara warga dan seorang reporter Al-Jazeera. Adegan ini di-syuting seperti layaknya adegan dalam karya Mulyani. Saat pelayan datang gambar itu tertangkap di kamera.
Pembicaraan menjadi hangat, tek-tok close up antara peserta diskusi kecil ini tertangkap jelas. Mereka hanyalah warga biasa yang mengutarakan unek-unek mereka selama ini tentang kebijakan pemerintah AS di timur tengah. Yang menarik dari adegan ini bagi saya adalah bagaimana mereka begitu terbuka menyatakan pendapat mereka dan begitu natural. Editingnya pun mengalir - enak ditonton.
Solusi: Kreatifitas, kesabaran dan penguasaan masalah bisa jadi gerbang masuk ke ranah wacana, where no broadcast journalist (well maybe a few manage to do so...) has ever gone before.
Ia mengaku 'banting setir' (pinjam istilah amrul yang abis liputan petani jamur eks karyawan ptdi menulis di skripnya 'eks karyawan ptdi banting setir'...hehehe) dari jurnalis televisi menjadi penulis lepas untuk media cetak karena ada seninya sendiri menulis... khususnya menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi. Dan dia mengaku sangat menikmati itu. Selain itu, apa yang ia cari tidak didapatnya di Bandung TV.
"Saya tidak tahu teknis pengambilan gambar, tapi saya tahu gambar yang enak ditonton dan yang tidak.", katanya.
Belakangan dia mengungkapkan, kebanyakan pekerja televisi di TV lokal Bandung yang cukup banyak (sedikitnya ada lima: Bandung TV, STV, City View, dll.) adalah fresh graduate. Mulai dari korlip sampai kamera person. Katanya yang lagi lumayan booming adalah STV karena di redaksinya ada bekas karyawan SCTV.
Yang membuatnya unggul adalah kemasan tayangannya (menurut ibu Mulyani ini), tontonan ala Bali TV (Bandung Tv berafiliasi dengan Bali TV) yang mengutamakan seni tradisional sulit dinikmati masyarakat Bandung yang merupakan masyarakat Urban. STV dianggap berhasil karena mengemas tayangannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat Bandung yang lebih 'sophisticated' dibanding pemirsa Bali TV (dalam padanan TV lokal yah).
Jadilah akhirnya ia menjadi kontributor majalah Pantau dan majalah Playboy. Saya tanya alasan ketertarikannya akan jurnalisme sastrawi. Dia bilang ada alurnya dan gaya bertutur yang naratif sangat dinikmatinya. Saya uji pandangan saya tentang jurnalisme sastrawi kepada dirinya, 'bukankah jurnalisme sastrawi sangat visual?". Ia pun dengan antusias mengiyakan dan mengatakan sebelum menulis pun ia mengaku perlu menonton film terlebih dahulu.
Mulyani lalu menyebut nama Linda Kristanti yang kabarnya mendapatkan ulasan atas karyanya di majalah sastra Internasional 'Cornell Magazine'. Padahal selain Linda yang pernah mendapat ulasan di majalah ini hanya Pramoedya Ananta Toer. Mulyani menganggap karya Linda sangat enak dinikmati. Saya pun lanjut bertanya kepada dia topik apa yang telah ia kerjakan semala ini. Salah satunya tentang ruu pemerintahan Aceh. Saya pun mengatakan sulit juga kalo televisi mengangkat topik itu secara mendalam karena sifatnya 'wacana'. Tapi kemudian dia pun mengernyitkan dahi, "wacana bagaimana? Asal berdasarkan fakta saya pikir tetap bisa dibahas.". Waduh beda pengertian istilah wacana sepertinya kami berdua.
Perbincangan pun berlanjut ke hal-hal lain, tapi soal wacana ini masih menggantung di kepala.
Kalau menurut Bapak yang terhormat Prof Dr JS Badudu, "wacana" adalah:
1. ucapan, perkataan, tutur;
2. keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan;
3. satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan utuh seperti novel, buku, atau artikel, atau pada pidato, khotbah, dan sebagainya.
Jadi sebenarnya pemahaman kata 'wacana' antara saya dan Mulyani tidak jauh berbeda, hanya saja dari pandangan broadcast 'wacana' sulit di-visualkan karena berdasarkan ucapan atau perkataan orang. Tapi kemudian saya mengintip karya si Ibu Mulyani Hasan ini di Pantau Online.
Terlihat gaya jurnalisme sastrawi yang dianutnya itu - dan memang sangat visual... padahal yang ia bahas adalah Sentimen Anti Komunis yang masih kental di Indonesia. Berikut sedikit bagian karyanya sebagai gambaran gaya penulisannya yang saya anggap sangat visual.
Memburu Marxis di Ladang Buku
Oleh Mulyani Hasan
(Excerpt dari bagian awal)
....HUJAN deras. Jalanan di muka toko buku Ultimus di Lengkong Besar, Bandung , yang biasanya sepi di malam hari, kini ramai. Sekelompok orang berseragam hitam-hitam lalu-lalang di muka toko. Ada yang berdiri bergerombol, ada juga yang jongkok di pinggir jalan.
Diskusi telah dibuka. Sadikin moderator. Seorang pembicara bernama Marhaen Soepratman duduk di sebelahnya.
Marhaen. Nama yang aneh, pikir saya. Nama Marhaen pernah populer di masa presiden Soekarno berkuasa. Ia kagum pada seorang petani yang bekerja keras, bersemangat, cerdas, dan pemberani, bernama Marhaen yang dijumpainya di sebuah desa di Jawa Barat. Sejak itu Soekarno menamakan ajaran atau ideologinya yang memihak rakyat kecil atau wong cilik itu sebagai marhaenisme.
Tetapi Marhaen Soepratman bukan orang Sunda. Ia keturunan Tionghoa. Ia juga bukan petani, melainkan mahasiswa di sebuah universitas di Kanada. Nama aslinya adalah Hariyanto Darmawan. Di Kanada, ia aktivis serikat buruh. Ia sengaja datang ke Bandung, setelah mengunjungi keluarganya di Jakarta.
Peserta diskusi malam itu tak lebih dari seratus orang. Rata-rata peserta antusias dengan materi yang disampaikan pembicara. Tetapi belum setengah jam acara berlangsung, seorang lelaki paruh baya merampas mikrofon dari genggaman Marhaen. Kasar. Tanpa sopan-santun.
"Ajaran komunis sudah tidak relevan lagi dibicarakan! Orang tua saya dibunuh oleh PKI (Partai Komunis Indonesia)! Jadi saudara-saudara, acara semacam ini harus dihentikan!" teriak lelaki itu. Sorot matanya liar memandang sekeliling.
Ia adalah Adang Supriadi, ketua Persatuan Masyarakat Antikomunis atau disingkat Permak.
Suasana jadi ricuh ketika anggota Permak mulai menendang-nendang bangku dan mengancam peserta diskusi. Semua orang buru-buru keluar ruangan. Tumpah ruah ke jalan.
Anggota Permak kemudian memburu pembicara dan ketua panitia yang berusaha menyelamatkan diri ke arah kampus Universitas Pasundan, tepat di depan toko buku itu.
Tak berapa lama Sadikin dan Marhaen ditangkap orang-orang Permak, yang memaksa mereka masuk ke mobil untuk dibawa ke markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung....
(Excerpt di bagain tengah)
....Langkah-langkah sepatu terdengar mengitari seluruh ruang, lalu berakhir di pintu utama. Pintu ditutup dan disegel dengan pita kuning atau garis polisi yang disilangkan di tengahnya.
(Excerpt di bagian akhir)
....Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.
"Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya," katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan.
"Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin," katanya, lagi.
Secangkir kopi panas pesanannya tiba.
"Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan," ujar Bilven.
"Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus." Ia terus bicara.
"Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak," lanjutnya.
Bilven lolos saat Permak melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah."
Adegan terakhir ini mengingatkan saya akan adegan dari film dokumenter tentang Al-Jazeera 'Control Room'. Ada diskusi hangat yang terjadi di sebuah cofee shop di Irak (saya lupa-lupa ingat lokasinya) antara warga dan seorang reporter Al-Jazeera. Adegan ini di-syuting seperti layaknya adegan dalam karya Mulyani. Saat pelayan datang gambar itu tertangkap di kamera.
Pembicaraan menjadi hangat, tek-tok close up antara peserta diskusi kecil ini tertangkap jelas. Mereka hanyalah warga biasa yang mengutarakan unek-unek mereka selama ini tentang kebijakan pemerintah AS di timur tengah. Yang menarik dari adegan ini bagi saya adalah bagaimana mereka begitu terbuka menyatakan pendapat mereka dan begitu natural. Editingnya pun mengalir - enak ditonton.
Solusi: Kreatifitas, kesabaran dan penguasaan masalah bisa jadi gerbang masuk ke ranah wacana, where no broadcast journalist (well maybe a few manage to do so...) has ever gone before.
Bhayu Sugarda
Subscribe to:
Posts (Atom)
