Monday, January 24, 2011

KONSEPTUALISASI PROGRAM INTERNET TV

Platform : Situs internet TV
Rasio ukuran layar : 16:9
Format : Live streaming dan Video On Demand
Durasi : 30 menit dan 2 menit

Konten dari iNTERNET TV jelas merupakan materi audio visual. Konsep dasar INTERNET TV yang baru adalah internet tv sebagai platform. Apa bedanya internet TV dengan tayangan televisi bebas bayar dan televisi berbayar? Tidak ada bedanya. Karena internet TV adalah tayangan televisi yang ditayangkan menggunakan saluran jaringan internet. Di Indonesia saat ini sudah banyak situs yang menawarkan layanan tv internet. Sejumlah situs tv streaming Indonesia antara lain adalah www.mivo.tv, www.indoweb.tv dan www.jakartacityview.com.

Tak bisa dipungkiri tv internet memiliki keterbatasan yaitu ketergantungannya terhadap jaringan internet. Semakin kuat jaringannya, pengunjung situs semakin bisa menikmati tv internet. Jika jaringan yang digunakan bukan jaringan pita lebar atau broadband tentunya kelancaran tayangan untuk disaksikan pengunjung situs akan terganggu. Pengalaman atau ‘experience’ dari pengunjung situs saat menonton tv streaming menjadi seperti ‘stop’ and ‘go’.



Diagram 1: TV Streaming – Mivo TV

Itulah tantangan sekaligus keunggulan yang diharapkan bisa tercapai untuk INTERNET TV. Sehingga target audiens dari INTERNET TV adalah bukan pengguna broadband melainkan pengguna internet dengan layanan di bawah layanan broadband. Pemikirannya adalah semakin tayangan INTERNET TV bisa dinikmati tanpa menggunakan jaringan broadband semakin luas penontonnya.

Namun, INTERNET TV tidak hanya menawarkan internet tv. INTERNET TV juga menawarkan dua fitur utama lainnya, yaitu Video On Demand dan Multi Media. Prinsipnya adalah konten internet tv usai ditayangkan akan di-archive atau disimpan tapi bisa disaksikan kembali kapan saja dalam fitur Archive Show dan bagian tertentu dari program akan dicacah untuk menjadi konten video yang bisa dinikmati secara terpisah. Konten video ‘pecahan’ itu akan menjadi konten Video On Demand.



Diagram 2: Archive Show – NDTV (New Delvi Television)

Fitur Video On Demand pada intinya adalah katalog video yang bisa di-akses pengunjung situs. Pengunjung bisa dengan aktif memilih tayangan apa yang diinginkannya, sehingga fitur ini bertolak belakang dengan internet tv (tv streaming) yang cenderung dinikmati secara pasif oleh pengunjung. Tapi konten Video On Demand memiliki kendala yang sama dengan internet tv, yaitu keterbatasan kemampuan jaringan internet.



Diagram 3: Video On Demand – MSN videos

Situs Video On Demand yang paling banyak diakses pengunjung situs internet antara lain You Tube, Zulu dan MSN video. Karakteristik dari situs Video On Demand ini adalah pengunjung situs bisa menikmati konten video secara ‘online’ dan ‘ofline’. Artinya jika konten video dinikmati saat terhubung dengan internet maka konten video itu dinikmati secara ‘online’. Sedangkan jika konten video dinikmati pasca proses unduh, maka konten video itu dinikmati secara ‘offline’. Netflix adalah salah satu situs yang menawarkan konten video secara ‘offline’.

Keduanya merupakan bentuk yang inferior dibanding televisi dalam hal kepuasan menikmatinya karena penonton terhambat saat menikmatinya. Konten video ‘online’ berjalan tersendat-sendat ketika terhubung dengan jaringan internet bukan broadband. Sedangkan konten ‘offlline’ harus unduh atau ‘download’ selama beberapa menit sebelum bisa dinikmati.

Untuk mengatasi hambatan itu, jalan keluarnya adalah membuat proses menunggu (baik karena tersendat maupun karena perlu waktu mengunduh) harus dibuat senyaman mungkin. Caranya dengan membatasi durasi konten audio visual Video On Demand. Melalui proses uji coba pada situs portal video berita www.astroawani.co.id maka disimpulkan durasi ideal untuk konten Video On Demand adalah 2 menit. Alasannya karena paket berita minimal berdurasi 1 menit lebih. Durasi 2 menit dipilih agar bisa lebih leluasa dalam mengeksplorasi gambar dan cerita, tapi juga sekaligus bisa membuat penonton nyaman dalam menontonnya. Selain itu, durasi 2 menit dianggap ideal karena proses loading gambar akan ‘terlihat’ cukup cepat di layar sehingga tidak menguji kesabaran penonton.



Note: Keterkaitan durasi yang lebih pendek sehingga proses loading lebih mudah belum sepenuhnya terbukti karena sebenarnya kondisi jaringan broadband memiliki pengaruh sama baik terhadap konten berdurasi pendek atau panjang. Pemahamannya adalah jika jaringan broadband dalam kondisi padat, tingkat kenyamanan penonton menyaksikan live streaming tetap akan sama terhadap konten berdurasi 2 atau 30 menit.

Terlepas dari durasi konten Video On Demand maksimal 2 menit, proses produksi harus didasari program televisi dengan kelipatan 30 menit terlebih dahulu sebelum dipecah menjadi konten audio visual berdurasi lebih pendek. Karena konten awalnya akan ditayangkan di internet tv sebelum dipecah menjadi konten Video On Demand.



Diagram 5 menjelaskan bahwa program televisi berdurasi 30 menit dibuat sebagai konten yang potensial untuk platform televisi bebas bayar, televisi berbayar dan internet tv. Tapi untuk saat ini platform televisi bebas bayar dan televisi berbayar bukanlah prioritas INTERNET TV. Sehingga saat ini program televisi dibuat untuk memasok konten untuk internet tv melalui tayangan live streaming.

Program itu lalu dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau pendek durasinya untuk memasok konten Video On Demand baik ‘online’ maupun ‘offline’. Pemecahan program dilakukan berdasarkan unsur atau elemen yang terkandung dalam program itu. Elemen-elemen yang menjadi bagian dari program televisi pada dasarnya baku.

PENJADWALAN UNTUK MEMETAKAN PROGRAM SESUAI TARGET AUDIENS

Penjadwalan merupakan bagian penting dalam pembuatan program karena dengan penjadwalan program perencanaan produksi program menjadi lebih mengerucut dan spesifik. Misalnya penentuan target audiens untuk program otomotif bukan hanya pada tahapan penggemar otomotif, tapi sudah menjadi penggemar otomotif antara usia 20 s/d 30 tahun, atau penggemar otomotif di atas 30 tahun. Dengan demikian pendekatan terhadap program menjadi lebih spesifik.

Selain itu, kegunaannya adalah penentuan prioritas penjadwalan program khususnya pada tahap awal pembuatan internet TV. Misalnya di tahap awal internet tv penjadwalan dibuat saat ‘peak hours’ situs berita terkait untuk melihat seberapa jauh pengunjung berita dot com tertarik mencoba internet tv. Karena penjadwalan dibuat saat peak hours maka data yang terkumpul dari kunjungan situs menjadi ‘bench mark’ yang harus dipertahankan. Teorinya adalah jumlah pengunjung internet tv saat ‘peak hours’ kompas.com merupakan indikator kuat keberhasilan internet tv, sehingga jumlah pengunjung saat ‘peak hours’ itu menjadi patokan jumlah pengunjung yang harus dikejar pada jam-jam lainnya.

Berbeda dengan perilaku menonton televisi bebas bayar, penonton internet tv bergantung pada saat pengguna internet berada di depan monitor komputer. Jam atau waktu saat pengguna internet berada di depan komputer menjadi salah satu pertimbangan saat menentukan jadwal program. Kemudian perilaku pengguna internet dipecah menjadi berbagai kelompok masyarakat seperti laki-laki dan perempuan, bekerja atau tidak bekerja, tua dan muda, di bawah 20 tahun atau di atas 20 tahun serta pengguna aktif kartu kredit di internet atau tidak. Yang terakhir menentukan ‘buying power’ dari penonton internet tv. Karena jika sekedar memiliki ‘buying power’ tapi tidak memiliki kebiasaan menggunakan kartu kredit di internet dampaknya terhadap situs akan sama saja.

Penjadwalan atau ‘programming’ dibuat secara berlapis. Lapisan pertama merupakan program bulletin. Program bulletin merupakan prioritas pertama karena program bulletin merupakan ‘showcase’ dari internet tv. Program bulletin menjadi produk andalan internet tv sebagai sebuah media pemberitaan. Sehingga program bulletin per hari dalam sepekan disebar sesuai batasan waktu tertentu, misalnya antara pukul 7 pagi s/d pukul 1 siang. Idealnya programming memang dibuat untuk siaran 24 jam seperti layaknya sebuah channel berita 24 jam. Tapi sah saja jika di awal tahap pembuatan di batasi hanya beberapa jam.

Kemudian lapisan kedua merupakan program non bulletin. Program bulletin ditempatkan sesuai dengan saat dimana target audiensnya berada di depan komputer. Misalnya program otomotif untuk penggemar otomotif antara usia 20 s/d 30 tahun sengaja ditayangkan setelah pukul sembilan pagi karena asumsinya mereka lebih mungkin berada di depan komputer pada jam itu.

Lalu, lapisan ketiga adalah program yang dibeli (akuisisi) atau dipesan (commissioning). Program pesanan atau ‘commissioning’ adalah program yang minta dibuatkan Production House dengan supervisi dari pemesan. Jika lapisan pertama dan kedua telah terisi, yang dilakukan seorang programmer hanya menentukan jenis program yang harus ada di antara program bulletin serta non bulletin sesuai dengan peta perilaku menonton pemirsa internet tv. Jika misalnya antara pukul 8 pagi s/d pukul 10 pagi adalah ibu rumah tangga maka program yang ditayangkan pada jam itu adalah program yang disukai ibu rumah tangga dengan tingkat intelejensi cukup tinggi serta pelanggan layanan internet.



KESIMPULAN

Pemetaan pengunjung sebuah situs berita dalam sehari diperlukan pada tahap pembuatan internet tv. Pemetaan pengunjung situs internet tidak hanya diperlukan untuk memudahkan pembuatan program tapi juga berfungsi untuk menentukan keperluan kapabilitas produksi sampai batas waktu tertentu. Misalnya untuk 3 bulan mendatang karena hanya akan siaran 6 jam setiap hari dengan asumsi penayangan 4 program produksi sendiri maka diperlukan kapabilitas produksi setidaknya x jumlah campers (kameramen) dan x jumlah produser. Untuk 3 bulan berikutnya, jam tayang akan ditingkatkan menjadi 8 jam sehari dengan asumsi x program produksi sendiri dan seterusnya.

Penilaian yang dilakukan Alexa untuk menentukan keberhasilan situs (dinilai berdasarkan hit atau jumlah pengunjung sesuai rubrik) belum cukup untuk memetakan pengunjung situs internet terkait jender, usia dan status ekonominya. Penilaian Alexa hanya bisa digunakan untuk menentukan ‘peak hours’. Sedangkan penilaian berdasarkan rubrik tidak sepenuhnya mencerminkan ketiga hal tadi. Misalnya rubrik ‘Perempuan’ tentunya dikunjungi sebagian besar pengguna internet perempuan, tapi tidak menutup kemungkinan pengunjungnya adalah laki-laki karena indikator untuk itu tidak cukup hanya berdasarkan rubrik. Perlu dilakukan survey untuk memetakan peta pengunjung internet tv.

PROSES PRODUKSI BERITA TELEVISI

Produksi berita televisi dilakukan sesuai SOP (standard operating procedure) produksi konten audio visual lainnya seperti film dan televisi. Sejumlah tahapan yang umum dalam industri audio visual harus dilalui untuk menghasilkan produk audio visual yang sesuai standar. Tahapan itu adalah:
- Pra Produksi
- Produksi
- Pasca Produksi

Idealnya tahapan-tahapan di atas dijalani secara berurutan. Artinya tahapan pertama harus selesai sebelum bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya. Namun, berbeda dengan proses produksi sinetron atau film, produksi berita televisi dilakukan dengan cepat. Bahkan pada situasi tertentu tahapan satu dengan lainnya dilakukan secara bersamaan, sehingga tidak menunggu tahapan satu selesai sebelum bisa memulai tahapan selanjutnya.

Perbedaan lainnya adalah materi audio visual yang diburu. Produksi berita televisi memanfaatkan audio visual seperti apa adanya dan tanpa manipulasi. Sehingga pengambilan gambarnya pun dilakukan ‘as it happen’ atau saat sebuah peristiwa sedang berlangsung. Berikut adalah tahapan produksi pembuatan berita televisi.

PRA PRODUKSI

Tahap Pra Produksi dipahami sama baik di industri film, televisi maupun lainnya. Tahapan ini adalah tahapan dimana perencanaan dan detil petunjuk pelaksanaan produksi konten audio visual dibuat. Misalnya perencanaan pengambilan gambar berdasarkan interpretasi sutradara film terhadap skenario yang digarapnya dibuat menggunakan papan gambar atau ‘story board’. Setiap detil sudut pengambilan gambar dibuat sketsanya sehingga saat pelaksanaan Director of Photography (DOP) memiliki panduan dalam mengatur shot.

Tapi dalam produksi berita harian televisi tidak perlu sampai seperti itu. Beberapa hal yang biasa dilakukan pada tahap pra produksi antara lain adalah riset dan daftar harapan atau WISHLIST. WISHLIST adalah daftar sejumlah hal yang diharapkan diperoleh tim liputan saat berada di lapangan. Salah satu unsur dalam WISHLIST adalah urutan VISUAL/SHOT LIST. VISUAL/SHOT LIST adalah urutan gambar yang diinginkan produser sehingga bisa dikatakan bahwa ini merupakan bentuk sederhana dari STORYBOARD. WISHLIST juga seringkali disamakan dengan TOR atau Terms Of Reference.

CONTOH WISHLIST:

WISH LIST 1

REP/CAM : ULUNG/ AMRUL
LOCATION : DEPOK
DURATION :
DEADLINE :
PROGRAM : TELAAH
PRODUSER : BHAYU SUGARDA

BACKGROUND:

Maraknya perselingkuhan menjadi salah satu yang mendorong orang untuk menyewa detektif swasta. Selain itu status pernikahan yang seringkali disembunyikan juga menjadi penyebab lainnya. Namun, yang menarik adalah detektif swasta marak di perkotaan. Apa kaitannya antara perselngkuhan dengan perkotaan? Apakah kehidupan perkotaan yang begitu individualistis yang mendorong orang untuk berselingkuh? Apakah benar masyarakat perkotaan lebih cenderung untuk melakukan perselingkuhan?

NARASUMBER : ERNA KARIN, SOSIOLOG

SOUNDBYTE TARGET:
“Perselingkuhan memang banyak terjadi di perkotaan. Jarangnya bertemu dan sifat individualistis yang kerap melanda masyarakat perkotaan juga mendorong ini terjadi...”

“Tekanan di tengah sosial masyarakat materialistis juga mendorong ini terjadi..sehingga orang cenderung menyembunyikan apa yang dianggap tidak lazim dari masyarakat...”

“kesibukan masyarakat perkotaan, karier, juga memicu orang untuk sulit berinteraksi dengan pasangan. Akhirnya yang muncul adalah kekecewaan dan pelarian...”

DATA TARGET:
• data perselingkuhan tahun 2008
• data perkawinan di bawah tangan/siri tahun 2008

VISUAL/SHOT LIST:
• set up sosiolog di tengah masyarakat yang penuh kesibukan
• format wawancara yang suram kalo bisa dipertahankan – tapi wajahnya jangan disembunyikan...hehehhe.

WISH LIST 2

REP/CAM : ASTI/ IGUN
LOCATION : PANCORAN
DURATION :
DEADLINE :
PROGRAM : TELAAH
PRODUSER : BHAYU SUGARDA

BACKGROUND:

BODY GUARD ada yang profesional dengan sejumlah skill yang memang diperlukan dalam bertugas. Seperti bela diri, penggunaan senjata api, dll. Tapi ada sebagian yang menanganggap enteng pekerjaan sebagai body guard. Padahal ada seni dibalik itu.
NARA SUMBER: Satpam yang menawarkan jasa pengamanan pribadi atau body guard

SOUNDBYTE TARGET:
“yah saya pikir pengalaman sebagai satpam cukup untuk menjadi body guard. Karena saya bisa bela diri...lagipula saya khan punya sertifikat satpam!”
“Kalo ada orang yang macam2 saya pake jurus ini...ciaaaaat”
“sejauh ini klien saya tidak pernah mengeluh. Bahkan saya pun sering diminta menjaga pak RT dan acara besar lainnya seperti 17 agustusan...”
“kalo saya berhadapan dengan preman saya tidak takut...saya tidak perlu senjata...karena saya khan punya jimat ini nih...”

DATA TARGET:
• Berapa lama bekerja sebagai satpam?
• Berapa banyak kliennya sejauh ini?
• Sudah menjadi body guard berapa lama?
• Siapa saja kliennya?
• Tarifnya berapa?

VISUAL/SHOT LIST:
• visual dia latihan
• visual dia lagi bertugas
• visual dia lagi berkumpul bersama satpam tempat dia bekerja dulu

Untuk sebuah laporan mendalam dengan durasi 30 menit, WISHLIST dibuat berdasarkan porsi dari liputan mendalam itu yang akan dilakukan keesokan harinya. Sehingga WISHLIST yang dibuat bisa lebih dari satu dan satu WISHLIST bisa melengkapi WISHLIST lainnya. Satu SEGMEN bisa dibuat dengan 4 atau 5 wishlist.

PRODUKSI


Rencana yang dibuat dengan WIHSLIST bisa jadi berbeda dengan kondisi lapangan. Misalnya nara sumber yang ditargetkan untuk menjadi tokoh utama cerita ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Belum lagi apabila terjadi perkembangan lain yang jauh lebih menarik. Jika ini terjadi maka seorang Produser harus memiliki alternatif rencana sehingga proses produksi tetap bisa berjalan tanpa membuang biaya percuma.
Biasanya 1 WISHLIST bisa diselesaikan dalam waktu sehari. Untuk liputan harian, hasil liputan memiliki target untuk ditayangkan pada program berita harian terdekat. Misalnya liputan pagi akan ditayangkan untuk program berita sore. Sedangkan hasil liputan siang untuk program berita harian malam. Sementara untuk laporan mendalam, liputan yang belum selesai karena satu dan lain hal bisa dilanjutkan keesokan harinya.

Berkaitan dengan lama produksi tim liputan dalam sehari, aturan yang berlaku mengikuti aturan umum karyawan yaitu sekitar 9 jam. Jam bekerja itu sudah termasuk proses membuat ‘rough-cut’ atau edit kasar dari hasil liputan bagi campers dan skrip bagi reporter, sehingga memudahkan editor yang akan meng-edit hasil liputan. Skrip akan di-edit oleh produser dan audio visual akan di-edit oleh editor visual. Dengan demikian produksi di lapangan otomatis hanya sekitar 5 s/d 6 jam. Karena itu perencanaan perlu dibuat sematang mungkin sehingga pada saat pelaksanaannya semua berjalan lancar dan hasilnya memuaskan.

PASCA PRODUKSI

Pada tahapan ini, skrip yang telah di-edit produser dan ‘rough cut’ buatan campers akan diserahkan kepada editor visual. Reporter akan mendampingi editor untuk membantu ‘dubbing’ atau membacakan narasi serta mendampinginya meng-edit hasil liputan. Pendampingan ini perlu agar laporan akurat baik secara narasi maupun secara audio-visual. Hasil akhir akan di-preview oleh produser sebelum akhirnya tayang. Jika ada perbaikan produser berhak meminta editor dan reporter untuk mengedit ulang laporan itu.

Sementara untuk laporan mendalam, hasil liputan reporter diserahkan kepada produser. ‘Rough cut’ buatan campers diserahkan ke editor dan skrip diserahkan ke produser untuk diolah lebih lanjut menjadi tayangan yang koheren selama 30 menit. Untuk laporan mendalam selama 30 menit lama proses produksi (pra, produksi dan pasca produksi) bisa menghabiskan waktu 2 pekan atau 14 hari.

STEP BY STEP PRODUKSI LAPORAN MENDALAM

Tahapannya kurang lebih sebagai berikut:

PRA PRODUKSI

Hari 1:

Riset topik laporan mendalam untuk pitching saat rapat redaksi. Sejumlah ide topik disiapkan produser untuk dibahas lebih jauh dalam rapat redaksi. Supervising editor dan Pemred turut menghadiri rapat itu dan kemudian memutuskan topik yang akan digarap menjadi laporan mendalam.

Hari 2:

Riset mendalam dilakukan produser bersama dengan reporter. Tujuannya agar reporter mengerti betul arah dan tujuan liputan mendalam sebuah topik tertentu. Sehingga reporter tidak lagi bingung apa yang harus dilakukannya saat berada di lapangan. Selain itu, reporter menjadi lebih terlibat dalam membangun ‘story’ dan menjadi lebih peka terhadap dinamika lapangan.

Hari 3:

Produser bekerjasama dengan reporter mulai menentukan nara sumber serta pemilihan ‘human example’ atau tokoh utama laporan mendalam itu. Setelah pemilihan nara sumber telah disepakati, reporter menghubungi nara sumber untuk membuat janji liputan keesokan harinya. Sementara produser sudah mulai merangkai cerita dan mempersiapkan WISHLIST liputan.

PRODUKSI

Hari 4 s/d 10

Liputan dilakukan selama 7 hari. Hampir setiap hari reporter membuat laporan hasil liputannya dan menyerahkannya kepada produser. Produser dan reporter juga membahas lebih jauh perkembangan di lapangan sebelum menentukan liputan keesokan harinya. Sementara campers mengumpulkan hasil ‘rough cut’ liputannya di tempat penyimpanan yang telah ditentukan sebelumnya. Selama itu produser akan mengawasi serta mengevaluasi hasil liputan sehingga bisa memutuskan apakah hasilnya sudah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Perlu dicatat proses produksi tidak harus 7 hari kerja karena itu tergantung seberapa jauh laporan yang diinginkan.

PASCA PRODUKSI

Hari 11 s/d 12

Dua hari terakhir produksi digunakan untuk melengkapi audio visual. Misalnya gambar cantik alias ‘beauty shot’, sekuen pembuka tayangan atau sekuen sebagai ‘bridging’ atau sekuen yang menjembatani satu bagian cerita ke bagian lainnya.

Hari 11 s/d 14

Sementara proses editing sudah berjalan. Pada hari ke-11 editor akan mem-preview gambar yang telah terkumpul dan memastikan semua gambar yang dibutuhkan skrip telah tersedia. Editor juga mengidentifikasi jika ada gambar yang kurang dan perlu ‘shot’ tambahan. Pada hari ke-12, editor sudah mulai melakukan proses editing. Proses editing akan didampingi oleh produser. Produser juga berkewajiban memberikan segala kelengkapan yang dibutukan editor dalam bekerja, seperti misalnya grafik dan ilustrasi musik.

CONTOH SKRIP LAPORAN MENDALAM

Monday, January 4, 2010

In Memoriam: Abdurrahman Wahid


In 2006, Hollywood churned another comedy by Barry Levinson. Why do I mentioned one of his film at all? Because this is another good example of life imitating art and vice versa...well, at least in the context of the late Abdurrahman Wahid. The title of the movie was 'Man of The Year'. The star was Robin Williams, playing a comedian who mistakenly became the United States President.

I will not bore you with the Hollywood formulated scenario of that movie. But I will tell you a little more about Abdurrahman Wahid. Was he a comedian? The answer is yes. Was he an ex President? Yes! Was he considered to be one of the most, if not the most influential Muslim cleric in Indonesia? Yes! Did he go through a similar predicament as Tom Dobbs, the character that was played by Robin Williams in that movie? If that question is reffering to the short period of time that Dobbs played the role as the President of the United States...well, Gus Dur only manages to stay seated on the President's chair less than half of the five year period. However, Dobbs was not a genius, whereas many people consider Gus Dur to be a great humanitarian and a brilliant thinker.

The image of Abdurrahman Wahid wearing a short pants and a shirt greeting the crowd still is a controversial image. His frank remarks about many issues in Indonesia had bewildered and shocked many people. His unpredictable political decisions had often confused his folowers. There is no grey area with Gus Dur...only total opposites. People who love him and people who don't. He may be a natural comedian, but what he speaks of is no laughing matter. He may be the leader of Nadhatul Ulama, but he is also considered to be the most outspoken pluralist in Indonesia. Believe it or not, he even has 2 birth dates. He was born 4th of Sya'ban, the eigth month in the Islamic calender, 1940. Which means he was born 7th of September 1940. However, he chose to celebrate his birthday on the 4th of August.

Some want him to be given the title of national hero. Me personally, would rather have him as a great comedian. Simply because I don't think he would have liked to become a national hero...because I think he would consider that too much of a fuss. By the way, that was the catch phrase he made popular - "Why make so much fuss?".

Thursday, December 3, 2009

Ada-ada Saja (2)

Seorang presenter membaca berita tentang salon khusus untuk anjing piaraan. Sang presenter membaca berita sebagai berikut: "Sehingga salon ini menjadi tempat yang menyenangkan bagi ANJIR...". Hampir secara bersamaan, PD maupun crew studio lainnya menirukan kata terakhir yang diucapkan Fitri Megantara karena sadar mereka harus me-retake pembacaan berita itu.

Seorang reporter melakukan PTC (Person To Camera) di sebuah terminal bus. Namun ia harus mengulang PTC-nya berkali-kali karena apa yang dikatakannya tak sempurna. Tanpa diketahuinya, orang-orang di sekitar tempatnya melakukan PTC mulai berkumpul dan duduk mengelilinginya. Mereka pun menjadi terlibat dalam proses pengambilan gambar. Setiap kali si reporter memulai kembali PTC-nya mereka diam. Setiap si reporter melakukan kesalahan mereka ikut menyesali apa yang terjadi. Sampai akhirnya si reporter berhasil menyelesaikan PTC-nya dengan baik. Mereka pun memberikan pengakuan kepada Louisa Kusnandar dengan tepuk tangan dan suara-suara pemberi semangat.

Seorang produser menunggu telepon dari Studio di Jakarta untuk memberikan laporan tentang suasana di Giri Bangun. Saat itu, jenazah mantan Presiden Soeharto akan segera tiba di bandar udara terdekat. Sang Produser menggunakan televisi hitam putih dengan layar 5 inci yang dibelinya seharga 3 ratus ribu malam sebelumnya. Televisi itu ia pangku di pahanya sembari menutup bagian depan layar dengan tangan karena panas matahari menghalanginya melihat siaran langsung TVRI dari bandar udara. Posisinya pun kurang menguntungkan karena untuk mendapatkan listrik, ia harus mencolokkan listriknya dekat mixer audio system yang dipasang di Giri Bangun di pinggir lapangan parkir. Tiba-tiba teleponnya berdering. Sang produser pun bersiap memberikan laporannya. Sayang bukan studio di ujung sana, tapi suara reporter yang ditugaskan bersamanya meliput peristiwa itu.
Reporter: "Mas Bhayuuu...kakiku keinjek Kopassus....".
Produser: (Dengan nada tidak sabar) "Terus?"
Emma Fitria: "Sakit tauuuuuuk!"
Bhayu Sugarda: ".....?!!?"

Seorang reporter berniat mewawancarai Menkokesra, yang saat itu dijabat Aburizal Bakrie. Ketika reporter lain fokus ke topik terkait kesejahteraan rakyat, sang reporter membawa misi sendiri...yaitu menanyakan soal Lumpur Lapindo. Ketika ia melihat kesempatan untuk bertanya, ia pun melepaskan peluru yang sudah ia siapkan sebelumnya. Aburizal Bakrie pun mengangkat tangannya dan bergerak menjauh tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan. Sang reporter pun dengan sigap mendesaknya untuk menjawab pertanyaan dengan mengatakan, "Bapak kok gituuuuuuu....!!!".
Aburizal Bakrie sempat terpana sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Fatimah Alatas.

Sebuah penangkapan tersangka narkoba terjadi di Semarang. Wartawan cetak maupun elektronik meluncur ke kantor polisi tempat mereka ditahan. Mereka pun mewawancarai petugas yang menangkap para tersangka itu. Sang polisi mengaku terpaksa melepaskan tembakan karena tersangka berusaha melarikan diri. Seorang wartawan yang juga salah satu anak buah koresponden sebuah stasiun televisi swasta tiba-tiba bertanya, "Suara pistolnya TER apa TOR?". Baik wartawan lainnya yang kebetulan ada di situ maupun nara sumber hanya bisa terpana mendengar pertanyaan itu. Belakangan Amrul Hakim mengaku bahwa dirinya menanyakan pertanyaan itu karena ingin mendapatkan SYNC atau SOT yang kurang lebih melibatkan si nara sumber mengangkat tangannya dan menirukan suara pistol yang ditembakkan.

Seorang presenter membaca berita yang tertulis di prompter sebagai berikut: "LARANGAN MEROKOK DI PRANCIS....///". Namun si presenter membacanya seperti ini: "Larangan MEROKOUW di Prancis...". Usai siaran sang show produser menanyakan alasan dibalik cara baca yang aneh itu. Fitri Megantara mengaku canggung mengucapkan kata 'merokok' karena ragu antara menghilangkan 'k' di akhir kata atau justru memperjelas cengkok huruf 'k' itu.

Seorang show producer baru saja menyelesaikan tugasnya. Ia pun berjalan menuju meja tempatnya bekerja agar ia bisa membuat laporan show yang baru saja dikerjakannya. Tapi sebelum ia membuat laporan, ia menyempatkan diri bercerita kepada rekannya sesama produser tentang sebuah kejadian menarik saat show berlangsung. Salah satu berita tentang konflik di Timur Tengah bercerita tentang penemuan senjata di sebuah minivan. Namun, berita yang tertulis di Prompter adalah sebagai berikut: "SEJUMLAH SENJATA DITEMUKAN DALAM MINIVAN/ SEPERTI TOKET DAN RUDAL///". M. Arif Budiman mengaku beruntung ia menyadari kesalahan itu sebelum berita dibaca sehingga bisa dikoreksi. Ia mengungkapkan, "Saat itu gua pikir toket dan rudal merupakan dua hal aneh yang bisa ditemukan pada satu tempat.".

Ada-ada Saja (1)

Seorang wartawati pemula liputan demam berdarah:
Wartawati: "Jadi para jumantik (Juru Pemantau Jentik) dari mana saja, bu?"
Narasumber: "yah sebagian besar dari mereka juga ibu-ibu PKK"
Louisa Kusnandar: "Oh, jadi sebagian besar dari mereka juga Petugas Kebersihan dan Keamanan yah?"
Narasumber: "....?!?"

Seorang wartawan cukup senior yang sudah lama tak berkunjung ke Mabes Polri menghadiri konperensi pers dari Kadivhumas. Karena dia tidak tahu nama dari Kadivhumas, ia pun bertanya kepada salah seoramng rekannya.
"Bos, namanya siapa Bos?", wartawan cukup senior.
"Paiman. Paiman", kata rekannya.
"Oke. Tengs.", balasnya.
Ia pun mengacungkan tangan untuk bertanya. "Pak Iman...Pak Iman!".
Rekannya pun melotot dan menyikut pinggang sang wartawan. "Namanya Paiman tauk! Bukan Pak Iman.".
Menyadari kesalahannya Edwin Nazir pun mengoreksi ucapannya dengan memanggil, "Jenderal! Jenderal!".

Seorang wartawan menyambut kedatangan seorang nara sumber yang akan diwawancara di studio. Ia kebetulan bertugas sebagai booker.
"Terima kasih atas kedatangannya Mas Ray.", kata si wartawan.
"Sama-sama, Mas.", kata Ray Sahetapy.
Mereka berdua pun masuk ke dalam lift menuju studio. Kesunyian lift menghujam, karena hanya mereka bedua di dalam lift. Sang wartawan pun berupaya mencairkan suasana.
"Wah, Mas. Saya penggemar berat Anda di sinetron Tahta.", katanya.
Ray menoleh ke arah wartawan itu dengan cepat.
"Tahta? Bukan saya yang main di situ. Itu Mathias Muchus.", kata Ray Sahetapy.
Kesunyian semakin menghujam. Sang wartawan pun berupaya kembali dari keterpurukan.
"Tapi saya juga senang dengan penampilan Anda di film 'Kanan Kiri Oke'.", kata si wartawan.
Sejak saat itu Raden Wahyuningrat menyadari kelemahannya dalam berinteraksi dengan selebritas.

Seorang produser membuat janji dengan Adrianus Meliala.
Produser: "Selamat pagi Pak Meliala. Saya Ocha dari Astro Awani. Saya mau minta waktu Anda untuk wawancara soal tawuran, Pak. Iyah Pak, mengenai kecelakaan transportasi nih Pak. Jadi kapan bisa ketemu nih Pak. Hari ini? Oke baik Pak. Di mana Pak? Di Pelabuhan Tanjung Priok yah! Oke pak. Terima kasih banyak Pak."
Sang produser pun meminta tim liputan untuk mewawancarai Adrianus Meliala. Tim liputan pun berangkat ke lokasi. Ketika ditemui, sang reporter melihat dari jauh penampilan Adrianus Meliala. Sang reporter pun mulai curiga karena penampilannya tidak seperti yang ia ketahui dari media massa selama ini. Untuk memastikan, sang reporter melontarkan pertanyaan pancingan.
Sang Reporter: "Jadi berapa lama Bapak belajar jadi kriminolog?".
Adrianus Meliala: "Kriminolog? Latar belakang saya akademi pelayaran Mas.".
Oki Budhi Priambodo: "....?!?".
Sejak kejadian itu Firouza menyadari bahwa nama orang bisa sama persis dengan orang lain secara kebetulan.

Seorang reporter mewawancarai seorang anak kecil berkaitan dengan fenomena Smackdown.
Sang Reporter: "Jadi tokoh favorit kamu siapa di Smackdown?"
Anak kecil: "De-Ex".
Sang Reporter: "Siapa?"
Anak kecil: (Curiga ada yang salah dengan cengkok bicaranya, si anak kecil pun berupaya mengoreksi pengucapan nama idolanya) "Diee Eksh."
Sang Reporter: "Siapa siapa?"
Anak kecil: (Kali ini si anak kecil memutuskan untuk mempercepat pengucapannya supaya tidak terlalu ketara jika ada salah pengucapan) "D-Ex!"
Ulung Putri: "Siapa?"
Anak kecil: "De-Eeeeeeeeeeeeeeex.". Wajah si anak campur aduk antara heran (karena kok ada reporter sebudeg ini?), marah (karena si reporter berulangkali menanyakan hal yang sama) dan kecewa (karena koreksi pengucapannya sebanyak 2 kali tak berarti banyak buat si reporter).

Seorang wartawan dengan kamera person-nya mendatangi BPOM Pusat untuk meminta ijin mengikuti razia obat di pasar. Ketika ditemui, petugas BPOM Pusat menyangkal ada razia hari itu. Tapi sang wartawan menolak untuk menyerah. Ia pun beranjak ke BPOM Jakarta. Melalui telepon ia berbincang dengan nara sumbernya di BPOM Jakarta dan telah mendapatkan ijin mengikuti razia yang akan mereka lakukan sore itu. Berangkatlah dengan cepat si reporter dengan kamera person ke kantor BPOM Jakarta. Ketika tiba di sana, keduanya disambut dengan baik. Nara sumber berjanji akan segera berangkat setelah personil sudah lengkap, karena masih ada satu lagi personil yang akan ikut namun belum datang. Si wartawan dan kamera person pun menunggu dengan sabar. Tak berapa lama si nara sumber kelihatan bergegas mendatangi si wartawan dan kamera person. Ia menginformasikan bahwa orang yang ditunggu sedari tadi sudah datang dan akan segera berangkat melakukan razia. Ternyata orang yang ditunggu-tunggu adalah petugas BPOM Pusat yang ditemui sang wartawan sebelumnya. Petugas itu kembali menegaskan bahwa sang wartawan tidak boleh mengikuti razia. Mungkin karena melihat kegigihannya, belakangan orang itu pun akhirnya mengijinkan Yoga Nugraha mengikuti razia.

Seorang Presenter Pria membaca berita dari Irak yang muncul di Teleprompter. Di prompter tertulis, “KORBAN LEDAKAN BOM DILARIKAN KE RUMAH SAKIT AL KINDI///”. Andrie Djarot lalu membaca tulisan di prompter itu sebagai berikut: “Korban ledakan bom dilarikan ke rumah sakit ANGKATAN LAUT Kindi”.

Seorang Presenter Wanita membaca berita dari Australia. Tulisan yang muncul di Teleprompter sebagai berikut: “BANJIR MENGGENANGI SEBAGIAN BESAR KAWASAN NEW SOUTH WALES///”. Namun, Pinky Andriyani membacanya seperti ini: “Banjir menggenangi sebagian besar kawasan New South WALLS.”. Untuk beberapa saat Show Produser terbengong-bengong sebelum memutuskan untuk me-retake pembacaan berita itu.

Seorang reporter yang baru ditugaskan di desk ekonomi sebuah harian terbit, bertugas di Departemen Keuangan. Teman-teman wartawan yang lain kebetulan tidak berada di tempat. Ia pun seorang diri ketika tiba-tiba Menteri Keuangan waktu itu, Boediono, keluar dari lift dan berjalan menuju pintu keluar lobby kantor Departemen Keuangan. Dengan sigap si reporter pun bergerak ke arah Boediono, mencegat dan menyodorkan tape recordernya. Boediono pun menghentikan langkahnya. Keduanya berhadap-hadapan. Si reporter melihat ke kiri dan kanannya. Ia menyadari tidak ada rekan sesama reporter di dekatnya. Beno pun mulai kehilangan akal apa yang akan ditanyakan. Boediono lalu bertanya, “Mau tanya apa?”�.

Seorang presenter mengantarkan segmen dialog sebuah program berita pagi usai membaca segmen olahraga. “Sesaat lagi kami akan kembali dengan dialog khas Nuansa Pagi dengan nara sumber Happy Bone (baca: “Boun”) Zulkarnaen.”. Ketika Bhayu Sugarda keluar dari ruang siaran ia pun berpapasan dengan Happy Bone (baca: “Bo-ne”) Zulkarnaen namun tak berani menatap matanya.