Temans,
Baru selesai training pelatihan investigasi, nih. Banyak belajar dari training ini. Ada masukan banyak dari cetak dan radio. Yang media cetak trainernya Wendy Bacon - Kepala jurusan komunikasi dari UTS (kampus lama gua - kalo kayak gini KKN gak yah? Hehehe). Tips yang bagus dari dia: "Pastikan kita punya cukup energi untuk menulis atau membuat laporan investigasi yang bagus" - karena ini yang biasanya diabaikan. Trainer satu lagi untuk televisi adalah David O'shea dari stasiun SBS (dari Australia lagi nih hehehe) - dia lebih kasih masukan soal presentasi yang baik (seperti yang pernah saya bahas sebelumnya). Dari radio Kelly McEveres. Hehehe. Nah ucapannya yang menarik adalah prinsip jurnalisme yang selalu dia pegang: "Comfort the Afflicted and Afflict the Comfortable" (yang artinya...: "Menenangkan yang terganggu dan mengganggu yang merasa tenang").
Karyanya McEveres bisa dilihat di:
http://audiojournal.com/
tentang kasus penyerangan teroris di Beslan, Rusia.
Dia juga pernah liputan di Indonesia. Laporannya soal Sufi di Indonesia bisa di-download dari:
http://hearingvoices.com/
search aja Kelly McEvers.
Kenapa radio dibahas? Karena broadcast khan gak beda-beda jauh. Gak percaya? Dengerin laporannya Kelly soal Sufi dan rasakan betapa visual-nya laporan dia. (lho kok visual? Hehehe. Tapi bener deh.)
Dua hal yang penting dalam jurnalistik investigasi adalah DAMPAK dan INDEPENDENSI. Ini bukan dua kata yang sakral. Kenapa? Karena independensi artinya secara praktis adalah 'bukan pesanan'. Jadi selama laporan kita menyangkut hajat orang banyak dan dilakukan tanpa ikatan pada siapa-pun - masuk kategori investigasi. Sedangkan 'dampak' ini menjadi penting dan sentral dalam investigasi. Jika tidak berdampak langsung (seperti misalnya perubahan sosial dan perubahan kebijakan baik undang-undang maupun politik) maka laporannya tidak bisa masuk dalam kategori investigasi.
Karena itu, yuk mari bikin laporan yang berdampak pada perubahan sosial atau kebijakan pemerintah. Karena inilah inti investigasi.
Piss.
Showing posts with label Investigasi. Show all posts
Showing posts with label Investigasi. Show all posts
Tuesday, September 11, 2007
Friday, August 17, 2007
Tayangan Perdana Sixty Minutes

Temans,
Buku menarik: Close Encounters: Mike Wallaces Own Story
Mike Wallace adalah penggagas sekaligus anchor dari tayangan Sixty Minutes di stasiun televisi CBS. Pada awalnya, ia hanya menargetkan Sixty Minutes bertahan di FTA selama setidaknya 2 musim pada tahun 1968. Tapi ternyata hingga saat ini pun program itu masih bertahan. Ada sejumlah catatan menarik tentang pemikiran Mike Wallace dan behind the scene dari produksi program itu. Tapi kutipan paling menarik adalah saat Sixty Minutes tayang pertama kali, 24 September 1968.
“Naturally we led with our exclusive, for our cameraman was the only one allowed in the hotel rooms of Nixon and Humphrey on the nights they were nominated. There was a certain fascination in observing the two nominees watching the hubbub on the convention floors as their delegate counts mounted. Nixon conducted a kind of on-camera political seminar for his family in his hotel suite as the balloting unfolded; and Humphrey jumped up and kissed the TV screen when he saw his wife, Muriel, in the convention hall.”
“Selayaknya kami mulai dengan liputan eksklusif kami, karena hanya juru kamera kami yang diijinkan masuk ke kamar hotel Nixon dan Humphrey pada malam mereka dinominasikan (sebagai Presiden). Ada semacam kekaguman tersendiri menyaksikan kedua kandidat calon Presiden menonton kekisruhan di lantai konvensi saat penghitungan suara dilakukan. Nixon menggelar seminar politik di depan kamera terhadap keluarganya saat penghitungan suara berlangsung; dan Humphrey melompat dan mencium layar televisi saat dia melihat istrinya di aula konvensi.”
Investigatif atau bukan, tayangan ini membuka mata pemirsa akan apa yang terjadi di kubu masing-masing kandidat. Merupakan suatu keistimewaan bagi jurnalis yang bisa berada di lokasi saat peristiwa bersejarah sedang berlangsung. Baik itu sejarah perseorangan (saat-saat yang sifatnya pribadi bagi seseorang – seperti menangis, tertawa, mengalami cobaan hidup, penderitaan, maupun kebahagiaan) atau sejarah bangsa. Inilah yang berusaha di-share oleh teman-teman jurnalisme sastrawi kepada pembacanya… dan gambaran ini pula yang seringkali berusaha ditangkap kamera tim liputan untuk disaksikan pemirsanya.
Walaupun teknisnya mungkin sedikit sulit, karena kamera harus standby setiap saat hanya untuk menangkap momen-momen personal/ pribadi dari tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam liputan panjang. Seperti yang berusaha dilakukan juru kamera Reality Show misalnya. Produser ‘Survivor’ pun mengakui, ada beberapa bagian yang terpaksa di-shoot ulang karena mereka kehilangan momen penting. Akibatnya Survivor sempat di-cap sebagai sinetron yang dibungkus seakan-akan seperti Reality Show.
Tidak mudah memang. Namun, sesuatu yang menarik untuk dicoba bukan? Piss.
Bhayu Sugarda.
Buku menarik: Close Encounters: Mike Wallaces Own Story
Mike Wallace adalah penggagas sekaligus anchor dari tayangan Sixty Minutes di stasiun televisi CBS. Pada awalnya, ia hanya menargetkan Sixty Minutes bertahan di FTA selama setidaknya 2 musim pada tahun 1968. Tapi ternyata hingga saat ini pun program itu masih bertahan. Ada sejumlah catatan menarik tentang pemikiran Mike Wallace dan behind the scene dari produksi program itu. Tapi kutipan paling menarik adalah saat Sixty Minutes tayang pertama kali, 24 September 1968.
“Naturally we led with our exclusive, for our cameraman was the only one allowed in the hotel rooms of Nixon and Humphrey on the nights they were nominated. There was a certain fascination in observing the two nominees watching the hubbub on the convention floors as their delegate counts mounted. Nixon conducted a kind of on-camera political seminar for his family in his hotel suite as the balloting unfolded; and Humphrey jumped up and kissed the TV screen when he saw his wife, Muriel, in the convention hall.”
“Selayaknya kami mulai dengan liputan eksklusif kami, karena hanya juru kamera kami yang diijinkan masuk ke kamar hotel Nixon dan Humphrey pada malam mereka dinominasikan (sebagai Presiden). Ada semacam kekaguman tersendiri menyaksikan kedua kandidat calon Presiden menonton kekisruhan di lantai konvensi saat penghitungan suara dilakukan. Nixon menggelar seminar politik di depan kamera terhadap keluarganya saat penghitungan suara berlangsung; dan Humphrey melompat dan mencium layar televisi saat dia melihat istrinya di aula konvensi.”
Investigatif atau bukan, tayangan ini membuka mata pemirsa akan apa yang terjadi di kubu masing-masing kandidat. Merupakan suatu keistimewaan bagi jurnalis yang bisa berada di lokasi saat peristiwa bersejarah sedang berlangsung. Baik itu sejarah perseorangan (saat-saat yang sifatnya pribadi bagi seseorang – seperti menangis, tertawa, mengalami cobaan hidup, penderitaan, maupun kebahagiaan) atau sejarah bangsa. Inilah yang berusaha di-share oleh teman-teman jurnalisme sastrawi kepada pembacanya… dan gambaran ini pula yang seringkali berusaha ditangkap kamera tim liputan untuk disaksikan pemirsanya.
Walaupun teknisnya mungkin sedikit sulit, karena kamera harus standby setiap saat hanya untuk menangkap momen-momen personal/ pribadi dari tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam liputan panjang. Seperti yang berusaha dilakukan juru kamera Reality Show misalnya. Produser ‘Survivor’ pun mengakui, ada beberapa bagian yang terpaksa di-shoot ulang karena mereka kehilangan momen penting. Akibatnya Survivor sempat di-cap sebagai sinetron yang dibungkus seakan-akan seperti Reality Show.
Tidak mudah memang. Namun, sesuatu yang menarik untuk dicoba bukan? Piss.
Bhayu Sugarda.
Wednesday, April 25, 2007
Diskusi Investigative Reporting - IJTI
Berikut hasil ngemeng-ngemeng dengan jurnalis tv David O’shea dari stasiun FTA SBS di Australia. Program in-depth-nya di SBS adalah ‘Dateline’. Selain ‘Dateline’ di Australia juga ada 60 minutes (versi Australia) dan Current Affair. Dateline berbeda dengan dua program lainnya karena ‘story’ disampaikan melalui sudut pandang seorang reporter. Topik yang dibahas antara lain konflik di Gaza, Timor Leste, Aceh dan Terorisme di Indonesia. Reporter tidak selalu muncul dalam segmentasi program ini, namun, pembawa acara memberitahu pemirsa bahwa laporan yang akan ditayangkan adalah laporan si reporter. Contoh, “Berikut ini laporan David O’shea dari Timor Leste”.
Diskusi dibuka dengan ‘curhat’-nya dia bahwa pemerintah Australia mulai membredel satu per satu jajaran produksi ‘Dateline’, mulai dari executive producer sampai supervising producer. Alasannya karena Dateline dianggap menyudutkan pemerintah Australia dengan laporan keterlibatan Australia dalam politik negara-negara Asia Pasifik seperti Vanuatu, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. Keterlibatan itu sendiri demi kepentingan Australia, seperti minyak di Timor Leste,dll. Selain keinginan untuk menjadi deputi sherrif AS di Asia Pasifik. Hehehe. Satu per satu mulau dipecat.
Kemudian diskusi menjadi hangat karena mulai menjurus ke teknik junalisme investigasi. Tapi pada akhirnya, komentar David hanya seperti ini, “tapi bisa gak kayak begitu di Indonesia?” (Dia lancar bahasa Indonesia).
Lalu kita ditunjukkan laporan satu jam yang dia buat tentang terorisme di Indonesia. Bukan hanya bom bali tapi juga di poso. Dengan laporan ini, ia menggambarkan keterlibatan intelijen Indonesia dalam aksi terror di Indonesia sendiri. Persenjataan kelompok provokator di poso ternyata milik tni – ada visualnya diperlihatkan amunisi dengan tulisan sebagai bukti bahwa itu milik tni ad. Selain itu, visualisasi da’I bachtiar lagi ngobrol dengan anggota dpr lagi cerita dia baru pulang dari pentagon lalu mendapatkan bantuan dana dari amerika untuk melawan terorisme. Da’i cerita bagaimana dia diperlakukan istimewa di pentagon dan sebagainya sembari tertawa dengan anggota dpr. Gambaran bahwa polri punya kepentingan dengan banyaknya aksi terror di Indonesia terlihat jelas tanpa bicara banyak. Sequence berikutnya adalah da’I bachtiar turun escalator di gedung baru dpr di-iringi musik ‘upbeat’ layaknya soundtrack film saat sang jagoan jalan. (tanpa bicara benar tidaknya tuduhan keterlibatan tni polri dalam aksi terror di Indonesia, namun, ini adalah cara menarik untuk menyampaikan ‘thesis’ atau pandangan si jurnalis.).
Hal yang sama juga dilakukannya saat pertemuan antara da’i bachtiar dengan ketua BIN baru Syamsir siregar. Usai pertemuan, wartawan seperti biasa wawancara da’i bachtiar. Sebelum masuk ke soundbyte-nya Da’I, narasi menyebutkan “after the meeting he only gave us a bland comment about the latest situation.”. Narasi lalu berlanjut dengan menceritakan siapa saja yang hadir dalam pertemuan itu. Timbul Silaen, mantan kapolda tim-tim. Narasi menyebutkan, “what was the late chief of police in the former East Timor doing in this meeting?”. Berikutnya vox pop ibu-ibu di poso yang ditanya kenapa tidak ada saksi dalam beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di sana, hanya bilang “ada gerakan tutup mulut, karena takut. Apa? Karena Takut. Ya Takut!” (sepertinya asisten David O’shae sama budegnya kayak ulung. Hehehe)
Berkali-kali ia mengatakan ‘this is funny’ kalo ada visual menarik dari liputannya. Salah satunya demonstrasi yang dilakukan pasukan jihandak, tapi kemudian salah satu petugas lupa memasukkan film ke alat x-ray yang mereka miliki. Kepanikan mereka saat tahu tidak ada film di dalam mesin x-ray di-roll begitu saja, dengan audio nat.sound yang lengkap. (Ternyata kata dio, David waktu di poso pake mic panjang di atas kameranya sehingga bisa tajam menangkap audio.). Belakangan dia bilang begini, “remember, tv itu kan hiburan jadi apa pun..yah harus menarik supaya pemirsa saya tidak pindah channel.”.
Dia mengatakan itu setelah ditanya soal pendekatan kemanusiaan dibanding penyelidikan kasus dalam liputan investigasi. Pertanyaannya adalah liputan “investigasi” (atau diakui sebagai investigasi walaupun hanya in-depth reporting) di Indonesia (paling tidak selama ini di FTA) fokus kepada pengungkapan sesuatu yang baru terkait kasus tertentu. Cara bertuturnya pun lebih pada data-data baru dan bukan ‘pelaku’-nya, langsung atau tidak langsung. Seperti contoh Da’i Bachtiar tadi. David hanya bilang, “orang kan nonton tv untuk lihat orang…”.
Lalu Dhandy, korlip RCTI, tanya sama dia, dari sekian banyak liputan yang dia buat, mana yang bisa diklasifikasi sebagai investigasi. Ia hanya menyebutkan liputan soal terror di Indonesia ‘bisa’ dikategorikan sebagai investigasi, tapi ia menekankan yang dilakukannya mungkin ‘baru’ bagi pemirsa Australia tapi mungkin tidak baru lagi bagi pemirsa Indonesia. Sedangkan liputannya di Timor Leste (lengkap dengan tembak2an usai wawancara dengan Alfredo Reinado) dikatakannya sebagai situation report. Liputan Timor Leste dikatakannya sebagai contoh bagus untuk liputan investigasi yang gagal. Tujuan liputannya sebenarnya adalah membuktikan keterlibatan Australia dalam krisis politik di Timor Leste. Tapi gagal. Sementara liputannya tentang kasus Munir, dia mengatakan, “investigasi saya adalah baca majalah tempo!”, sambil tertawa.
Amrul kamerawan Astro (cie-cie Amrul) lalu komentar, “liputannya dia konsentrasi ke reporting yah…jadi menunggu momen yang dicari.” (David soalnya VJ – kebanyakan visual dia ambil sendiri).
Terakhir, soal label investigasi. David bilang, definisi investigasi bagi dia adalah ‘revealing something’. Tapi kemudian dia mengatakan setiap hari jurnalis di program harian kan selalu mengungkap sesuatu yang baru juga. Jadi sulit mendefinisikan suatu liputan itu investigasi atau bukan. Sementara di kampusnya dulu (UTS – University of Technology Sydney) tidak dibahas tentang investigative journalism karena masih diperdebatkan. Dia pun setuju kebanyakan yang dilakukan adalah in-depth reporting.
Solusi: Banyak2 nonton program ‘in depth’ dari negara-negara lain supaya dapet ide baru cara bertutur kali yeh…
Interesting facts & comments:
- Michael Moore’s ‘Fahrenheit 911’ investigasi gak? David: “Bukan. Itu Dokumenter.”
- Biaya produksi rata2 AUS$ 10,000,- kalo termasuk post pro AUS$ 15,000,-an. Massa produksi 6 minggu rata-rata.
- Rekonstruksi sesaat sebelum almarhum Munir meninggal, dibuat dengan menggunakan ‘mata kamera’ sebagai ‘mata Munir’.
- David:”Liputan investigasi paling 3 kali dalam setahun”. Untuk program setiap minggu, Dateline juga menampilkan profile dan human interest. Jadi tidak setiap minggu in-depth.
Segitu dulu kali yeh…
Bhayu Sugarda
Diskusi dibuka dengan ‘curhat’-nya dia bahwa pemerintah Australia mulai membredel satu per satu jajaran produksi ‘Dateline’, mulai dari executive producer sampai supervising producer. Alasannya karena Dateline dianggap menyudutkan pemerintah Australia dengan laporan keterlibatan Australia dalam politik negara-negara Asia Pasifik seperti Vanuatu, Kepulauan Solomon dan Timor Leste. Keterlibatan itu sendiri demi kepentingan Australia, seperti minyak di Timor Leste,dll. Selain keinginan untuk menjadi deputi sherrif AS di Asia Pasifik. Hehehe. Satu per satu mulau dipecat.
Kemudian diskusi menjadi hangat karena mulai menjurus ke teknik junalisme investigasi. Tapi pada akhirnya, komentar David hanya seperti ini, “tapi bisa gak kayak begitu di Indonesia?” (Dia lancar bahasa Indonesia).
Lalu kita ditunjukkan laporan satu jam yang dia buat tentang terorisme di Indonesia. Bukan hanya bom bali tapi juga di poso. Dengan laporan ini, ia menggambarkan keterlibatan intelijen Indonesia dalam aksi terror di Indonesia sendiri. Persenjataan kelompok provokator di poso ternyata milik tni – ada visualnya diperlihatkan amunisi dengan tulisan sebagai bukti bahwa itu milik tni ad. Selain itu, visualisasi da’I bachtiar lagi ngobrol dengan anggota dpr lagi cerita dia baru pulang dari pentagon lalu mendapatkan bantuan dana dari amerika untuk melawan terorisme. Da’i cerita bagaimana dia diperlakukan istimewa di pentagon dan sebagainya sembari tertawa dengan anggota dpr. Gambaran bahwa polri punya kepentingan dengan banyaknya aksi terror di Indonesia terlihat jelas tanpa bicara banyak. Sequence berikutnya adalah da’I bachtiar turun escalator di gedung baru dpr di-iringi musik ‘upbeat’ layaknya soundtrack film saat sang jagoan jalan. (tanpa bicara benar tidaknya tuduhan keterlibatan tni polri dalam aksi terror di Indonesia, namun, ini adalah cara menarik untuk menyampaikan ‘thesis’ atau pandangan si jurnalis.).
Hal yang sama juga dilakukannya saat pertemuan antara da’i bachtiar dengan ketua BIN baru Syamsir siregar. Usai pertemuan, wartawan seperti biasa wawancara da’i bachtiar. Sebelum masuk ke soundbyte-nya Da’I, narasi menyebutkan “after the meeting he only gave us a bland comment about the latest situation.”. Narasi lalu berlanjut dengan menceritakan siapa saja yang hadir dalam pertemuan itu. Timbul Silaen, mantan kapolda tim-tim. Narasi menyebutkan, “what was the late chief of police in the former East Timor doing in this meeting?”. Berikutnya vox pop ibu-ibu di poso yang ditanya kenapa tidak ada saksi dalam beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di sana, hanya bilang “ada gerakan tutup mulut, karena takut. Apa? Karena Takut. Ya Takut!” (sepertinya asisten David O’shae sama budegnya kayak ulung. Hehehe)
Berkali-kali ia mengatakan ‘this is funny’ kalo ada visual menarik dari liputannya. Salah satunya demonstrasi yang dilakukan pasukan jihandak, tapi kemudian salah satu petugas lupa memasukkan film ke alat x-ray yang mereka miliki. Kepanikan mereka saat tahu tidak ada film di dalam mesin x-ray di-roll begitu saja, dengan audio nat.sound yang lengkap. (Ternyata kata dio, David waktu di poso pake mic panjang di atas kameranya sehingga bisa tajam menangkap audio.). Belakangan dia bilang begini, “remember, tv itu kan hiburan jadi apa pun..yah harus menarik supaya pemirsa saya tidak pindah channel.”.
Dia mengatakan itu setelah ditanya soal pendekatan kemanusiaan dibanding penyelidikan kasus dalam liputan investigasi. Pertanyaannya adalah liputan “investigasi” (atau diakui sebagai investigasi walaupun hanya in-depth reporting) di Indonesia (paling tidak selama ini di FTA) fokus kepada pengungkapan sesuatu yang baru terkait kasus tertentu. Cara bertuturnya pun lebih pada data-data baru dan bukan ‘pelaku’-nya, langsung atau tidak langsung. Seperti contoh Da’i Bachtiar tadi. David hanya bilang, “orang kan nonton tv untuk lihat orang…”.
Lalu Dhandy, korlip RCTI, tanya sama dia, dari sekian banyak liputan yang dia buat, mana yang bisa diklasifikasi sebagai investigasi. Ia hanya menyebutkan liputan soal terror di Indonesia ‘bisa’ dikategorikan sebagai investigasi, tapi ia menekankan yang dilakukannya mungkin ‘baru’ bagi pemirsa Australia tapi mungkin tidak baru lagi bagi pemirsa Indonesia. Sedangkan liputannya di Timor Leste (lengkap dengan tembak2an usai wawancara dengan Alfredo Reinado) dikatakannya sebagai situation report. Liputan Timor Leste dikatakannya sebagai contoh bagus untuk liputan investigasi yang gagal. Tujuan liputannya sebenarnya adalah membuktikan keterlibatan Australia dalam krisis politik di Timor Leste. Tapi gagal. Sementara liputannya tentang kasus Munir, dia mengatakan, “investigasi saya adalah baca majalah tempo!”, sambil tertawa.
Amrul kamerawan Astro (cie-cie Amrul) lalu komentar, “liputannya dia konsentrasi ke reporting yah…jadi menunggu momen yang dicari.” (David soalnya VJ – kebanyakan visual dia ambil sendiri).
Terakhir, soal label investigasi. David bilang, definisi investigasi bagi dia adalah ‘revealing something’. Tapi kemudian dia mengatakan setiap hari jurnalis di program harian kan selalu mengungkap sesuatu yang baru juga. Jadi sulit mendefinisikan suatu liputan itu investigasi atau bukan. Sementara di kampusnya dulu (UTS – University of Technology Sydney) tidak dibahas tentang investigative journalism karena masih diperdebatkan. Dia pun setuju kebanyakan yang dilakukan adalah in-depth reporting.
Solusi: Banyak2 nonton program ‘in depth’ dari negara-negara lain supaya dapet ide baru cara bertutur kali yeh…
Interesting facts & comments:
- Michael Moore’s ‘Fahrenheit 911’ investigasi gak? David: “Bukan. Itu Dokumenter.”
- Biaya produksi rata2 AUS$ 10,000,- kalo termasuk post pro AUS$ 15,000,-an. Massa produksi 6 minggu rata-rata.
- Rekonstruksi sesaat sebelum almarhum Munir meninggal, dibuat dengan menggunakan ‘mata kamera’ sebagai ‘mata Munir’.
- David:”Liputan investigasi paling 3 kali dalam setahun”. Untuk program setiap minggu, Dateline juga menampilkan profile dan human interest. Jadi tidak setiap minggu in-depth.
Segitu dulu kali yeh…
Bhayu Sugarda
Kasus thalidomide dan pasca banjir
Seno Gumira Ajidarma menulis artikel di ‘Djakarta – the magazine’ soal pasca banjir. Ia mengecam intitusi media yang tidak memberiktakan kondisi korban banjir pasca banjir. Padahal menurut dia, kondisi pasca banjir justru yang paling meresahkan masyarakat. Orang yang tidak bisa minta bantuan orang bayaran untuk membersihkan rumah mereka dan harus hidup dengan bau menyengat khas banjir di rumahnya selama beberapa minggu. Belum lagi yang ada di pengungsian. Di akhir tulisannya ia pun mem-vonis bahwa media memang begitu… “aku ada, karena aku menggemparkan.”…tidak lebih dan tidak kurang.
Lalu apa hubungannya dengan kasus thalidomide?
Thalidomide adalah kasus obat yang digunakan ibu hamil di Inggris pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an, untuk mengurangi dampak muntah-muntah saat hamil atau ‘morning sickness’. Antara tahun 1956 hingga tahun 1962, sekitar 10 ribu anak lahir cacat. Kasus paling parah adalah seorang anak lahir tanpa tangan dan kaki. Dalam periode tersebut, pemberitaan mengenai hal ini begitu gencar. Kasus tuntutan keluarga korban kepada perusahaan farmasi asal Jerman, Grunenthal, berlangsung bertahun-tahun. Pada akhirnya, keluarga korban rata-rata mendapatkan ganti rugi sebesar 15 ribu sampai 20 ribu pounds atau sekitar 40 ribu dolar amerika. Padahal biaya untuk kebutuhan khusus yang diperlukan korban akibat cacat seumur hidup - kurang lebih 100 ribu pounds. Ini berarti hanya seperempat dari apa yang berhak mereka terima.
Sepuluh tahun kemudian, koran the Sunday Times, memutuskan untuk membongkar ‘kelalaian’ yang dilakukan perusahaan farmasi Grunenthal. Investigasi yang mereka lakukan menunjukkan perusahaan farmasi itu tidak melakukan penelitian dampak thalidomide pada konsumen utama obat itu – yaitu ibu hamil. Padahal penelitian pengaruh obat pada ibu hamil dengan menggunakan binatang telah dilakukan perusahaan farmasi dunia sejak tahun 1950-an. Namun, mereka menghadapi kendala undang-undang yang melarang pemberitaan terkait kasus hukum yang sedang berlangsung. Pertarungan demi memperjuangkan laporan soal kelalaian Grunenthal pun terjadi. Laporan berseri di koran The Sunday Times pun dirancang. Dengan bantuan penasehat hukum, redaktur koran itu mempelajari setiap artikel sebelum masuk percetakan. Saat laporan pertama muncul…media lainnya tiarap – baik itu koran, televisi maupun radio. Radio BBC sempat mewawancara redaktur koran itu masalah kasus Thalidomide di studio. Namun, setelah itu tidak ada lagi.
Redaktur itu adalah Harold Evans. Ia belakangan menulis soal ini dalam bukunya ‘Good Times, Bad Times’. Berikut bagian dari apa yang dia rasakan saat itu.
“The erratic nature of the interest in the Thalidomide children was also a reflection of the way newspapers and television news programmes work. ‘News’ is defined too episodically and too topically. It was the same in 1959 – 62, when Thalidomide was found to have affected 8,000 children round the world. There was an outcry, but then concern was allowed to evaporate. Nothing ‘new’ happened, nobody made speeches or marched down Whitehall, so there was no ‘news’ and the Thalidomide victims were gradually forgotten. The unconscious assumption was that our institutions functioned the way they are supposed to function: the law was seeing that justice was done. But it wasn’t; and journalism had not learned how to write about processes, rather than about events. The process of legal disaster and the gradual disintegration of the families was ignored.”
Terjemahan: (biasa bikin translation nih soalnya, hehehe)
“Naik turunnya ketertarikan soal anak-anak Thalidomide juga merupakan cermin dari bagaimana koran dan program berita televisi bekerja. Yang dikatakan sebagai ‘Berita’ ditentukan secara episodik dan terlalu berdasarkan topik. Sama dengan yang terjadi antara 1959 – 62, ketika Thalidomide diketahui mempengaruhi 8 ribu anak di dunia. Muncul kecaman saat itu, tapi kemudian keprihatian soal itu dibiarkan menghilang. Tidak ada yang baru terjadi, tidak satu pun berorasi atau berunjuk rasa ke Whitehall (ie Parlemen), jadi tidak ada ‘berita’ dan korban Thalidomide perlahan dilupakan. Asumsi bawah sadar adalah bahwa institusi kita (ie media) berfungsi seperti seharusnya: hukum berjalan seperti apa adanya untuk mencari keadilan. Padahal tidak begitu; dan jurnalisme tidak belajar untuk menulis tentang proses, dibanding peristiwa. Proses dari carut marutnya persidangan dan kehancuran perlahan keluarga korban diabaikan.”.
Saya pernah tanya sama Mas Imam soal ‘Berapa umur berita?’ dan beliau menjawab pada saat tensi berita itu turun bisa diberikan ‘renewal’ – katanya istilah marketing, yang artinya aspek kebaruan. Baik itu angle atau apa pun yang sifatnya membuat berita itu menjadi kontekstual. Bagaimana? Ada yang punya ide lain?
Bhayu Sugarda
PS: Ada kutipan menarik dari kasus ini di buku-nya Harold Evans. Seorang pengacara, James Evans, ditugaskan memantau penulisan laporan ini agar tidak dianggap melanggar hukum. Semua artikel soal Thalidomide dia baca dengan kaca mata hukum, sebelum diputuskan bisa masuk cetak atau tidak. Saat si redaktur meminta nasihatnya tentang rencana laporan berseri tentang Thalidomide, James Evans hanya bilang, “I have the picture perfectly. Alpine tourist asks guide to take him to the top of the Eiger by the safe route…Let me think about it, mm?”. (Terjemahan: “Saya punya gambarannya. Seorang turis gunung Alpine minta arahan caranya menuju puncak Eiger melalui rute aman…Saya pikirkan dulu?”.).
Lalu apa hubungannya dengan kasus thalidomide?
Thalidomide adalah kasus obat yang digunakan ibu hamil di Inggris pada akhir tahun 1950-an hingga awal 1960-an, untuk mengurangi dampak muntah-muntah saat hamil atau ‘morning sickness’. Antara tahun 1956 hingga tahun 1962, sekitar 10 ribu anak lahir cacat. Kasus paling parah adalah seorang anak lahir tanpa tangan dan kaki. Dalam periode tersebut, pemberitaan mengenai hal ini begitu gencar. Kasus tuntutan keluarga korban kepada perusahaan farmasi asal Jerman, Grunenthal, berlangsung bertahun-tahun. Pada akhirnya, keluarga korban rata-rata mendapatkan ganti rugi sebesar 15 ribu sampai 20 ribu pounds atau sekitar 40 ribu dolar amerika. Padahal biaya untuk kebutuhan khusus yang diperlukan korban akibat cacat seumur hidup - kurang lebih 100 ribu pounds. Ini berarti hanya seperempat dari apa yang berhak mereka terima.
Sepuluh tahun kemudian, koran the Sunday Times, memutuskan untuk membongkar ‘kelalaian’ yang dilakukan perusahaan farmasi Grunenthal. Investigasi yang mereka lakukan menunjukkan perusahaan farmasi itu tidak melakukan penelitian dampak thalidomide pada konsumen utama obat itu – yaitu ibu hamil. Padahal penelitian pengaruh obat pada ibu hamil dengan menggunakan binatang telah dilakukan perusahaan farmasi dunia sejak tahun 1950-an. Namun, mereka menghadapi kendala undang-undang yang melarang pemberitaan terkait kasus hukum yang sedang berlangsung. Pertarungan demi memperjuangkan laporan soal kelalaian Grunenthal pun terjadi. Laporan berseri di koran The Sunday Times pun dirancang. Dengan bantuan penasehat hukum, redaktur koran itu mempelajari setiap artikel sebelum masuk percetakan. Saat laporan pertama muncul…media lainnya tiarap – baik itu koran, televisi maupun radio. Radio BBC sempat mewawancara redaktur koran itu masalah kasus Thalidomide di studio. Namun, setelah itu tidak ada lagi.
Redaktur itu adalah Harold Evans. Ia belakangan menulis soal ini dalam bukunya ‘Good Times, Bad Times’. Berikut bagian dari apa yang dia rasakan saat itu.
“The erratic nature of the interest in the Thalidomide children was also a reflection of the way newspapers and television news programmes work. ‘News’ is defined too episodically and too topically. It was the same in 1959 – 62, when Thalidomide was found to have affected 8,000 children round the world. There was an outcry, but then concern was allowed to evaporate. Nothing ‘new’ happened, nobody made speeches or marched down Whitehall, so there was no ‘news’ and the Thalidomide victims were gradually forgotten. The unconscious assumption was that our institutions functioned the way they are supposed to function: the law was seeing that justice was done. But it wasn’t; and journalism had not learned how to write about processes, rather than about events. The process of legal disaster and the gradual disintegration of the families was ignored.”
Terjemahan: (biasa bikin translation nih soalnya, hehehe)
“Naik turunnya ketertarikan soal anak-anak Thalidomide juga merupakan cermin dari bagaimana koran dan program berita televisi bekerja. Yang dikatakan sebagai ‘Berita’ ditentukan secara episodik dan terlalu berdasarkan topik. Sama dengan yang terjadi antara 1959 – 62, ketika Thalidomide diketahui mempengaruhi 8 ribu anak di dunia. Muncul kecaman saat itu, tapi kemudian keprihatian soal itu dibiarkan menghilang. Tidak ada yang baru terjadi, tidak satu pun berorasi atau berunjuk rasa ke Whitehall (ie Parlemen), jadi tidak ada ‘berita’ dan korban Thalidomide perlahan dilupakan. Asumsi bawah sadar adalah bahwa institusi kita (ie media) berfungsi seperti seharusnya: hukum berjalan seperti apa adanya untuk mencari keadilan. Padahal tidak begitu; dan jurnalisme tidak belajar untuk menulis tentang proses, dibanding peristiwa. Proses dari carut marutnya persidangan dan kehancuran perlahan keluarga korban diabaikan.”.
Saya pernah tanya sama Mas Imam soal ‘Berapa umur berita?’ dan beliau menjawab pada saat tensi berita itu turun bisa diberikan ‘renewal’ – katanya istilah marketing, yang artinya aspek kebaruan. Baik itu angle atau apa pun yang sifatnya membuat berita itu menjadi kontekstual. Bagaimana? Ada yang punya ide lain?
Bhayu Sugarda
PS: Ada kutipan menarik dari kasus ini di buku-nya Harold Evans. Seorang pengacara, James Evans, ditugaskan memantau penulisan laporan ini agar tidak dianggap melanggar hukum. Semua artikel soal Thalidomide dia baca dengan kaca mata hukum, sebelum diputuskan bisa masuk cetak atau tidak. Saat si redaktur meminta nasihatnya tentang rencana laporan berseri tentang Thalidomide, James Evans hanya bilang, “I have the picture perfectly. Alpine tourist asks guide to take him to the top of the Eiger by the safe route…Let me think about it, mm?”. (Terjemahan: “Saya punya gambarannya. Seorang turis gunung Alpine minta arahan caranya menuju puncak Eiger melalui rute aman…Saya pikirkan dulu?”.).
Subscribe to:
Posts (Atom)
